Minggu, 19 Mei 2019

Doa ketetapan hati

Hafalan doa harian

صحيح مسلم
رقم: 4897
كتاب:  الذكر والدعاء والتوبة والاستغفار
باب:  التعوذ من شر ما عمل ومن شر ما لم يعمل

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ دِينَارٍ حَدَّثَنَا أَبُو قَطَنٍ عَمْرُو بْنُ الْهَيْثَمِ الْقُطَعِيُّ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ الْمَاجِشُونِ عَنْ قُدَامَةَ بْنِ مُوسَى عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

--------

Shahih Muslim
No: 4897
Kitab: Dzikir, doa, taubat dan istighfar
Bab: Berlindung dari sesuatu yang telah diamalkan dan apa-apa yang belum diamalkan

Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Dinar] telah menceritakan kepada kami [Abu Qathan 'Amru bin Al Haitsam Al Qutha'i] dari ['Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Abu Salamah Al Majisyun] dari [Qudamah bin Musa] dari [Abu Shalih As Samman] dari [Abu Hurairah] dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: "ALLOOHUMMA ASHLIH LII DIINII ALLADZII HUWA 'ISHMATU AMRII, WA ASHLIH LII DUN-YAAYA ALLATII FIIHAA MA'AASYII, WA ASH-LIH LII AAKHIROTII ALLATII FIIHAA Meriwayatkan'AADZII, WAJ'ALIL HAYAATA ZIYAADATAN LII FII KULLI KHOIRIN, WAJ'ALIL MAUTA ROOHATAN LII MIN KULLI SYARRIN "Ya Allah ya Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan!"

Doa Setelah Shalat Witir

Doa Setelah Shalat Witir

Ada dua doa yang bisa diamalkan sebagai berikut:

[1]

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

“Subhaanal malikil qudduus –dibaca 3x- [artinya: Maha Suci Engkau yang Maha Merajai lagi Maha Suci dari berbagai kekurangan]” (HR. Abu Daud no. 1430, An-Nasai no. 1735, dan Ahmad 3: 406. Al-Hafizh Abu Thahir mengatkaan bahwa sanad hadits ini shahih)

[2]

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Allahumma inni a’udzu bi ridhaoka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” -dibaca 1x- [artinya: Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri]. (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An-Nasa’i no. 1748 dan Ibnu Majah no. 1179. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Cara Baca “Subhaanal Malikil Qudduus”

Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,

فَإِذَا فَرَغَ قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يُطِيلُ فِي آخِرِهِنَّ

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai dari witirnya, beliau membaca ‘subhaanal malikil qudduus (sebanyak tiga kali)’, beliau memanjangkan di akhirnya.” (HR. An-Nasa’i no. 1700, Ibnu Majah no. 1182. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari Ibnu ‘Abdirrahman bin Abza, dari bapaknya, ia berkata,

وَكَانَ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثًا وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالثَّالِثَةِ

“Jika mengucapkan salam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca, ‘Subhaanal malikil qudduus’ sebanyak tiga kali lalu beliau mengeraskan suaranya pada ucapan yang ketiga.” (HR. An-Nasa’i no. 1733 dan Ahmad 3: 406. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Cara membacanya:

Mengeraskan bacaan terakhir berbeda dengan bacaan “subhaanal malikil qudduus” di pertama dan kedua.
Memanjangkan bacaan “qudduus” dengan empat atau enam harakat.
Apakah Ada Tambahan “Rabbil Malaikati war Ruuh”?

Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,

فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ :« سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ فِى الآخِرَةِ يَقُولُ :« رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ »

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam, beliau mengucapkan, ‘Subhaanal malikil qudduus’ sebanyak tiga kali dan di suara ketiga, beliau memanjangkan suaranya. Lalu beliau mengucapkan, ‘Rabbil malaikati war ruuh.’ ” (HR. As-Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi 3: 40 dan Sunan Ad-Daruquthni 4: 371. Tambahan ‘rabbil malaikati war ruuh’ adalah tambahan maqbulah yang diterima).

Tambahan ‘rabbil malaikati war ruuh’ adalah tambahan yang diterima. Sehingga doa setelah witir bisa pula dengan ‘subhaanal malikil quddus’ sebanyak 3 kali lalu bacaan terakhir dikeraskan atau dipanjangkan lalu ditambahkan dengan rabbil malaikati war ruuh.

Hidup setelah mati

Hidup Setelah Mati: Mengurai Berbagai Riwayat tentang Kehidupan pasca Kematian.

Pada pertemuan pertama, Ustaz Amin memaparkan materi berjudul “Kuburan dan Alam Kubur.” Dalam pemaparan tersebut Ustaz Amin mengungkapkan bahwa Nabi pernah menyebutkan beberapa sifat untuk kuburan dan alam kubur, yaitu tempat yang gelap, tempat persinggahan pertama, dan tempat yang menghimpit.

Selain itu, tambah Ustaz Amin, di dalam kubur terdapat fitnah atau ujian. “Jika seorang hamba telah diletakkan di dalam kubur, dua malaikat akan mendatanginya dan memberikan pertanyaan-pertanyaan. Inilah yang dimaksud dengan fitnah atau ujian kubur,” tutur Ustaz Amin.

Pertanyaan tersebut ialah man rabbuka (siapa Tuhanmu), maa diinuka (apa agamamu), maa haadza al-rajul allazi bu’itsa fiikum (siapa laki-laki yang telah diutus kepadamu ini), dan wa maa yudriika (apa ilmumu tentang dia).

Jika orang yang menjalani fitnah kubur tersebut mampu menjawab dengan benar, maka dia akan diberi hamparan dan pakaian dari surga lalu dibukakan untuknya pintu menuju surga. Kemudian dia memperoleh bau harum dan wangi surga, serta kuburannya diperluas sejauh mata memandang.

Sedangkan jika orang yang menjalani fitnah kubur tersebut tidak mampu menjawab, maka dia akan diberikan hamparan dari neraka dan dibukakan pintu untuknya menuju neraka. Kuburannya disempitkan sehingga tulang rusuknya remuk. 

Pada pertemuan kedua ini materi yang dibahas ialah tentang tiupan sangkakala dan hari kebangkitan manusia setelah kematian yang disampaikan oleh Ustaz Amin Muchtar.

Di awal pembahasan, Ustaz Amin Muchtar menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan al-nafkh(tiupan) pada materi ini adalah tiupan khusus.

“Yaitu tiupan khusus, di waktu yang khusus, dari Malaikat yang khusus untuk melaksanakan apa yang Allah Swt. kehendaki mengenai urusan kiamat,” kata Ustaz Amin Muchtar.

Adapun kata al-shur atau terompet terdapat perbedaan pendapat mengenai pengertian dan sifatnya. Namun, pendapat yang benar mengenai hal ini adalah pendapat yang ditunjukkan oleh berbagai hadis dari Rasulullah saw.

“Berdasarkan hal ini, maka al-shur adalah sebuah tanduk yang akan ditiup. Dan telah ada pula berbagai riwayat yang menyebutkan secara pasti bahwa yang akan meniupnya adalah Malaikat Israfil ‘alaihissalam,” tutur Ustaz Amin.

Tiupan yang akan diperintahkan Allah kepada Malaikat Israfil adalah sebanyak tiga kali tiupan. Pertamanafkhah al-faza’. Yaitu tiupan yang membuat takut dan terkejut seluruh makhluk hidup.

Keduanafkhah al-sha’aq. Yaitu tiupan yang akan membuat semua makhluk yang ada di langit dan di bumi binasa. Ketiganafkhah al-ba’ts. Yaitu tiupan yang membangkitkan seluruh manusia dari kuburnya. Dan perlu diketahui bahwa orang pertama yang akan dibangkitkan dari kubur adalah Nabi Muhammad saw berdasarkan hadis yang diriwayatkan Muslim.

Untuk meningkatkan keimanan kepada hari berbangkit, Ustaz Amin menyebutkan lima uslub(retorika) Allah dalam berbagai dalil ketika meyakinkan tentang benarnya kejadian hari berbangkit.

“Secara umum, adakalanya untuk menegaskan hari berbangkit, Allah menggunakan sumpah. Kedua, terkadang Allah menggunakan isyarat dengan penciptaan manusia yang pertama kali mati. Ketiga, terkadang menggunakan isyarat dengan menghidupkan bumi yang sudah mati. Keempat, menggunakan retorika isyarat tentang penciptaan langit dan bumi. Terakhir, untuk meyakinkan manusia hari berbangkit digunakan gaya bahasa isyarat dengan berbagai kisah nyata kaum-kaum terdahulu,” tegas Ustaz Amin.

Pembahasan mengenai Hari Dikumpulkannya Manusia di Padang Mahsyar dipaparkan oleh Ustaz Amin Muhtar pada hari ketiga Kajian Sepekan Ramadhan, di Pendopo Pesantren Ibnu Hajar, Selasa (14/5/19).

Dalam pemaparannya, Ustaz Amin menyampaikan bahwa manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar dalam keadaan sebagaimana awal mula diciptakan.

Ahlus Sunnah wal Jama’ahmeyakini bahwa seluruh manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas, telanjang, dan belum dikhitan sebagaimana Allah Swt menciptakannya pada awal mula, begitu pula pada saat dibangkitkan,” kata Ustaz Amin.

Di padang mashsyar, lanjut beliau, semua manusia dikumpulkan di suatu tempat dengan posisi matahari yang sangat dekat. Kondisi panas menyengat ini menyebabkan manusia berkeringat sampai seukuran tumit, lutut, pinggang, bahkan ada yang sampai tenggelam karena keringatnya sendiri.

“Hal tersebut seukuran dengan amalan-amalan mereka dan mereka tidak akan selamat dari keringat ini kecuali orang yang Allah tetapkan keselamatan baginya,” jelas Ustaz Amin.

Selain itu, secara khusus manusia dikumpulkan di padang mahsyar dalam dua keadaan, yakni keadaan terpuji dan tercela. Golongan orang-orang terpuji adalah ahli wudhu dengan wajah putih bercahaya dan para syuhada yang membawa bekas lukanya.

Adapun golongan orang-orang tercela terdapat empat macam. Pertama, orang kafir yang berjalan dengan wajahnya. Kedua, orang sombong yang dihinakan. Ketiga, orang yang suka minta-minta padahal dirinya sanggup. Wajah orang ini terdapat bekas cakaran atau tidak berwajah. Keempat, orang khianat yang di punggungnya membawa beban khianatnya.

Hari Perhitungan dan Pembalasan Amal Manusia menjadi materi keempat setelah membahas mengenai kuburan dan alam kubur, tiupan sangsakala dan hari berbangkit, serta hari dikumpulkannya manusia di padang mahsyar yang dipaparkan oleh Ustaz Amin Muchtar pada Rabu (16/5/19) di Pendopo Pesantren Ibnu Hajar.

Dalam penyampaiannya, Ustaz Amin mengingatkan bahwa materi ini sangat penting untuk disampaikan mengingat masih banyak yang terlupa bahwa masuk surga itu sejatinya bukan karena banyaknya amal, tetapi karena hadirnya rahmat Allah.

“Kita bernafsu dalam beramal saja belum cukup seandainya kita tidak bisa menjadi manusia pilihan Allah. Amal yang telah kita tabung, kebaikan yang telah kita investasikan ternyata belum tentu memadai andai kata kita tidak terpilih. Dengan rahmat Allah lah kita masuk surga. Baru, nanti di surga menentukan level melalui amal,” tutur Ustaz Amin.

Inilah yang menjadi pertimbangan bagi siapapun agar senantiasa menjaga amalannya dari perkara dosa, karena bagaimanapun juga orang yang pintar berdusta di dunia tidak akan mampu mengelak ketika ditampakkan rekaman amal yang sebenarnya.

“Hari ini gunung merekam setiap gerak gerik kita, tetapi tidak bisa melaporkan. Sungai dan semua ciptaan Allah itu merekam setiap yang kita lakukan, tetapi tidak bisa menampakkan. Maka di padang mahsyar, semua yang terucap, tingkah laku yang kita perbuat memiki rekam jejak yang demikian lengkap dan kita tidak bisa mengelak saat dihadapkan pada mahkamah ilahi dan ditegakkan persaksian. Jadi, apa yang nanti akan terjadi dalam proses hisaban sebetulnya kita pun sudah punya rekamannya tapi sering kali kita tidak mengakui,” jelas Ustaz Amin.

Oleh karena itu, sambung beliau, setiap kesalahan yang dilakukan harus segera diperbaiki ketika kita masih diberikan jatah usia di dunia.

“Jika kita salah, kita akui salah. Jangan kemudian kita salah dibalut dengan berbagai dalih. Semakin banyak dibela dan dibalut, maka penyakit kita semakin parah. Lebih baik sekarang kita memiliki beban lalu terbebas daripada nanti dihisaban justru menjadi beban dan tanggung jawab,” ungkap Ustaz Amin

Alam kubur


Dalil-dalil Quran dan hadits yg berkaitan dgn alam qubur, ditegaskan bahwa alam qubur dan kuburan  :

SENIN
GELAPNYA ALAM KUBUR

Hal ini ditunjukkan oleh hadits shahih :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ – أَوْ شَابًّا – فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا – أَوْ عَنْهُ – فَقَالُوا مَاتَ. قَالَ « أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِى ». قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا – أَوْ أَمْرَهُ – فَقَالَ « دُلُّونِى عَلَى قَبْرِهِ ». فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِى عَلَيْهِمْ ».

Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa seorang wanita hitam -atau ada keterangan lain seorang pemuda- biasa menyapu masjid Nabawi pada masa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendapatinya sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakannya. Para sahabat menjawab, ‘Dia telah meninggal’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?’ Abu Hurairah berkata, ‘Seolah-olah mereka meremehkan urusannya’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tunjukkan kuburnya kepadaku’. Lalu mereka menunjukkannya, beliau pun kemudian menyalati wanita itu, lalu bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi para penghuninya, dan sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyinarinya bagi mereka dengan shalatku terhadap mereka.” [HR. Bukhari, Muslim, dll]

SELASA
HIMPITAN ALAM KUBUR

Setelah mayit diletakkan di dalam kubur, maka kubur akan menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorang pun yang dapat selamat dari himpitannya.

Dalam Sunan an-Nasâ’i diriwayatkan dari Ibn Umar Radhiyallahu anhuma bahwa  ketika Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu anh meninggal dunia Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ

Inilah yang membuat ‘arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur), akan tetapi kemudian dibebaskan.” [Dishahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah]

Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ

Sesungguhnya kubur memiliki himpitan yang bila seseorang selamat darinya, maka (tentu) Saad bin Muâdz telah selamat. [HR. Ahmad, no. 25015; 25400; Dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni di dalam Shahîhul Jâmi’ 2/236]

Himpitan kubur in akan menimpa semua orang, termasuk anak kecil. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا هَذَا الصَّبِيُّ

Seandainya ada seseorang selamat dari himpitan kubur, maka bocah ini pasti selamat [Mu’jam ath-Thabrani dari Abu Ayyub Radhiyallahu anhu dengan sanad shahih dan riwayat ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jâmi]

Itulah hadits-hadits tentang adanya himpitan qubur dan akan selamat dengan amal sholeh yang kita lakukan.

RABU
FITNAH (UJIAN) KUBUR

Jika seorang hamba telah diletakkan di dalam kubur, dua malaikat akan mendatanginya dan memberikan pertanyaan-pertanyaan. Inilah yang dimaksud dengan fitnah (ujian) kubur. Dalam hadits shahih riwayat Imam Ahmad rahimahullah dari sahabat al-Barro bin ‘Azib Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ:فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولَانِ لَهُ : وَمَا يُدْرِيْكَ ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ: أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِيفَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ (وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ) وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ , قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ قَالَ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ : أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ , فَيَقُولُ لَهُ : مَنْ أَنْتَ , فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ, فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ, فَيَقُولُ: رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي

Kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya, lalu keduanya bertanya, “Siapakah Rabbmu ?” Dia (si mayyit) menjawab, “Rabbku adalah Allâh”. Kedua malaikat itu bertanya, “Apa agamamu?”Dia menjawab: “Agamaku adalah al-Islam”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?” Dia menjawab, “Beliau utusan Allâh”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah ilmumu?” Dia menjawab, “Aku membaca kitab Allâh, aku mengimaninya dan membenarkannya”.
Lalu seorang penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) benar, berilah dia hamparan dari surga, (dan berilah dia pakaian dari surga), bukakanlah sebuah pintu untuknya ke surga.

Maka datanglah kepadanya bau dan wangi surga. Dan diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh mata memandang. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu mengatakan, “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”. Maka ruh orang Mukmin itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang shalih”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, tegakkanlah hari kiamat, sehingga aku akan kembali kepada istriku dan hartaku”.

Pertanyaan ini juga dilontarkan kepada orang kafir, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ, فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ

Kemudian ruhnya dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Sipakah Rabbmu?” Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”.

Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?” Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Lalu penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka.” Maka panas neraka dan asapnya datang mendatanginya. Dan kuburnya disempitkan, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan.
Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan, “Terimalah kabar yang menyusahkanmu ! Inilah harimu yang telah dijanjikan (keburukan) kepadamu”. Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, janganlah Engkau tegakkan hari kiamat”. [Lihat Shahîhul Jâmi’ no: 1672]

Dari hadits yang telah dikemukakan di atas menunjukkan bahwa pertanyaan dalam kubur berlaku untuk umum, baik orang Mukmin maupun kafir.

KAMIS
ADZAB DAN NIKMAT KUBUR

Banyak sekali hadits yang menjelaskan keberadaan adzab dan nikmat kubur. Hal ini telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah. Imam Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah , penulis kitab al-Aqîdah ath-Thahâwiyah, berkata, “Telah mutawatir hadits-hadits dari Rasûlullâh tentang keberadaan adzab dan nikmat kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya; Demikian juga pertanyaan dua malaikat. Oleh karena itu, wajib meyakini dan mengimani kepastian ini. Dan kita tidak membicarakan bagaimana caranya, karena akal tidak memahami bagaimana caranya, karena keadaan itu tidak dikenal di dunia ini. Syari’at tidaklah datang membawa perkara yang mustahil bagi akal, tetapi terkadang membawa perkara yang membingungkan akal. Karena kembalinya ruh ke jasad (di alam kubur) tidaklah dengan cara yang diketahui di dunia, namun ruh dikembalikan ke jasad dengan cara yang berlainan dengan yang ada di dunia.” [Kitab Syarah al-Aqîdah ath-Thahâwiyah, hlm.450; al-Minhah al-Ilâhiyah fii Tahdzîb Syarh ath-Thahâwiyah, hlm. 238]

Kalangan atheis dan orang-orang Islam yang mengikuti pendapat para filosof mengingkari adanya adzab kubur. Mereka beralasan bahwa setelah membongkar kubur, mereka tidak melihat sama sekali apa yang diberitakan oleh nash-nash syariat. Mereka semua tidak mempercayai apa yang di luar jangkauan ilmu mereka. Mereka mengira bahwa penglihatan mereka dapat melihat segala sesuatu dan pendengaran mereka dapat mendengar segala sesuatu, padahal kita saat ini telah mengetahui beberapa rahasia alam yang oleh penglihatan dan pendengaran kita tidak dapat menangkapnya.

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan berita-Nya.

Di dalam al-Qur’ân terdapat isyarat-isyarat yang menunjukkan adanya adzab kubur. Antara lain adalah Firman Allâh Azza wa Jalla tentang Fir’aun dan kaumnya :

وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ
﴿٤٥﴾ النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”. [al-Mukmin/40: 45-46]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk”, yaitu tenggelam di lautan, kemudian pindah ke neraka Jahim. “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang”, sesungguhnya ruh-ruh mereka dihadapkan ke neraka pada waktu pagi dan petang sampai hari kiamat. Jika hari kiamat telah terjadi ruh dan jasad mereka berkumpul di neraka. Oleh karena inilah Allâh Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “dan pada hari terjadinya kiamat. (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”, yaitu kepedihannya lebih dahsyat dan siksanya lebih besar. Dan ayat ini merupakan fondasi yang besar dalam pengambilan dalil Ahlus Sunnah terhadap adanya siksaan barzakh di dalam kubur, yaitu firmanNya ‘Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang’. [Tafsir surat al-Mukmin/40: 45-46]

Imam al-Qurthubi t mengatakan, “Mayoritas Ulama menyatakan bahwa penampakan nereka itu terjadi di alam barzakh/qubur, dan itu merupakan dalil penetapan adanya siksa kubur”. [Fathul Bâri 11/233]

Rabu, 01 Mei 2019

Iman yang lemah

Wa'alaikumussalaam warahmatullaah..

Bisa kita larang dgn menerapkan aturan (jika kita punya kedudukan RT/RW/Lurah dst)

Atau jika kita rakyat biasa, kita bisa larang dgn ucapan kita.

Jika kita tdk berani melarangnya, maka bencilah perbuatan tersebut dgn tdk ikut2an melakukan kemungkaran.

Yg ke-3 tanda iman kita lemah.

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ  [رواه مسلم]

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam  bersabda: Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. (Riwayat Muslim)

Ibadah bukan cari dalil yang melarang


Bismillah pa ustadz mau nanya tentang acara 4bulanan aya nu kekeh malah menta dalilna nu ngalarang na syukron kana jawabannya.

Kalo gitu jawab saja :
Shalat zuhur boleh 1 rokaat, mana dalil yg melarangnya???
_______
Dalam ibadah itu bukan mana dalil yg melarang, tp carilah dalil mana yg memerintahkan, krna qaidah yg menyatakan:

الاصل في العبادة البطلان حتي يقوم الدليل على امره
Pokok asal urusan ibadah itu batal (tdk ada) kecuali ada dalil yg memerintahkannnya.

Acara 4 bulanan tdk ada dalil yg memerintahkannya, maka tdk boleh d lakukan.

Inilah logika akal sehat

Melawat yang meninggal dunia

Wa'alaikumussalaam warahmatullaah...

Jika ada tetangga muslim wafat, laksanakan kewajiban kita yg masuh hidup.

1. Mendoakan dgn doa yg bebas, misal:
"Semoga Allah mengampuni dosanya dan menerima amal shalehnya dst...."

Atau dgn doa yg rasul ajarkan:

اِصْبِرْ وَاحْتَسِبْ فَإِنَّ ِللهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلَّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مَسَمًّى.

Bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah, sesungguhnya adalah hak Allah mengambil dan memberikan sesuatu, segala sesuatu di sisi-Nya ada batas waktu yang telah ditentukan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Doa tersebut d ucapkan d saat kita sudah tiba d tempat keluarga yg meninggal sebagai bentuk ta'ziyah.

Kemudian lakukan 4 hal:
1. Memandikan
2. Mengkafani
3. Menyolatkan, dan
4. Menguburkan

*Cara dan doa ringkas Shalat Jenazah*

4 kali takbir:

1. Takbir pertama
Iftitah, fatihah dan shalawat

2. Takbir kedua
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ،

3. Takbit ketiga
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَذَكَرِنَا وَاُنْثَانَا وَصَغِيرنَا وَكَبِيرنَا

4. Takbir keempat

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّهَا ، وَأَنْتَ خَلَقْتَهَا ، وَأَنْتَ هَدَيْتَهَا لِلْإِسْلَامِ ، وَأَنْتَ قَبَضْتَ رُوحَهَا ، وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِسِرِّهَا وَعَلَانِيَتِهَا ، جِئْنَا شُفَعَاءَ فَاغْفِرْ لَهَا