Tampilkan postingan dengan label dhuha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dhuha. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Oktober 2019

awal dan akhir sholat dhuha

DEWAN HISBAH AWAL DAN AKHIR SHALAT DHUHA
ByPersis JakartaPosted on 3 Agustus 2017      COMMENTS
KEPUTUSAN DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM
No. 007 Tahun 1437 H. / 2016 M.

Tentang:

AWAL DAN AKHIR WAKTU DLUHA

‎بسم الله الرحمن الرحيم

Dewan Hisbah Persatuan Islam Pada Sidang Terbatas di Pesantren Persis 34 Cibegol, Kabupaten Bandung tanggal 23Jumadil Ula 1437 H/3Maret 2016 M setelah:

MENIMBANG:

Shalat adalah ibadah yang telah ditentukan waktunya.
Bahwa shalat dluha adalah shalat yang ditentukan juga waktunya.
Bahwa Rasulullah saw pun pernah melaksanakan shalat dluha waktu futuh Makkah.
Terdapat permasalahan terkait penetapan awal dan akhir waktu shalat dluha.
Bahwa Dewan Hisbah Persatuan Islam memandang perlu adanya kejelasan awal dan akhir waktu shalat tersebut.
MENGINGAT:

Firman Allaah SWT. :
‎إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” Qs.4 / An-Nisa 4 : 103

‎أقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).Qs.17 / Al-Isra : 78

Hadits Nabi SAW.:
‎عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ السُّلَمِيِّ، أَنَّهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ اللَّيْلِ أَسْمَعُ؟ قَالَ: «جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَصَلِّ مَا شِئْتَ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَكْتُوبَةٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ الصُّبْحَ، ثُمَّ أَقْصِرْ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، فَتَرْتَفِعَ قِيسَ رُمْحٍ، أَوْ رُمْحَيْنِ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَيُصَلِّي لَهَا الْكُفَّارُ، ثُمَّ صَلِّ مَا شِئْتَ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَكْتُوبَةٌ، حَتَّى يَعْدِلَ الرُّمْحُ ظِلَّهُ ، ثُمَّ أَقْصِرْ، فَإِنَّ جَهَنَّمَ تُسْجَرُ، وَتُفْتَحُ أَبْوَابُهَا، فَإِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ، فَصَلِّ مَا شِئْتَ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ الْعَصْرَ، ثُمَّ أَقْصِرْ، حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَيُصَلِّي لَهَا الْكُفَّارُ».
Dari Amer bin ‘Abasah as-Sulamiy, ia berkata, aku bertanya kepada Rasululah Saw: “wahai Rasulullah, bagian malam yang manakah yang paling dekat kepada di ijabahnya do’a?” Beliau menjawab: “sepertiga malam akhir”, shalatlah sekehendakmu, sebab shalat di waktu itu di saksikan dan dicatat amal kebaikannya oleh malaikat, hingga engkau shalat shubuh. Kemudian janganlah melakukan shalat sampai matahari terbit maka dia meninggi seukuran tombak atau dua tombak, sebab ia terbit diantara dua tanduk setan, dan orang kafir melakukan shalat pada waktu itu, kemudian shalatlah sekehendakmu, sebab shalat di waktu itu (ketika matahari satu atau dua tombak) di saksikan dan dicatat amal kebaikannya oleh malaikat, hingga Tombak seimbang dengan bayangannya (maksudnya: hingga mendekati waktu Istiwa/Kulminasi). Kemudian (setelah itu)janganlah kalian melakukan shalat sebab neraka Jahannam sedang menyala-nyala, dan pintunya di buka. Bila matahari tela tergelincir, maka shalatlah sekehendakmu, sebab shalat di waktu itu di saksikan hingga engkau melakukan shalat Ashar. Kemudian janganlah melakukan shalat hingga matahari tenggelam, sebab ia tenggelam diantara dua tanduk setan, dan orang kafir melakukan shalat pada waktu itu. (HR. Abu Daud, Sunan Abu Daud II: 25)

 

‎وَحَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ – وَهُوَ ابْنُ عُلَيَّةَ – عَنْ أَيُّوبَ عَنِ الْقَاسِمِ الشَّيْبَانِىِّ أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ ».
Dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ibnu Numair keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ismail yaitu Ibnu ‘Ulayyah dari Ayyub dari Al Qasim Asy Syaibani bahwa Zaid bin Arqam pernah melihat suatu kaum yang tengah mengerjakan shalat dhuha, lalu dia berkata; “Tidakkah mereka tahu bahwa shalat diluar waktu ini lebih utama? sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat awwabin (orang yang bertaubat) dikerjakan ketika anak unta mulai kepanasan.”HR. Muslim II: 171 no.1780

 

‎أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ فُورَكَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ حَبِيبٍ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنِ الْقَاسِمِ ح وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ : عَلَىُّ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمُقْرِئُ أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ الْقَاضِى حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنِ الْقَاسِمِ الشَّيْبَانِىِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ : أَنَّهُ رَأَى نَاسًا جُلُوسًا إِلَى قَاصٍّ فَلَمَّا طَلَعَتِ الشَّمْسُ ابْتَدَرُوا السَّوَارِى يُصَلُّونَ فَقَالَ زَيْدُ بْنُ أَرْقَمَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« صَلاَةُ الأَوَّابِينَ إِذَا رَمِضَتِ الْفِصَالُ ».
(Al-Baihaqi berkata) Telah menghabarkan kepada kami Abu Bakar bin Fuurak (ia berkata), telah menghabarkan kepada kami Abdullah bin Ja’far (ia berkata), telah mennceritakan kepada kami Yunus bin Habib (ia berkata), telah menceritakan kepada kami Abu Daud (ia berkata), telah menceritakan kepada kami Hisyam dari al-Qasim. (al-Baihaqi berkata), telah menceritakan juga kepada kami Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al-Muqri (ia berkata), telah menghabarkan kepada kami al-Hasan bin Muhammad bin Ishaq (ia berkata), telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Ya’qub al-Qaadiy (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Hammad dari al-Qasim as-Syaibaniy dari Zaid bin Arqam, bahwa ia melihat orang-orang sedang duduk kepada seorang pembaca kisah, ketika telah terbit matahari mereka bersegera melaksanakan shalat. Maka Zaid bin Arqam berkata, Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Shalat Awwabin itu ketika anak unta menderum karena kepanasan”.

‎حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عبد الوهاب عن سعيد عن قتادة عن القاسم الشيباني عن زيد بن أرقم : ان نبي الله صلى الله عليه و سلم أتى على مسجد قباء أو دخل مسجد قباء بعد ما أشرقت الشمس فإذا هم يصلون فقال ان صلاة الأوابين كانوا يصلونها إذا رمضت الفصال
(al-Qathi’iy berkata) Telah menceritakan kepada kami Abdullah (ia berkata), telah menceritakan kepadaku bapakku (ia berkata), telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab dari Said dari Qatadah dari al-Qasim as-Syaibaniy dari Zaid bin Arqam, bahwa Nabi Saw mendatangi masjid quba, atau masuk ke Masjid Quba, setelah terbit matahari. Ternyata mereka sedang shalat, maka ia berkata, sesungguhnya shalat Awwabin adalah ketika anak-anak unta menderum karena kepanasan.”(HR. Ahmad IV: 374 no. 19366)

Sayyid Sabiq mengatakan
‎وقتها: يَبْتَدِى أَوْقَاتهُاَ بِارْتِفَاعِ الشَمْسِ قَدْرَ رَمْحٍ وَيَنْتَهِي حِيْنَ الزَّوِالِ وَلَكِنَّ المُسْتَحَبَّ أَنْ تُؤَخَّرَ إِلىَ أَنْ تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ وَيَشْتَدَّ الْحُرُّ.

“Waktu salat Dhuha dimulai ketika matahari mulai meninggi seukuran tombak dan berakhir ketika zawwal (tergelincir matahari), namun yang mustahab adalah diakhirkan sampai matahari meninggi dan terasa panas.” (Lihat, Fiqh As-Sunnah, jilid 1, hlm. 177)

MEMPERHATIKAN :

Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP.Persis KH. Aceng Zakaria yang menyarankan segera diputuskan masalah hukum tentang ‘Awal dan akhir waktu dluha ’ dan untuk segera disosialisasikan.
Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Muhammad Romli.
Pemaparan dan pembahasan makalah tentang’Awal dan akhir waktu dluha’ yang disampaikan oleh Ust.Usman Burhanudin bahwa awal waktu dluha dinyatakan masuk setelah terbit Matahari dan berakhir 5 menit sebelum waktu zhuhur.
Pandangan para peserta sidang tentang dalil dan keterangan awal dan akhir waktu dluha .
Atas dasar semua konsideran di atas, maka dengan bertawakkal kepada Allah Dewan Hisbah Persatuan Islam

MENGISTINBATH :

Waktu dluha dinyatakan masuk setelah terbit matahari.
Setelah terbit matahari dipahami bila piringan matahari yang paling bawah telah menyentuh ufuk yakni 15 menit setelah syuruq.
Waktu afdlal shalat dluha adalah saat anak unta kepanasan yakni sekitar jam 09.00-11.00.
Waktu Dluha berakhir sampai beberapa saat sebelum kulminasi yakni 5 menit sebelum waktu zhuhur.
Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

‎الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين

Bandung, 23Jumadil Ula 1437 H./3Maret 2016 M.
DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Selasa, 03 April 2018

Tahqiq tentang Jumlah raka’at shalat Dhuha

Tahqiq tentang Jumlah raka’at shalat Dhuha
--------------------

Shalat Dhuha adalah shalat Sunnah yang dilaksanakan pada waktu dhuha (pagi hari). Shalat dhuha disebut juga shalat awwabin (HR. Muslim 748) atau bila dilakukan diawal pagi disebut shalat Isyraq.

Waktu pelaksanaannya mulai dari menaiknya matahari setelah terbit seukuran tombak atau ¼ jam setelah terbit sampai waktu menjelang tergelincir matahari. Waktu yang paling utama darinya adalah pas seperempat hari pertama, ketika anak unta beranjak mulai kepanasan sinar matahari (kalo di Arab), kira-kira jam 9 pagi (HR. Muslim 748).

Shalat Dhuha hukumnya sunnah Mu’akkadah (sangat dianjurkan) (HR. Bukhari 1178, Muslim 721, 722). Rasulullah saw sering melaksanakan shalat dhuha tetapi tidak mendawamkannya karena khawatir dijadikan wajib oleh Allah (HR. Bukhari 1128, Muslim 718) atau khawatir dianggap wajib oleh umatnya.

Diantara hikmah disyari’akannya, menurut Ibnul Qoyyim agar setiap seperempat hari yang dilalui manusia tidak kosong melaksanakan Ibadah kepada Allah.

Berapakah Jumlah rakaatnya?

Jumlah rakaat shalat dhuha genap, minimal 2 rakaat. Berikut ini dalilnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قالَ: أوْصَانِي خَلِيلِي - صلى الله عليه وسلم - بِثَلاثٍ: بِصِيَامِ ثَلاثَةِ أيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى، وَأنْ أُوتِرَ قَبْلَ أنْ أرْقُدَ. (متفق عليه)
Dari Abu Hurairah katanya; _"Sahabat akrabku shallallahu 'alaihi wasallam mewasiatkan kepadaku untuk melakukan tiga hal, puasa tiga hari tiap bulan, dua rakaat dhuha, dan melakukan shalat witir sebelum tidur."_ (HR. Bukhari 1178 dan Muslim 721)

boleh 4 rakaat atau lebih (dua rakaat dua rakaat), berdasarkan hadits berikut:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْها قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - يُصَلِّي الضُّحَى أرْبَعاً، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللهُ. أخرجه مسلم
_Dari 'Aisyah katanya; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah melakukan shalat dhuha sebanyak empat rakaat, dan terkadang beliau menambah sekehendak Allah."_ (HR. Muslim 719)

Boleh dilaksanakan 8 rakaat (dua rakaat dua rakaat) sesuai hadits berikut:

وَعَنْ أُمِّ هَانِئٍ رَضِيَ اللهُ عَنْها قَالَتْ: إِنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ، فَاغْتَسَلَ، وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، فَلَمْ أَرَ صَلاَةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا، غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ. متفق عليه
_Dari Ummu Hani' radliyallahu ‘anha, dia menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah memasuki rumahnya pada saat penaklukan Makkah, kemudian Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mandi lalu shalat delapan raka'at" seraya menjelaskan: "Aku belum pernah sekalipun melihat Beliau melaksanakan shalat yang lebih ringan dari pada saat itu, namun Beliau tetap menyempurnakan ruku' dan sujudnya_. (HR. Bukhari 1176, Muslim 336)

Ada fukoha dari kalangan hanafiyah dan sebagian syafiiyah serta satu riwayat dari kalangan hanabilah membatasi maksimalnya sampai hanya 12 Rokaat (dua rakaat dua rakaat), berdasarkan hadits berkut:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ، وَهُوَ يَرْفَعْهُ إِلَى النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ : " مَنْ صَلَّى الضُّحَى سَجْدَتَيْنِ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ، وَمَنْ صَلَّى أَرْبَعًا كُتِبَ مِنَ الْقَانِتِينَ،  وَمَنْ صَلَّى سِتًّا كُفِيَ ذَلِكَ الْيَوْمَ، وَمَنْ صَلَّى ثَمَانِيًا كَتَبَهُ اللَّهُ الْعَابِدِينَ ، وَمَنْ صَلَّى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ.
Dari Abu Dzarr , dia memarfukannya kepada Nabi saw, beliau bersabda: _Barangsiapa melakukan shalat dhuha 2 rakaat dia tidak akan dicatat dari golongan orang yang lalai, barangsiapa yang melakukannya 4 rakaat, dia pasti dicatat dari orang-orang yang  taat, barangsiapa yang melakukannya 6 rakaat cukuplah kebaikan hari itu baginya, barangsiapa yang melakukannya 8 rakaat, Allah mencatatnya dari golongan ahli beribadah, barangsiapa yang melakukannya 12 rakaat, Allah membangunkan baginya rumah di Surga_. (HR. Baihaqi dalam sunan shaghir 837)

Namun hadits ini dloif sebab dalam sanadnya terbadap rawi majhul (tidak dikenal) yaitu Zaid bin Salim serta rawi yang disepakati dloif yaitu Sholt bin Salim.

Diriwayatkan pula oleh Abu Nuaem namun sama dloifnya sebab ada rawi majhul lainnya yaitu al-Hasan bin Atho’.

Imam Tirmidzi dalam jami’nya 1380, meriwayatkan juga secara ringkas dari Anas bin Malik, tetapi sama dloifnya, lagi-lagi ada rawi majhul bernama Musa bin Hamzah. Dan Nama rawi ini dalam mujam Shaghir Thabroni 182 dibalik jadi Hamzah bin Musa.

Sama dloifnya yang dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dengan rawi majhul bernama Fathimah bintu Nashir.

Pendapat yang kuat dalam hal ini adalah pendapat fuqoha yang menyatakan jumlah raka’at maksimal shalat Dhuha tidak dibatasi, bisa lebih dari 12 rakaat apabila cukup waktu dan kesempatannya, berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim dari A’isyah diatas (No. 2).

Wallahu A’lam.

Senin, 19 Maret 2018

Hukum mendawamkan sholat dhuha?

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (Hr. Muslim)

أَبِى بُرَيْدَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « فِى الإِنْسَانِ سِتُّونَ وَثَلاَثُمِائَةِ مَفْصِلٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهَا صَدَقَةً ». قَالُوا فَمَنِ الَّذِى يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا أَوِ الشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ »

“Dari Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at.” (Hr. Ahmad)

Hukum mendawamkan shalat dhuha adalah boleh dan sangat baik