Tampilkan postingan dengan label syaban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syaban. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Maret 2023

KUMPULAN Hadist-Hadist LEMAH DAN PALSU SEPUTAR BULAN Sya’ban

Septyan Widianto

HomepageArtikel Islami
Septyan Widianto in Artikel Islami
*KUMPULAN Hadist-Hadist LEMAH DAN PALSU SEPUTAR BULAN Sya’ban*

Ketika memasuki Bulan Sya’ban, seringkali kita mendapati broadcast message melalui pesan singkat berupa amalan-amalan bulan Sya’ban.

Acapkali dengan broadcast tersebut, memberitahu tentang amalan-amalan yang dapat menghapuskan dosa, dan ganjaran pahala yang begitu besar.

Banyak sekali dari amalan-amalan tersebut membawakan hadist yang belum diketahui kebenarannya untuk meyakinkan pembaca bahwa amalan tersebut dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wassalam.

Daftar Isi sembunyikan
1. Membawakan Hadist Dha’if Berbahaya
2. Hadist-Hadist Dha’if Tentang Bulan Sya’ban
2.1. 1. Hadist Berkaitan Keutamaan Bulan Sya’ban
2.2. 2. Hadist Berkaitan Anjuran Berpuasa di Bulan Sya’ban
2.3. 3. Anjuran Bermaafan Pada Malam Nisfu Sya’ban Agar Diampuni Dosanya
3. Penutup
Membawakan Hadist Dha’if Berbahaya
Dalam broadcast message atau dalam ceramah-ceramah yang berkaitan dengan amalan-amalan khusus di bulan Sya’ban amat berbahaya apabila yang dibawakan adalah hadist dhaif (lemah).

Karena berbohong atas nama Nabi shallallahu alaihi wassalam adalah sebuah perbuatan munkar.

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda:

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ, مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak seperti berdusta atas nama selainku. Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka sesungguhnya dia telah menyiapkan tempat duduknya di Neraka.” (HR Al-Bukhari no. 1291 dari Al-Mughirah, Muslim dalam Muqaddimatush-shahih no. 4 dari Abu Hurairah dan yang lainnya)

Sehingga, berhati-hatilah apabila mengamalkan ataupun ikut menyebarkan hadist-hadist yang belum diketahui kebenarannya. Karena sangat berbahaya sekali apabila kita berbohong atas nama Nabi shallallahu alaihi wassalam.

Hadist-Hadist Dha’if Tentang Bulan Sya’ban
Dengan banyaknya menyebar amalan-amalan yang berkaitan dengan Bulan Sya’ban, penulis akan mengumpulkan beberapa hadist-hadist dha’if yang populer dibawakan berkaitan dengan Bulan Sya’ban. Semoga kita terhindar dari menyebarkan amalan-amalan yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wassalam.

1. Hadist Berkaitan Keutamaan Bulan Sya’ban
فَضْلُ رَجَبَ عَلَى سَائِرِ الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ الْقُرْآنِ عَلَى سَائِرِ الأَذْكَارِ ، وَفَضْلُ شَعْبَانَ عَلَى سَائِرِ الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ مُحَمَّدٍ عَلَى سَائِرِ الْأَنْبِيَاءِ ، وَفَضْلُ رَمَضَانَ عَلَى سَائِرِ الشّهُوْرِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى عِبَادِه

“Keutamaan bulan Rajab dari seluruh bulan adalah seperti keutamaan Al-Qur’an dari seluruh dzikir. Keutamaan bulan Sya’ban dari seluruh bulan adalah seperti keutamaan Muhammad dari seluruh nabi. Dan keutamaan bulan Ramadhan dari seluruh bulan adalah seperti keutamaan Allah dibanding dengan hamba-hamba-Nya.” (HR Salafy Al-Hafizh)

Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Tabyiinul-‘Ajb bimaa Warada fi Fadhli Rajab. Beliau berkata, “Seluruh rijal sanad ini tsiqah kecuali As-Saqathi sesungguhnya dia Aafah. Dan sangat terkenal memalsukan hadits dan mengganti-ganti sanad serta tidak ada seorang pun yang meriwayatkan dengan sanad hadits seperti ini kecuali dia.”

2. Hadist Berkaitan Anjuran Berpuasa di Bulan Sya’ban
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْر

“Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berfirman, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia, dst…?’ (Allah berfirman tentang hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah, 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman, 3/378)

Hadits di atas diriwayatkan dari jalur Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, secara marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Hadits dengan redaksi di atas adalah hadits maudhu’ (palsu), karena perawi bernama Ibnu Abi Sabrah statusnya muttaham bil kadzib (tertuduh berdusta), sebagaimana keterangan Ibnu Hajar dalam At-Taqrib. Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentang Ibnu Abi Sabrah, “Dia adalah perawi yang memalsukan hadits.”[ Lihat Silsilah Dha’ifah, no. 2132]

3. Anjuran Bermaafan Pada Malam Nisfu Sya’ban Agar Diampuni Dosanya
Begitu banyak yang membawakan hadist di bawah ini sebagai permulaan untuk meminta maaf.

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Dengan dalil di atas, banyak yang mengirimkan permintaan maaf. Karena khawatir tidak diampuni dosanya karena khawatir masih ada permusuhan. Bagaimana kekuatan hadistnya?

Hadis ini memiliki banyak jalur, diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Abu Musa, Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al-Khusyani, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhum. Hadis dishahihkan oleh Imam Al-Albani dan dimasukkan dalam Silsilah Ahadits Shahihah, no. 1144. Beliau menilai hadis ini sebagai hadis shahih, karena memiliki banyak jalur dan satu sama saling menguatkan. Meskipun ada juga ulama yang menilai hadis ini sebagai hadis lemah, dan bahkan mereka menyimpulkan semua hadis yang menyebutkan tentang keutamaan nisfu syaban sebagai hadis dhaif.

Penutup
Demikianlah hadist-hadist dhaif (lemah) maupun Maudhu (palsu) yang berkaitan dengan bulan Sya’ban.

Bulan Sya’ban adalah salah satu bulan mulia, di mana di dalamnya terdapat banyak kemuliaan. Tetapi berhati-hatilah dalam melakukan amalan-amalan tertentu.

Karena apabila amalan tersebut bukan berasal dari Nabi shallallahu alaihi wassalam, maka akan tertolak. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wassalam:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Berada dalam Bulan Sya’ban, mengisyaratkan bahwa kita semakin dekat dengan bulan suci Ramadan. Jadi mari kita tingkatkan lagi semangat kita dalam beribadah agar kita semakin siap untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Wallahua’lam.

Artikel: SeptyanWidianto.Web.ID
      
© 2020 SeptyanWidianto.web.id | View Non-AMP Version

shalat malam nisfu syaban

JURNAL PEMUDA PERSIS KAB. BANDUNG

SELASA, 27 JULI 2010
Shalat Nisfu Sya'ban, Taubat dan Shalat Tasbih
Penulis: Bid Dakwah PD Pemuda Persis Kab Bandung

SHALAT PADA MALAM PERTENGAHAN BULAN SYA’BAN
(NISFU SYA’BAN)

Hadits Pertama :

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلاَّلُ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ ، أَنْبَأَنَا ابْنُ أَبِي سَبْرَةَ ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدٍ ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ جَعْفَرٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ اَبِي طَالِبٍ  قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  : إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا. فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ : أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ! أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ! أَلاَ مُبْتَلًي فَأُعَافِيَهُ! أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ.

(Berkata Ibnu Majah) : Telah menerangkan kepada kami Al-hasan bin ‘Ali Al-Khollal, telah menerangkan kepada kami Abdurazzaq, telah memberitakan kepada kami Ibnu Abi Sabroh, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari ‘Ali bin Abi Thalib RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Apabila tiba malam pertengahan bulan Sya’ban maka shalatlah pada malamnya dan saumlah pada siang harinya. Karena Allah ‘azza wajalla turun pada malam tersebut waktu matahari terbenam ke langit dunia. Ia berfirman : “Ingatlah! Adakah yang memohon ampunan pada-Ku, pasti akan Ku-ampuni! Adakah yang meminta rizki, pasti aku memberinya rizki! Adakah yang sedang ditimpa bala, pasti Aku sembuhkan dia! Adakah yang begini dan begini, sampai terbit fajar.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh :
1. Imam Ibnu Majah pada Sunan Ibnu Majah Kitabu Iqomatis solat juz I halaman 438 no.1388
2. Al-Baehaqiy pada Kitab Syu'abul Iman III : 378 no.3822.

Pada sanadnya ada rowi yang bernama Ibnu Abi Sabroh, Abu Bakar bin Abdillah bin Muhammad bin Abi Sabroh.
Imam Ahmad, Ibnu Addi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim Abu Abdillah mengatakan : Rowi tersebut suka membuat hadits palsu,berdusta.
Ibnul Madini dan Al-Bukhori berkata : munkarul hadis,
Kata An-Nasaiy : matrukul hadis. (Tahdzibut Tahdzib X : 30 no.8254, Mizanul I'tidal IV : 503 no.10024, Taqribut Tahdzib II : 698)



Hadits Kedua :

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ  عَنِ النَّبِيِّ  قَالَ : مَنْ صَلَّى لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ ثَلاَثِيْنَ مَرَّةً، لَمْ يَخْرُجْ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَ يَشْفَعُ فِي عَشْرَةٍ مِنْ اَهْلِ بَيْتِهِ كُلُّهُمْ وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Barang siapa yang shalat pada malam pertengahan bulan Sya’ban 12 raka’at, pada setiap raka’at membaca surat Qulhuwalloohu ahad 30 kali, maka ia tidak akan keluar kecuali melihat tempat duduknya di surga, dan dapat memberi syafa’at pada sepuluh orang dari keluarganya, mereka semuanya pasti masuk surga.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ibnul Jauziy pada Kitab Al-Maudu'at II : 129.
Pada sanadnya terdapat rowi yang bernama Baqiyyah bin Al-Walid bin Sho-id bin Ka'ab yang menerima dari Laits bin Sulem dengan sighotul ada 'an, sedangkan dia itu rowi mudallis,tidak diterima dan tak dapat dijadikan hujjah bila menggunakan sighot 'an
(lihat Tahdzibut Tahdzib I : 495 no.779, Mizanul I'tidal I : 331, Taqribut Tahdzib I : 73)

Tentang Laits bin Abi Sulem bin Zunem, Ibnu Ma'in, Ibnu Uyainah, Ibnu Sa'ad, Al-Juzujaniy, Ya'qub bin Syaibah dan As-Sajiy mendla'ifkannya.
Imam Ahmad, Abu Hatim dan Abu Zur'ah berkata : mudtoribul Hadis,
Kata Ibnu Ma'in : Munkarul hadis. (Tahdzibut Tahdzib VI : 611-614 no.5881, Mizanul I'tidal III : 420 no.6997, Taqribut Tahdzib II : 497)


Hadits Ketiga :

عَنْ عَلِيِّ بْنِ اَبِي طَالِبٍ  قَالَ : رَاَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ  لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ قَامَ فَصَلَّى اَرْبَعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ جَلَسَ بَعْدَ الْفَرَاغِ فَقَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ اَرْبَعَ عَشْرَةَ مَرَّةً، وَ قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ اَرْبَعَ عَشْرَةَ مَرَّةً، وَقُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ اَرْبَعَ عَشْرَةَ مَرَّةً، وَقُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ اَرْبَعَ عَشْرَةَ مَرَّةً، وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ مَرَّةً، وَلَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ الآيَةَ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ سَأَلْتُ عَمَّا رَأَيْتُ مِنْ صَنِيْعِهِ، فَقَالَ : مَنْ صَنَعَ مِثْلَ الَّذِي رَاَيْتَ كَانَ لَهُ كَعِشْرِيْنَ حِجَّةٍ مَبْرُوْرَةٍ، وَكَصِيَامِ عِشْرِيْنَ سَنَةً مَقْبُوْلَةٍ، فَإِنْ اَصْبَحَ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ صَائِمًا كَانَ كَصِيَامِ سِتِّيْنَ سَنَةً مَاضِيَةً وَسَنَةً مُسْتَقْبِلَةً

Dari Ali bin Abi Thalib RA, ia berkata : Saya melihat Rasulallah SAW pada malam pertengahan Sya’ban melakukan shalat 14 raka’at, lalu beliau duduk setelah selesai. Lalu membaca Ummul Qur’an (Fatihah) 14 kali, Qulhuwalloohu ahad 14 kali, Qul a’udzu birobbil falaq 14 kali, Qul a’udzu birobbinnaas 14 kali, ayat kursi satu kali, ayat “laqod ja-akum risulun”.al-ayat.
Setelah beliau selesai shalatnya, saya bertanya kepadanya apa yang beliau lakukan tadi, lalu tutur beliau:” Barang siapa yang melakukan seperti apa yang kamu lihat tadi, maka baginya pahala seperti 20 kali haji yang mabrur, dan seperti saum selama 20 tahun yang diterima, lalu bila pagi harinya shaum, maka keadannya seperti saum selama 60 tahun yang lalu, dan setahun yang akan datang.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ibnul Jauziy pada Kitab Al-Maudu'at II : 130.
Pada sanadnya ada rowi yang bernama Muhammad bin Muhajir.
Ibnu Hanbal berkata : Rowi tersebut pemalsu hadits. (Al-Maudu'at II : 130)
Demikian juga dikatakan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dan Al-Jauzaqani.
(lihat Lisanul Mizan V : 448 rowi no. 8073)



Hadits Keempat :

عَنْ عَلِيِّ  عَنِ النَّبِيِّ  اَنَّهُ قَالَ : مَنْ صَلَّى مِائَةَ رَكْعَةٍ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ ، يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَ قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ. قَالَ النَّبِيُّ  : يَا عَلِيُّ مَا مِنْ عَبْدٍ يُصَلِّي هَذِهِ الصَّلَوَاتِ إِلاَّ قَضَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ كُلَّ حَاجَةٍ طَلَبَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ. اَلْحَدِيْثَ.

Dari Ali bin Abi Thalib RA, dari Nabi SAW beliau bersabda : Barang siapa yang shalat 100 raka’at pada malam pertengahan bulan Sya’ban, pada setiap raka’at membaca Fatihah dan Qulhuwalloohu ahad 11 kali, Nabi SAW bersabda : Wahai Ali, tidak ada seorang pun yang melakukan shalat-shalat ini kecuali Allah ‘azza wajalla akan memenuhi segala kebutuhan yang orang tersebut memintanya pada malam itu. Al-hadits.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnul Jauziy pada Kitab Al-Maudu'at II : 127.
Al-Hafiz Ibnu Hajar dan Imam Ad-Dzahabi berkata : Hadis tersebut batil, Ali yang ini (Ali bin Ya'mar As-Samiy) termasuk rowi yang matruk. Mudah-mudahan Alloh mema’afkannya. (Lisanul Mizan IV : 213, Mizanul I'tidal III : 120)





SHALAT TASBIH

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرِ بْنِ الْحَكَمِ النَّيْسَابُورِيُّ ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ ، حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ أَبَانَ ، عَنْ عِكْرِمَةَ ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ  قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: يَا عَبَّاسُ ، يَا عَمَّاهُ ، أَلاَ أُعْطِيكَ! أَلاَ أَمْنَحُكَ! أَلاَ أَحْبُوْكَ! أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ ، صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ ، سِرَّهُ وَعَلاَنِيَتَهُ ، عَشْرَ خِصَالٍ : أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً. فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ : سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ، ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ، ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ، ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ، فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ. إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمُرِكَ مَرَّةً.

(Imam Abu Dawud berkata) : Telah menerangkan kepada kami Abdurrahman bin Bisyr bin Hakam An Naisabury, telah menerangkan kepada kami Musa bin Abdul ‘Aziz, telah menerangkan kepada kami Hakam bin Aban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda kepada Al ‘Abbas bin Abdul Muthalib: Wahai ‘Abbas, wahai pamanku, tidakkah engkau ingin aku beri ? tidakkah engkau ingin aku anugerahi ? tidakkah engkau ingin aku beri hadiah ? tidakkah engkau ingin aku lakukan bagimu 10 urusan yang bila engkau mengerjakannya, niscaya Allah akan mengampuni dosamu yang awal dan akhirnya, yang telah lama dan yang barunya, yang tidak sengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, 10 urusan, yaitu :
Engkau shalat 4 raka’at, pada setiap raka’at engkau baca Al Fatihah dan surat lain. Bila telah selesai bacaan pada ra’at pertama, dalam keadaan sedang berdiri engkau ucapkan :
“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, dan tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Agung” –sebanyak 15 kali-, kemudian ruku’, ketika ruku’ ucapkanlah yang tadi 10 kali, lalu bangkit dari ruku’, ketika itu mengucapkannya 10 kali lalu turun sujud, ketika itu mengucapkannya lagi 10 kali, lalu bangkit dari sujud, ketika itu mengucapkannya lagi 10 kali,lalu sujud lagi dan mengucapkannya lagi 10 kali,lalu bangkit dan mengucapkannya kembali 10 kali. Demikian adalah 75 kali pada setiap raka’at, engkau lakukan 4 raka’at.
Bila engkau mampu, lakukanlah setiap hari, jika tidak, lakukan tiap satu jum’at sekali, jika tidak, lakukan satu bulan sekali, jika tidak, lakukan satu tahun sekali, dan jika tidak mampu juga, lakukanlah sekali seumur hidup.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud pada Sunan Abu Dawud Kitabu Shalat, bab shalatit tasbih pada juz I hal. 304 hadis no. 1297.
Pada sanadnya ada rowi yang bernama lengkap Musa bin Abdul ‘Aziz Al Yamaniy Al ‘Adaniy, Abu Syu’eb Al Qinbariy.,
Rowi tersebut didla’ifkan oleh Ibnul Madiniy,
As-Sulaimaniy mengatakan : Munkarul hadits.
Ibnu Hajar berkata : Shaduq sayyiul hifzhi (jujur, jelek hapalan).
(Tahdzibut Tahdzib VIII : 410 no. 7270, Taqribut Tahdzib II : 611 no. 7270, Al Mugni fid Dlu’afa II : 685 no. 6508, Mizanul I”tidal IV : 212 no. 8893)

Hadits diatas diriwayatkan juga oleh :
1. Imam Ibnu Majah pada Sunan Ibnu Majah, Kitabu Iqamatis Shalat, bab ma ja-a fi shalati tasbih pada juz I hal. 437 hadits no. 1387
2. Al-Hakim pada Al-Mustadrak I : 428 no. 1222
3. At-Tobroniy pada Al Mu’jamul Kabir IX : 442
4. Al-Baihaqi pada Syu’abul Ieman VII : 91 no. 2944
Dengan sanad sama-sama melalui Musa bin Abdul ‘Aziz diatas.

Hadits tentang Shalat Tasbih juga diriwayatkan oleh :
1. Imam At-Tirmidzi dalam Sunan At-Tirmidzi II : 25 no. 482,
2. At-Tobroniy dalam Al-Mu’jamul Kabir I : 425 no. 980
Pada sanadnya ada rowi yang bernama Musa bin ‘Ubaidah bin Nasyith bin ‘Amr bin Al-Harits Ar-Rabadziy, Abu Abdil ‘Aziz Al-Madaniy.
Rowi tersebut didla’ifkan oleh Ibnu Ma’in, Ibnul Madiniy, At-Tirmidzi, An-Nasaiy, Ya’qub bin Syaibah, Ibnu Qani’ dan Ibnu Hibban.
Imam Ahmad, Abu Hatim dan As-Sajiy berkata : Munkarul hadits.
(Tahdzibut Tahdzib VIII : 411-414 rowi no. 7271)




SHALAT TAUBAT


حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ رَبِيعَةَ ، عَنْ أَسْمَاءَ بْنِ الْحَكَمِ الْفَزَارِيِّ قَال : سَمِعْتُ عَلِيًّا يَقُولُ : إِنِّي كُنْتُ رَجُلاً إِذَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ  حَدِيثًا نَفَعَنِي اللهُ مِنْهُ بِمَا شَاءَ أَنْ يَنْفَعَنِي بِهِ ، وَإِذَا حَدَّثَنِي رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ اسْتَحْلَفْتُهُ ، فَإِذَا حَلَفَ لِي صَدَّقْتُهُ. وَإِنَّهُ حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرٍ -وَصَدَقَ أَبُو بَكْرٍ- قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ  يَقُولُ : مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلِّي ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ إِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ. ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ{وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ}إِلَى آخِرِ الآيَةِ

(Imam At-Tirmidzi berkata) : Telah menerangkan kepada kami Qutaibah, telah menerangkan kepada kami Abu ‘Awanah, dari ‘Utsman bin Al-Mughirah, dari ‘Ali bin Rabi’ah, dari Asma bin Hakam Al-Fazariy, ia berkata : Saya mendengar ‘Ali berkata : Sesungguhnya keadaanku apabila mendengar hadits dari Rasulullah SAW, Allah memberiku manfaat darinya apa-apa yang ia hendaki untuk memberiku manfaat dengannya, dan bila seseorang dari sahabatnya menerangkan hadits kepadaku aku memintanya sumpah terlebih dulu, jika ia bersumpah maka aku pun membenarkannya. Sesungguhnya Abu Bakar menerangkan kepadaku –dan benarlah Abu Bakar- katanya : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Tiada seorang pun berbuat dosa, lalu ia bersuci, kemudian shalat, kemudian memohon ampunan kepada Allah, kecuali Allah mengampuninya. Lalu beliau membacakan ayat : {“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah - Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. 3:135)}

Hadits tersebut diriwayatkan oleh :
1. At-Tirmidzi dalam Sunan At-Tirmidzi pada Kitabut Tafsir V : 10 no. 3017
2. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud pada Kitabu Shalat I : 352 no. 1521
3. An-Nasaiy pada As-Sunanul Kubronya VI : 110 no.10250
4. Ibnu Majah pada Sunan Ibni Majah dalam Kitabu Iqamati Shalat I : 440 no.1395
5. Ahmad dalam Musnadnya pada Musnad Abi Bakar no. 2
6. Al-Humaidi dalam Musnadnya no. 1
7. At-Toyalisiy dalam Musnadnya no. 2
8. Ibnu Hibban dalam Shahihnya II : 8 no. 622

Pada semua sanadnya ada rowi yang bernama Asma bin Al-Hakam Al-Fazaariy.
Rowi ini walaupun ditsiqatkan oleh Al-‘Ijliy, tetapi Ibnu Hibban berkata dalam At-Tsiqatnya bahwa rowi tersebut suka salah (yukhti-u). Dan Al-Bukhari memandang munkar hadits ini.
Al-‘Uqailliy mengatakan bahwa hadits ini tafarrud ‘Utsman bin Al-Mughirah dari ‘Ali bin Rabi’ah dari Asma dan kata beliau : Sesungguhnya ‘Utsman munkarul hadits. Dan Ibnul Jarud menyebutnya diantara rowi-rowi dla’if
(Tahdzibut Tahdzib I : 285 no. 441, Mizanul I’tidal I : 255 no. 979)
Jurnal Pemuda Persis Kab. Bandung di 08.25
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
‹
›
Beranda
Lihat versi web
ABOUT ME
Jurnal Pemuda Persis Kab. Bandung
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 25 Februari 2023

Amalan-amalan sunah pada bulan sya'ban

Wa'alaikum salam... 
Amalan-amalan sunah pada bulan sya'ban:
1. Memperbanyak shoum sunah, senin-kamis,  ayyamul bidh, atau shoum daud 

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ, وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ, وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اِسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ, وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam biasa shaum sehingga kami menyangka beliau tidak akan berbuka dan beliau berbuka sehingga kami menyangka beliau tidak akan shaum. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau shaum dalam suatu bulan lebih banyak daripada bulan Sya'ban. Muttafaq Alaihi.
2. Memperbanyak amal solih lainnya 
3. Memperbanyak taubat kepada Alloh, agar dosa itu tidak menjadi beban berat yang menghalangi semangat ibadah kepada Alloh

shaum syaban

Mangga ini haditsnya

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ, وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ, وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اِسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ, وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam biasa shaum sehingga kami menyangka beliau tidak akan berbuka dan beliau berbuka sehingga kami menyangka beliau tidak akan shaum. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau shaum dalam suatu bulan lebih banyak daripada bulan Sya'ban. Muttafaq Alaihi.

Dengan hadits ini menerangkan bahwasanya Rosululloh saw memperbanyak melakukan shoum sunah di bulan sya'ban tetapi tidak full satu bulan, terkadang beliau shoum terkadang tidak, dan tidak diterangkan berapa hari beliau shoum. Adapun tujuan memperbanyak shoum pada bulan sya'ban itu:
1. Karena bulan sya'ban bulan diangkatnya amal, dilaporkan kepada Alloh
2. Shoum sya'ban sebagai shoum sunah yang menyertai shoum romadhon, seperti sholat rowatib ada qobla dan ba'da. Shoum sya'ban rowatib qobla romadhon dan shoum syawal rowatib ba'da romadhon
3. Sebagai upaya latihan untuk mempersiapkan diri melaksanakan shoum romadhon 

Nabi Saw shaum d bulan syaban sebagaimana shaum² sunnah yg sudah d tetapkan d bulan lainnya, seperti senin kamis, ayyamul bidh dll.

Jadi bukan shaum sya'ban, tapi shaum sunnah di bulan sya'ban.

Walloohu 'alam


AMALAN DI BULAN SYA’BANYANG SESUAI DENGAN SYARIAT NABI SAW

AMALAN DI BULAN SYA’BAN
YANG SESUAI DENGAN SYARIAT NABI SAW
Oleh Dr. Nashruddin Syarif, M.Pdi

Banyak sekali hadits yang menganjurkan amal-amal ibadah sunat pada bulan Sya’ban secara umum. Hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan Nishfu Sya’ban secara khusus pun memang ada. Tetapi tidak kemudian harus menyambutnya dengan membuat syari’at shalat dan shaum baru di luar yang sudah disyari’atkan.

Tidak dinafikan bahwa umat Islam hari ini masih abai dengan amal-amal ibadah sunat yang Nabi saw anjurkan di bulan Sya’ban disebabkan beberapa alasan: 

Pertama,
Karena tidak paham akan keberadaan hadits-hadits yang menganjurkannya.

Kedua,
Paham terhadap hadits-hadits tersebut, tetapi memang tidak mampu, sehingga tidak mengamalkannya dan berat juga untuk menganjurkannya.

Ketiga,
Terjebak pada pemahaman sempit bahwa Sya’ban itu hanya mulia di Nishfu Sya’ban (pertengahan Sya’ban)-nya saja.

Dari ketiga alasan di atas, memang tidak ada yang sampai berdosa jika motifnya karena tidak tahu atau tidak mampu, sebab anjuran Nabi saw dalam amal-amal ibadah khusus di bulan Sya’ban ini sifatnya sebatas anjuran atau sunat, tidak ada yang wajib. Baik ‘tidak tahu’ atau ‘tidak mampu’ kedua-duanya masuk kategori la yukalliful-‘llah nafsan illa wus’aha; Allah tidak akan membebani setiap jiwa kecuali berdasarkan kemampuan (termasuk pengetahuan) maksimalnya. Hanya jika kemudian itu sampai menyebabkan ‘mematikan sunnah’ tentu ini lain lagi persoalannya. Persoalan ‘mematikan sunnah’ bisa mendorong pada ‘ketidakcintaan pada sunnah Nabi saw’ yang diancam oleh Nabi saw dengan sabdanya:

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Siapa yang tidak mencintai sunnahku, maka ia bukan dari golonganku”.
(Shahih al-Bukhari kitab an-nikah bab at-targhib fin-nikah no. 5063).
Tentunya setiap pengkaji ilmu mempunyai tanggung jawab khusus dalam hal keilmuan, untuk tetap mengajarkannya sebagai ilmu, terlepas dari keterbatasan yang dimiliki oleh masing-masing individunya yang dapat ditoleransi berdasarkan firman Allah swt: la yukalliful-‘Llah nafsan illa wus’aha.
 

Nishfu Sya’ban

Perhatian umat Islam mayoritas yang lebih tertuju pada Nishfu Sya’ban/pertengahan Sya’ban, dan itu biasanya diberlakukan pada tanggal 15 Sya’ban, memang tidak terlepas dari hadits-hadits yang menjelaskan fadlilah/keutamaannya secara khusus. Dua muhaddits kontemporer, Syaikh Syu’aib al-Arnauth dan al-Albani, menilai hadits-hadits tersebut shahih atau hasan bi syawahidihi; shahih atau hasan karena banyak sanad yang menguatkannya. 
Penilaian seperti itu dalam istilah lainnya adalah shahih/hasan li ghairihi; shahih/hasan bukan karena sanad-sanadnya memang shahih/hasan secara sendirinya, melainkan justru sanad-sanad yang dimaksud tidak terlepas dari kedla’ifan. Akan tetapi karena dla’if-nya tidak ada yang sampai munkar atau terindikasi/terbukti sebagai pemalsuan hadits, maka secara otomatis kesemua sanadnya saling menguatkan, berdasarkan satu kaidah yang sudah disepakati oleh para ulama:

اَلْأَحَادِيْثُ الضَّعِيْفَةُ يُقَوِّيْ بَعْضُهَا بَعْضًا

“Hadits-hadits dla’if satu sama lain saling menguatkan”

Dengan catatan apabila dla’if tersebut dari segi dlabth (hafalan) dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an atau hadits lain yang shahih. Adapun jika dla’ifnya itu dari segi ‘adalah (adil) seperti kadzdzab (pendusta), yadla’ul-hadits (memalsukan hadits), fisqur-rawi atau “tertuduh dusta” maka kaidah tersebut tidak dipakai 
(Thuruqul-Istinbath Dewan Hisbah bagian Beristidlal dengan Hadits no. 2).

Syaikh Syu’aib al-Arnauth

diketahui menilai hadits ini shahih bi syawahidihi dalam takhrijnya terhadap beberapa kitab hadits seperti Shahih Ibn Hibban, Musnad Ahmad, Sunan Ibn Majah, dan Sunan at-Tirmidzi. Berikut disajikan analisa beliau terhadap hadits fadlilah nishfu Sya’ban yang diriwayatkan dalam Shahih Ibn Hibban:

ذِكْرُ مَغْفِرَةِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ لِمَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ إِلَّا مَنْ أَشْرَكَ بِهِ أَوْ كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ

 أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُعَافَى الْعَابِدُ بِصَيْدَا وَابْنُ قُتَيْبَةَ وَغَيْرُهُ قَالُوا: حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْرَقُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو خُلَيْدٍ عُتْبَةُ بْنُ حَمَّادٍ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، وَابْنِ ثَوْبَانَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَكْحُولٍ، عَنْ مَالِكِ بْنِ يُخَامِرَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: يَطْلُعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

Bab: Riwayat tentang Ampunan Allah jalla wa ‘ala pada Malam Nishfu Sya’ban bagi Orang Yang Dikehendaki oleh-Nya selain Orang Yang Musyrik kepada-Nya atau Orang Yang Memiliki Dendam Permusuhan dengan Saudaranya.

Ibn Hibban berkata

Muhammad ibn al-Mu’afa seorang ahli ibadah di Shaida, Ibn Qutaibah, dan yang lainnya mengajarkan hadits kepada kami, mereka berkata:  Hisyam ibn Khalid al-Azraq mengajarkan hadits kepada kami, ia berkata: Abu Khulaid ‘Utaibah ibn Hammad mengajarkan hadits kepada kami, dari al-Auza’i, dari Ibn Tsauban, dari bapaknya, dari Makhul, dari Malik ibn Yukhamir, dari Mu’adz ibn Jabal, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Allah turun kepada makhluqnya pada malam pertengahan Sya’ban, lalu Dia mengampuni semua makhluqnya kecuali orang musyrik atau yang memusuhi.” 
(Shahih Ibn Hibban kitab al-hazhr wal-ibahah)

Syu’aib al-Arnauth menjelaskan:

حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ بِشَوَاهِدِهِ، رِجَالُهُ ثِقَاتٌ إِلاَّ أَنَّ فِيْهِ انْقِطَاعاً، مَكْحُوْلٌ لَمْ يَلْقَ مَالِكَ بْنَ يُخَامِرَ. وأخرجه ابن أبي عاصم في “السنة” (512) والطبراني في “الكبير” 20/ (215) عن هشام بن خالد بهذا الإسناد. وذكره الهيثمي في “المجمع” 8/65 وقال: رواه الطبراني في “الكبير” و”الأوسط” ورجالهما ثقات. وأخرجه أبو نعيم في “الحلية” 5/191 من طريق أزهر بن المرزبان، عن عتبة بن حماد، به.

Hadits shahih berkat syawahidnya. Rawi-rawinya tsiqat kecuali ada keterputusan sanad. Makhul tidak pernah bertemu Malik ibn Yukhamir. Ibn Abi ‘Ashim meriwayatkannya dalam kitab as-Sunnah (512) dan at-Thabrani dalam kitab al-Mu’jamul-Kabir 20/215 dari Hisyam ibn Khalid dengan sanad seperti ini. al-Haitsami menyebutkannya dalam kitab Majma’uz-Zawa`id 8/65 dan berkata: “at-Thabrani meriwayatkannya dalam al-Mu’jamul-Kabir dan al-Mu’jamul-Ausath, rawi-rawinya tsiqat.” Abu Nu’aim meriwayatkannya dalam Hilyatul-Auliya` 5/191 dari sanad Azhar ibn al-Marzaban, dari ‘Utbah ibn Hammad, dengan sanad yang sama (dari al-Auza’i, dari Ibn Tsauban, dari bapaknya, dari Makhul, dari Malik ibn Yukhamir, dari Mu’adz ibn Jabal, dari Nabi saw)


Dalam bab ini ada juga hadits dari: Abu Musa al-Asy’ari riwayat Ibn Majah (1390), Ibn ‘Ashim (510) dan al-Lalika`i (763); hadits Abu Hurairah riwayat al-Bazzar (2046); hadits Abu Tsa’labah riwayat Ibn Abi ‘Ashim (511) dan al-Lalika`i (760); hadits Abu Bakar riwayat al-Bazzar (2045), Ibn Khuzaimah dalam kitab al-Wahid hlm. 90, Ibn Abi ‘Ashim (509) dan al-Lalika`i dalam kitab as-Sunnah (750); hadits ‘Auf ibn Malik riwayat al-Bazzar (2048); hadits ‘Abdullah ibn ‘Amr riwayat Ahmad 2/176; hadits ‘Aisyah riwayat at-Tirmidzi (739), Ahmad 6 : 238, Ibn Majah (1389) dan al-Lalika`i (764). Hadits-hadits penguat (syawahid) ini meskipun masing-masingnya ada masalah tetapi menguatkan hadits (Mu’adz) bab ini.

Uraian di atas menginformasikan bahwa hadits fadlilah nishfu Sya’ban tersebut diriwayatkan dari delapan shahabat; Mu’adz ibn Jabal, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Tsa’labah, Abu Bakar ash-Shiddiq, ‘Auf ibn Malik, ‘Abdullah ibn ‘Amr, dan ‘Aisyah. Kedelapan sanad tersebut tidak ada satu pun yang luput dari cacat. Tetapi cacat tersebut bukan cacat yang parah, sehingga bisa saling menguatkan dan menjadi shahih.

BERSAMBUNG

Senin, 15 April 2019

Amalan nisfu syaban bid'ah

Tdk ada satu dalilpun yg shahih tentang rangkian ibadah khusus d malam nishfu sya'ban.

Pelakunya adalah bid'ah

Contoh :
# MALAM NISFU SYA'BAN ,,,,
ba'da Maghrib ( 19-20 April 2019 )
Malam Nisfu Sya'ban Jatuh Pada Malam Sabtu 19 April 2019 atau ( Malam
Malam ke 15 bulan Sya'ban,                           .
Nabi Sholallohu Alaihi Wassallam
bersabda ,,,,

" barangsiapa yg memberitahukan
  berita datang nya bulan Sya' ban
  kepada yang lain ,
  maka haram api neraka
  baginya ."

di anjurkan membaca ,,,,
- Surah Yasin  ( 3x )

Surah Yasin ke .1

" di baca untuk memohon panjang
  Umur dan keTaatan serta
  keTaq waan dan dapat
  istiqomah  kepada Alloh Ta'ala ."

Surah Yasin ke .2

" di baca untuk memohon di luas-
  kan Rezeqi yg halal & menolak
  Bala ."

Surah Yasin ke 3

" di baca untuk memohon di
  tetapkannya Iman Islam hingga
  Akhir hayat ."

berdo'alah secara khusyu' ...
meminta apa apa yg tersirat dalam hati  ,

Karena malam nisfu Sya' ban adalah malam yg sangat di ijabah
untuk di qobul semua doa doa &
hajat hajat yang di inginkan

Para Ulama menyatakan bahwa
Malam nisfu Sya' ban juga di namakan malam pengampunan
atau malam Maghfiroh .

Imam Al Gozhali RA. mengistilahkan malam nisfu
Sya' ban sebagai malam yg penuh
dg Syafaat ( pertolongan )  menurut beliau ..

Malam ke 13 bulan Sya' ban Alloh
memberikan 3 Syafaat kepada hamba - NYA

Malam ke .14 " seluruh Syafaat di berikan secara penuh ."

Malam ke .15
" umat islam dapat memiliki banyak sekali kebaikkan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun ."

Karena pada malam itu Alloh Ta'ala menurunkan pengampunan
kepada seluruh penduduk bumi
terutama kepada hamba hambanya yg Sholeh .
 

Doa ,,

" Allohumma bariklana fii
  Sya' bana wa Romadhona ."

artinya ,

" ya ,Alloh berilah ke berkahan di
  bulan Sya' ban dan
  sampaikanlah umurku
  menjumpai bulan Romadhon ."

baca ,
- .Astaghfirulloh al Adzim ( 100x )
,- Tahmid & Takbir.             ( 100 x)
- Sholawat Nabi.                 ( 100x )

dan dzikir dzikir lainnya ..

Wallohu Alam ,

🌸Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)

SAMPAIKAN KEPADA ORANG LAIN MAKA INI ADALAH SEDEKAH JARIAH DAN PADA SETIAP ORANG YANG MENGAMALKANYA KAMU AKAN IKUT MENDAPATKAN PAHALANYA INSYA ALLAH AAMIIN....

*INDAHNYA BERBAGI*

SEMOGA BERMANFAAT

Senin, 14 Mei 2018

HADITS-HADITS DHAIF DAN PALSU NISHFU SYA'BAN

HADITS-HADITS DHAIF DAN PALSU NISHFU SYA'BAN

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa bagi sebagian orang, bulan Sya’ban dipandang memiliki keistimewaan tersendiri sehingga layak disikapi dengan beragam acara dan upacara spesial, terutama pada malam nishfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban). Acara dan upacara yang biasa dilaksanakan pada pertengahan bulan Sya’ban ini terwujud dalam bentuk ibadah ritual berupa shaum, shalat, doa dan dzikir.

Tampaknya pelaksanaan beragam bentuk ibadah itu merujuk kepada beberapa keterangan (dalil)—oleh  sementara kalangan—dipandang bersumber dari Nabi saw. dan diyakini sesuai dengan petunjuk Islam, hingga seorang pendongeng bernama Ziyad al-Munqiri memproklamirkan:

إِنَّ أَجْرَ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ مِثْلُ أَجْرِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya pahala malam nishfu Sya’ban seperti pahala lailatul qadr.” [1]

Namun, jika kita merujuk pula kepada penjelasan para ulama dari berbagai madzhab lintas generasi, ternyata beberapa dalil rujukan itu tidaklah kokoh, bahkan sebagian ulama menyebutnya batil dan palsu (mawdhu’). Karena itu, dalil-dalil tersebut tidak dapat dijadikan landasan beribadah. Karena itu, dalam menyikapi pernyataan Ziyad al-Munqiri, seorang tabi’in yang popular dengan sebutan Ibnu Abu Mulaikah (w. 117 H), dengan nada keras berkata:

لَوْ سَمِعْتُهُ يَقُولُ ذَلِكَ وَفِي يَدِي عَصًا لَضَرَبْتُهُ بِهَا
“Sekiranya saya mendengar dia berbicara demikian, dan saya memegang tongkat, niscaya saya pukul dia dengan tongkat itu.” [2]

Hadis-hadis Tentang Ibadah Nishfu Sya’ban

Secara umum, sikap pemuliaan nishfu Sya’ban merujuk kepada hadis-hadis sebagai berikut:

A. Hadis Tentang Shaum, Shalat Nishfu, doa Nishfu Sya’ban

Pelaksanaan shaum dan shalat pada nishfu Sya’ban merujuk kepada hadis berikut:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا. ـ رواه ابن ماجه ـ
Dari Ali bin Abu Thalib berkata; Rasulullah saw. bersabda, “Apabila (tiba) malam pertengahan  pada bulan Sya’ban, maka berdirilah kalian (melaksanakan shalat) pada malam harinya dan shaumlah kalian pada siang harinya.” HR. Ibnu Majah.[3]

Status Hadis

Ibnu Majah infiradh (menyendiri) dalam meriwayatkan hadis  di atas. Pada sanad hadis ini terdapat seorang rawi bernama Ibnu Abu Syabrah. Nama lengkapnya adalah Abu Bakar bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Syabrah bin Abu Ruhm. Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Ma’in mengatakan, “Ia suka memalsu hadis.” Pernyataan serupa disampaikan pula oleh Ibnu Adi. [4]

Sementara anjuran berdoa pada nishfu Sya’ban merujuk kepada hadis sebagai berikut:

Hadis Pertama:

إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ؛ نَادَى مُنَادٍ : هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ ، هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ ؟ فَلَا يَسْأَلُ أَحَدٌ شَيْئًا إِلَّا أُعْطِيَ ، إِلَّا زَانِيَةٌ بِفَرْجِهَا ، أَوْ مُشْرِكٌ
“Apabila telah tiba malam pertengahan pada bulan Sya’ban (Nishfu Sya’ban) maka ada suara yang menyerukan (Allah): ‘Barangsiapa meminta ampun (kepada-Ku) maka akan Aku ampuni dia, Barangsiapa meminta (kepada-Ku) maka akan Aku penuhi permintaannya’, maka tidaklah seorang meminta sesuatu (kepada Allah) melainkan akan dipenuhi permintaannya. Kecuali seorang wanita pezina atau orang yang menyekutukan Allah.”

Status Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi melalui periwayat bernama Abu al-Hasan bin Bisyran, dari Abu Ja’far ar-Razi, dari Muhammad ar-Riyah, dari Jami’ bin Shubaih ar-Ramli, dari Marhum bin ‘Abdul ‘Aziz, dari Dawud bin Abdurrahman, dari Hisyam bin Hassan, dari al-Hasan, dari sahabat ‘Usman bin Abil ‘Ash. [5]

Hadis ini lemah karena di dalam sanadnya terdapat dua cacat: Pertama, seorang rawi bernama al-Hasan al-Bashri meriwayatkan dengan simbol ‘an (dari), padahal dia dikenal sebagai seorang rawi mudallis (menyamarkan periwayatan). Kedua, kelemahan seorang rawi yang bernama Jami’ bin Shabih/Shubaih ar-Ramli. [6]

Hadis Kedua:

خَمْسُ لَيَالٍ لاَ تُرَدُّ فِيْهِنَّ الدَّعْوَة : أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَةُ الجُمْعَةِ وَلَيْلَةُ الفِطْرِ وَلَيْلَةِ النَّحْرِ
“Ada lima malam yang tidak akan ditolak doa orang yang berdoa di dalamnya: awal malam dari bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam ‘Idul Fithri dan malam ‘Idul Adha.” HR. Ibnu ‘Asakir.[7]

Status Hadis

Hadis ini palsu karena di dalam sanadnya terdapat dua orang rawi yang dikenal sebagai pendusta, yaitu (1) Abu Sa’id Bundar bin Umar dan (2) Ibrahim bin Abi Yahya.

B. Hadis-hadis Tentang Tata Cara Ibadah Nishfu Sya’ban

Adapun tata cara ibadah berupa salat pada nishfu Sya’ban merujuk kepada hadis-hadis sebagai berikut:

Hadis Pertama:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ: يَا عَلِيُّ، مَنْ صَلَّي مِائَةَ رَكْعَةٍ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ، يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِ{ فَاتِحَةُ الكِتَابِ } وَ{ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدُ } عَشْرَ مَرَّاتٍ ، وَقَالَ: يَا عَلِّيُ مَا مِنْ عَبْدٍ يُصَلِّي هذِهِ الصَّلَوَاتِ إِلاَّ قَضَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ كُلَّ حَاجَةٍ طَلَبَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةِ…
Dari Ali bin Abu Thalib, dari Nabi saw., beliau bersabda, “Wahai Ali, barangsiapa shalat seratus rakaat pada malam Nishfu, dalam setiap rakaatnya membaca Fatihatul Kitab dan Qul Huwallahu Ahad sepuluh kali.” Dan ia bersabda, “Wahai Ali, tidaklah di antara seorang hamba yang melaksanakan shalat-shalat ini, kecuali Allah akan menunaikan baginya seluruh keperluan yang ia minta pada malam itu…” HR. Ibnu al-Jauzi.[8]

Status Hadis

Hadis di atas dha’if tidak dapat dipakai landasan syariat ibadah nishfu Sya’ban, karena pada sanadnya terdapat rawi bernama Laits bin Abu Sulaim dan Ali bin Al Hasan. Kedua rawi ini daif sebagaimana diterangkan para ahli hadis berikut ini :

Pertama, Ali bin Al Hasan bin Ya’mar As Sami Misry. Ibnu Adi mengatakan, “Hadis-hadisnya batil.”[9]

Kedua, Laits bin Abu Sulaim bin Zunaim Al-Laitsi.

Ia seorang rawi yang hidup pada masa kepemerintahan Yazid dan termasuk generasi tabi’in yunior (thabaqat shigar tabi’in). Ia wafat pada tahun 143 H. Meski tercatat sebagai seorang yang ahli ibadah, namun ia cacat dalam urusan periwayatan hadis, antara lain:

Ikhtilath (pikun) pada akhir umurnya sehingga ia tidak ingat lagi terhadap apa yang pernah diceritakannya. Ia juga seorang yang menukarkan (maqlub) sanad, menyambungkan hadis yang terputus hingga nampak seperti sabda Nabi (memarfukan yang mursal), dan meriwayatkan hadis-hadis dari para rawi yang tsiqah (kredibel), padahal hadis itu bukan berasal dari mereka.
Yahya bin Ma’in dan An Nasai mengatakan, “Ia dhaif.” Pada kesempatan lain, Ibnu Ma’in berkata, “Ia lebih dha’if daripada ‘Atha bin As Saib.”
Ja’far bin Aban Al-Hafizh bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang Laits bin Abu Sulaim, ia menjawab, ‘Hadisnya sangat dha’if dan banyak salah.” [10]
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Aku mendengar ayahku berkata bahwa Laits bin Abu Sulaim itu hadisnya goncang tak menentu (mudhtharib al-hadits), akan tetapi orang-orang banyak menerima hadis darinya.” Mu’awiyah bin Shalih berkata, dari Yahya bin Main, “Laits bin Abu Syufyan itu dhaif, kecuali hadisnya sekadar dicatat.” [11]
Hadis Kedua:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ النَّبِيَّ صلي الله عليه وسلم  : مَنْ قَرَأَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ أَلْفَ مَرَّةٍ { قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدُ} فِي مِائَةِ رَكْعَةٍ ، لَمْ يَخْرُجْ مِنَ الدُّنْيَا حَتَّى يَبْعَثَ اللهُ إِلَيْهِ فِي مَنَامِهِ مِائَةَ مَلَكٍ يُلَبُّونَ يَبْشِرُونَهُ بِالجَنَّةِ وَثَلاَثُونَ يُؤْمِنُونَهُ مِنَ النَّارِ وَثَلاَثُونَ يَعْصِمُونَهُ مِنْ أَنْ يُخْطِئَ وَعِشْرُونَ يَكِيدُونَ مَنْ عَادَاهُ. رواه ابن الجوزي
Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa membaca qul Huwallahu Ahad  pada malam nishfu Sya’ban seribu kali pada seratu rakaat, maka ia tidak akan keluar dari dunia sehingga Allah mengutus kepadanya sewaktu tidur (mimpi) seratus malaikat yang menyambut dan memberinya kabar gembira dengan surga, tiga puluh malaikat mengamankannya dari neraka, tiga puluh malaikat memeliharanya dari kesalahan, dan sepuluh malaikat akan memperdayakan orang yang memusuhinya.” HR. Ibnu al-Jauzi.[12]

Status Hadis

Pada sanad hadis ini terdapat rawi-rawi yang tidak dikenal (majhul), dan setelah kami teliti ternyata banyak sekali rawi-rawi yang tidak terdapat dalam kitab-kitab biografi periwayat (Rijal).

Ibnu al-Jauzi berkomentar, “Kami tidak ragu lagi bahwa hadis ini palsu (mawdhu’). Kebanyakan rawi-rawi dalam ketiga jalan ini  terdapat rawi-rawi yang tidak dikenal (majhul), dan di antara mereka ada juga yang dhaif.” [13]

Hadis Ketiga:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيَّ صلي الله عليه وسلم  قَالَ : مَنْ صَلَّى لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، ثِنْتَي عَشْرَةَ رَكْعَةً يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ { قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدُ} ثَلاَثِينَ مَرَّةً لَمْ يَخْرُجْ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الجَنَّةِ وَيَشْفَعَ فِي عَشْرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ كُلِّهِمْ وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ. ـ رواه ابن الجوزي
Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. beliau bersabda, “Barangsiapa shalat pada malam nishfu Sya’ban sebanyak dua belas rakaat, ia membaca Qul Huwallahu Ahad pada setiap rakaatnya sebanyak tiga puluh kali, maka ia tidak akan keluar sebelum melihat tempat duduknya di surge terlebih dahulu, dan memberi syafaat (menyelamatkan) sepuluh orang dari keluarganya, yang semuanya sudah pasti masuk neraka.” HR. Ibnul al-Jauzi.[14]

Hadis ini juga dhaif karena pada sanadnya terdapat sekelompok rawi-rawi yang majhul, juga terdapat dua rawi yang dhaif, yaitu Baqiyah dan Laits bin Abu Sulaim, sebagaimana telah diterangkan di atas. [15]

Hadis Keempat:

قَالَ عَلِيُّ ابْنُ أَبِي طَالِبٍ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلي الله عليه وسلم   لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ قَامَ فَصَلَّى أَرْبَعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ جَلَسَ بَعْدَ الفِرَاغِ فَقَرَأَ بِ{ أُمُّ القُرْآنِ } أَرْبَعَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَ{ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدُ} أَرْبَعَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَ{ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الفَلَقِ} أَرْبَعَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَ{ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ} أَرْبَعَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَ{ آيَةُ الكُرْشِي} مَرَّةً { وَلَقَدْ جَائَكُمْ رَسُولٌ} الآيَةَ ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ سَأَلْتُ عَمَّا رَأَيْتُ مِنْ صَنِيعِهِ فَقَالَ: مَنْ صَنَعَ مِثْلَ الَّذِي رَأَيْتَ كَانَ لَهُ كَعِشْرِينَ حَجَّةً مَبْرُورَةً وَكَصِيَامِ عِشْرِينَ سَنَّةٍ مَقْبُولَةٍ، فَإِنْ اَصْبَحَ فِي ذلِكَ اليَوْمِ صَائِمًا كَانَ كَصِيَامِ سِتِّينَ سَنَّةٍ مَاضِيَةٍ وَسَنَّةٍ مُسْتًقْبِلَةٍ. رواه ابن الجوزي والبيهقي
Dari Ali bin Abu Thalib, ia berkata, “Saya pernah melihat Nabi saw. pada malam nishfu Sya’ban bangun dan shalat empat belas rakaat, kemudian setelah selesai beliau duduk dan membaca Al-Fatihah empat belas kali, membaca Qul Huwallahu Ahad empat belas kali, Qul A’udzu birrabbil falaq empat belas kali, Qul A’udzu birrabbin Nas empat belas kali, dan beliau membaca ayat Kursi satu kali walaqad ja’aakumur Rasul  (Ayat). Maka tatkala beliau selesai dari shalatnya, aku bertanya tentang apa yang aku lihat dari perbuatannya. Beliau menjawab, ‘Barangsiapa melakukan amal seperti yang kamu lihat, maka baginya pahala sebanding dua puluh kali haji mabrur dan shaum dua puluh tahun yang diterima. Dan jika pagi  hari itu ia dalam keadaan shaum, maka itu sebanding shaum enam puluh tahun yang telah lalu dan yang akan datang.” HR. Ibnu al-Jauzi[16] dan Al Baihaqi[17]

Status Hadis

Hadis di atas pun dhaif, bahkan palsu sebagaimana dikatakan oleh Ibn al-Jauzi, “Hadis ini maudhu (palsu) dan pada sanadnya terdapat kegelapan. Penyebab hadis ini palsu adalah mencantumkan nama-nama periwayat yang bukan semestinya. Selain itu, terdapat seorang rawi yang sering membuat hadis palsu bernama Muhammad bin Muhajir. Ibnu Hanbal mengatakan, ‘Ia itu suka memalsukan hadis’.” [18]

Perlu diketahui bahwa hadis-hadis tentang ibadah shalat, doa-doa, dan keutamaan-keutamaan yang berkenaan dengan nishfu Sya’ban itu masih banyak lagi, namun keseluruhan hadis-hadis tersebut dha’if, bahkan cenderung palsu (maudhu’)

Komentar Para Ulama Tentang Ibadah Nishfu

Al-Imam Sirajuddin Ibnu Mulaqqin asy-Syafi’i mengatakan, “Tidak ada hadis shahih yang menerangkan tentang masalah pengkhususan shalat pada malam Nishfu Sya’ban.” [19]

Syekh Muhammad Abdus Salam mengatakan, “Salat enam rakaat pada malam nishfu Sya’ban dengan niat untuk menghilangkan bala, memanjangkan umur, dan mengharap kekayaan, dengan bacaan surat Yasin dan doa, tidak diragukan lagi bahwa hal seperti itu bid’ah (perkara yang diada-adakan) dalam agama dan bertentangan dengan sunah Sayidul Mursalin (Muhammad saw.).”

An-Nazm Al-Ghaithi mengatakan, “Tentang menghidupkan  ibadah-ibadah pada malam Nishfu Sya’ban dengan berjamaah itu diingkari oleh kebanyakan ahlil Hijaz, di antaranya Atha, Ibnu Abu Mulaikah, para ahli fiqih Madinah, dan sahabat Malik. Mereka mengatakan bahwa hal itu seluruhnya bid’ah, dan tidak ada satupun dalil tentang salat itu, baik dari Nabi saw. ataupun para sahabat.”

Imam An Nawawi mengatakan, “Shalat pada pertengahan bulan Rajab dan Sya’ban itu bid’ah yang sangat dibenci.” [20]

Kesimpulan

Para ulama ahli hadis telah meneliti bahwa semua hadis yang menyebutkan tentang keutamaan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat atau ibadah lainnya serta shaum pada siang harinya, tidak ada satu pun yang shahih, bahkan banyak yang palsu. Karena demikian adanya, tentu saja tidak dapat dijadikan pegangan untuk beramal pada nishfu Sya’ban.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

[1] Lihat, Mushannaf Abdurrazaq, Juz 4, hlm. 317

[2] Ibid.

[3] Lihat, Sunan Ibnu Majah, Juz 1, hlm. 444, No. 1388

[4] Lihat, Tahdzib al-Kamal fi Asma ar-Rijal, Jilid 33, hlm. 102-107

[5] Lihat, Syu’ab al-Iman, V : 362, No. 3555

[6] Lihat, Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Mawdhu’ah, juz 14, hlm. 1099

[7] Lihat, Tarikh Madinah Dimasyq, Juz 119, hlm. 6.

[8] Lihat, Al-Mawdhu’at, II : 127; Al-La’ali al-Mashnu’ah, II : 57

[9] Lihat, Al-Mughni, II : 444

[10] Lihat, Siyar ‘Alam an-Nubala, VI: 179-184,  Al-Majruhin, karya Ibnu Hiban, II: 231-232, dan Mizan al- I’tidal, III : 420.

[11] Lihat, Tahdzib al-Kamal fi Asma ar-Rijal, Jilid 24, hlm. 284.

[12] Lihat, Al-Mawdhu’at, II : 128; Al-La’aali al-Mashnu’ah, II : 58-59

[13] Lihat, Al-Mawdhu’at, II : 129

[14] Lihat, Al-Mawdhu’at, II : 129; Al-La’ali al-Mashnu’ah, II : 59

[15] Lihat, Al-Mawdhu’at, II : 129

[16] Lihat, Al-Mawdhu’at, II : 130; Al-La’ali al-Mashnu’ah, II : 59-60

[17] Lihat, Syu’ab al-Iman, III : 386

[18] Lihat, Al-Mawdhu’at, II : 130

[19] Lihat, at-Taudhih, juz 13, hlm. 445

[20] Keterangan para ulama itu dapat dibaca pada As-Sunan Wa al-Mubatada’at, hlm. 145

Sumber
http://www.sigabah.com/beta/beragam-ibadah-nishfu-syaban-2/

Selasa, 01 Mei 2018

ANTARA SUNNAH DAN MITOS SEPUTAR BULAN SYA’BAN

ANTARA SUNNAH DAN MITOS SEPUTAR BULAN SYA’BAN

Bulan Sya’ban diapit oleh dua bulan mulia, yaitu Rojab yang diagungkan pada masa jahiliyah dan kemudian dijadikan salahsatu bulan harom dalam Islam dan Romadlan sebagai syahrush shiyam yang didalamnya terdapat lailatul qodar.

Tidak mengherankan bila dahulu perhatian orang-orang tertuju pada 2 bulan tersebut serta melupakan bulan Sya’ban. Inilah yang menjadi alasan Nabi saw melakukan shaum Sunnah lebih banyak dilakukan pada bulan Sya’ban. Beliau saw bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ  (رواه النسائي 2537)
_"Itulah bulan yang manusia lalai darinya; -ia bulan yang berada- di antara bulan Rajab dan Ramadlan, yaitu bulan yang disana berisikan berbagai amal, perbuatan diangkat kepada Rabb semesta alam, aku senang amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa."_ (HR. Nasa’I 2537, hadits Hasan)

Setidaknya hadits ini mengandung dua maklumat,

1. Anjuran memakmurkan waktu-waktu yang dilupakan orang dengan ibadah dan amalan yang masyru’. Bisa jadi amalan yang dilakukan pada waktu yang masyhur keutamaannya tidak lebih utama dari amalan dibulan sya’ban ini.

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:

واعلم أن الأوقات التي يغفل الناس عنها معظمة القدر لاشتغال الناس بالعادات والشهوات، فإذا ثابر عليها طالب الفضل دل على حرصه على الخير. ولهذا فضل شهود الفجر في جماعة لغفلة كثير من الناس عن ذلك الوقت، وفضل ما بين العشاءين وفضل قيام نصف الليل ووقت السحر" (التبصرة: 2/50)،
_Ketahuilah bahwa waktu-waktu yang dilupakan orang memiliki bobot keagungan tersendiri dikarenakan mereka sibuk dengan adat dan syahwat. Jika para pencari keutamaan tetap tiada henti (pada waktu-waktu ini) menunjukan semangat/harapan mereka pada kebaikan. Oleh sebab itu, berjamaah pada waktu shubuh lebih unggul karena kebanyakan manusia melupakannya, demikian pula diunggulkan waktu setelah isya dan diunggulkan sholat tengah malam serta waktu sahur._ (at-Tabshiroh 2/50)

Menurut Imam Ibnu Rojab ada 3 alasan keutamaan amal ibadah pada waktu-waktu yang dilupakan kebanyakan orang:

a). Amal ibadah diwaktu ini lebih sunyi dan selamat dari riya.
b). Amal ibadah diwaktu ini lebih berat dilaksanakan, sedangkan besarnya pahala disesuaikan dengan keberatan melaksanakannya.
c). seorang pelaku Ibadah ditengah-tengah keumuman yang lalai atau maksiat dapat menolak bala/bencana untuk semua orang. (lihat latho’iful ma’arif 191-193)
_Lanjutan_

ANTARA SUNNAH DAN MITOS SEPUTAR BULAN SYA’BAN

Amalan ibadah dalam rangka mengisi bulan Sya’ban dapat dibedakan menjadi dua katagori, yang berdasar Sunnah dan yang berdasar mitos,

👉Memperbanyak puasa sunnah berupa shaum daud, shaum senin kamis, shaum pada 3 hari tengah bulan atau shaum sunnah yang muthlaq. Ini yang masyru’ dan sesuai Sunnah.

Adapun puasa yang secara khusus dikaitkan dengan hari nishfu Sya’ban, ini hanya mitos yang didasarkan pada riwayat hoak/palsu berikut:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ص: " إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا، وَصُومُوا نَهَارَهَا، فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ: أَلا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ، أَلا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ، أَلا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهِ، أَلا كَذَا، أَلا كَذَا، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ "، قال المؤلف: هَذَا حديث لا يصح وابن لهيعة ذاهب الحديث
Dari Ali bin Abi Thalib dia berkata: Rasulullah saw bersabda: _”Jika dating malam nishfu Sya’ban maka shalatlah dimalam harinya dan berpuasalah disiang harinya, karena Allah azza wajalla turun pada malam tersebut setelah terbenam matahari ke langit dunia. Dia menyeru: Ingatkah ! setiap yang memohon ampunan akan Kuamuni dia, ingatlah! Setiap yang minta diberikan rizki akan Kuberi rizki padanya, Ingatlah! Setiap yang diberi ujian akan Kusembuhkan dia, Ingatlah! Begitu, ingatlah ! begini sampai tiba waktu shubuh”._

Imam Ibnul Jauzi berkata: Hadits ini tidak valid, Ibnu Lahi’ah tidak kredibel meriwayatkan hadits. (al-ilalul Mutanahiyah no. 923)

Mengamalkan ibadah yang tidak disyari’atkan bukannya meraih pahala, melainkan hanya memikul cela dan dosa.

👉Memperbanyak shalat Sunnah, seperti shalat rawatib, shalat dhuha, shalat witir, shalat malam/tahajjud,  dll. Inilah yang masyru’ dan sesuai Sunnah.

Adapun shalat yang disebut sholat alfiyah (100 raka’at) yang dilakukan berjama’ah dan pada setiap raka’atnya imam membaca surat al-Ikhlash 10 kali. Atau shalat lidaf’il bala sebanyak 6 raka’at pada malam nishfu Sya’ban. Ada pula yang 12 raka’at, 14 raka’at dll  yang khusus dihubungkan dengan momen nishfu Sya’ban. Semua shalat macam ini merupakan ajaran Mitos yang didasarkan pada riwayat hoak/palsu.

Imam al-Futni berkata:

وَهَذِهِ الصَّلَاةُ وُضِعَتْ فِي الْإِسْلَامِ بَعْدَ الْأَرْبَعِ مِائَةِ، وَنَشَأَتْ مِنْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، فَوُضِعَ لَهَا عِدَّةُ أَحَادِيثَ
_”Sholat ini dibuat dalam islam setelah 400 tahun berlalu (dari masa Nabi saw), diadakan di baitul maqdis lalu dibuatkan beberapa hadits baginya.”_ (al-Asror al-Marfu’ah no. 758)

Imam Ghozali dalam Ihya berkata:

وهذه الصلاة مشهورة في كتب المتأخرين من السادة الصوفية التي لم أرَ لها ولا لدعائها مستنداً صحيحاً من السنة إلاَّ أنه من عمل المبتدعة
_Sholat ini masyhur dalam kitab-kitab mutaakhirin pemimpin shufi, dimana aku tidak melihat bagi shalat-shalat ini serta do’a-do’anya memiliki dasar yang shahih dalam Sunnah, selain semua ini merupakan perbuatan ahli bid’ah (orang yang mengada-ada)_.

Imam Nawawi rahimahullah dalam al-Majmu’ juga berkata:

صلاة رجب - صلاة الرغائب - وصلاة شعبان بدعتان منكرتان قبيحتان
_Sholat Rojab (sholat rogho’ib) dan sholat Sya’ban keduanya bid’ah yang munkar dan buruk_.

👉Memperbanyak baca al-Qur’an serta mentadabburi hukum-hukumnya baik di siang hari maupun malam hari dari bulan Sya’ban.

Salamah bin Kuhail al-Khodlromi berkata:

أنّ القوم كانوا إذا جاء شهر شعبان تفرّغوا لقراءة القرآن، وتدبّره، والعمل به حتى سُمّي بشهر القرّاء
_Sesungguhnya kaum ini (para Tabi’in) jika datang bulan Sya’ban, mereka menyenggangkan waktu untuk membaca al-Qur’an mentadabburinya serta mengamalkannya. Sehingga bulan ini dinamai bulan para pembaca al-Qur’an”._

كَانَ عَمْرُو بْنُ قَيْسٍ الْمُلائِيُّ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ أَغْلَقَ حَانُوتَهُ وَتَفَرَّغَ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ
_Amr bin Qois al-Mula’iy bila masuk bulan Sya’ban, dia tutup tokonya, dan menyenggangkan dirinya untuk membaca a-Qur’an pada bulan sya’ban dan Romadlon”._ (HR. Ibnul Jauzi)

Ini yang masyru’ dan sesuai Sunnah.

Adapun baca ayat/surat tertentu dari al-Qur’an diulang-ulang dalam jumlah tertentu pada waktu tertentu atau pada malam nishfu Sya’ban, Maka ini hanya Mitos yang hanya didasarkan riwayat-riwayat hoak/palsu. Contoh yang dikemukakan dalam riwayat berikut:

عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " مَنْ قَرَأَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ أَلْفَ مَرَّةٍ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ، لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَبْعَثَ اللَّهُ إِلَيْهِ مِائَةَ مَلَكٍ ثَلاثُونَ يُبَشِّرُونَهُ بِالْجَنَّةِ وَثَلاثُونَ يُؤَمِّنُونَهُ مِنَ النَّارِ، وَثَلاثُونَ يُقَوِّمُونَهُ أَنْ يُخْطِئَ، وَعَشْرُ أَمْلاكٍ يَكْتُبُونَ أَعْدَاهُ ".
Dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya, dia berkata: Rasulullah saw bersabda: _”Barang siapa yang pada malam Nishfu Sya’ban membaca surat Qul huwallahu ahad 10 kali, hatinya tidak akan mati sampai Allah mengutus baginya 30 malaikat yang memberinya kabar gembira masuk sorga serta 30 malaikat lagi yang mengamininya agar terhindar dari api Neraka, 30 malaikat yang meluruskannya dari berbuat salah, serta 30 malaikat yang menuliskan (pahala) dari orang yang memusuhinya”._

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:

هَذَا حديث لا نشك أَنَّهُ موضوع، وجمهور رواته فِي الطرق الثلاثة مجاهيل وفيهم ضعفاء بمره والحديث محال قطعا.
_Ini hadits yang kami tidak meragukan kepalsuannya. Kebanyakan rawi pada 3 jalur hadits ini adalah rawi majahil (tidak dikenal), juga rawi-rawi dloif sekaligus. Makna hadits ini mustahil secara qoth’I._

👉Memperbanyak do’a, dzikir, kajian ilmu serta memakmurkan masjid dengan shalat berjama’ah dll. Ini yang masyru’ dan sesuai Sunnah.

Nabi saw bersabda:

خُذُوا مِنَ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَمَلُّ، حَتَّى تَمَلُّوا .  (رواه أحمد 24967)
_"Lakukan amal perbuatan yang kamu mampui, karena Allah Azza Wa Jalla tidak akan pernah bosan hingga kalian bosan”._  (HR. Ahmad 24967 dari Aisyah)

Adapun berdo’a atau berdzikir dengan berjama’ah, berkumpul secara khusus dimasjid pada siang atau malam Nishfu Sya’ban, maka ini ajaran mitos.

Dahulu dizaman tabi’in pernah dilakukan oleh Kholid bin Ma’dan, Makhul dan Luqman bin Amir  di syam lalu orang-orang mengikutinya. Namun hal tersebut dikatakan Imam Ibnu Rojab :

وقد قيل أنه بلغهم في ذلك آثار إسرائيلية
_Sungguh disebutkan bahwa hal itu (disebabkan) telah sampai pada mereka beberapa atsar isroiliyyah (ceritera bohong)_ (lathoiful ma’arif 137)

Oleh sebab itu, ulama hijaz dan Madinah pada waktu itu seperti Imam al-Auza’I, Atho’, Ibn Abi Malikah, Zaid bin Aslam serta para shahabat Imam Malik dsb mengingkari ritual nishfu sya’ban seperti ini. Mereka menyatakan sebagai perkara yang dibuat-buat (bid’ah).

قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ،: " لَمْ أُدْرِكْ أَحَدًا مِنْ مَشْيَخَتِنَا وَلا فُقَهَائِنَا يَلْتَفِتُونَ إِلَى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَلَمْ نُدْرِكْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَذْكُرُ حَدِيثَ مَكْحُولٍ، وَلا يَرَى لَهَا فَضْلا عَلَى مَا سِوَاهَا مِنَ اللَّيَالِي "، قَالَ ابْنُ أَبِي زَيْدٍ: وَالْفُقَهَاءُ لَمْ يَكُونُوا يَصْنَعُونَ ذَلِكَ
Abdurahman bin Zaid bin Aslam berkata: _Aku tidak menjumpai seorangpun dari guru-guru kami dan para fuqoha kami memperhatikan malam nishfu Sya’ban, dan tidak seorangpun dari mereka menyebut hadits makhul atau memandang ada keutamaan nishfu sya’ban dibandingkan malam lainnya._ (al-Bida’ lbnu Wadldloh 113)

عَنْ أَيُّوبَ، قَالَ: قِيلَ لابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ: إِنَّ زِيَادًا الْمِنْقَرِيَّ وَكَانَ قَاصًّا، يَقُولُ: إِنَّ أَجْرَ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ مِثْلُ أَجْرِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ "، فَقَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ: لَوْ سَمِعْتُهُ يَقُولُ ذَلِكَ وَفِي يَدِي عَصًا لَضَرَبْتُهُ بِهَا
Dari Ayyub dia berkata: Disebutkan kepada Ibnu Abi Malikah bahwasanya Ziyad al-Munqori si tukang qisah berkata: Sesungguhnya pahala malam nishfu Sya’ban seperti pahala lailatul qodar”. Maka Ibnu Abi Malikah berkata: Seandainya aku mendengar itu darinya dan aku membawa tongkat, pasti Aku memukulinya”. (HR. Abdurrozzaq 7928)

_Wallahu 'Alam_

Hadits keutamaan nishfu Syaban Tidak ada yg Shahih atau Hasan

*Hadits keutamaan nishfu Syaban Tidak ada yg Shahih atau Hasan*
--------------------

1. Hadits Mu’adz bin Jabal

عن معاذ بن جبل عن النبي أنه قال : (يطلع الله إلى خلقه ليلة النصف شعبان فيغفـر لجميع خلقـه إلا مشــرك أو مشاحن) .
Dari Mu’adz bin Jabal dari Nabi saw, bahwasanya beliau bersabda: _“Allah melihat makhluknya pada malam nishfu Sya’ban. Maka Dia mengampuni seluruh makhluknya kecuali orang musyrik dan musyahin”_

Ini hadits Munkar
Dikeluarkan oleh Ibnu Abi A’shim dalam as-Sunnah 1/356, Ibnu Hibban dalam shahihnya 12/481, Thobroni dalam mujam kabirnya 2/108, juga dalam mujam ausath 7/397, juga dalam musnad syamiyyin 1/129, al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 7/415, dalam fadloilul Auqot hal 119, Abu Nu’aem dalam al-Hilyah 5/191, asy-Syajari dalam al-Amalinya 2/100, Daroquthni dalam an-Nuzul hal 158, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 54/97.

*Semua diatas periwayatannya melalui jalur Abi Kholid Utbah bin Hammad dari al-Auza’I dari Makhul dari Malik bin Yukhomir dari Mu’adz bin Jabal.*

*Dalam sanad ini terdapat Makhul asy-Syami, beliau seorang mudallis dan ‘an’anah dalam periwayatannya* (lihat ta’rifu ahlit-Taqdis karya Ibnu Hajar hal 113, al-Ithaf karya al-Anshori hal 49 dan Qoshidah mudallisin karya al-Maqdisi hal 65)

Adz-Dzahabi dalam siyar ‘Alam Nubala 5/156 mengatakan:

روى أيضاً عن طائفة من قدمـاء التابعين ، وما أحسبه لقيهم ، كأبي مسلم الخولاني ، ومسروق ، ومالك بن يخامر
_”Dia (Makhul) meriwayatkan juga dari senior Tabi’in. Aku tidak mengira dia pernah bertemu mereka seperti dengan Abu Muslim al-Khoulani, Masruq dan Malik bin yukhomir”_

Hadits diatas dikeluarkan juga oleh Ibnu Abi A’shim dalam as-sunnah 1/356, Ibnu hibban dalam shahihnya 12/481, Thobroni dalam mujam kabirnya 2/108, dalam mujam ausath juga 7/397, juga dalam musnad syamiyyin 1/129, al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 7/415, dalam fadloilul Auqot hal 119, Abu Nu’aem dalam al-Hilyah 5/191, asy-Syajari dalam al-Amalinya 2/100, Daroquthni dalam an-Nuzul hal 158, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 54/97.

*Semuanya melalui jalur Abu Kholid Utbah bin Hammad dari Ibnu Tsauban dari Makhul dari Malik bin Yukhomir dari Mu’adz bin Jabal.*

Sanad ini punya 2 cacat:

a). Terputus antara Ibnu Tsauban dan Makhul (lihat al-Marosil karya Ibnu Abi Hatim hal 129)

b). Makhul seorang Mudallis

Ibnu Abi Hatim dalam al-Ilalnya 2/173 berkata:

سألت أبي عن حديث رواه أبو خليد القاري عن الأوزاعي عن مكحول وعن أبن ثوبان عن أبيه عن مكحول عن مــالك بن يخـــــــامر عن معاذ بن جبل قال قال رسول الله ( يطلع الله تبارك وتعالـــى ليلـــةالنصف من شعبا ن الى خلقه ) قال أبي هذا حديث منكر بهذا الإسناد)
_Aku bertanya ayahku mengenai hadits yang diriwayatkan Abu Kholid al-Qori dari Auza’I dari makhul dari Ibnu Tsauban dari Ayahnya dari Makhul dari Malik bin Yukhomir dari Mu’adz bin Jabal dia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Allah melihat makhluknya pada malam nishfu Sya’ban. Maka Dia mengampuni seluruh makhluknya kecuali orang musyrik dan musyahin”. Ayahku menjawab: INI adalah hadits Munkar dengan sanad ini”_.

Imam Daroqutni dalam al-Ilalnya 6/51 berkata:

يروى عن مكحول وأختلف عليه فرواه أبو خليد عتبة بن حماد القاري عن الأوزاعي عن مكحول عن مالك بن يخامر عن معاذ بن جبل، الى أن قال عن أبي خليد عن ابن ثوبان عن أبيه عن خالـد بن معدان عن كثير بن مرة عن معاذ بن جبل كلاهما غير محفوظ
_”(Hadits diatas) Diriwayatkan dari Makhul melalui dua jalur, (1) Abu Kholid Utbah bin Hammad dari Auza’I dari Makhul dari Malik bin Yukhomir dari Mu’adz bin Jabal. (2) Abu Kholid dari Ibnu Tsauban dari Ayahnya dari Kholid bin Ma’dan dari Katsir bin Murroh dari Mu’adz bin Jabal. KEDUA_DUANYA tidak makfudz (MUNKAR)”_.

Sanad Mu’adz bin Jabal diatas memiliki syawahid jalur lain dari beberapa Shahabat: Ali bin Abi Tholib, Sy A’isyah, Abdullah bin Amr, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Bakar, Abi Hurairah, Auf bin Malik, Abu Tsa’labah al-Khosyni, Abu Umamah radliyallahu ‘anhum

Dengan adanya jalur sanad sanad para Shahabat yang disebutkan, Syeikh al-Albani dalam kitab-kitab takhrijnya menilai hadits diatas shahih. Demikian pula Syeikh Masyhur Hasan Alu Salman menulis risalah khusus berjudul Husnul Bayan fiima waroda fii lailatin-Nishfi min Sya’ban. Beliau mengikuti Syeikh al-Albani menilai Shahih.

Mereka berdua rahimahumallah dll berpandangan hadits-hadits melalui jalur shahabat-shahabat yang disebutkan diatas menguatkan satu sama lain sekaligus menaikan derajat hadits keutamaan Nishfu Sya’ban menjadi Shahih.

Padahal bila dianalisis lebih teliti berdasarkan keterangan para ahlul Naqd secara komprehenshif, dapat diketahui dan disimpulkan bahwa semua jalur riwayat tersebut tidak layak menjadi syawahid dan tidak bisa saling menguatkan dikarenakan nakaroh, idltirob atau syadid dlo’fi.

Berikut Ini Uraian lengkap selanjutnya ………………..
[30/4 15:36] ‪+62 813-8015-7930‬: *3. Hadits Sy. A’isyah*

Sanadnya ada tiga jalur:

*1). Urwah bin Zubair dari A’isyah*
Dikeluarkan oleh imam Tirmidzi dalam sunannya 3/116, Ibnu Majah dalam sunannya 1/444, Imam Ahmad bin musnadnya 18/114, Abu thohir dalam kitab Masyikhohnya hal 76, Ibnu Abi Syaibah dalam mushonnafnya 6/109, Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah 3/225, al-Lalaka’I dalam as-sunnah 2/496, Ibnul Jauzi dalam al-ilalul Mutanahiyah 2/66, imam Baihaqi dalam Su’abul Iman 7/408, juga dalam fadloilul auqot hal 130, Imam Daruquthni dalam an-nuzul hal 169, asy-Syajari dalam al-Amalinya 2/100, Ishaq bin Rohawaih dalam musnadnya 2/326, al-Fakihi dalam akhbar Makkah 3/85, Ibnu Humaid dalam al-Muntakhob hal 437.

Semua itu melalui Hajjaj bin Arthoth dari Yahya bin Abi Katsir dari urwah bin Zubair dari A’isyah bahwa dia berkata:

فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَإِذَا هُوَ  بِالْبَقِيعِ , رَافِعٌ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: " أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ؟ قَالَتْ: مَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ , وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ , قَالَ: إِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ
_"Pada suatu malam saya pernah kehilangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu saya keluar dan ternyata beliau sedang di Baqi', mengangkat pandangannya ke langit seraya bersabda kepadaku: 'Apakah engkau takut, Allah akan menzhalimi mu dan Rasul-Nya? ' Aisyah berkata; "Saya berkata; 'Saya mengira engkau mendatangi sebagian isteri-isterimu." Beliau bersabda: 'Sesungguhnya Allah Azzawajalla turun di pertengahan malam ke langit dunia di bulan Sya'ban, lalu ia mengampuni untuk sejumlah bulu rambut kambing Bani Kalb."_

Hadits ini saqith (bodong) dan munqothi’ (terputus sanadnya) pada dua titik periwayatan, yaitu  Hajjaj tidak mendengar dari Yahya bin Abi Katsir, dan Yahya bin Abi Katsir tidak mendengarnya dari Urwah bin Zubair. (sunan Tirmidzi 3/117, Tahdzib at-Tahdzib 1/501, jami’ut-Tahshil karya al-Ula’I hal 160 dan 299, al-Marosil karya Ibnu Abi Hatim hal 242, Tahdzibul Kamal 31/505)

Ada Tabi’ (penyerta) bagi Yahya bin Abi Katsir yaitu Hisyam bin Urwah yang diterima riwayatnya oleh Sulaiman bin Abi Karimah. Jalur ini dikeluarkan oleh Ibnul Jauzi dalam al-ilal al-mutanahiyah 2/67, Thobroni dalam ad-Du’a hal 194, Daroquthni dalam an-Nuzul hal 155 dll.

Namun Sulaiman bin Abi Karimah adalah rawi munkarul hadits. Imam Abu Hatim berkata: dia dlo’iful hadits. Al-Uqoili berkata: Dia meriwayatkan hadits-hadits munkar yang umunya tidak diikuti oleh perawi lain. (al-Jarh wat-Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim 4/138, al-Kamil karya Ibnu Adi 4/284, Mizanul I’tidal karya adz-Dzahabi 2/221, lisanul Mizan karya Ibnu Hajar 3/102, ad-Du’afa karya al-Uqoili 2/138, al-Ilal karya Ibnu Abi Hatim 1/410, ad-Du’afa karya Ibnul jauzi 1/24)

*2). Abdullah bin Abi Malikah dari Aisyah.*
Dikeluarkan oleh Ibnul JAuzi dalam al-Ilal al-Mutanahiyah 2/69 melalui jalur Sa’ad bin Sholt dari Atho’ bin Ajlan dari Abdillah bin Abi Malikah dari Aisyah.

Jalur sanad ini maudlu’, Atho’ bin Ajlan divonis kadz-dzab (pendusta) oleh Ibnu Ma’in, al-Fallas, al-Jauzajani. Dan divonis munkarul hadits oleh Imam Bukhari serta Abu Hatim (tarikh kabir karya Imam Bukhari 6/476, al-Jarh wat-Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim 6/335, Tahdzib at-Tahdzib karya Ibnu Hajar 2/129, tahdzibul Kamal 20/94 dll)

*3). Al-Ula bin al-Harits dari A’isyah*
Dikeluarkan oleh al-BAihaqi dalam Syu’abul Iman 7/415 melalui jalur Abdullah bin Wahb dari Mu’awiyah bin Sholih dari al-Ula in al-Harits dari A’isyah.

Sanad ini munqothi’ (terputus), al-Ula tidak mendengar dari A’isyah sebab dia dilahirkan setelah 8 tahun meninggalnya Aisyah. (tahdzib at-Tahdzib karya Ibnu Hajar 4/509, 6/550)

Imam Daruquthni berkata: Hadits Aisyah diriwayatkan dari beberapa jalur, isnadnya mudltorib dan tidak tsabit (konsisten) (al-Ilal al-Mutanahiyah 2/66)

Syeikh al-albani pun dalam dloif jami shogir no. 754 menilainya dloif .

Semua jalur sanad A’isyah ini munkar, menyalahi ceritera hadits A’isyah sebenarnya yang dikeluarkan Imam Muslim dalam shahihnya 2/669,

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ قَيْسِ بْنِ مَخْرَمَةَ بْنِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ قَالَ يَوْمًا أَلَا أُحَدِّثُكُمْ عَنِّي وَعَنْ أُمِّي قَالَ فَظَنَنَّا أَنَّهُ يُرِيدُ أُمَّهُ الَّتِي وَلَدَتْهُ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ أَلَا أُحَدِّثُكُمْ عَنِّي وَعَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْنَا بَلَى قَالَ قَالَتْ لَمَّا كَانَتْ لَيْلَتِي الَّتِي كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا عِنْدِي انْقَلَبَ فَوَضَعَ رِدَاءَهُ وَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عِنْدَ رِجْلَيْهِ وَبَسَطَ طَرَفَ إِزَارِهِ عَلَى فِرَاشِهِ فَاضْطَجَعَ فَلَمْ يَلْبَثْ إِلَّا رَيْثَمَا ظَنَّ أَنْ قَدْ رَقَدْتُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ رُوَيْدًا وَانْتَعَلَ رُوَيْدًا وَفَتَحَ الْبَابَ فَخَرَجَ ثُمَّ أَجَافَهُ رُوَيْدًا فَجَعَلْتُ دِرْعِي فِي رَأْسِي وَاخْتَمَرْتُ وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِي ثُمَّ انْطَلَقْتُ عَلَى إِثْرِهِ حَتَّى جَاءَ الْبَقِيعَ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ انْحَرَفَ فَانْحَرَفْتُ فَأَسْرَعَ فَأَسْرَعْتُ فَهَرْوَلَ فَهَرْوَلْتُ فَأَحْضَرَ فَأَحْضَرْتُ فَسَبَقْتُهُ فَدَخَلْتُ فَلَيْسَ إِلَّا أَنْ اضْطَجَعْتُ فَدَخَلَ فَقَالَ مَا لَكِ يَا عَائِشُ حَشْيَا رَابِيَةً قَالَتْ قُلْتُ لَا شَيْءَ قَالَ لَتُخْبِرِينِي أَوْ لَيُخْبِرَنِّي اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي فَأَخْبَرْتُهُ قَالَ فَأَنْتِ السَّوَادُ الَّذِي رَأَيْتُ أَمَامِي قُلْتُ نَعَمْ فَلَهَدَنِي فِي صَدْرِي لَهْدَةً أَوْجَعَتْنِي ثُمَّ قَالَ أَظَنَنْتِ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قَالَتْ مَهْمَا يَكْتُمِ النَّاسُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ نَعَمْ قَالَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي حِينَ رَأَيْتِ فَنَادَانِي فَأَخْفَاهُ مِنْكِ فَأَجَبْتُهُ فَأَخْفَيْتُهُ مِنْكِ وَلَمْ يَكُنْ يَدْخُلُ عَلَيْكِ وَقَدْ وَضَعْتِ ثِيَابَكِ وَظَنَنْتُ أَنْ قَدْ رَقَدْتِ فَكَرِهْتُ أَنْ أُوقِظَكِ وَخَشِيتُ أَنْ تَسْتَوْحِشِي فَقَالَ إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَ أَهْلَ الْبَقِيعِ فَتَسْتَغْفِرَ لَهُمْ قَالَتْ قُلْتُ كَيْفَ أَقُولُ لَهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُولِي السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ
_Dari Muhammad bin Qais bin Makhramah bin Al Muthallib bahwa pada suatu hari ia berkata, "Maukah kalian aku ceritakan (hadits) dariku dan dari ibuku?" -maka kami pun menyangka bahwa yang ia maksud dengan ibunya adalah Ibu yang telah melahirkannya- Ia berkata; Aisyah berkata, "Maukah kalian aku ceritakan hadits dariku dan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?" kami menjawab, "Ya, mau." Aisyah berkata; Pada suatu malam ketika giliran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di rumahku, setelah beliau menanggalkan pakaiannya, meletakkan terompahnya dekat kaki dan membentangkan pinggir jubahnya di atas kasur, beliau lantas berbaring. Setelah beberapa lama kemudian dan barangkali beliau menyangkaku telah tidur, beliau mengambil baju dan terompahnya, dibukanya pintu perlahan-lahan dan kemudian ditutupnya kembali perlahan-lahan. Menyaksikan beliau seperti itu, kukenakan pula bajuku dan kututup kepalaku dengan kain, kemudian aku mengikuti beliau dari belakang hingga sampai di Baqi'. Ketika sampai di sana beliau berdiri agak lama, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya tiga kali, sesudah itu beliau berbalik pulang. Aku pun berbalik pula mendahului beliau. Kalau beliau berjalan cepat, maka aku pun berjalan cepat-cepat. Bila beliau berlari kecil, aku pun demikian. Ketika beliau sampai, aku pun sudah sampai lebih dulu dari beliau. Kemudian aku masuk ke dalam rumah dan langsung tidur. Setelah itu, beliau masuk dan bertanya: "Kenapa kamu wahai Aisyah?
Kudengar nafasmu kembang kempis.?" Jawabku, "Tidak ada apa-apa wahai Rasulullah?" Beliau berkata: "Ceritakanlah kepadaku atau kalau tidak Allah -Yang Maha Lembut dan Mengetahui- akan menceritakannya padaku." Aku menjawab, "Wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku." Lalu kuceritakanlah kepada beliau apa yang sebenarnya terjadi. Beliau berkata, "Kalau begitu, kamulah kiranya bayangan hitam yang saya lihat di depanku tadi?" Saya menjawab, "Ya, benar wahai Rasulullah." Maka beliau pun mendorong dadaku dengan keras hingga terasa sakit bagiku. Kemudian beliau berkata, "Apakah kamu masih curiga, Allah dan Rasul-Nya akan berbuat curang kepadamu?" jawabku, "Setiap apa yang dirahasiakan manusia, pasti Allah mengetahuinya pula." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan kenapa beliau sampai keluar. Beliau bercerita: "Tadi Jibril datang, tapi karena ia melihat ada kamu, dia memanggilku perlahan-lahan sehingga tidak terdengar olehmu. Aku menjawab panggilannya tanpa terdengar pula olehmu. Dia tidak masuk ke rumah, karena kamu menanggalkan pakaianmu. Dan aku pun mengira bahwa kamu telah tidur, karena itu aku segan membangunkanmu khawatir engkau akan merasa kesepian. Jibril berkata padaku, 'Allah memerintahkan agar Tuan datang ke Baqi' dan memohonkan ampunan bagi para penghuninya.' Aku berkata, 'Lalu apa yang kubaca sesampai di sana wahai rasulullah? ' Jibril menjawab, 'Bacalah: AS SALAAMU 'ALA AHLID DIYAAR MINAL MUKMINIIN WAL MUSLIMIIN WA YARHAMULLAHUL MUSTAQDIMIIN MINNAA WAL MUSTA`KHIRIIN WA INNAA INSYAA`ALLAHU BIKUM LAAHIQUUN (Semoga keselamatan tercurah bagi penduduk kampung orang-orang mukmin dan muslim ini. Dan semoga Allah memberi rahmat kepada orang-orang yang telah mendahului kami dan orang-orang kemudian, dan kami insya Allah akan menyusul kalian semua).'_ (HR. Muslim)

*Oleh sebab kemunkarannya, sanad hadits Aisyah tidak dapat menguatkan sanad hadits keutamaan Malam Nishfu Sya’ban lainnya.*
[30/4 15:36] ‪+62 813-8015-7930‬: *4. Hadits Abdullah bin Amr*

Dikeluarkan Imam Ahmad dalam Musnadnya 6/197, melalui jalur Abdullah bin Lahi’ah dari Huyay bin Abdillah dari Abdirraman al-Hubulli dari Abdullah bin Amr dari anbi saw bahwa beliau bersabda:

يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا لِاثْنَيْنِ: مُشَاحِنٍ، وَقَاتِلِ نَفْسٍ
_"Allah Ta'ala mengamati makhluk-Nya pada malam pertengahan bulan sya'ban, lalu Dia mengampuni dosa-dosa hamba-Nya kecuali dua saja; orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh seseorang."_

Hadits ini sangat dloif dengan 2 cacat:

a). Abdullah bin Lahi’ah didloifkan Abu Zur’ah, Abu Hatim, Ibnu Ma’in, Imam Nasa’I dan imam Daroquthni. Imam Bukhari menyatakan bahwa Imam Ibnu Sa’id tidak menganggap dia dan al-Jauzajani mengatakan: Tidak ada cahaya dalam haditsnya dan tidak patut dijadikan hujjah. (Tahdzibul Kamal 15/487, ad-Dlu’fa ash-Shogir karya Imam Bukhari hal 134, adl-Dlu’afa wal matrukin karya Imam Nasa’I hal 135, adl-Dlu’afa wal matrukin karya Imam Daroquthni hal 265, Mizan al-I’tidal 2/475, tahdzib at-tahdzib 3/272)

b). Huyay bin Abdillah al-Mu’afiri dinilai hadits-haditsnya munkar oleh Imam Ahmad dan dinilai matruk oleh Imam Nasa’I (Tahdzibul Kamal 7/488, Tarikhul Kabir karya Imam Bukhari 3/76, adl-Dlu’afa wal matrukin karya Imam Nasa’I hal 90, adl-Dlu’afa wal matrukin karya Imam Daroquthni hal 265, Mizan al-I’tidal 1/623, tahdzib at-tahdzib 2/47)

Ada tabi (rawi penyerta) bagi Abdullah bin Lahi’ah yaitu Risydin bin Sa’ad dalam jalur sanad yang dikeluarkan Ibnu Hayawaih sebagaimana disebutkan syeikh al-albani dalam silsilah shahihahnya 3/136.

Namun Risydin adalah rawi yang lebih dloif dari Abdullah bin Lahi’ah. Abu Hatim berkata: Risydin itu munkarul hadits, dalam haditsnya ada gaflah, dia meriwayatkan hadits munkar dari rawi tsiqot, dia dloiful hadits serupa dengan Dawud al-Mukhbir. Abdullah bin Lahi’ah lebih tertutup sedangkan Risydin lebih Dlo’if.

Ibnu Ma’in berkata hadits-hadits Risydin tidak ditulis. Imam Nasa’I mematrukannya. Imam muslim, Tirmidzi dan Daroquthni mendloifkannya. Al-Jauzajani berkata: disisinya hadits-hadits mu’dlol dan hadits munkar yang banyak. (al-Jarh wat-Ta’di 3/153, Tahdzibul kamal 9/191, al-Kuna karya imam Muslim 1/262, ad-Dlu’afa karya al-Uqoili 2/66, al-Kamil karya Ibnu Adi 4/191, Thobaqot Ibnu Sa’ad 7/517, Mizan I’tidal 2/49 dll)

*Oleh sebab itu Hadits Abdullah bin Amr ini tidak layak dijadikan Syahid yang menguatkan atau dikuatkan.*
[30/4 15:36] ‪+62 813-8015-7930‬: *5. Hadits Abu Musa al-Asy’ari*

Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam sunannya 1/445, Ibnu Abi A’shim dalam as-Sunnah 1/355, al-Mizzi dalam at-tahdzib 9/309, al-Lalaka’I dalam as-sunnah 2/495, imam Baihaqi dalam Fadloil Auqot hal 132, *Melalui jalur Abdullah bin lahi’ah dari Zubair bin Sulaim dari ad-Dlohhak bin Abdirahman dari Ayahnya dari Abi Musa al-Asy’ari*.

Sanad hadits ini saqith (jatuh), ada 3 cacat didalamnya:

a). Abdullah bin Lahi’ah rawi yang dlo’if
b). Zubair bin Sulaim adalah rawi majhul sebagaimana dikatakan ad-Dzahabi dalam mizan I’tidal 2/67 dan Ibnu Hajardalam at-Taqrib hal 335.
c). Abdurahman bin Arzab (bapaknya ad-Dohhak) adalah juga majhul spt disebutkan al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Taqribnya hal 590.

Dikeluarkan pula oleh Ibnu Majah dalam sunannya 1/445, Ibnul Jauzi dalam al-ilal al-Mutanahiyah 2/71 *Melalui jalur Ibnu Lahi’ah dari adl-Dlohhak bin Aiman dari ad-Dlohhak bin Abdirahman bin Arzab dari Abi Musa al-Asy’ari*.

Sanad ini juga sama saqith dengan 3 cacat:

a). Dloifnya Ibnu Lahi’ah
b). Majhulnya adl-Dlohhak bin Aiman al-Kalbi (mizan al-I’tidal 2/322, Tahdzib at-tahdzib 2/560)
c). terputusnya antara ad-Dlohhak bin Abdirahman dan Abu Musa al-Asy’ari. (al-Jarh wat-Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim 4/459)

*Dengan demikian, sanad hadits dengan tingkat kecacatan seperti ini tidak mungkin menjadi Syahid yang menguatkan sanad dloif lainnya.*
[30/4 15:36] ‪+62 813-8015-7930‬: *6. Hadits Abu Bakar ash-Shiddiq*

Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah 1/354, al-Laka’i dalam as-Sunnah 2/486, al-Uqoili dalam adl-dlu’afa 3/29, Ibnu Adi dalam al-kamil 6/535, Darimi dalam ar-Radd ‘alal Jahmiyah hal 81, Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhid 1/327, Ibnul Jauzi dalam al-Ilal al-Mutanahiyah 2/66, Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman 7/412, al-Baghowi dalam syarhus-Sunnah 4/127, al-Bazzar dalam musnadnya 1/207, Abu Syeikh dalam thobaqoh Muhadditsin bi Ashbahan 2/107, al-Marwazi dalam musnad Abi Bakar ash-Shiddiq hal 171, al-Fakihi dalam Akhbar Makkah 3/85, Abu Nu’aem dalam akhbar Ashbahan 1/426, asy-Syajari dalam al-Amalinya 2/107.
Semua diatas *melalui Abdillah bin Wahab dari Amr bin al-Harits dari Abdil Malik bin Abdil Malik dari Mush’ab bin Abi Dzi’ib dari al-Qosim bin Muhammad dari Pamannya atau Bapaknya dari Abu Bakar* dari Rasulillah saw bahwa beliau bersabda:

يَنْزِلُ اللَّهُ جَلَّ ثَنَاؤُهُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَغْفِرُ لِكُلِّ نَفْسٍ إِلا إِنْسَانًا فِي قَلْبِهِ شَحْنَاءُ، أَوْ مُشْرِكًا بِاللَّهِ
_”Allah jalla Tsana’uh turun pada malam Nishfu Syaban kelangit dunia, lalu mengampuni setiap jiwa kecuali manusia yang didalam hatinya ada syahna’ (dendam) dan yang musyrik kepada Allah”_

Sanad ini Munkar dengan 2 cacat:

a). Abdul Malik bin Abdil Malik adalah rawi munkarul hadits jiddan seperti dinyatakan Ibnu Hibban. Dia meriwayatkan hadits yang tidak dimutaba’ah rawi lain. (al-Majruhin karya Ibnu Hibban 2/36, lihat juga Tarikh Kabir karya Imam Bukhari 5/424)
b). Mush’ab bin Abi Dzi’ib dinilai majhul oleh Abu Hatim. (al-Jarh wat-Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim 8/306)

Oleh sebab itu, Imam Ibnu Adi berkata: _”Dengan sanad ini Hadits ini Munkar”_ (al-Kamil 6/535). Ibnul Jauzi juga berkata: _Ini adalah hadits tidak shahih dan tidak tsabit_ (al-Ilal al-Mutanahiyah 2/66)

*Dengan kemunkarannya, hadits Abu Bakar tidak layak jadi Syahid yang menguatkan hadits dloif lainnya.*
[30/4 15:36] ‪+62 813-8015-7930‬: *7. Hadits Abu Huraeroh*
Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam al-ilal 2/67, al-Bazzar dalam kasyful astar 2/436 *melalui jalur Abdullah bin Ghalib dari Hisyam bin Abdirahman dari al-A’masy dari Abi Shalih dari Abu Huraeroh* dengan redaksi matan hadits:
إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَغْفِرُ اللَّهُ لِعِبَادِهِ إِلا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
_”Jika datang malam Nishfu Sya’ban, Allah akan mengampuni hambanya selain orang yang musyrik dan  orang yang bertengkar”_
Sanad hadits ini sangat lemah dengan 2 cacat:
a). Abdullah bin Ghalib dinilai mastur oleh al-Hafidz Ibnu Hajar (Taqrib at-tahdzib hal 534)
b). Hisyam bin Abdirahman juga majhul seperti dikatakan al-Haitsami. (majma’ Zawa’id 8/65)
Imam Ibnul Jauzi berkata: Hadits ini tidak valid, dalam sanadnya ada rawi-rawi majahil (al-Ilal al-Mutanahiyah 2/70).
*Sanad hadits Abu Huraerah ini syadid dlo’fi hingga tidak dapat menguatkan sanad dloif lainnya*.
[30/4 15:36] ‪+62 813-8015-7930‬: *8. Hadits Auf bin Malik*

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam musnadnya 7/186, *melalui jalur Ahmad bin Manshur dari Abu Sholih al-haroni dari Abdullah bin lahi’ah dari Abdurahman bin Ziyad dari Ubadah bin Nusay dari Katsir bin Murroh dari Auf bin Malik*  bahwa Rasulullah saw bersabda:

يَطَّلِعُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لَهُمْ كُلِّهِمْ إِلا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
_“Allah tabaroka wata’la mengamati makhluknya pada malam Nishfu Sya’ban lalu mengampuni mereka semuanya selain orang musyrik dan orang yang bertengkar”_.

Sanad hadits ini sangat dloif dengan 2 cacat:

a). kedloifan Abdullah bin Lahi’ah

b). Abdurahman bin Ziyad didloifkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’in, Daroquthni, imam Nasa’I, Abu Zur’ah, Abu Hatim dan Ibnu Hajar. Imam Tirmidzi berkata: Dia rawi Dloif menurut ahlul hadits. (al-Jarh wat-Ta’dil 5/234, al-Kamil libni Adi 5/457, al-Mizan lidz-Dzahabi 2/561, Tahdzibul Kamal 17/102, Tahdzibut-Tahdzib 3/342, adl-Dlu’afa lid-Daroquthni hal 158 dll)

*Sanad hadits syadid Dlo’fi tidak menguatkan sanad dloif lainnya*.
[30/4 15:37] ‪+62 813-8015-7930‬: *9. Hadits Abu Tsa’labah al-Khusyanni*

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi A’shim dalam as-Sunnah 1/223, al-Lalaka’I dalam a-Sunnah 2/493, *Melalui jalur Muhammad bin Harb dari al-Ahwash bin Hakim dari Muhashir bin Habib dari Abu Tsa’labah* dari Nabi saw bahwa beliau bersabda:

إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ، فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ، وَيَتْرُكُ أَهْلَ الضَّغَائِنِ، وَأَهْلَ الْحِقْدِ بِحِقْدِهِمْ
“Jika dating malam Nishfu Sya’ban, Allah azza wajalla mengamati makhluknya, lalu Dia mengampuni orang mukmin dan membiarkan pendendam dan pendengki dengan kedengkiannya”_.

Sanad hadits ini mudtharrib dan munkar, didalamnya ada rawi al-Ahwash bin Hakim. Imam Ibnul Madini tak mau menuliskan riwayat hadits darinya. Abu Hatim dan Daroquthni berkata: Dia munkarul hadits. Imam Ahmad berkata: tidak boleh meriwayatkan darinya. Dan Ibnu Hibban berkata: Dia meriwayatkan hadits-hadits munkar dari rawi-rawi masyhur. (al-Jarh wat-Ta’dil 2/175, al-Makrifat wattarikh lil faswi 2/461, al-Majruhin libni Hibban 1/175, Mizanul I’tidal 1/167, Tahdzibut-Tahdzib 1/184, adl-Dlu’afa lid-Daroquthni hal 157 dll)

Adapun kemudlthoribannya antara lain sbb:

--Dalam mujam kabir 22/224, al-Ilal al-Mutanahiyah 2/70 dan al-Amali lisy-Syajari 2/103 melalui jalur *Isa bin Yunus dari Ahwash bin Hakim dari Habib bin Shuhaib dari Abu Tsa’labah*

--Dalam al-Arsy libni Abi Syaibah hal 93, Ibnu Qoni’ dalam mu’jam Shohabah hal 160 diriwayatkan melalui *Bisyr bin Umaroh dari Ahwash bin Hakim dari Muhashir bin Habib dari Makhul dari Abi Tsa’labah* (sanad ini memiliki 3 cacat: 1. Bisyr bin umaroh rawi dloif dan matruk, 2. Ahwash rawi munkar, 3. Makhul tidak mendengar dari Abu Tsa’labah)

--Dalam Mujam kabir imam Thobroni 22/223, al-Baihaqi dalam Sunan Shughro 1/379 atau dalam Syu’abul Iman 3/381, melalui *Abdurahman al-Muharibi dari Ahwash dari Habib bin Shuhaib dari Makhul dari Abu Tsa’labah* (sanad ini memiliki 3 cacat: 1. Abdurahman al-Muharibi mudallis dan ‘an’anah dalam hadits ini. 2. Ahwash rawi munkar, 3. Makhul tidak mendengar dari Abu Tsa’labah)

Oleh sebab itu Imam Daroquthni dalam al-Ilalnya 6/323 berkata: _”Hadits ini Mudltorrib dan tidak ajeg”_.
[30/4 15:37] ‪+62 813-8015-7930‬: *10. Hadits Abu Umamah al-Bahili*

Diriwayatkan oleh Imam Asy-Syajari dalam al-Amalinya 2/100 melalui *Ibrohim bin Yusuf dari al-Musayyib bin Syarik dari Ja’far bin Zubair dari al-Qosim dari Abu Umamah* bahwa Nabi saw bersabda:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ هَبَطَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ فَيَطَّلِعُ اطِّلَاعَهُ عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ، فَيَغْفِرُ لِأَهْلِ الْأَرْضِ جَمِيعًا إِلَّا لِكَافِرٍ أَوْ مُشَاحِنٍ "
_” Jika datang malam Nishfu Sya’ban Allah tabaroka wata’ala turun kelangit, maka Dia mengamati penduduk bumi lalu mengapuni semua penghuni bumi selain orang kafir atau orang yang bertengkar”._

Sanad hadits ini maudlu, Ja’far bin Zubair matruk berdasarkan Ijmak para muhaddits. Imam Bukhari berkata: Dia matrukul hadits, mereka mematrukannya karena dalam haditsnya banyak munkar dan idltirob. (Tarikh Kabir Imam Bukhari 2/192, al-Jarh watta’dil 2/479, Tahdzibul kamal 5/32, Mizan I’tidal 1/406, Tahdzibut tahdzib 1/436, adl-Dlu’afa libnil Jauzi 1/171 dll), dan rawi sebelumnya ada Ibnu Amir bin Mirdas sbg rawi pemalsu hadits.

Ada pula jalur yang dinisbatkan kepada para shahabat lainnya seperti Abu Darda’, Anas bin Malik, Ubay bin Ka’ab, Utsman bin Abil Ash, Abdullah bin Qois al-Asy’ari dll yang tidak perlu dikupas lagi karena kedloifannya yang syadid.

Cukup merujuk pada apa yang disebutkan oleh Syeikh al-Albani yang menurut ijtihad beliau sanad-sanad diatas saling menopang dan menguatkan dan beliau memutuskan bahwa hadits tsb SHAHIH dalam silsilah ash-shohihahnya 3/135.

Tulisan ini sebagai kritik tashhih beliau, sekaligus sebagai bukti bahwa semua yang dinyatakan para muhaddits terdahulu khusus mengenai status hadits keutamaan malam nishfu Syaban dengan kesimpulan tidak ada yang hasan apalagi yang shahih ternyata lebih kuat dan akurat.

Al-Hafidz Abul Khithob Ibnu Dihyah berkata:

قال أهل التعديل والتجريح ليس في فضـــــل ليلـــة النصف من شعبان حديث صحيح
_”Ahlu Ta’dil dan Tajrih berkata: mengenai keutamaan malam Nishfu Sya’ban Tidak ada satu hadits pun yang shahih”_.

Ibnul Arobi dalam A’ridlotul Ahwadzi 3/275 berkata:

ليس في ليلة النصف من شعبان حديث يعول عليه
_“Tidak ada mengenai malam nishfu Syaban satu hadits pun yang bisa dipercaya”_.

Al-Uqoili dalam adl-Dlu’afa al-Kabir 3/29 berkata:

وفي النزول ليلة النصف من شعبان أحاديث فيها لين
_“Tentang Turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban hadits-haditsnya rapuh”_.

Abdurahman bin Zaid bin Aslam berkata:

لم أدرك أحـــــــــداً من مشيختنا ولا فقهائنا يلتفتون إلي ليلة النصف من شعبان ، ولم ندرك أحداً منهم يذكـر حديث مكحول ولا يرى لها فضلاً على سواها من الليالي
_”Aku tidak menjumpai seorangpun dari guru-guru kami dan tidak pula para fuqoha kami melirik kepada malam nishfu Sya’ban dan kami tidak menjumpai dari mereka yang mengingat hadits Makhul dan tidak pula memandang punya keutamaan dibanding malam-malam lainnya”_. (HR. Ibnu Wadldloh dalam al-Bida’ hal 100)

Mengapa disebut hadits Makhul ? Tidaklah berlebihan, bila Makhul diduga menjadi sumber hadits Nishfu Syaban sebab Nama beliau paling banyak disebut dalam sanad hadits Nishfu Sya’ban, yaitu kurang lebih 79 kali.

Ibnu Abi Malikah ketika diceriterakan bahwa Ziyad al-Munqori (tukang qisah) berkata:

إن أجر ليلـــة النصف من شعبان مثل أجـر ليلـة القـدر
_”Sesungguhnya pahala malam Nishfu Sya’ban sama seperti pahala lailatul Qodar”_.

Maka beliau menjawab:

لو سمعته يقول ذلك وفي يدي عصاً لضربته بها
_”Seandainya Aku mendengar dia ngomong seperti itu dan ditanganku ada tongkat, pasti aku memukul dia”_. (HR. Abdurozzaq 4/317 dengan sanad shahih)

Wallahu A’lam bish-Showab.

_By Alfasiry_