Minggu, 22 Desember 2019
doa janaiz
Rabu, 01 Mei 2019
Melawat yang meninggal dunia
Wa'alaikumussalaam warahmatullaah...
Jika ada tetangga muslim wafat, laksanakan kewajiban kita yg masuh hidup.
1. Mendoakan dgn doa yg bebas, misal:
"Semoga Allah mengampuni dosanya dan menerima amal shalehnya dst...."
Atau dgn doa yg rasul ajarkan:
اِصْبِرْ وَاحْتَسِبْ فَإِنَّ ِللهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلَّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مَسَمًّى.
Bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah, sesungguhnya adalah hak Allah mengambil dan memberikan sesuatu, segala sesuatu di sisi-Nya ada batas waktu yang telah ditentukan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Doa tersebut d ucapkan d saat kita sudah tiba d tempat keluarga yg meninggal sebagai bentuk ta'ziyah.
Kemudian lakukan 4 hal:
1. Memandikan
2. Mengkafani
3. Menyolatkan, dan
4. Menguburkan
*Cara dan doa ringkas Shalat Jenazah*
4 kali takbir:
1. Takbir pertama
Iftitah, fatihah dan shalawat
2. Takbir kedua
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ،
3. Takbit ketiga
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَذَكَرِنَا وَاُنْثَانَا وَصَغِيرنَا وَكَبِيرنَا
4. Takbir keempat
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّهَا ، وَأَنْتَ خَلَقْتَهَا ، وَأَنْتَ هَدَيْتَهَا لِلْإِسْلَامِ ، وَأَنْتَ قَبَضْتَ رُوحَهَا ، وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِسِرِّهَا وَعَلَانِيَتِهَا ، جِئْنَا شُفَعَاءَ فَاغْفِرْ لَهَا
Selasa, 06 November 2018
Sholat jenazah di kuburan
Hadits nabi shalat d depan kuburan,
فأتى قبره، فصلى عليه، قال: فأمّنا،وصفّنا خلفه، وأنا فيهم، وكبّر أربعا
Lalu beliau mendatangi kuburannya, dan menshalatinya. Kami menjadi makmum dan membentuk shaf di belakang beliau. Saya termasuk diantara mereka dan beliau bertakbir 3 kali. (HR. Ibn Majah 1530, al-Baihaqi dalam as-Sunan).
Lengkapnya,
sunan kubro al-Nasai
2107 - أَخْبَرَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو أُمَامَةَ بْنُ سَهْلٍ، أَنَّهُ اشْتَكَتِ امْرَأَةٌ بِالْعَوَالِي مِسْكِينَةٌ فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُمْ عَنْهَا فَقَالَ: « إِنْ مَاتَتْ فَلَا تَدْفِنُوهَا حَتَّى أُصَلِّيَ عَلَيْهَا» فَتُوُفِّيَتْ فَجَاءُوا بِهَا إِلَى الْمَدِينَةِ بَعْدَ الْعَتَمَةِ فَوَجَدُوا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ نَامَ فَكَرِهُوا أَنْ يُوقِظُوهُ فَصَلُّوا عَلَيْهَا وَدَفَنُوهَا بِبَقِيعِ الْغَرْقَدِ فَلَمَّا أَصْبَحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءُوا فَسَأَلَهُمْ عَنْهَا فَقَالُوا: قَدْ دُفِنَتْ يَا رَسُولَ اللهِ وَقَدْ جِئْنَاكَ فَوَجَدْنَاكَ نَائِمًا فَكَرِهْنَا أَنْ نُوقِظَكَ فَقَالَ: «انْطَلِقُوا فَانْطَلَقَ يَمْشِي وَانْطَلَقُوا مَعَهُ حَتَّى أَرُوهُ *قَبْرَهَا فَقَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَفُّوا وَرَاءَهُ فَصَلُّوا عَلَيْهَا وَكَبَّرَ أَرْبَعًا»*
Hadits menshalati jenazah d kuburan ini adalah makhsush (kekhususan bagi nabi), krna ada qorinah yg menjelaskan:
إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِى عَلَيْهِمْ
Kuburan ini dipenuhi dengan kegelapan bagi penghuninya. Kemudian Allah ta’ala meneranginya dengan shalatku untuk mereka. (HR. Bukhari 460, dan Muslim 2259).
Fiqih hadits ini bukan di syari'atkannya shalat jenazah di depan kuburan secara mutlaq, tapi fiqihnya adalah:
Pertama, shalat jenazah di kuburan tidak sah. Ini merupakan salah satu riwayat pendapat Imam Ahmad. (al-Inshaf, 1/490).
Kedua, shalat jenazah di kuburan hukumnya makruh. Ini merupakan pendapat Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. (Badai as-Shana’i 1/320, Bidayatul Mujtahid 1/410, al-Majmu’ 5/231, al-Inshaf, 1/490).
Dua pendapat ini berdalil dengan beberapa hadis yang melarang shalat di kuburan dan secara khusus, larangan melakukan shalat jenazah di kuburan.
Ketiga, shalat jenazah di kuburan, jika ada sebab, hukumnya dibolehkan. Ini merupakan pendapat sebagaian Hanafiyah (al-Fatawa al-Hindiyah, 1/165), sebagian Malikiyah (Bidayatul Mujtahid, 1/410), mayoritas ulama hambali (al-Mughni, 3/423), dan Zahiriyah (al-Muhalla, 4/32).
Dari ketiga pendapat ini, yanng lebih mendekati kebenaran adalah pendapat ketiga, bahwa shalat jenazah di kuburan hukumnya diperbolehkan. Diatara alasannya,
Pertama, semua praktek Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa shalat jenazah di kuburan yang beliau lakukan bersama para sahabat menjadi pengecualian terhadap larangan dalam beberapa hadis di atas. Sehingga kita bisa mengamalkan semua hadis, dengan memposisikan masing-masing sesuai porsinya. Hadis yang melarang shalat di kuburan dipahami semua shalat selain shalat jenazah. Sementara praktek beliau shalat jenazah di kuburan dipahami sebagai pengecualian.
Pemahaman semacam ini sesuai kaidah:
إعمال الكلام أولى من إهماله
Mengamalkan hadis, lebih didahulukan dari pada membuangnya.
Ketika kita berpendapat bahwa shalat jenazah di kuburan hukumnya terlarang, konsekuensinya, kita akan meniadakan semua hadis yang membolehkan shalat jenazah di kuburan.
Kedua, sementara hadis dari Anas bin Malik, bahwa ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat jenazah di sekitar kuburan’,
Hadis ini memiliki beberapa redaksi, diantaranya umum, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat di antara kuburan, tanpa ada tambahan kata ‘jenazah’. Dan inilah riwayat yang umum. Sementara tambahan kata jenazah ‘melarang shalat jenazah’ adalah riwayat yang ganjil, menyelisihi umumnya riwayat lainnya. (at-Taqrib hlm. 169).
Ketiga, Praktek para sahabat
Beberapa sahabat shalat jenazah di kuburan. Ini menunjukkan bahwa mereka memahami praktek Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai dalil bahwa itu diperbolehkan.
Nafi – ulama tabi’in muridnya Ibnu Umar – menceritakan,
لقد صلينا على عائشة وأم سلمة وسط البقيع بين القبور، والإمام يوم صلينا على عائشة أبو هريرة وحضر ذلك ابن عمر
Kami pernah menshalati jenazah Aisyah dan Ummu Salamah di tengah pemakaman Baqi’ di antara kuburan. Yang menjadi imam adalah Abu Hurairah, dan dihadiri Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhum. (HR. Abdurrazaq dalam al-Mushannaf no. 6570)
Rabu, 10 Oktober 2018
Tidak wajib dikafani dan disholatkan
Ya tetap wajib d mandikan, d kafani dan d shalatkan.
Yg tdk wajib d kafani dan d mandikan itu diantaranya hanya jenazah "meninggal ketika ibadah haji dan jihad fii sabiilillaah (perang)".
Selasa, 29 Mei 2018
Posisi imam sholat jenazah
Dalil posisi shalatnya:
عَنْ أَبِى غَالِبٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَلَى جَنَازَةِ رَجُلٍ فَقَامَ حِيَالَ رَأْسِهِ ثُمَّ جَاءُوا بِجَنَازَةِ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ فَقَالُوا يَا أَبَا حَمْزَةَ صَلِّ عَلَيْهَا. فَقَامَ حِيَالَ وَسَطِ السَّرِيرِ. فَقَالَ لَهُ الْعَلاَءُ بْنُ زِيَادٍ هَكَذَا رَأَيْتَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَامَ عَلَى الْجَنَازَةِ مُقَامَكَ مِنْهَا وَمِنَ الرَّجُلِ مُقَامَكَ مِنْهُ قَالَ نَعَمْ. فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ احْفَظُوا. (سنن الترمذي - ج 3 / ص 352)
”Abu Ghalib berkata: Saya salat janazah laki-laki bersama Anas bin Malik, kemudian ia berdiri lurus dengan kepala mayit. Lalu mereka mendatangkan janazah wanita dari Quraisy, mereka berkata: Wahai Abu Hamzah (kunyah / nama sebutan Anas), salatkanlah janazah wanita ini! Kemudian Anas berdiri lurus di tengah-tengah tempat janazah. Ala’ bin Ziyad bertanya: Seperti inikah engkau melihat Rasulullah Saw berdiri di depan janazah sebagaimana kamu berdiri di depan janazah laki-laki dan perempuan? Anas menjawab: Ya. Selesai salat Anas berkata: Jagalah oleh kalian” (HR Turmudzi)
Untuk posisi janazah wanita dijelaskan dalam hadis-hadis sahih:
عَن سَمُرَة بْن جُنْدُبٍ – رضى الله عنه – قَالَ صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَى امْرَأَةٍ مَاتَتْ فِى نِفَاسِهَا فَقَامَ عَلَيْهَا وَسَطَهَا (البخارى 1332)
”Samurah bin Jundub berkata: Saya salat di belakang Rasulullah Saw terhadap janazah wanita yang meninggal saat nifasnya, kemudian Rasulullah berdiri di tengah-tengahnya” (HR al-Bukhari 1332 dan Muslim 2281)
Adapun sebabnya, ana belum tau 🙏
Adzan untuk bayi yang baru lahir dan mayit
Wa'alaikumussalam warohmatulloh..
Terkait mengadzankan bayi, sudah ada jelaskan, bhwa keterangannya dhaif.
Adapun penjelsan terkait mengadzankan mayyit, ana berikan penjelasan hadits berikut qoul madzhab:
Terdapat sebuah hadis yang menyatakan,
لَا يَزَالُ الْمَيِّتُ يَسْمَعُ الْأَذَانَ مَا لَمْ يُطَيَّنْ قَبْرُهُ
“Mayit masih mendengar adzan selama kuburnya belum diplester dengan tanah.” (HR. Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus no. 7587)
Namun hadis ini disepakati para ulama sebagai hadis yang lemah, bahkan palsu. Berikut keterangan para pakar hadis ketika menilai hadis di atas.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,
وَإِسْنَادُهُ بَاطِلٌ ، فَإِنَّهُ مِنْ رِوَايَةِ مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ الطَّايَكَانِيِّ وَقَدْ رَمَوْهُ بِالْوَضْعِ .
“Sanadnya batil, karena hadis ini termasuk riwayat Muhammad bin Al-Qasim Ath-Thayakani, di mana dia telah dicap sebagai pemalsu hadis.” (At-Talkhish Al-Habir, 2:389)
Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menuturkan,
هذا حديث موضوع على رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Ini adalah hadis palsu atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Al-Maudhu’at, 3:238)
As-Suyuthi menilai, setelah menyebutkan hadis ini:
موضوع الحسن لم يسمع من ابن مسعود
“Palsu, hasan tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud.” (Al-La`ali Al-Mashnu’ah, 2:365)
Imam Ad-Dzahabi mengatakan,
فيه محمد بن القاسم الطايكاني كذاب
“Dalam sanadnya terdapat perawi Muhammad bin Qasim At-Thayakani, pendusta. (Talkhis Al-Maudhu’at Ad-Dzahabi, 938)
Kesimpulannya, tidak ada dalil yang menganjurkan adzan ketika memakamkan jenazah.
Komentar ulama tentang adzan ketika memakamkan jenazah
Para ulama dari berbagai madzhab sepakat bahwa sama sekali tidak terdapat anjuran untuk melakukan adzan ketika memakamkan jenazah. Berikut beberapa keterangan mereka
Pertama, Madzhab Hanafi
Ibnu Abidin mengatakan,
أنه لا يسن الاذان عند إدخال الميت في قبره كما هو المعتاد الآن، وقد صرح ابن حجر في فتاويه بأنه بدعة.
“Tidak dianjurkan untuk adzan ketika memasukkan mayit ke dalam kuburnya sebagaimana yang biasa dilakukan sekarang. Bahkan Ibnu Hajar menegaskan dalam kumpulan fatwanya bahwa itu bid’ah.” (Hasyiyah Ibnu Abidin, 2:255)
Barangkali yang dimaksud Ibnu Hajar dalam keterangan Ibnu Abidin di atas adalah Ibnu Hajar Al-Haitami. Disebutkan dalam Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubra,
مَا حُكْمُ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ عِنْدَ سَدِّ فَتْحِ اللَّحْدِ ؟ ( فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ هُوَ بِدْعَةٌ وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ سُنَّةٌ عِنْدَ نُزُولِ الْقَبْرِ قِيَاسًا عَلَى نَدْبِهِمَا فِي الْمَوْلُودِ إلْحَاقًا لِخَاتِمَةِ الْأَمْرِ بِابْتِدَائِهِ فَلَمْ يُصِبْ وَأَيُّ جَامِعٍ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ وَمُجَرَّدُ أَنَّ ذَاكَ فِي الِابْتِدَاءِ وَهَذَا فِي الِانْتِهَاءِ لَا يَقْتَضِي لُحُوقَهُ بِهِ .
Tanya: Apa hukum adzan dan iqamah ketika menutup liang lahad?
Jawaban Ibnu Hajar Al-Haitami:
Itu bid’ah. Siapa yang meyakini itu disunahkan ketika menurunkan jenazah ke kubur, karena disamakan dengan anjuran adzan dan iqamah untuk bayi yang baru dilahirkan, menyamakan ujung akhir manusia sebagaimana ketika awal ia dilahirkan, adalah keyakinan yang salah. Apa yang bisa menyamakan dua hal ini. Semata-mata alasan, yang satu di awal dan yang satu di ujung, ini tidaklah menunjukkan adanya kesamaan. (Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubra, 3:166).
Kedua, Madzhab Maliki
Disebutkan dalam kitab Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Asy-Syaikh Khalil, penulis mengutip keterangan di Fatawa Al-Ashbahi:
هَلْ وَرَدَ فِي الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ عِنْدَ إدْخَالِ الْمَيِّتِ الْقَبْرَ خَبَرٌ ؟ فَالْجَوَابُ : لَا أَعْلَمُ فِيهِ وُرُودَ خَبَرٍ وَلَا أَثَرٍ إلَّا مَا يُحْكَى عَنْ بَعْضِ الْمُتَأَخِّرِينَ ، وَلَعَلَّهُ مَقِيسٌ عَلَى اسْتِحْبَابِ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ فِي أُذُنِ الْمَوْلُودِ فَإِنَّ الْوِلَادَةَ أَوَّلُ الْخُرُوجِ إلَى الدُّنْيَا وَهَذَا أَوَّلُ الْخُرُوجِ مِنْهَا وَهَذَا فِيهِ ضَعْفٌ فَإِنَّ مِثْلَ هَذَا لَا يَثْبُتُ إلَّا تَوْقِيفًا .
Apakah terdapat khabar (hadis) dalam masalah adzan dan iqamat saat memasukkan mayit ke kubur? Jawab: Saya tidak mengetahui adanya hadis maupun atsar dalam hal ini kecuali apa yang diceritakan dari sebagian ulama belakangan. Barangkali dianalogikan dengan anjuran adzan dan iqamat di telinga bayi yang baru lahir. Karena kelahiran adalah awal keluar ke dunia, sementara ini (kematian) adalah awal keluar dari dunia, namun ada yang lemah dalam hal ini. Karena kasus semacam ini (adzan ketika memakamkan jenazah), tidak bisa dijadikan pegangan kecuali karena dalil shaih.” (Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Asy-Syaikh Khalil, 3:319)
Ketiga, Madzhab Syafi’i
Imam Abu Bakr Ad-Dimyathi menegaskan,
واعلم أنه لا يسن الأذان عند دخول القبر، خلافا لمن قال بنسبته قياسا لخروجه من الدنيا على دخوله فيها .
“Ketahuilah, sesungguhnya tidak disunahkan adzan ketika (mayit) dimasukkan ke kubur. Tidak sebagaimana anggapan orang yang mengatakan demikian karena menyamakan keluarnya seseorang dari dunia (mati) dengan masuknya seseorang ke dunia (dilahirkan).” (I’anatuth Thalibin, 1:268)
Hal senada juga dinyatakan Al-Bajirami:
وَلَا يُنْدَبُ الْأَذَانُ عِنْدَ سَدِّهِ خِلَافًا لِبَعْضِهِمْ
“Tidak dianjurkan mengumandangkan adzan ketika menutup lahad, tidak sebagaimana pendapat sebagian mereka.” (Hasyiyah Al-Bajirami ‘ala Al-Manhaj, 5:38)
Keempat, Madzhab Hambali
Ibnu Qudamah berkata,
أجمعت الأمة على أن الأذان والإقامة مشروع للصلوات الخمس ولا يشرعان لغير الصلوات الخمس لأن المقصود منه الإعلام بوقت المفروضة على الأعيان وهذا لا يوجد في غيرها .
“Umat sepakat bahwa adzan dan iqamat disyariatkan untuk shalat lima waktu dan keduanya tidak disyariatkan untuk selain shalat lima waktu, karena maksudnya adalah untuk pemberitahuan (masuknya) waktu shalat fardhu kepada orang-orang. Dan ini tidak terdapat pada selainnya.” (Asy-Syarh Al-Kabir, I:388)
Semua keterangan di atas mengerucut pada satu kesimpulan bahwa mengumandangkan adzan ketika memakamkan jenazah adalah perbuatan yang bertentang dengan sunnah, atau dengan ungkapan yang lebih tegas, itu bid’ah yang terlarang.
Minggu, 27 Mei 2018
Ganti dhomir pada doa sholat jenazah?
Jika mayit perempuan tidak perlu diganti dengan dhomir Ha.
Sebab dhomir (kata ganti) Hu itu kembali pd mayit, bukan kembali pd jenis lelaki / perempuan.
اللهم اغفرله
Hartosna, _ya Allah, mugi anjeun ngahapunten kana dosa ieu mayit_.
Jd mau lelaki atau perempuan, tetap d baca alloohummaghfirlahu, sanes lahaa
Selasa, 20 Februari 2018
Quburan bolehkah ditembok?
Assalamualaikum.wr. wb, pak ustads saya mau bertanya apakah boleh makam batu nisannya diganti pakai batu bukan kayu lagi dan makamnya pakai rumput?dan apakah kalau boleh tidak memberatkan pada jenazahny?
Wa'alaikumussalaam warohmatullooh..
Quburan itu dilarang di tembok, diberi nama, dibangun dll, hadits² nya sbgai berikut:
نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
“Rasulallah melarang mengkapur/menyemen kuburan, duduk di atasnya dan membangun bangunan di atasnya.” Hr. Muslim
نهى النبي صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر وأن يقعد عليه وأن يبنى عليه وأن يكتب عليه
“Nabi sallallahu alaihi wa sallam melarang mengapur kuburan, mendudukinya, membangun dan menulis di atasnya.”
Larangan ini lebih kepada makruh tanzih.
Maka dgn ini, quburan itu lebih baik jgn pake batu nisan dan cukup d beri tanda kayu saja serta tanah saja tanpa bangunan tembok
Jumat, 02 Februari 2018
Apakah kuburan boleh ditembok dan diberi batu nisan?
Assalamualaikum.wr. wb, pak ustads saya mau bertanya apakah boleh makam batu nisannya diganti pakai batu bukan kayu lagi dan makamnya pakai rumput?dan apakah kalau boleh tidak memberatkan pada jenazahnya? sukron🙏
Jawab :
Wa'alaikumussalaam warohmatullooh..
Quburan itu dilarang di tembok, diberi nama, dibangun dll, hadits² nya sbgai berikut:
نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
“Rasulallah melarang mengkapur/menyemen kuburan, duduk di atasnya dan membangun bangunan di atasnya.” Hr. Muslim
نهى النبي صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر وأن يقعد عليه وأن يبنى عليه وأن يكتب عليه
“Nabi sallallahu alaihi wa sallam melarang mengapur kuburan, mendudukinya, membangun dan menulis di atasnya.”
Larangan ini lebih kepada makruh tanzih.
Maka dgn ini, quburan itu lebih baik jgn pake batu nisan dan cukup d beri tanda kayu saja serta tanah saja tanpa bangunan tembok
Sabtu, 27 Januari 2018
Shalat jenazah salam ke kanan dan ke kiri?
Ustad mau bertanya di dalam shalat jenajah, salam yang paling utama apa cukup sekali saja ke kanan atau ke kanan dan ke kiri, mohon penjelasan dari Hamba Allah
Jawab :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ فَكَبَّرَ عَلَيْهَا أَرْبَعًا وَسَلَّمَ تَسْلِيْمَةً
Dari Abu Hurairah r.a, “bahwa Rasulullah Saw shalat janazah beliau takbir empat kali dan salam satu kali” H.r. Al-Baihaqi, as-Sunanul Kubra, IV: 43
Dalam sanadnya ada rawi yang bernama Ibrahim bin Ismail bin Basyir imam al-Azidi menilai para imam membicarakannya (kelemahan) (Mizan al-I’tidal 1/20)
عَنْ عُمَيْرِ بْنِ سَعِيدٍ : قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى جَنَازَةِ يَزِيدَ بْنِ مُكَفَّفٍ فَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا وَسَلَّمَ وَاحِدَةً.
Dari Umair bin Said berkata : Aku salat di belakang Ali bin Abi Thalib RA atas jenazah Yazid bin Mukaffaf, kemudian beliau bertakbir sebanyak empat kali dan salam satu kali (H.R. al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, 4/43)
Dalam sanadnya ada rawi yang bernama Hajjaj bin Arthah terkenal banyak melakukan tadlis diantaranya dari para rawi yang dhaif sebagaimana dinilai oleh imam Nasa’i. Nisbat tadlispun disebutkan oleh imam Ibnu al-Mubarak, Ibn al-Qathan, Yahya bin Ma’in, imam Ahmad dan Abu Hatim. Al-hafidz Ibnu Hajar menempatkannya pada thabaqah yang keempat diantara para mudallisin (thabaqah al-Mudallisin, 1/49). Dalam hadis diatas Hajjaj bin Arthah menggunakan shigat ‘An dari Umair bin Said sehingga hadisnya dinilai dhaif. Disamping itu juga hadisnya mauquf, hanya menerangkan perbuatan sahabat. Begitu juga atsar-atsar lain terkait salam satu kali dalam dalam salat jenazah diriwayatkan pula dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas (dalam sanadnya ada Rawi yang lemah yaitu Ibrahim bin Muhajir), Jabir bin Abdullah, Anas bin Malik dan Abu Umamah bin Sahl semuanya tidak terlepas dari illat mauquf.
Adapun hadis yang secara marfu’ menunjukan kaifiyat salam salat jenazah adalah dua kali salam adalah sebagai berikut :
عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ ثَلاَثُ خِلاَلٍ كَانَ رَسُوْلُ الله -صلى الله عليه وسلم- يَفْعَلُهُنَّ تَرَكَهُنَّ النَّاسَ إِحْدَاهُنَّ التَّسْلِيْمُ عَلَى الْجَنَازَةِ مِثْلُ التَّسْلِيْمِ فِي الصَّلاَةِ
Dari Abdullah, ia berkata, “Tiga perkara yang biasa dilakukan Rasulullah Saw yang ditinggalkan orang-orang; salah satunya ialah salam atas janazah seperti salam pada shalat.” H.r. Al-Baihaqi, as-Sunanul Kubra, 4/43 dengan sanad yang hasan
Maksud sahabat Abdullah bin mas’ud tersebut ada dalam riwayat muslim yaitu
عَنْ أَبِى مَعْمَرٍ أَنَّ أَمِيرًا كَانَ بِمَكَّةَ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَتَيْنِ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ أَنَّى عَلِقَهَا قَالَ الْحَكَمُ فِى حَدِيثِهِ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَفْعَلُهُ.
Dari Abu Ma;mar sesungguhnya seorang pemimpin Makah bersalam dengan dua kali salam (dalam salat) kemudian Abdullah bin Ma’ud berkata ; dari mana dia mendapatkan hal itu ? al-Hakam berkata dalam hadisnya “ Rasulullah Saw pernah melakukannya (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 2/91)
Begitu juga dari sahabat Saad bin Abi Waqas
قَالَ كُنْتُ أَرَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ حَتَّى أَرَى بَيَاضَ خَدِّهِ.
Saad bin Abi Waqqas berkata : Aku melihat Rasulullah Saw melakukan salat dengan dua kali salam yaitu ke kanan dan ke kiri sehingga aku melihat pipinya yang putih (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 2/91)
Dengan demikian kesimpulannya pendapat yang rajih terkait kaifiyat salam dalam salat jenazah adalah dua kali salam, yaitu ke kanan dan ke kiri.