Tampilkan postingan dengan label Shaum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shaum. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Februari 2023

Shaum Tasu'a Asyura

  Shaum Tasu'a Asyura


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan berpuasa. Para shahabat berkata:”Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi.” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal sembilan.”, tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat. (HR Muslim)


Jangan lupa, shaum tasu'a asyura pada 9 dan 10 Muharram bertepatan dengan 7 dan 8 Agustus 2022, pada hari Ahad dan Senin.


وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ


“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa di hari Asyura, maka beliau menjawab : “Puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) pada tahun kemarin” (HR Muslim)

Shaum 11 Muharam?

 disunnahkan shaum tiga hari sekaligus, yaitu 9, 10 dan 11 Muharram. Jadi, jika tidak sempat tanggal 9 dan 10, maka bisa memilih tanggal 10 dan 11 untuk shaum. Benarkah pendapat ini? Hemat kami pendapat ini mengacu kepada salah satu hadis berikut ini:


صُوْمُوْا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَخَالِفُوْا فِيْهِ اليَهُوْدَ ، صُوْمُوْا قَبْلَهُ يوْمًا وَ بَعْدَهُ يَوْمًا.

“Shaumlah pada hari ‘Asyuraa (10 Muharram), dan berbedalah dengan orang-orang Yahudi, oleh karena itu shaumlah satu hari sebelumnya (9 Muharram) dan satu hari sesudahnya (11 Muharram).” HR. Ahmad

Pada hadis ini terdapat masalah dari aspek sanad dan matan. Namun analisa sanad dipandang cukup memadai untuk menunjukkan permasalahan hadis ini, dengan alasan sebagai berikut:

Hadis di atas diriwayatkan Imam Ahmad melalui jalur periwayatan Husyaim. Ia menerima dari Ibnu Abi Laila, dari Dawud bin Ali, dari bapaknya (Ali bin Abdullah bin Abbas), dari kakeknya (Ibnu Abbas).

Hadis di atas tidak dapat dijadikan hujjah adanya shaum tanggal 11 Muharram, karena hadisnya dhaif dengan sebab kedaifan rawi bernama Muhammad bin Abdurahman Ibnu Abi Laila, sebagaimana dijelaskan para ulama berikut ini:

Imam Abdurrazaq (w. 211 H) menyatakan:

وَأَمَّا حَدِيْثُ (صُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ وَ يَوْمًا بَعْدَهُ) فَهذَا رَوَاهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ وَمَدَارُهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِالرَّحْمنِ ابْنِ أَبِيْ لَيْلَى وَقَدْ قَالَ عَنْهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ كَانَ سَيِّءَ الْحِفْظِ مُضْطَرِبَ الْحَدِيْثِ وَأَيْضًا قَدْ خُوْلِفَ فِي إِسْنَادِهِ فَالْخَبَرُ مُنْكَرٌ وَلاَيَصِحُّ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ رَغِبَ بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ فِي عَاشُوْرَاءَ وَإِنَّمَا جَاءَتْ فَضِيْلَةُ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ بِأَدِلَّةٍ عَامَّةٍ لاَتُخْتَصُّ بِشَهْرِ اللهِ الْمُحَرَّمِ . وَكَذلِكَ الْحَدِيْثُ الآخَرُ (صُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ) هذَا الْخَبَرُ مُنْكَرٌ

“Adapun hadis: ‘Shaumlah satu hari sebelumnya (9 Muharram) dan satu hari sesudahnya (11 Muharram).’ Maka ini riwayat Imam Ahmad, dan jalur periwayatannya berporos pada Muhammad bin Abdurahman Ibnu Abi Laila, dan sungguh Imam Ahmad telah mengomentarinya, ‘Dia buruk hapalan, hadisnya goncang.’ Selain itu terjadi pertentangan dalam sanadnya. Maka hadis itu munkar, dan tidak shahih bersumber dari Nabi bahwa beliau menganjurkan shaum tiga hari pada Asyura. Keutamaan shaum tiga hari diriwayatkan berdasarkan dalil-dalil umum yang tidak dikhususkan pada bulan Muharram. Begitu pula hadis lain (dengan menggunakan kata aw/atau): ‘‘Shaumlah satu hari sebelumnya atau satu hari sesudahnya.’ Hadis ini munkar.” [28]

Selanjutnya, Imam Abdurrazaq mencantumkan hadis shahih dari Ibnu Abbas, yang menyatakan:

(صُومُوا التَاسِعَ مَعَ العَاشِرِ) وَهذَا هُوَ الْمَحْفُوْظُ


Shaumlah kalian pada hari yang kesembilan bersama kesepuluh dan.” Dan (Imam Abdurazaq mengatakan) Inilah yang terpelihara (shahih).” [29]

Sehubungan dengan itu, Imam Asy-Syawkani berkata:

رِوَايَةُ أَحْمَدَ هَذِهِ ضَعِيفَةٌ مُنْكَرَةٌ مِنْ طَرِيقِ دَاوُدَ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ رَوَاهَا عَنْهُ اِبْنُ أَبِي لَيْلَى ، قَالَ : وَقَدْ أَخْرَجَهُ بِمِثْلِهِ الْبَيْهَقِيُّ وَذَكَرَهُ فِي التَّلْخِيصِ وَسَكَتَ عَنْهُ اِنْتَهَى

“Riwayat Ahmad munkar dari jalur Dawud bin Ali, dari bapaknya, dari kakeknya, diriwayatkan dari Dawud bin Ali oleh Ibnu Abu Laila.” Ia berkata pula, “Hadis semisal diriwayatkan pula oleh Al-Baihaqi dan menyebutkannya dalam kitab At-Talkhis, dan ia tidak berkomentar apapun terhadapnya.”[30]

Hadis ini dinilai dhaif pula oleh Imam Adz-Dzahabi[31], Al-Haitsami[32], Imam Abdurrauf Al-Munawi,[33] dan Syekh Al-Albani. [34]

Dengan demikian, mengamalkan shaum Muharram sebanyak tiga hari (tanggal 9, 10, 11) atau tanggal 10 dan 11 Muharram hukumnya menyalahi Sunnah Nabi saw., bahkan dinilai bid’ah oleh sebagian ulama.

Minggu, 10 Maret 2019

Keutamaan shaum di bulan rajab

*Keutamaan Puasa di Bulan Rajab.*

ألا إن رَجَب شَهْرُ اللهِ الأصَمّ، فَمَنْ صَامَ مِنْهُ  يَوْمًا إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا اسْتَوْجَبَ عَليْهِ رِضْوَانَ اللهِ الأَكْبَر، فَمَنْ صَامَ مِنْهُ يَوْمَيْنِ لاَ يَصِفُ الوَاصِفُونَ مِنْ أَهْلِ السَّمَاء ِوَالأَرْضَ مَالَهُ عِنْدَ اللهِ مِنْ الكَرَامَةِ، وَمَنْ صَامَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ عُوْفِيَ مِنْ كُلّ بَلاَءِ الدُّنيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ وَالجُنُوْن وَالخِذَام والبَرَص وَمِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ، وَمَنْ صَامَ سَبْعَةَ أيَّـامٍ غُلِقَتْ عَنْهُ سَبْعَةَ أَبْوَاب جَهَنَّم، وَمَنْ صَامَ ثمانِيَةَ أيامٍ فُتِحَتْ لَهُ ثمانِيَةَ  أبوَابِ الجَنَّة، وَمَنْ صَامَ عَشْرَةَ أَيامٍ لَمْ يَسْأَل مِنْ اللهِ شَيْئاً إلاَّ أَعْطَاهُ، وَمَنْ صَامَ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا غَفَرَ اللهُ تَعَالى ذُنُوبَهُ مَاتقدَّمَ وَبـَدَّلَهُ بِسَيآتِهِ حَسَنَاتٍ وَمَنْ زَادَ، زَادَ اللهُ أَجْرَهُ.

_Sesungguhnya Rajab itu adalah bulan Allah yang ..  . Maka barangsiapa berpuasa pada bulan itu satu hari dengan penuh keimanan dan pengharapan maka dia pasti akan mendapatkan Ridha Allah yang besar. Dan barangsiapa berpuasa pada bulan itu dua hari maka dia akan mendapatkan sesuatu yang tidak dapat disifatkan oleh penghuni langit dan bumi tentang kemuliaannya di sisi Allah. Dan barangsiapa yang puasa tiga hari maka akan dijauhi dari bala dunia dan azab akhirat, dan penyakit gila, …, putihan dan dari ujian Dajjal. Dan barangsiapa puasa tujuh hari maka akan ditutup ke atasnya tujuh pintu neraka. Dan barangsiapa yang puasa delapan hari maka dibukakan untuknya delapan pintu-pintu surga, dan barangsiapa yang puasa sepuluh hari maka tidaklah dia meminta sesuatu kepada Allah kecuali akan dikabulkan. Dan barangsiapa berpuasa lima belas hari maka akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan segala kesalahannya akan diganti dengan kebaikan. Dan barangsiapa yang berpuasa lebih daripada itu, akan maka Allah pun akan menambahkan lagi pahalanya._

T🅰akhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam al-Shu’ab dan Fada’il al-awqat dan al-Asfahani dalam al-Targhib. Kesemuanya melalui ‘Utsman ibn Matar dari ‘Abd. Ghafur dari ‘Abd ‘Aziz ibn Sa’id dari bapaknya.

Hukum Hadis: Maudu’/Palsu.

Dalam sanad al-Bayhaqi terdapat beberapa perawi yang da’if, amat da’if dan seorang yang dituduh meriwayatkan Hadis palsu daripada perawi tsiqat. Antaranya adalah ‘Utsman ibn Matar, dia da’if menurut Abu Hatim, al-Nasa’i, al-Dhahabi dan Ibn Hajar. Abu Salih ‘Abd. al-Gahafur al-Wasiti, menurut al-Bukhari mereka meninggalkannya dan Hadisnya munkar (تركوه وهو منكر الحديث).

Ibn ‘Adiy berkata:  Dia da’if dan Hadisnya munkar
(ضعيف منكر الحديث).

Al-Nasa’i berpendapat dia
متروك  الحديث .

Ibn Hibban pula menyatakan bahwa dia meriwayatkan Hadis-hadis palsu daripada perawi tsiqat
(كان يروي الموضوعات عن الثقات ).

Al-Bayhaqi yang meriwayatkan Hadis ini hanya mengatakan bahwa sanadnya da’if, akan tetapi Ibn Hajar yang kemudian diikuti oleh Ibn ‘Arraq menghukumkannya dengan palsu

صَوْمُ أَوَّل يَوْمٍ مِنْ رَجَب كَفَّارَة ثَلاَثَ سِنِيْنَ، وَالثاني كَفَّارَة سَنَتَيْنِ، وَالثالث كَفَّارَة سَنَة،
ُثمَّ كُل يَوْمٍ كَفارَة شَهْرٍ.

_Puasa hari pertama dari bulan Rajab menghapuskan dosa tiga tahun, puasa pada hari keduanya menghapuskan dosa dua tahun, dan puasa pada hari ketiga menghapuskan dosa satu tahun, kemudian setiap hari-hari selanjutnya akan menghapuskan dosa sebulan._

T🅰khrij Hadis:

Hadis ini seperti yang diisyaratkan oleh al-Suyuti, diriwayatkan oleh Abu Muhammmad al-Khallal dalam Fada’il Rajab daripada Ibn ‘Abbas

Hukum Hadis: Maudu’/Palsu.

Al-Suyuti menghukumkan Hadis ini dengan da’if, akan tetapi al-Munawi mengatakan amat da’if,  kemudian beliau menukil pendapat Ibn Salah dan Ibn Rajab al-Hambali yang mengisyaratkan palsunya Hadis-hadis mengenai puasa Rajab. Al-Albani hanya menda’ifkan Hadis ini.

Hadis ini dapat dihukumkan palsu berdasarkan kaidah yang disebutkan Ibn Qayyim dan Ibn Hajar seperti yang telah dijelaskan pada Hadis ke 154.

إنه لمَ ْ يَصُمْ بَعْدَ رَمَضَانَ إِلاَّ رَجَب وَشَعْبَانَ.

_Sesungguhnya Rasulullah saw belum pernah berpuasa selain bulan Ramadhan kecuali Rajab dan Sya’ban._

T🅰khrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam al-Shu’ab daripada Abu Hurairah.

Hukum Hadis: Da’if.

Al-Bayhaqi mengatakan bahwa sanad Hadis ini da’if.

Hadis:

إِنَّ فيِ الجَنّةِ  نَهْرًا يُقَالُ لَهُ رَجَب أَشَدّ بَيَاضًا مِنْ اللبنِ وَأَحْلَى مِنْ العَسَلِ، مَنْ صَامَ يَومًا مِنْ رَجَب سَقَاهُ اللهُ منْ ذلِكَ النَهَارِ.

_Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai, dinamakan sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada susu, lebih manis dari pada madu, barangsiapa yang puasa satu hari pada bulan Rajab, Allah akan memberikannya minum dari sungai itu._

T🅰khrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam al-Majruhin dan al-Bayhaqi dalam Fada’il al-awqat dan al-Shayrazi dalam al-Alqab seperti diisyaratkan oleh al-Suyuti. Kesemuanya dari riwayat Anas.

Al-Khubawi mengisyaratkan bahwa Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Tetapi isyarat ini adalah salah sebab al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkan Hadis ini dan tidak ada seorang ulama Hadis pun yang mengisyaratkan ke arah itu, apa lagi Hadis ini adalah amat da’if, bahkan beberapa ulama menghukumkannya palsu. Jadi tidak mungkin keduanya meriwayatkan Hadis ini.

Hukum Hadis: Da’if.

Hadis ini telah dihukumkan palsu oleh beberapa ulama seperti Ibn al-Jawzi, al-Dhahabi dan Ibn Hajar dalam Lisan al-mizan. Sebabnya adalah di dalam sanad Hadis ini terdapat perawi pendusta, iaitu Mans.u-r b. Yazid. Ibn al-Jawzi mengatakan bahwa dalam sanadnya banyak yang tidak diketahui (فيه مجاهيل).

Akan tetapi al-Suyuti dan Ibn Hajar dalam kitab Tabyin al-’Ajab hanya me da’if kan Hadis ini., berbeda dengan hukuman beliau ke atas  Hadis ini dalam Lisan al-mizan seperti dijelaskan di atas. Beliau berkata “ Isnadnya secara am adalah da’if, akan tetapi ia belum sampai menjadikan Hadis ini palsu ”.

كُلُّ النَّاسِ جِيَاعٌ  يَوْمَ القِيَامَةِ إلاَّ  الأَنبـِيَاءَ وَأَهْلِيْهِمْ وَصَائِم رَجَب وَشَعْبَانَ وَرَمَضَانَ، فَإِنَّهُمْ شبَاعٌ لاَجُوْعَ  لَهُمْ وَلاَ عَطَشَ.

_Semua orang akan kelaparan pada hari kiamat kecuali para nabi-nabi dan keluarga-keluarga mereka, serta mereka yang berpuasa Rajab, Sya’ban dan Ramadhan._

T🅰khrij Hadis:

Hadis dengan lafaz seperti ini belum dapat ditemukan. Al-Khubawi menukilnya daripada kitab Zubdat al-wa’iz.in.

Hukum Hadis: Maudu’/Palsu.

Hadis ini boleh dihukumkan palsu berdasarkan kaidah yang disebutkan oleh Ibn Hajar dan Ibn Qayyim seperti disebutkan di atas.

يا ثوبان، هؤلاء يعذبون في قبورهم، ودعوت لهم فخفف الله عنهم العذاب. ثم قال: ياثوبان لو صام هؤلاء يوما من رجب وما ناموا منه ليلة ما عذبوا في قبورهم. قلت: يا رسول الله أصوم يوم وقيام ليلة منه يمنع عذاب القبر ؟ ثم قال: ياثوبان، والذي بعثني بالحق نبيا، ما من مسلم ومسلمة يصوم يوما ويقوم ليلة من رجب يريد بهما وجه الله، إلا كتب الله له عبادة سنة صام نهارها وقام ليالها.

_Wahai Tsawban, mereka itu diazab di dalam kubur mereka, aku mendo’akan untuk maka  Allah pun meringankan siksa mereka. Kemudian Rasulullah saw bersabda: Wahai Thawban, kalaulah seorang di antara mereka berpuasa di bulan Rajab, dan mereka tidak tidur di malamnya semalaman, niscaya mereka tidak akan disiksa di kubur mereka._

_Aku (Thawban) berkata: Wahai Rasulullah saw, apakah puasa satu hari dan qiyamullah satu malam dapat menghindari orang dari siksa kubur. Rasulullah saw menjawab: Wahai Thawban, demi Zat yang nyawaku ada di tangan-NYa, tidaklah seorang muslim atau muslimah berpuasa dalam satu hari di bulan Rajab, dan qiyamul lail  pada satu malamnya, mengharapkan ridha Allah, kecuali akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang beribadah satu tahun yang paginya puasa dan malamnya qiyam al-lail._

T🅰khrij Hadis:

Hadis dengan lafaz seperti ini belum dapat ditemukan. Al-Khubawi menukilnya dari kitab Rawnaq al-majalis.

Hukum Hadis: Maudu’/Palsu.

Hadis:

Hadis ini  dapat dihukumkan palsu berdasarkan kaidah yang disebutkan oleh Ibn Hajar dan Ibn Qayyim seperti yang dijelaskan pada Hadis ke 154.

〰〰〰〰〰〰〰〰

_*Fiqh Ibadah di Bulan Rajab*_

Ada sedikit kegelisahan di hati ketika sebuah hadis yang berkaitan dengan sebuah ritual dihukumkan palsu oleh ulama hadis. Ada kesan lanjutan sebagai dampak dari kegelisahan tadi, yaitu apakah ibadah yang selama ini rutin dikerjakan dan ternyata hadisnya adalah palsu, lalu ibadahnya jadi bid’ah dan sia-sia?

Harus diketahui bahwa hadis palsu tidak mempengaruhi hukum fiqh yang dibangun dengan hadis sahih atau ayat al-Qur’an. Sebagai contoh, puasa adalah amalan yang disyari’atkan Islam, tentu dengan aturan yang sudah sama-sama dimaklumi. Ia boleh dilakukan kapan saja kecuali beberapa hari tertentu saja, yaitu 5 atau 6 hari dalam satu tahun. Selain disyari’atkan, puasa adalah amal kebaikan yang tentu saja berpahala. Hanya saja, berapa besarkah pahala yang didapat seorang ketika berpuasa, hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu, artinya, hanya melalui al-Qur’an dan hadis sahihlah kita dapat mengetahui besarnya pahala tersebut, ulama, siapapun orangnya, tidak dapat mengetahui besarnya pahala. Mereka dengan pemahaman dapat mengatakan bahwa ini berpahala karena merupakan amal shaleh, berapa besar pahalanya, wallahu a’lam bissawab.

Dengan demikian, maka bagi mereka yang melakukan shalat malam, puasa dan bershalawat di bulan Rajab, tetap akan mendapatkan pahala, hanya saja pahala yang dijanjikan atau diberikan bukan seperti yang dirincikan dalam hadis-hadis palsu.

Bid’ah atau tidak puasa di bulan Rajab atau shalat malam harinya, tentu saja tidak asal dasar pengamalannya bukan dimotivasi oleh hadis yang palsu.

Mengapa masih ada hadis palsu yang seperti itu?

Munculnya hadis palsu seperti di atas tidak lepas dari _nawaitu_ yang keliru dari para pembuatnya. Hadis di atas yang dihukumkan palsu karena jelas bukan perkataan atau sabda nabi saw, semua adalah perkataan orang yang dinisbahkan kepada nabi untuk mendapatkan legitimasi hukum. Tentu saja nabi saw _bari’_ (terlepas) dari tanggung jawab hukum/kesimpulan yang dihasilkan.

Mereka yang memalsukan hadis-hadis seperti di atas banyak disebabkan oleh keinginan mereka mengajak orang berbuat baik. Namun cara merekalah yang salah, yaitu dengan mengatasnamakan nabi dan mereka-reka pahala dari sebuah amalan. Ada dua kebohongan yang dilakukan, pertama menentukan/mereka-reka pahala dan kedua mengatakan kebohongannya ini sebagai perkataan Nabi saw.

Wallāhu A'lam

Kamis, 07 Maret 2019

Shaum rajab

Hadits pahala mengingatkan keutamaan bln rajab = maudhu (palsu)

Hadits tentang shaum khusus bulan rajab tidak sharih (tdk jelas), adapun hadits rasul memperbanyak shaum di 3 bulan d antaranya bulan rajab, itu maksudnya shaum-shaum sunnah yg biasa Rasul lakukan, sprti shaum senin kamis, ayyamul bidh dll.

Adapuan shaum khusus bulan Rajab, itu tdk ada keterangan nya, dgn inilah Imam Ibn Hajar berkata:

لم يرد في فضل شهر رجب ، ولا في صيامه ، ولا في صيام شيء منه معين ، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة ، وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل الهروي الحافظ

Tidak terdapat riwayat yang sahih yang layak dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula riwayat yang shahih tentang puasa rajab, atau puasa di tanggal tertentu bulan Rajab, atau shalat tahajud di malam tertentu bulan rajab. Keterangan saya ini telah didahului oleh keterangan Imam Al-Hafidz Abu Ismail Al-Harawi.” (Tabyinul Ajab bi Ma Warada fi Fadli Rajab, hlm. 6)

Jumat, 01 Maret 2019

Muntah membatalkan shaum?

Wa'alaikumussalaam warahmatullaah..

Muntah tdk membatalkan shaum, krna hakikatnya mengeluarkan, bukan memasukkan

Selasa, 11 September 2018

Amalan bulan muharam

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

أفضل الصيام بعد شهر رمضان شهر الله الذي تدعونه المحرم، وأفضل الصلاة بعد الفريضة قيام الليل . رواه مسلم في صحيحه

“Puasa yang paling utama setelah puasa bulan ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yang kalian sebut bulan muharam, dan sholat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.“ (HR.Muslim)

Shaum yg d maksud adalah shaum 9-10 muharram

*1. Shaum Asyura*
Rasulullah mengatakan bahwa dengan puasa Asyura di bulan Muharram, Ia berharap Allah menghapus doa setahun yang lalu.

…وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ.
“… Dan puasa di hari ‘Asyura’ saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu.” (HR Muslim no. 1162/2746).

*2. Puasa Tasu'a*

وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata : ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR Muslim)

*3. Shodaqoh pada pakir miskin atau sabilillah untuk majunya dan menyebarnya dakwah*

Selain dua puasa tersebut, umat Muslim dapat memperbanyak amalan sunnah lain di bulan Muharram.
Pada bulan Muharram, umat Muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak sedekah dlm rangka jihad bil maal (jihad dgn harta)

Sunnahnya shaum 9-10 muharam

Sunnahnya 9-10 muharram.

Ibnu Abbas ra berkata bahwa ketika Nabi saw melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134).

Namun, apabila shaum tgl 10 nya saja, itupun boleh, hanya kurang afdhal dr yg puasa dr tgl 9.

Minggu, 09 September 2018

Shaum tarwiyah bidah

‎صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ، وَصَوْمُ يَوْمِ عَرفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ

“Artinya : Puasa pada hari tarwiyah menghapuskan (dosa) satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun”.

Diriwayatkan oleh Imam Dailami di kitabnya Musnad Firdaus (2/248) dari jalan :

1. Abu Syaikh dari :
2. Ali bin Ali Al-Himyari dari :
3. Kalbiy dari :
4. Abi Shaalih dari :
5. Ibnu Abbas marfu’ (yaitu sanadnya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Saya berkata : Hadits ini derajatnya maudlu’.

Sanad hadits ini mempunyai dua penyakit.

Pertama.
Kalbiy (no. 3) yang namanya : Muhammad bin Saaib Al-Kalbiy. Dia ini seorang rawi pendusta. Dia pernah mengatakan kepada Sufyan Ats-Tsauri, “Apa-apa hadits yang engkau dengar dariku dari jalan Abi Shaalih dari Ibnu Abbas, maka hadits ini dusta” (Sedangkan hadits di atas Kalbiy meriwayatkan dari jalan Abi Shaalih dari Ibnu Abbas).

Imam Hakim berkata : “Ia meriwayatkan dari Abi Shaalih hadits-hadits yang maudlu’ (palsu)” Tentang Kalbiy ini dapatlah dibaca lebih lanjut di kitab-kitab Jarh Wat Ta’dil.

1. At-Taqrib 2/163 oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar
2. Adl-Dlu’afaa 2/253, 254, 255, 256 oleh Imam Ibnu Hibban
3. Adl-Dlu’afaa wal Matruukin no. 467 oleh Imam Daruquthni
4. Al-Jarh Wat Ta’dil 7/721 oleh Imam Ibnu Abi Hatim
]. Tahdzibut Tahdzib 9/5178 oleh Al-Hafizd Ibnu Hajar

Kedua : Ali bin Ali Al-Himyari (no. 2) adalah seorang rawi yang majhul (tidak dikenal).

Kesimpulan
1. Shaum pada hari tarwiyah (8 Dzulhijjah) adalah hukumnya bid’ah. Karena hadits yang mereka jadikan sandaran adalah hadits palsu/maudlu’ yang sama sekali tidak boleh dibuat sebagai dalil. Jangankan dijadikan dalil, bahkan membawakan hadits maudlu’ bukan dengan maksud menerangkan kepalsuannya kepada umat, adalah hukumnya haram

Sabtu, 08 September 2018

Shaum tarwiyah dhoif

Shaum tarwiyyah itu shaum pd tgl 8 dzulhijjah.

Shaum tarwiyyah haditsnya maudhu/palsh

Terdapat hadis yang secara khusus menganjurkan puasa di hari tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah). Hadis itu menyatakan,

مَنْ صَامَ الْعَشْرَ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَوْمُ شَهْرٍ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ سَنَةٌ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ سَنَتَانِ

”Siapa yang puasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari arafah, seperti puasa dua tahun.”

Hadis ini berasal dari jalur Ali al-Muhairi dari at-Thibbi, dari Abu Sholeh, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, secara marfu’.

Para ulama menegaskan bahwa hadis ini adalah hadis palsu. Ibnul Jauzi (wafat 597 H) mengatakan,

وهذا حديث لا يصح . قَالَ سُلَيْمَان التَّيْمِيّ : الطبي كذاب . وَقَالَ ابْن حِبَّانَ : وضوح الكذب فِيهِ أظهر من أن يحتاج إِلَى وصفه

Hadis ini tidak shahih. Sulaiman at-Taimi mengatakan, ’at-Thibbi seorang pendusta.’ Ibnu Hibban menilai, ’at-Thibbi jelas-jelas pendusta. Sangat jelas sehingga tidak perlu dijelaskan.’ (al-Maudhu’at, 2/198).

Keterangan serupa juga disampaikan as-Syaukani (wafat 1255 H). Ketika menjelaskan status hadis ini, beliau mengatakan,

رواه ابن عدي عن عائشة مرفوعاً ولا يصح وفي إسناده : الكلبي كذاب

Hadis ini disebutkan oleh Ibn Adi dari A’isyah secara marfu’. Hadis ini tidak shahih, dalam sanadnya terdapat perawi bernama al-Kalbi, seorang pendusta. (al-Fawaid al-Majmu’ah, 1/45).

Keterangan di atas, cukup bagi kita untuk menyimpulkan bahwa hadis di atas adalah hadis yang tidak bisa jadi dalil. Karena itu, tidak ada keutamaan khusus untuk puasa tarwiyah

Yg shahih hanyalah hadits shaum d hari 'arafah

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Minggu, 03 Juni 2018

Tingkatan shaum

Ibnu Qudamah rahimahullah dalam ringkasan kitab Ibnul Jauzi rahimahullah yang dinamakan Mukhtasar Minhajil Qashidin, pada hal. 44, beliau menjelaskan tentang tingkatan Shaum,

وللصوم ثلاث مراتب: صوم العموم، وصوم الخصوص، وصوم خصوص الخصوص

Dan Shaum itu memiliki tiga tingkatan:

Shaum umum, Shaum khusus (VIP), dan Shaum super khusus (VVIP)

Beliaupun menjelaskan satu persatu macam-macam Shaum tersebut,

1. Shaum Orang Umum

Ibnu-Qudamah rahimahullah mengatakan,

فأما صوم العموم: فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة

“Adapun Shaum umum adalah menahan perut dan kemaluan dari menuruti selera syahwat (menahan diri dari melakukan berbagai pembatal Shaum, seperti makan,minum dan bersetubuh).”

2. Shaum Orang Khusus (VIP)

Ibnu-Qudamah rahimahullah melanjutkan penjelasannya,

وأما صوم الخصوص: فهو كف النظر، واللسان، والرجل، والسمع، والبصر، وسائر الجوارح عن الآثام

“Dan Shaum khusus adalah menahan pandangan, lisan, kaki, pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa.”

3. Shaum Super Khusus (VVIP)

وأما صوم خصوص الخصوص: فهو صوم القلب عن الهمم الدنية، والأفكار المبعدة عن الله ـ سبحانه وتعالى ـ، وكفه عما سوى الله ـ سبحانه وتعالى ـ بالكلية

“Dan adapun Shaum super khusus adalah puasanya hati dari selera yang rendah dan pikiran yang menjauhkan hatinya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menahan hati dari berpaling kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala secara totalitas!”

Di tingkat manakah kita berada???

Selasa, 29 Mei 2018

Wanita hamil qodho atau fidyah?

Wa'alaikumussalaam warohmatulloh..

*Golongan Qodho*
1. Sakit
2. Haidh
3. Safar
4. Nifas

*Golongan fidyah*
1. Sakit yg terus menerus hingga d prediksi tdk ada kesembuhan
2. Org yg berwatak sakit jika shaum
3. Nenek²&Kakek² yg sudah tdk sanggup shaum
4. Profesi pekerja keras hingga sulit dan kepayahan jika shaum

*Antara Qodho dan Fidyah*

*1. Wanita menyusui*

- Jika kondisi anak harus d susui, dan anak tdk bisa makan kecuali hanya dr ASi, maka terpaksa ibu harus tdk shaum demi memenuhi kebutuhan ASI untuk bayinya. Kondisi begini masuk pada *FIDYAH*

- Jika bayi bisa makan tanpa ASI dan sehat walau tidak minum ASI, lantas kondisi ibunya lemah, faktor kelemahan iti terkait dirinya hingga tdk shaum, maka wajib bayar *QODHO*

*2. Hamil*

- Jika kondisi janin akam bahaya jika ibunya shaum, dan janin butuh asupan yg ekstra, maka terpaksa ibu harus tdk shaum demi memenuhi kebutuhan janinnya. Kondisi begini masuk pada *FIDYAH*

- Jika janin sehat walau ibunya shaum pun tetap kondisi janin sehat dan kuat, lantas kondisi ibunya lemah, faktor kelemahan ini terkait dirinya hingga tdk shaum, maka wajib bayar *QODHO*

Dgn kata lain:
Hamil & menyusui jika tidak shaumnya krna faktor bayi/janin = maka fidyah.
Jika tidak shaumnya krna faktor dirinya sndiri dan bayi/janin sehat= maka qodho

*3. NIFAS TIDAK MENYUSUI*
wajib Qodho

*4. NIFAS DAN MENYUSUI*
Lihat point ke-2

Qodlo shaum untuk yang meninggal dunia

Wa'alaikumussalaam warohantullooh..

Jika utang shaumnya itu masuq qodho, lantas qodo nya blm d bayar d sebabkan meninggal, maka tdk ada fidyah dan tdk harus d puasakan. Dengan dalil:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

*“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya* kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Adapun hadits ini:
Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من مات وعليه صيام صام عنه وليُّه

“Siapa yang meninggal dan dia masih memiliki tanggungan puasa maka walinya wajib mempuasakannya.” 
(HR. Bukhari 1952 dan Muslim 1147)

Hadits ini shahih tp tidak sharih (tidak jelas), wali disana siapa?  Apa wali nikah / org tua atau siapa?

Sahur kesiangan, masih ada makanan di piring

Saupami tos adzan, sangu masih d piring. Maka teraskeun sahurna saukuran hajat / kebutuhan tras enggal minum.

Janten kengeng nyeepkeun tuangeun sahur sanajan tos adzan asal saukuran hajatna

Minggu, 27 Mei 2018

Makna Setan Dibelenggu Pada Bulan Ramadan

*Makna Setan Dibelenggu Pada Bulan Ramadan*

Diriwayatkan oleh Bukhari, no. 1899. Muslim, no. 1079, dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu,  sesungguhnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ ، وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

_*“Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu ditutup dan setan-setan dibelenggu”.*_

Para ulama berbeda (pendapat) mengenai makna dibelenggunya setan-setan pada bulan Ramadan, menjadi beberapa pendapat:

1. Al-Hafidz Ibnu Hajar berpendapat seraya menukil dari Al-Hulaimy: “Kemungkinan maksudnya adalah para setan tidak bersungguh-sungguh menggoda kaum muslimin, sebagaimana yang mereka lakukan  di bulan lainnya, karena kesibukan (manusia beribadah). (Atau) yang dimaksud para setan (yang dibelenggu) adalah sebagian mereka, yaitu dari jenis pembangkang di antara mereka, (atau yang dimaksud) dibelenggu adalah dibelenggu dengan puasa yang berfungsi menekan dorongan syahwat, atau dengan bacaan Al-Qur’an dan dzikir.

2. Yang lainnya (selain Al-Hulaimy) berkata, maksud dibelenggu adalah diikat dengan rantai.  Iyadh berkata: Ada kemungkinan maknanya sesuai zahir dan hakekatnya. Yaitu sebagai tanda bagi para malaikat akan masuknya bulan Ramadan, agar mereka mengagungkan kesuciannya dan melarang para setan mengganggu kaum beriman. Kemungkinan juga (maknanya) sebagai simbol banyaknya pahala dan pengampunan. Dan berkurangnya gangguan setan, sehingga seakan-akan mereka dibelenggu. Dia Berkata, yang menguatkan kemungkinan kedua ini adalah ungkapan dalam riwayat Yunus dari Ibnu Syihab dalam riwayat Muslim, (yaitu ungkapan) 'Pintu-pintu rahmat dibuka'. Dia juga berkata, bahwa  kemungkinan (makna) dibelenggunya setan adalah simbol dilemahkannya (setan) dalam menggoda  dan menghias syahwat. Zain bin Munayyir berkata, 'Pendapat pertama (makna dibelenggu secara  zahir) lebih tepat. Lafaz  ini tidak perlu dialihkan dari zahirnya.' (Fathul Bari, 4/114)

3. Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya tentang sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam “Setan-setan dibelenggu” padahal kita lihat ada orang-orang yang dapat kerasukan (jin) pada siang hari Ramadan, bagaimana setan-setan dibelenggu (sementara) sebagian orang ada yang kerasukan (jin)?

Beliau menjawab dengan mengatakan: “Dalam sebagian riwayat hadits (disebutkan) “Setan-setan pembangkang dibelenggu (di bulan Ramadan)” atau “diikat”, yaitu dalam riwayat Nasa’i.

Hadits seperti ini termasuk perkara ghaib, sikap orang muslim adalah menerima dan membenarkannya. Dan tidak kita memperbincangkan (apa kenyataan sesungguhnya)  di balik itu. Karena sikap tersebut  lebih menyelematkan agama seseorang dan lebih bagus akibatnya. Oleh karena itu ketika Abdullah bin Imam Ahmad berkata kepada bapaknya: “Sesungguh orang kerasukan (jin) pada bulan Ramadan (maksudnya mengapa sampai terjadi padahal katanya setan dibelenggu)”.  Imam Ahmad berkata: Begitulah hadits ini dan jangan membicarakan (lebih dalam masalah) ini.

Tampaknya, yang dimaksud 'dibelenggu'  adalah dibelenggunya setan dari upayanya menyesatkan manusia, dengan dalil banyaknya kebaikan dan orang yang bertaubat kepada Allah Ta’ala di bulan Ramadan." (Majmu Fatawa, hal. 20)

Kesimpulannya, (makna) setan dibelenggu adalah bersifat hakiki (nyata), Allah yang lebih mengetahui tentang hal tersebut. Dan hal itu tidak harus berarti bahwa kejelekan dan kemaksiatan tidak terjadi di antara manusia. Wallahu’alam

Silahkan merujuk soal jawab no. 12653.

👤 Syaikh Muhammad Salih Al-Munajjid lahir di kamp pengungsi Palestina di Aleppo, Suriah pada tahun 1960, dan dibesarkan di Arab Saudi. Lulus dari King Fahd University of Petroleum and Minerals (KFUPM) di Dhahran, Arab Saudi, dengan gelar sarjana dalam Manajemen Industri. Al-Munajjid mempelajari hukum Islam di bawah para ulama 'Abd al-'Aziz ibn Baaz, Muhammad ibn al Uthaymeen, Abdullah

Makan Minum (Sahur) Ketika Adzan Telah Berkumandang

*ANALISIS HADITS*
Makan Minum (Sahur) Ketika Adzan Telah Berkumandang

Hadits yang dimaksud adalah
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ، فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ "
dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang dari kalian mendengar panggilan (adzan) sedangkan bejana (minumnya) masih ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga menunaikan keinginannya dari bejana (tersebut).

TAKHRIJ LENGKAP SANAD-MATANNYA
1. Abu Dawud
(2006)- حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ: " إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ، فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ "
2. Musnad Ahmad
(10408)- حَدَّثَنَا رَوْحٌ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ قَالَ: " إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ، فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ "، حَدَّثَنَا رَوْحٌ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ عَمَّارِ بْنِ أَبِي عَمَّارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ مِثْلَهُ، وَزَادَ فِيهِ: وَكَانَ الْمُؤَذِّنُ يُؤَذِّنُ إِذَا بَزَغَ الْفَجْرُ
3. Mustadrak ‘ala Shahihain
(682)- حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ الصَّغَانِيُّ، ثنا عَفَّانُ، وَحدثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ، أَنْبَأَ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ جَعْفَرٍ، ثنا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ غِيَاثٍ، قَالا: ثنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ: " إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلا يَضَعُهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ ". وَفِي حَدِيثِ أَبِي بَكْرِ بْنِ إِسْحَاقَ، قَالَ: وَحدثنا حَمَّادٌ، عَنْ عَمَّارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ بِمِثْلِهِ، هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ
4. Mustadrak ‘ala shahihain
(693)- حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ الصَّغَانِيُّ، ثنا عَفَّانُ، وَأَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ الْفَقِيهُ، أَنْبَأَ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ حَفْصٍ، ثنا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ غِيَاثٍ، قَالا: ثنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ حَمَّادٌ وَحدثنا عَمَّارُ بْنُ أَبِي عَمَّارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ: " إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ، وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلا يَضَعُهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ ". هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ
5. Sunan Ad-Daraquthni
(1918)- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ مِرْدَاسٍ، ثنا أَبُو دَاوُدَ، ثنا عَبْدُ الأَعْلَى، ثنا حَمَّادٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ: " إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ
6. Sunan Kubro Al-Baihaqi
(7408)- أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ، أنبأ أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الصَّفَّارُ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ النَّرْسِيُّ، ثنا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ. ح وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ بِشْرَانَ، أنبأ أَبُو جَعْفَرٍ الرَّزَّازُ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الرِّيَاحِيُّ، ثنا رَوْحٌ، ثنا حَمَّادٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ أَنَّهُ قَالَ: " إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ
7. Jaami’ Al-Bayaan ‘an Ta-wiil Al-Quraan
[3 : 258] حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ الأَهْوَازِيُّ، قَالَ: ثَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ، قَالَ: ثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: " إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلا يَضَعُهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ "، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ، قَالَ: ثَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ، قَالَ: ثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ عَمَّارِ بْنِ أَبِي عَمَّارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مِثْلَهُ، وَزَادَ فِيهِ: وَكَانَ الْمُؤَذِّنُ يُؤَذِّنُ إِذَا بَزَغَ الْفَجْرُ

ANALISIS SANAD
1. Abu Salamah bin ‘Abdirrahmaan bin ‘Auf Al-Qurasyiy Az-Zuhriy
seorang yang tsiqah lagi banyak haditsnya. Termasuk thabaqah ke-3, dan wafat tahun 94 H dalam usia 72 tahun. Termasuk Rijal Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasaa’i, dan Ibnu Maajah 

2. Muhammad bin ‘Amr. Ia adalah Ibn ‘Alqomah bin Waqosh
- Abu Hatim Ar-Razi berkata: Shaalihul Hadiits, Haditsnya dicatat dan ia Syaikh.
- Syaikhun merupakan bentuk ta’dil yang tergolong pada marotib ketiga, haditsnya dicatat dan diperhatikan sebagai hujjah hanya derajatnnya dibawah marotib kedua.
- Ibn Hibban berkata: ia termasuk penduduk kota Madinah yang tergolong mutqin,  namun ia terdapat kesalahan dalam periwayatannya.
- Ibn ‘Adi berkata: Muhammad bin ‘Amr seseroang yang shalih namun bukan termasuk orang yang bagus hafalan dalam haditsnya.  Kemudian ia melanjutkan perkataannya: Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqomah Haditsnya Shalih, ia telah meriwayatkan dari jama’ah rawi-rawi yang tsiqah yang diantaranya terdapat hadits yang tafarrud (menyendiri) dalam nuskhahnya, dan haditsnya gharib satu sama lainnya..
- Al-Mizzi berkata: Imam Al-Bukhari tidak meriwayatkannya kecuali menjadikannya sebagai Maqrun, begitupun Imam Muslim kecuali hanya menjadikannya sebagai mutaba’ah, dan ulama lainnya menjadikannya hujjah.
- Al-Haafizh berkata dalam Taqrib: Shaduq namun banyak kelirunya (lahu auham),  dan berkata dalam Al-Lisan: Salah satu imam Al-hadits. 
- Dari sekian komentar ulama ahli Naqd, sudah sangat tepat Ibn Hajar menyimpulkan bahwa Muhammad bin ‘Amr adalah rawi yang shaduq namun terindikasi Wahm. Sifat rawi seperti ini bersifat muhtamal, artinya biia dijadikan hujjah hanya sebagai I’tibar dan derajatnya akan naik serta diterima secara keseluruhan jika terdapat pendukung atau tawabi’.

3. Hammaad bin Salamah bin Diinaar Al-Bashri, Abu Salamah;
Seorang yang tsiqah, lagi ‘aabid, orang yang paling tsabt dalam periwayatan hadits Tsaabit (Al-Bunaaniy). Berubah hapalannya di akhir usianya. Termasuk thabaqah ke-8, wafat tahun 167 H. Dipakai oleh Al-Bukhai secara muallaq, Muslim, Abu Dawud, Ar-Tirmidziy, An-Nasaa’i, dan Ibnu Maajah.

Dari tinjauan sanad secara keseluruhan, terdapat kekhususan dari periwayatan ‘Affaan dari Hammaad bin Salamah, Ibnu Rajab rahimahumullah berkata:
قال عبد الله بن أحمد : سمعتُ يحيى بن معين يقول : من أراد أن يكتب حديث حماد بن سلمة، فعليه بعفان بن مسلم
“Telah berkata ‘Abdullah bin Ahmad : Aku mendengar Yahya bin Ma’iin berkata: Barangsiapa yang ingin menulis hadits Hammaad, maka wajib baginya berpegang pada ‘Affaan bin Muslim” 
Artinya, hadits ‘Affaan bin Muslim dari Hammaad adalah shahih, karena ia meriwayatkan sebelum ikhtilaath-nya. Selain itu, periwayatannya diunggulkan di kalangan ashhaab Hammaad bin Salamah.

Terdapat Ta’lil dari Abi Hatim:
وَسألت أبي عَنْ حديث رَوَاهُ رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ، عَنْ حَمَّادٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: " إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ ". قُلْت لأَبِي: وَرَوَى رَوْحٌ أَيْضًا عَنْ حَمَّادٍ، عَنْ عَمَّارِ بْنِ أَبِي عَمَّارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ، وَزَادَ فِيهِ: " وَكَانَ الْمُؤَذِّنُ يُؤَذِّنُ إِذَا بَزَغَ الْفَجْرُ ". قَالَ أَبِي: هَذَانِ الْحَدِيثَانِ لَيْسَا بِصَحِيحَيْنِ، أَمَّا حَدِيثُ عَمَّارٍ فَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَوْقُوفٌ، وَعَمَّارٌ ثِقَةٌ، وَالْحَدِيثُ الآخَرُ لَيْسَ بِصَحِيحٍ
Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang hadits Rauh bin ‘Ubaadah, dari Hammaad, dari Muhammad bin ‘Amru, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Apabila salah seorang dari kalian mendengar panggilan (adzan) sedangkan bejana (minumnya) masih ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga menunaikan keinginannya dari bejana (tersebut)’. Aku berkata kepada ayahku : “Dan Rauh juga meriwayatkan dari Hammaad, dari ‘Ammaar bin Abi ‘Ammaar, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam semisalnya, dan terdapat tambahan padanya : ‘Dan muadzdzin mengumandangkan adzan apabila fajar telah terbit”. Ayahku berkata : “Kedua hadits ini tidak shahih. Adapun hadits ‘Ammaar, maka ia berasal dari Abu Hurairah secara mauquuf, dan ‘Ammaar adalah seorang yangtsiqah. Sedangkan hadits yang lain, tidaklah shahih” 
Perkataan Abu Haatim rahimahullah perlu ditinjau kembali, sebab ia tidak menjelaskan apa alasan pendha’ifannya tersebut. Sebagaimana yang kita lihat sanad riwayat Hammaad, dari Muhammad bin ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah hasan; dan inilah riwayat jama’ah yang meriwayatkan dari Hammaad bin Salamah. Adapun perkataannya bahwa riwayat ‘Ammaar bin Abi ‘Ammaar adalah mauquuf, maka fakta yang ada menyatakan riwayat tersebut marfuu’. Al-Arna’uth dalam takhriij-nya atas Musnad Ahmad tidak menemukan riwayat mauquuf yang dimaksudkan oleh Abu Haatim. Dengan begitu, ta’lil Abu Haatim ini tidak bisa diterima.

Kemudian terdapat jarh Hammaad bin Salamah mengalami idlthiraab dalam periwayatan.
Pernyataan ini perlu diteliti. Idhthirab terjadi jika jalan riwayat sampai ke Hammaad bin Salamah sama kuat dan tidak bisa ditarjih. Namun di atas telah dijelaskan bahwa riwayat paling kuat adalah riwayat jama’ah yang di antaranya adalah riwayat ‘Affaan bin Muslim. Selain itu, tidak ada halangan bagi Hammaad meriwayatkan dari beberapa jalan selain riwayat jama’ah.

TERDAPAT JALUR LAIN YANG SHAHIH DAN HASAN
A. Riwayat yang shahih
1مشيخة ابن طهمان
[204] وَبِهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ عَلَى طَعَامِهِ، فَلا يَعْجَلَنَّ عَنْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ، وَإِنْ أُقِيمَتِ الصَّلاةُ “
إسناده متصل ، رجاله ثقات ، رجاله رجال الشيخين
2مستخرج أبي عوانة
[1292] حَدَّثَنَا حَمْدُونُ بْنُ عَبَّادٍ الْبَغْدَادِيُّ، قَالَ: ثَنَا أَبُو بَدْرٍ شُجَاعُ بْنُ الْوَلِيدِ، قَالَ: ثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ عِنْدَ الطَّعَامِ فَلا يَعْجَلَنَّ عَنْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ وَإِنْ أُقِيمَتِ الصَّلاةُ "، حَدَّثَنَا الأَحْمَسِيُّ، قَالَ: ثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جُحَادَةَ، قَالَ: ثَنَا زُهَيْرٌ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ بِمِثْلِهِ " حَاجَتَهُ مِنْهُ وَإِنْ أُقِيمَتِ الصَّلاةُ “إسناده متصل ، رجاله ثقات

3مشكل الآثار للطحاوي
[1986] وَحَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ اللَّيْثِيُّ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ عَلَى الطَّعَامِ، فَلا يَعْجَلْ عَنْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ وَإِنْ أُقِيمَتِ الصَّلاةُ “.
إسناده متصل ، رجاله ثقات

4موضح أوهام الجمع والتفريق للخطيب
[1 : 436] أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ الْبَرْقَانِيُّ، قَالَ: قُرِئَ عَلَى أَبِي عَلِيٍّ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ الْحَسَنِ الصَّوَّافِ، وَأَنَا أَسْمَعُ، وَقَرَأْتُهُ أَنَا عَلَى أَبِي حَفْصِ بْنِ الزَّيَّاتِ حَدَّثَكُمْ جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفِرْيَابِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ، حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: " إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ عَلَى الطَّعَامِ فَلا يَعْجَلْ عَنْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ، وَإِنْ أُقِيمَتِ الصَّلاةُ “
إسناده متصل ، رجاله ثقات

B. Riwayat yang Hasan
1صحيح ابن خزيمة
[891] نَا الْحَسَنُ بْنُ قَزْعَةَ، ثنا الْفَضْلُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ عَلَى طَعَامٍ فَلا يَعْجَلَنَّ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ وَإِنْ أُقِيمَتِ الصَّلاةُ "
2مستخرج أبي عوانة
[1292] حَدَّثَنَا حَمْدُونُ بْنُ عَبَّادٍ الْبَغْدَادِيُّ، قَالَ: ثَنَا أَبُو بَدْرٍ شُجَاعُ بْنُ الْوَلِيدِ، قَالَ: ثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ عِنْدَ الطَّعَامِ فَلا يَعْجَلَنَّ عَنْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ وَإِنْ أُقِيمَتِ الصَّلاةُ "، حَدَّثَنَا الأَحْمَسِيُّ، قَالَ: ثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جُحَادَةَ، قَالَ: ثَنَا زُهَيْرٌ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ بِمِثْلِهِ " حَاجَتَهُ مِنْهُ وَإِنْ أُقِيمَتِ الصَّلاةُ إسناده حسن رجاله ثقات عدا إسماعيل بن محمد اليامي وهو صدوق يهم
3السنن الكبرى للبيهقي
[3 : 73] وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ، أنبأ أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الصَّفَّارُ، حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ الْعَبَّاسِ بْنِ مِهْرَانَ الْحَمَّالُ، ثنا سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ، ثنا حَفْصُ بْنُ مَيْسَرَةَ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ عَلَى الطَّعَامِ فَلا يَعْجَلَنَّ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ، وَإِنْ أُقِيمَتِ الصَّلاةُ "، وَبِهَذَا اللَّفْظِ. رَوَاهُ زُهَيْرُ بْنُ مُعَاوِيَةَ، وَوَهْبُ بْنُ عُثْمَانَ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، وَأَشَارَ الْبُخَارِيُّ إِلَى رِوَايَتِهِمَا
إسناده حسن رجاله ثقات عدا سويد بن سعيد الهروي وهو صدوق يخطئ كثيرا

Hanya ada satu jalur mursal dari Hasan Bashri
4مسند أحمد بن حنبل
[27247] حَدَّثَنَا غَسَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَة، عَنِ النَّبِيِّ ص  يُونُسَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ الْأَذَانَ، وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ، فَلَا يَدَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ مِنْهُ "
إسناد ضعيف لأن به موضع إرسال ، وباقي رجاله ثقات عدا غسان بن الربيع الغساني وهو صدوق حسن الحديث
Dari tinjauan seluruh sanad hadits-hadits ini, tidak ada jarh yang fatal, dalam semua jalurnya tidak ada rawi dhaif muthlaq. Selain yang tsiqot, ada pula yang hanya  shaduq yahimu, shaduq yukhti'u dan sejenisnya, semua itu terangkat dengan selalu adanya tabi maupun syahid dari sanad Ibnu Umar. Dengan melihat seluruh jalur, maka bisa disimpulkan bahwa hadits ini Shahih Lighairih.

BANTAHAN TA’LIL KETA’ARUDHAN
Hadits ini ada yang beranggapan bertentangan dengan firman Allah Swt:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” 
Kita Jawab, bahwa hadits yang menerangkan kebolehan sahur saat adzan berkumandang tidaklah bertentangan dengan ayat al-Quran, karena hadits tersebut merupakan rukhshah pada makanan/minuman yang sedang dikunyah atau yang ada ditangan yang belum terselesaikan (untuk dimakan atau diminum). Tentu lain halnya dengan orang yang telah selesai makan sahur (atau bahkan belum sahur sama sekali), kemudian nampak baginya fajar shodiq dalam keadaan ia tahu waktu itu merupakan batas larangan untuk makan/minum; ia tidak boleh makan atau minum. Bahkan jika ia makan dan minum dengan sengaja berdasarkan pengetahuannya terhadap datangnya fajar shodoq, maka batal shaumnya.
Dua hal ini tentu berbeda. Rukhshah ini seperti yang terdapat dalam hadits :
وَحَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ اللَّيْثِيُّ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ عَلَى الطَّعَامِ، فَلا يَعْجَلْ عَنْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ وَإِنْ أُقِيمَتِ الصَّلاةُ ".
Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Apabila kalian sedang makan, maka janganlah tergesa-gesa hingga ia menyelesaikan hajatnya, meskipun shalat telah ditegakkan (iqaamah)”. 
Ada yang mengatakan bahwa hadits di atas dibawa pada pengertian masih bolehnya makan dan minum saat dikumandangkan adzan yang pertama, sebagaimana penjelasan Al-Baihaqiy rahimahullah :
وَهَذَا إِنْ صَحَّ فَهُوَ مَحْمُولٌ عِنْدَ عَوَامِّ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّهُ -صلى الله عليه وسلم- عَلِمَ أَنَّ الْمُنَادِىَ كَانَ يُنَادِى قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ بِحَيْثُ يَقَعُ شُرْبُهُ قُبَيْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ وَقَوْلُ الرَّاوِى وَكَانَ الْمُؤَذِّنُونَ يُؤَذِّنُونَ إِذَا بَزَغَ يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ خَبَرًا مُنْقَطِعًا مِمَّنْ دُونَ أَبِى هُرَيْرَةَ أَوْ يَكُونَ خَبَرًا عَنِ الأَذَانِ الثَّانِى وَقَوْلُ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :« إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ ». خَبَرًا عَنِ النِّدَاءِ الأَوَّلِ لِيَكُونَ مُوَافِقًا لِمَا أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، أنبأ أَبُو الْفَضْلِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ سَلَمَةَ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أنبأ جَرِيرٌ، وَالْمُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَن رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لا يَمْنَعَنَّ أَحَدًا مِنْكُمْ أَذَانُ بِلالٍ مِنْ سُحُورِهِ، فَإِنَّمَا يُنَادِي لِيُوقِظَ نَائِمَكُمْ، وَيَرْجِعَ قَائِمُكُمْ "
“Jika hadits ini shahih, maka dipahami oleh mayoritas ulama bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kadang muadzin mengumandangkan adzan sebelum terbit fajar (shubuh) dan beliau minum dekat dengan terbitnya fajar. Sedangkan perkataan perowi bahwa muadzin mengumandangkan adzan ketika muncul fajar dipahami bahwa hadits tersebut sebenarnya munqothi’ (terputus dalam sanad) di bawah Abu Hurairah. Atau boleh jadi hadits tersebut dimaksudkan untuk adzan kedua. Sedangkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika salah seorang di antara kalian mendengar adzan sedangkan bejana (piring) masih ada di tangannya …”, maka yang lebih tepat hadits ini dimaksudkan untuk adzan pertama sehingga berkesesuaianlah dengan riwayat : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-haafidh : Telah memberitakan kepada Abul-Fadhl bin Ibraahiim : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Salamah : Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim : Telah memberitakan Jariir dan Al-Mu’tamir bin Sulaimaan, dari Sulaimaan At-Taimiy, dari Abu ‘Utsmaan An-Nahdiy, dari ‘Abdullah bin Mas’uud, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Janganlah adzan Bilaal menghalangi salah seorang di antara kalian dari makan sahurnya, karena Bilaal mengumandangkannya untuk membangunkan orang yang masih tidur dan mengingatkan orang yang sedang shalat” 
Kita Jawab, hadits tersebut memang shahih. Namun membawa hadits di atas pada adzan pertama, maka itu musykil, karena dhahir hadits adalah adzan kedua (telah masuk waktu Shubuh, terbit fajaf shodiq). Apalagi dalam riwayat ‘Ammaar bin Abi ‘Ammaar telah dijelaskan bahwa adzan yang dimaksud adalah adzan kedua. Selain itu, ada beberapa syawaahid hadits yang menguatkan, yang menafikkan apa yang dikatakan oleh Al-Baihaqiy rahimahullah :

1.     Hadits Abu Umaamah radliyallaahhu ‘anhu.
حَدَّثَنَا ابْنُ حُمَيْدٍ، قَالَ: ثَنَا يَحْيَى بْنُ وَاضِحٍ، قَالَ: ثَنَا الْحُسَيْنُ، وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي، قَالَ: أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ، قَالا جَمِيعًا، عَنْ أَبِي غَالِبٍ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ: " أُقِيمَتِ الصَّلاةُ وَالإِنَاءُ فِي يَدِ عُمَرَ، قَالَ: أَشْرَبُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَشَرِبَهَا "
Abu Umaamah, ia berkata : ““Pernah iqamah dikumandangkan sedangkan bejana masih di tangan Umar (bin Khaththab) radliyallaahu ‘anhu. Ia bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : ‘Apakah aku boleh meminumnya?’. Beliau menjawab : ‘Boleh’. Maka Umar pun meminumnya” 

Riwayat ini terdiri dari dua jalan dari Al-Husain bin Waaqid:
1. Dari jalan Ibnu Humaid
2. Dari jalan Muhammad bin ‘Ali bin Syaqiiq.
Akan tetapi jalan pertama yang berasal dari Ibnu Huimaid adalah lemah atau bahkan sangat lemah. Ibnu Humaid namanya : Muhammad bin Humaid bin Hayyaan, Abu ‘Abdillah Ar-Raaziy; termasuk thabaqah ke-10, dan wafat tahun 248 H. Dipakai oleh Abu Daawud, At-Tirmidziy, dan Ibnu Maajah . Ia telah dilemahkan oleh jumhur ahli hadits, dan bahkan ada yang mendustakannya. 
Adapun jalan riwayat yang lain, maka sanadnya hasan. Berikut keterangan perawinya :
a. Muhammad bin ‘Aliy bin Al-Hasan bin Syaqiiq bin Diinaar Al-‘Abdiy, Abu ‘Abdillah Al-Marwaziy; seorang yang tsiqah, shaahibul-hadiits. Termasuk thabaqah ke-11, dan wafat tahun 250 H. Dipakai oleh At-Tirmidziy dan An-Nasaa’i. 
b. ‘Ali bin Al-Hasan bin Syaqiiq bin Diinaar Al-‘Abdiy, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Marwaziy; seorang yang tsiqah lagi haafidh. Termasuk thabaqah ke-10, dan wafat tahun 215 H atau sebelumnya. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’i, dan Ibnu Maajah 
c.  Al-Husain bin Waaqid Al-Marwaziy, Abu ‘Abdillah Al-Qurasyiy; seorang yang dikatakan Ibnu Hajar: “Tsiqah, namun mempunyai beberapa keraguan (lahu auhaam). Termasuk thabaqah ke-7, dan wafat tahun 157 H/159 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy secara mu’allaq, Muslim (dalam mutaba’ah kitab Shahih-nya), Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah.   Namun yang tepat, ia seorang yang shaduuq, hasanul-hadiits, karena beberapa kritikan para ulama tentang dirinya.
Ibnu Hajar memasukkan Al-Husain dalam jajaran perawi mudallis dalamThabaqaatul-Mudallisiin no. 8, yaitu pada thabaqah pertama. Artinya, tadlisyang ia lakukan amatlah jarang, sehingga ‘an’anah riwayatnya tidak membahayakan – kecuali ada qarinah yang kuat bahwa ia melakukan tadlispada riwayat yang ia bawakan.
d. Abu Ghaalib Al-Bashriy, shaahibu Abi Umaamah; seorang yang dikatakan Ibnu Hajar : “Shaduuq, namun sering keliru”. Termasuk thabaqah ke-5. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad, Abu Daawud, At-Tirmidziy, dan Ibnu Maajah.  Namun yang raajih, haditsnya adalah hasan, dan ia sendiri seorang yang shaduuq. 

2.  Hadits Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu.
حَدَّثَنَا مُوسَى، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، قَالَ: سَأَلْتُ جَابِرًا عَنِ الرَّجُلِ يُرِيدُ الصِّيَامَ، وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ لِيَشْرَبَ مِنْهُ، فَيَسْمَعُ النِّدَاءَ، قَالَ جَابِرٌ: كُنَّا نُحَدَّثُ أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لِيَشْرَبْ "
Dari Abuz-Zubair, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Jaabir tentang seseorang yang bermaksud puasa sedangkan ia masih memegang gelas untuk minum, kemudian ia mendengar adzan. Jabir menjawab : “Kami pernah mengatakan hal seperti itu kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan beliau bersabda : ‘Hendaklah ia minum’” 
Diriwayatkan juga oleh Thaahir bin Muhammad dalam An-Nuskhah no. 23 : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin ‘Ammaar : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahii’ah, selanjutnya seperti riwayat di atas.
Sanad riwayat ini lemah, karena faktor Ibnu Lahii’ah. Namanya adalah : ‘Abdullah bin Lahii’ah bin ‘Uqbah Al-Hadlramiy, Abu ‘Abdirrahmaan/Nashr Al-Mishriy; seorang yang shaduuq, namun bercampur hapalannya setelah kitabnya terbakar. Termasuk thabaqah ke-7, wafat tahun 174 H. Dipakai oleh Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, dan Ibnu Maajah. 
Jika yang meriwayatkan dari Ibnu Lahi’ah itu adalah salah satu dari Al-‘Abadillah(empat orang yang bernama ‘Abdullah), maka riwayat itu diterima (karena mereka meriwayatkan sebelum kitab-kitab Ibnu Lahi’ah terbakar). Al-‘Abaadillah tersebut adalah : ‘Abdullah bin Wahb bin Muslim, ‘Abdullah bin Al-Mubarak, ‘Abdullah bin Yazid Al-‘Adawiy Al-Makkiy, dan ‘Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabiy. Keempat orang ini termasuk para perawi Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahiih-nya.
Adapun Abuz-Zubair, namanya adalah : Muhammad bin Muslim bin Tadrus Al-Qurasyiy Al-Asadiy, Abuz-Zubair Al-Makki; seorang yang tsiqah, namun sering melakukan tadlis.  Termasuk thabaqah ke-4, wafat tahun 126 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah. 

3.     Hadits mursal Al-Hasan.
عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ، عَنْ إِسْرَائِيلَ أَبِي مُوسَى، عَنِ الْحَسَنِ، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ! أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِي، وَأَنَا أُرِيدُ الصَّوْمَ، قَالَ: اشْرَبْ "
Dari Ibnu ‘Uyainah, dari Israaiil Abu Muusaa, dari Al-Hasan, ia berkata : Telah berkata seorang laki-laki : “Wahai Rasulullah, muadzdzin telah mengumandangkan adzan sedangkan gelas masih ada di tanganku dan aku berniat untuk berpuasa ?”. Beliau bersabda : “Minumlah” 
Sanad riwayat di atas adalah lemah dikarenakan mursal, namun semua perawinya tsiqaat :
Tiga hadits di atas menjelaskan makna hadits Abu Hurairah ra, bahwa adzan yang dimaksud adalah adzan kedua, bukan adzan pertama. Dan berikut terdapat beberapa atsar shahabat selaras dengan hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, di antaranya :

1.     Atsar Hudzaifah bin Yamaan radliyallaahu ‘anhu.
حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ دُكَيْنٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ جُمَيْعٍ، قَالَ: ثَنَا أَبُو الطُّفَيْلِ أَنَّهُ تَسَحَّرَ فِي أَهْلِهِ فِي الْجَبَّانَةِ، ثُمَّ جَاءَ إلَى حُذَيْفَةَ وَهُوَ فِي دَارِ الْحَارِثِ بْنِ أَبِي رَبِيعَةَ، فَوَجَدَهُ: فَحَلَبَ لَهُ نَاقَةً فَنَاوَلَهُ، فقَالَ: إنِّي أُرِيدُ الصَّوْمَ، فقَالَ: وَأَنَا أُرِيدُ الصَّوْمَ فَشَرِبَ حُذَيْفَةُ وَأَخَذَ بِيَدِهِ فَدَفَعَ إلَى الْمَسْجِدِ حِينَ أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ "
Abuth-Thufail berkata : “Sesungguhnya aku berniat akan berpuasa”. Hudzaifah berkata : “Aku pun berniat akan berpuasa”. Kemudian Hudzaifah meminumnya dan ia (Abuth-Thufail) mengambilnya dengan tangannya (ikut minum). Lalu mereka pun berjalan menuju masjid ketika shalat telah ditegakkan” 
Sanad riwayat ini hasan, semua perawinya tsiqaat, kecuali Al-Waliid bin Jumai’. Selengkapnya, berikut keterangan para perawinya :
Al-Waliid bin ‘Abdilah bin Jumai’ Az-Zuhriy Al-Kuufiy; seorang yang shaduuq. Termasuk thabaqah ke-5. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, dan An-Nasaa’i. 
Hudzaifah radhiyallaahu ‘anhu makan sahur bersamaan dengan terbitnya fajar, dan kemudian melanjutkannya hingga selesai, lalu mendatangi masjid dalam keadaan shalat telah ditegakkan. Ada kisah lain yang menguatkan dari Hudzaifahradliyallaahu ‘anhu :
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، وَأَبُو السَّائِبِ، قَالا: ثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ حُذَيْفَةَ إِلَى الْمَدَائِنِ فِي رَمَضَانَ، فَلَمَّا طَلَعَ الْفَجْرُ، قَالَ: هَلْ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ آكِلٍ، أَوْ شَارِبٍ؟ قُلْنَا: أَمَّا رَجُلٌ يُرِيدُ أَنْ يَصُومَ فَلا. قَالَ: لَكِنِّي، قَالَ: ثُمَّ سِرْنَا حَتَّى اسْتَبْطَأْنَا الصَّلاةَ، قَالَ: هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يُرِيدُ أنْ يَتَسَحَّرَ؟ قَالَ: قُلْنَا أَمَّا مَنْ يُرِيدُ الصَّوْمَ فَلا. قَالَ: لَكِنِّي ! ثُمَّ نَزَلَ فَتَسَحَّرَ، ثُمَّ صَلَّى "
Dari Ibraahiim At-Taimiy, dari ayahnya, ia berkata : Aku pernah keluar safar bersama Hudzaifah ke negeri Madaain pada bulan Ramadlaan. Ketika fajar terbit, ia berkata : “Apakah ada di antara kalian yang hendak makan atau minum ?”. Kami menjawab : “Adapun orang yang hendak berpuasa, maka tidak ada”. Ia berkata : “Akan tetapi aku (akan makan dan minum)”. Kemudian kami melanjutkan perjalanan hingga melambatkan shalat. Hudzaifah kembali berkata : “Apakah ada di antara kalian yang hendak sahur ?”. Kami berkata : “Adapun orang yang hendak berpuasa, maka tidak ada”. Ia berkata : “Akan tetapi aku mau makan sahur”. Kemudian ia berhenti dan makan sahur, lalu melaksanakan shalat”.  Sanad riwayat ini shahih, perawinya tsiqaat

Semoga tulisan sederhana ini bisa bermanfaat.
Robi’ Permana
Margaasih, 25 Mei 2018