Tampilkan postingan dengan label ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibadah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Mei 2019

Ibadah bukan cari dalil yang melarang


Bismillah pa ustadz mau nanya tentang acara 4bulanan aya nu kekeh malah menta dalilna nu ngalarang na syukron kana jawabannya.

Kalo gitu jawab saja :
Shalat zuhur boleh 1 rokaat, mana dalil yg melarangnya???
_______
Dalam ibadah itu bukan mana dalil yg melarang, tp carilah dalil mana yg memerintahkan, krna qaidah yg menyatakan:

الاصل في العبادة البطلان حتي يقوم الدليل على امره
Pokok asal urusan ibadah itu batal (tdk ada) kecuali ada dalil yg memerintahkannnya.

Acara 4 bulanan tdk ada dalil yg memerintahkannya, maka tdk boleh d lakukan.

Inilah logika akal sehat

Selasa, 23 Oktober 2018

Hukum mencukur bulu alis

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

لَعَنَ اللَّهُ الوَاشِمَاتِ وَالمُوتَشِمَاتِ، وَالمُتَنَمِّصَاتِ وَالمُتَفَلِّجَاتِ، لِلْحُسْنِ المُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ

“Allah melaknat tukang tato, orang yang ditato, al-mutanamishah, dan orang yang merenggangkan gigi, untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari 4886, Muslim 2125, dan lainnya).

Makna Al-Mutanamishah

Al-Mutanamishah adalah para wanita yang minta dicukur bulu di wajahnya. Sedangkan wanita yang menjadi tukang cukurnya namanya An-Namishah. (Syarh Muslim An-Nawawi, 14/106).

An-Nawawi juga menegaskan, bahwa larangan dalam hadis ini tertuju untuk bulu alis,

وأن النهي إنما هو في الحواجب وما في أطراف الوجه

“Larangan tersebut adalah untuk alis dan ujung-ujung wajah..” (Sharh Shahih Muslim, 14/106).

Ibnul Atsir mengatakan,

النمص: ترقيق الحواجب وتدقيقها طلبا لتحسينها

“An-Namsh adalah menipiskan bulu alis untuk tujuan kecantikan…”

Ibnul Allan mengatakan dalam Syarh Riyadhus Shalihin,

وَالنَّامِصَةُ”: الَّتي تَأخُذُ مِنْ شَعْرِ حَاجِبِ غَيْرِهَا، وتُرَقِّقُهُ لِيَصِيرَ حَسَناً. “وَالمُتَنَمِّصَةُ”: الَّتي تَأمُرُ مَنْ يَفْعَلُ بِهَا ذَلِكَ

“An-Namishah adalah wanita yang mencukur bulu alis wanita lain atau menipiskannya agar kelihatan lebih cantik. Sedangkan Al-Mutanamishah adalah wanita yang menyuruh orang lain untuk mencukur bulu alisnya.” (Dalil al-Falihin, 8:482).

Beberapa ulama yang mengarang kitab kumpulan dosa-dosa besar, seperti Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabair, demikian pula Al-Haitami dalam kitabnya Az-Zawajir ‘an Irtikab Al-Kabair menyebutkan bahwa salah satu diantara dosa yang masuk daftar dosa besar adalah mencukur atau menipiskan bulu alis. Karena terdapat hadis yang menyebutkan bahwa Allah melaknat para wanita yang mencukur bulu asli di wajahnya, seperti bulu alis, meskipun itu untuk tujuan kecantikan.

Minggu, 27 Mei 2018

Shahihkah riwayat doa tahniyah _Taqabbalallahu Minna Wa Minka/Kum

*Shahihkah riwayat doa tahniyah _Taqabbalallahu Minna Wa Minka/Kum*

ANALISIS HADITS DOA TAHNIAH ‘IDUL FITRI
Bagian ke-1

1. Terdapat hadits marfu yang bebunyi:

عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، قَالَ: لَقِيتُ وَاثِلَةَ بْنَ الأَسْقَعِ فِي يَوْمِ عِيدٍ، فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، " نَعَمْ، تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ " قَالَ وَاثِلَةُ: " لَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ يَوْمَ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، قَالَ: " نَعَمْ، تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ "
Dari Tsaur bin Yaziid dari Khalid bin Ma’daan, ia berkata aku bertemu dengan Waatsilah bin Al-Asqo pada hari ‘id, maka aku berkata : “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amalmu)” Ya, “Taqobbalallahu minna wa minka.”. Waatsilah berkata: Aku bertemu dengan Rasulullaah Sallallaahu ‘alaihi wasallam pada hari ‘id, aku berkata: “Taqobbalallahu minna wa minka”. Rasulullaah shallallaahu ‘alaihu wasallam berkata: ya, “Taqobbalallahu minna wa minka.

TAKHRIJ HADITS DAN JARH TA’DIL
A. Sunan Kubro Al-Baihaqi

(5814)- أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ بْنُ عَبْدَانَ، أنبأ أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سُفْيَانَ، ثنا أَبُو عَلِيٍّ أَحْمَدُ بْنُ الْفَرَجِ الْمُقْرِئُ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الشَّامِيُّ، ثنا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، قَالَ: لَقِيتُ وَاثِلَةَ بْنَ الأَسْقَعِ فِي يَوْمِ عِيدٍ، فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، " نَعَمْ، تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ " قَالَ وَاثِلَةُ: " لَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ يَوْمَ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، قَالَ: " نَعَمْ، تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ "
Jarh Ta’dil
Hadit ini sangat dhaif (Matruk / semi maudhu) disebabkan ada beberapa rawi yang bermasalah:
1. Baqiyyah bin Walid (TH 110 H – TW 190H) termasuk thabaqah ke-8

- Ibn ‘Adi Al-Jurjani berkata:
في بعض رواياته يخالف الثقات وإذا روى عن أهل الشام فهو ثبت وإذا روى عن غيرهم خلط كإسماعيل بن عياش إذا روى عن الشامين فهو ثبت وإذا روى عن أهل الحجاز والعراق خالف الثقات في روايته عنهم
Dalam sebagian riwayatnya menyalai rawi-rawi yang tsiqah, jika ia meriwayataka dari penduduk Syam, maka ia tsabt, namun jika ia meriwayatkan selain dari selainnya maka periwayatannya keliru seperti Ismail bin ‘Iyasy, jika meriwayatkan dari para penduduk Syam maka ia Tsabt namun jika meriwayatkan dari penduduk Hijaj dan ‘Iraq ia menyalahi periwayatan yang tsiqah dari riwayat mereka.

- Al-‘Ijli berkata:
ثقة ما روي عن المعروفين وما روي عن المجهولين فليس بشيء
Tsiqah jika meriwayatkan dari orang yang diketahui namun jika meriwayatkan dari orang yang tidak diketahui (majhul) maka hadits tidak ada apa-apanya.

Namun pernyataan ini tertolak dan tidak menunjukan secara mutlaq, meninjau bahwa Baqiyyah terkenal dengan tadlisnya, sehingga memerlukan periwayatan dengan shighahh tahammul sama’i. dengan itulah sudah sangat tepat Imam An-Nasa’I berkata:

إذا قال حدثني وحدثنا فلا بأس ، ومرة إن قال أخبرنا أو حدثنا فهو ثقة ، وإن قال عن فلا يأخذ عنه لا يدرى عمن أخذه
Jika ia berkata haddatsanii  wa haddatsanaa Maka tidak mengapa dengan periwayatannya, juga dengan shighah Akhbaronaa  atau Haddatsanaa maka ia diterima ketsiqahannya, namun ketika ia berkata denga shighah ‘an, maka jangan diterima periwayatannya, ia tidak tahu darimana ia meriwayatkannya.

Terlebih adanya komentar Abu Isqah al-Fuzzaar, ia berkata:

سأله زكريا بن عدي عنه فقال : إذا حدثك عمن تعرف وعمن لا تعرف فلا تكتب عنه

Ia menanyakan terhadap Zakariya bin ‘Adi tentang Baqiyyaah, ia menjawab: apabila ia menceritakan (sebuah riwayat) kepadamu dari orang yang diketahui maupun yang tidak diketahui (majhul) maka janganlah engkau catat hadits darinya.

Dan ini sangat cocok jika disandingkan dengan muridnya yang menerima riwayat ini yaitu Muhammad bin Ibrahim Asy-syami, Ibn Hibban berkata: ia kerap memalsukan hadits dari penduduk Syam, tidak halal meriwayatkan darinya (sebagai hujjah) kecuali hanya sebagai I’tibar.

- Abi Hatim berkata:
يكتب حديث بقية ، ولا يحتج به
Haditsnya dicatat namun tidak bisa dijadikan hujjah

- Al-Haafizh menyimpulkan dalam taqribnya:
قال في التقريب : صدوق كثير التدليس عن الضعفاء
Shaduq, banyak mentadliskan dari rawi dhaif

2. Muhammad bin Ibrahim bin Al-Al-‘ala

- Ibn ‘Adi berkata:
منكر الحديث ، وعامة أحاديثه غير محفوظة

Munkarul hadits, dan banyak hadits-hadits yang tidak tepelihara (ghair mahfuzh)

- Ibn Hibban berkata:
يضع الحديث على الشاميين ، لا تحل الرواية عنه إلا عند الاعتبار

ia kerap memalsukan hadits dari penduduk Syam, tidak halal meriwayatkan darinya (sebagai hujjah) kecuali hanya sebagai I’tibar.

- Ad-Daraquthnie berkata : Kadz-dzab (Pembohong)

- Al-Haafizh berkata dalam taqribnya:
قال في التقريب : منكر الحديث ، وقال في المطالب العالية : ضعيف جدا
Munkarul Hadits, dan berkata di Al-Mathalib al-‘Aaliyyah : Dhaif Jiddan

3. Abu ‘Ali Ahmad bin Faraz Al-Muqri
Masuk thabaqoh ke-11, tidak terdapat tarjamahnya dan terdapat jarh dari Husain bin Ahmad bin Bukair, bahwa Abu ‘Ali dhaiful Hadits.

4. Ishaq bin Ibrahin bin Sufyah
Tidak terdapat Tarjamahnya (Majhul Hal)

B. Al-Majruuhiin Libni Hibbaan

(1242)- وَرَوَى عَنْ بَقِيَّةَ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الأَسْقَعِ، قَالَ: لَقِيتُ النَّبِيَّ يَوْمَ الْعِيدِ، فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، فَقَالَ: " تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ "

Jarh Ta’dil

Jalur ini masih melalui rawi baqiyyah. Sudah dijelaskan jarh ta’dilnya

C. Mu’Jam Kabir At-Thobaroni

(17619)- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَزْدَادَ التَّوْزِيُّ، ثنا أَبُو هَمَّامٍ الْوَلِيدُ ابْنُ شُجَاعٍ، ثنا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ عُمَرَ الأَنْصَارِيُّ، أَخْبَرَنِي أَبِي، قَالَ: " لَقِيتُ وَاثِلَةَ يَوْمَ عِيدٍ، فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، فَقَالَ: نَعَمْ، تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ
Jarh Ta’dil

Jalur ini sama melalui Baqiyyah, namun khusus jalur ini ststusnya mauquf da nada beberapa kecacatan, yaitu:

Habib bin Umar Al-Anshari, ia termasuk thabaqah ketujuh menerima dari ayahnya yaitu Umar Al-Anshari dan menceritakan akan pertemuannya dengan shahabat Waatsilah pada hari ‘Id.
Abu Hatim menyebutkan dalam ‘ilalnya::
ذكره في العلل ، وقال : ضعيف الحديث مجهول ، لم يرو عنه غير بقية
Dhaiiful hadiits, majhul. Tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Baqiyyah
Ad-daraquthni berkata: ia Majhul
Hanya Ibn HIbban yang memasukannya dalam Ats-Tsiqat nya.
Sesuai dengan komentar Ibn ‘Adi, bahwa Baqiyyah banyak memalsukan hadits dari Rawi yang majhul.

D. Al-Kaamil fii Adh-Dhu’afaa Ar-Rijaal

(7546)- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الضَّحَّاكِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَاصِمٍ النَّبِيلُ، قَالَ: ثنا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُعَاوِيَةَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الشَّامِيُّ، ثنا بَقِيَّةُ، عَنْ ثَوْرٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الأَسْقَعِ، قَالَ: لَقَيْتُ النَّبِيَّ فِي يَوْمِ عِيدٍ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، قَالَ: نَعَمْ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ

Jarh Ta’dil
Hadit ini pun sama, kedudukannya matruk (semi maudhu) sebab melalui jalur Baqiyyah dan Muhammad bin Ibrahim Asy-Syaami.

Al-‘Ilal ibn Jauzi nomor 801 disebutkan:
(801)- رَوَى مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ السَّامِي، عَنْ بَقِيَّةَ، عَنْ ثَوْرٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ وَاثِلَةَ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ يَوْمَ الْعِيدِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، قَالَ: " نَعَمْ، تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكِ "، قَالَ الْمُؤَلِّفُ: هَذَا حَدِيثٌ لا يَصِحُّ، وَلا يَرْوِيهِ عَنْ بَقِيَّةَ غَيْرُ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ وَهُوَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ، وَبَقِيَّةُ يَرْوِي عَنِ الْمَجْهُولِينَ وَيُدَلِّسُهُمْ وَيُذْكَرُ شُيُوخٌ فَيَتْرُكَ شُيُوخَ الضُّعَفَاءِ

Telah meriwayatkan Muhammad bin Ibrahim Asy_syaami, dari Baqiyyah dari Tsaur dari Khaalid bin Ma’daan dari Waatsilah, ia berkata, “Aku bersama Nabi pada hari ‘Id, maka aku berkata, ya Rasulullah, “Taqobbalallahu minna wa minka.”, ya, “Taqobbalallahu minna wa minka. Penyusun berkata: hadits ini tidak shahih, dan tidak ada yang meriwayatkan dari Baqiyyah selain Muhammad bin Ibrahim, sedangkan ia Munkarul Hadits. Dan Baqiyyah meriwayatkan dari rawi yang majhul dan telah mentadliskan dengan menyebutkan syaikh-syaikhnya maka meninggalkan syaikh-syaikhnya yang lemah.
Melihat pernyataan ini, Baqiyah telah melakukan Tadlis Taswiyyah. Wallaahu A’lam.

===========
Lanjut pada pembahasan ke-2…

Minggu, 20 Mei 2018

Mukena dan kafan boleh warna selain putih?

Wa'alaikumussalam warohmatullohi..

Mukena itu adanya d indo. Maka memakai mukena untuk shalat, boleh dengan warna selain putih, boleh juga bermotif bunga dll..

Bahkan mengkafani mayyitpun boleh dengan warna selain putih:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا تُوُفِّيَ أَحَدُكُمْ فَوَجَدَ شَيْئًا فَلْيُكَفَّنْ فِي ثَوْبٍ حِبَرَةٍ   

dari Jabir ia berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila salah seorang diantara kalian meninggal dalam keadaan mempunyai sesuatu (harta) maka hendaknya ia dikafani dengan hibarah."

Yang dimaksud kain hibarah itu ialah kain berwarna yang biasa dipakai bahan pakaian wanita. 

Hadits ini mengisyaratkan bahwa mengkafan dengan kain berwarna adalah boleh.

Minggu, 29 April 2018

Yang dimaksud Al-Jama'ah?

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ قَالَ : مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ يُفَارِقُ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَيَمُوتُ إِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً. رواه البخاري ومسلم
Dari Ibnu Abbas, dari Nabi saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang melihat dari amirnya sesuatu yang ia tidak setuju, hendaklah ia sabar, (jangan mengacau atau menggunakan kekerasan). Sesungguhnya tidak ada yang memisahkan diri dari Jamaah sejengkal, kemudian ia mati karenanya, maka ia mati seperti mati jahiliyah. H.R. Bukhari Muslim

Yang dimaksud dengan Al-Jamaah, diterangkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’abul Imam sebagai berikut

اَلْمُرَادُ بِالْجَمَاعَةِ: مَنْ كَانَ عَلَى الْحَقِّ وَلَوْ كَانَ وَاحِدًا وَذلِكَ لأَنَّ الْحَقَّ هُوَ مَاكَانَ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ فِي صَدْرِ الأَوَّلِ وَلاَ نَظْرَةَ لِكَثْرَةِ أَهْلِ البَاطِلِ وَإِنْ كَانُوا جَمِيْعَ الدُّنْيَا
Yang dimaksud Al-Jamaah adalah orang yang (tegak) di atas Al-Hak (kebenaran) walau pun hanya seorang (dalam arti tidak mempunyai kawan sepaham). Sesungguhnya yang dikatakan Al-Jamaah itu ialah apa-apa yang dilakukan oleh Jamaah Islam diabad pertama (zaman Rasul dan para sahabatnya) dan tidak usah menghiraukan jumlah bathil yang sekian banyak, walau sebanyak penghuni dunia jumlah meraka.

Ibnu Mas’ud mengatakan

مَاكَانَ عَلَى الْحَقِّ فَهُوَ جَمَاعَةٌ وَلَوْ كَانَ وَحْدَهُ
Barangsiapa berada di atas hak (memegang dan mempertahankan hak), maka ia itulah Jamaah walau pun ia sendirian

wallahu a'lam bishawab

Selasa, 24 April 2018

Istidraj

ISTIDRAJ.

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا رِشْدِينُ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ أَبُو الْحَجَّاجِ الْمَهْرِيُّ عَنْ حَرْمَلَةَ بْنِ عِمْرَانَ التُّجِيبِيِّ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
{ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ }
Telah meneritakan kepada kami Yahya bin Ghailan dia berkata, Telah meneritakan kepada kami Risydin -yakni Ibnu Sa'd Abul Hajjaj Al Mahari- dari Harmalah bin Imran At Tujibi dari Uqbah bin Muslim dari Uqbah bin Amir dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
"Jika kamu melihat Alloh memberikan kebahagiaan dunia kepada seorang hamba pelaku maksiat, dengan sesuatu yang sangat dia sukai, maka sesungguhnya hal serupa itu hanyalah istidraj."

Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membacakan ayat:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

'Maka tatkala mereka lupa atas peringatan yang telah diberikan Alloh pada mereka, maka Kami membuka semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga dikala mereka senang gembira dengan segala apa yang telah Kami berikan pada mereka,kemudian kami datangkan azab bagi mereka secara mendadak.
Maka ketika itu keadaan mereka terpaku serta kehilangan kendali '.
(Qs. Al An'am: 44).
Ahmad no. 16673.

Senin, 23 April 2018

ISTRI YANG THA'AT PADA SUAMI DIJAMIN MASUK SURGA

ISTRI YANG THA'AT PADA SUAMI DIJAMIN MASUK SURGA

عن عبد الرحمن بن عوف رضي الله عنه  قال، عن النَّبيّ صلى الله عليه وسلم قالَ :
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Dari  Abdr Rahman  bin Auf  radhiyallahu anhu berkata, dari  Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
“Bila seorang wanita  shalat lima waktu,shaum Ramadhan, serta menjaga kehormatannya,dan tha'at pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut : “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.”
HR.Ahmad   1: 191
Ibnu Hibban 9: 471.
Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shahih.

Di antara keutamaan istri yang taat pada suami adalah akan dijamin masuk surga. Ini menunjukkan kewajiban besar istri pada suami adalah mentaati perintahnya.

Ummu Salamah  radhiyallahu ‘anha berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ

“Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.”
HR.AtTirmidzi.

Yang dimaksudkan dengan hadits di atas adalah jika seorang wanita meninggal dunia,serta dengan seksama memperhatikan kewajiban terhadap suaminya sampai suami tersebut ridha dengannya, maka ia dijamin masuk surga.

Dengan ketaatan seorang istri, maka akan tercipta *rumah tangga sakinah yang penuh mawadah dan rahmah.*
Hal ini akan sangat membantu untuk kehidupan dunia dan akhirat.
Islam pun memuji wanita yang taat pada suaminya.
Bahkan istri yang tha'at pada suami itulah yang dianggap wanita terbaik.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata :

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Siapakah wanita yang paling baik ?"

Rasulullah menjawab :
“Wanita yang paling menyenangkan bila ditatap suaminya,dan bila diperintah selalu tha'at pada suami,tidak membangkang serta menjaga harta suami.  Kemudian senantiasa menghindar dari kebencian suaminya."
HR. AnNasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan hadits hasan shahih.

Sebagian istri kadang sering melupakan kewajiban tha'at pada suami.
Sehingga menganggap harus lebih daripada suaminya,serta merasa dirinya yang mesti ditaati karena karirnya lebih tinggi dan titelnya lebih mentereng.

Istri yang  baik menjaga dirinya ketika tidak ada suaminya, juga ia menjaga kehormatan dan harta suami.

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Sebab itu maka wanita yang sholeh, adalah yang tha'at kepada Alloh lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada”
QS.AnNisa 34.

Sabtu, 21 April 2018

Hidup jujur dan hindari dusta

HIDUP JUJUR DAN HINDARI DUSTA.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abdullah bin Numair; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki' keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Al A'masy; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah; Telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Syaqiq dari 'Abdullah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan,dan kebaikan itu mengarahkan menuju surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan membiasakan jujur, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah.
Dan hindarilah dusta, karena kedustaan itu akan menggiring kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan membiasakan dusta, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah."
Muslim no. 4721

JUJUR DAN DUSTA.

عَنِ ابـْنِ مَسْعُوْدٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: عَلَـيْكُمْ بِـالصِّدْقِ فَاِنَّ الصِّدْقَ يَـهْدِى اِلىَ اْلبِرِّ وَ اْلبِرُّ يَـهْدِى اِلىَ اْلجَنَّةِ.
وَ مَا يَزَالُ الـرَّجُلُ يَصْدُقُ وَ يَـتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْـتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيـْقًا. وَ اِيـَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ فَاِنَّ اْلكَذِبَ يَـهْدِى اِلىَ اْلفُجُوْرِ
وَ اْلفُجُوْرُ يَـهْدِى اِلىَ النَّارِ. وَ مَا يَزَالُ اْلعَبْدُ يَكْذِبُ وَ يَـتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتَّى يُكْـتَبَ عِنْدَ اللهِ كَـذَّابـًا. البخارى و مسلم و ابو داود و الترمذى و صححه و اللفظ له

Dari Ibnu Mas’ud RA ia berkata : Rasulullah saw
bersabda :
"Hendaklah berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa ke surga.
Dan bila seseorang terus berlaku jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.
Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena sesungguhnya dusta akan membawa pada kedurhakaan, dan durhaka akan membawa ke neraka.
Dan bila seorang terus berlaku dusta,dan memilih menjadi  pendusta,sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”.
HR. Bukhari, Muslim,
Abu Dawud dan Tirmidzi.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بـْنِ عَمْرِو بـْنِ اْلعَاصِ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اَرْبَعٌ مَنْ كُـنَّ فِـيْهِ كَانَ مُنَـافِقًا خَالـِصًا، وَ مَنْ كَانَ فِـيْهِ خَصْلَةٌ مِنْـهُنَّ كَانَتْ فِـيْهِ خَصْلَةُ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا. اِذَا ائْـتُـمِنَ خَانَ، وَ اِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ اِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَ اِذَا خَاصَمَ فَجَرَ. البخارى و مسلم و ابو داود و الترمذى و النسائى

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash ra berkata : Sesungguhnya Nabi saw bersabda :
“Barang siapa yang  padanya terdapat empat perkara,maka dia telah munafiq.
Dan barangsiapa yang padanya tetdapat satu bagian dari yang empat perkara tersebut,berarti padanya satu bagian dari kemunafiqan sehingga sedia meninggalkannya.

1. Apabila diberi amanat ia khianat,
2. Apabila berbicara dusta,
3. Apabila berjanji menginkari.
4. Apabila bertengkar curang”.
HR.Bukhari dan Muslim.

عَنِ اْلحَسَنِ بـْنِ عَلِيٍّ رض قَالَ: حَفِظْـتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ ص: دَعْ مَا يُـرِيـْبُكَ اِلىَ مَا لاَ يُـرِيـْبُكَ. فَاِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنـِيْنَةٌ، وَ اْلكَـذِبَ رَيـْبَةٌ. الترمذى و قال حديث حسن صحيح

Dari Hasan bin Ali ra ia berkata : Saya hafal dari Rasulullah saw bersabda :
“Tinggalkan segala apa yang meragukanmu, karena jujur itu adalah ketenangan dan dusta itu adalah keraguan”.
HR.AtTirmidzi  Hadits Hasan Shahih

عَنْ اَبــِى هُرَيــْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: لاَ يُـؤْمـِنُ اْلعَبْدُ اْلاِيـْمَانَ كُـلَّهُ حَتَّى يـَتْرُكَ اْلكَـذِبَ فِى اْلمَزَاحَةِ وَ اْلمِرَاءَ وَ اِنْ كَانَ صَادِقًا. احمد و الطبرانى

Dari Abu Hurairah ra berkata,bahwa Rasulullah  bersabda :
“Tidaklah beriman seorang hamba dengan iman sepenuhnya sehingga  meninggalkan dusta dalam bergurau dan berbantahan, meskipun dalam kebenaran”.
HR. Ahmad dan Thabrani.

عَنْ اَبــِى اُمَامَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اَنــَا زَعِيْمٌ بِـبَـيْتٍ فِى وَسَطِ اْلجَنَّةِ لِمَنْ تَـرَكَ اْلكَذِبَ وَ اِنْ كَانَ مَازِحًا. البيهقى بـإسناد حسن

Dari Abu Umamah RA sesungguhnya Nabi SAW bersabda :
“Aku menjamin dengan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam bergurau”.
HR. Baihaqi dengan sanad Hasan

عَنْ اَبــِى هُرَيــْرَةَ رض عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص اَنـــَّهُ قَالَ: مَنْ قَالَ لِصَبِيٍّ تَـعَالَ هَاكَ، ثُمَّ لَمْ يُـعْطِهِ، فَهِيَ كَـذْبَةٌ. احمد و ابن ابى الدنيا

Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah saw sesungguhnya beliau bersabda :
“Barangsiapa berkata kepada anaknya : “Kesini,akan aku beri kamu sesuatu,kemudian ternyata tidak memberinya,maka yang demikian itu adalah perbuatan dusta”.
HR. Ahmad dan Ibnu Abid Dunya.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بـْنِ عَامِرٍ رض قَالَ: دَعَتْنِى اُمِّى يَـوْمًا. وَ رَسُوْلُ اللهِ ص قَاعِدٌ فِى بَيْتِنَا. فَقَالَتْ: هَا تَعاَلَ اُعْطِكَ، فَقَالَ لهَاَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا اَرَدْتِ اَنْ تُعْطِيْهِ، قَالَتْ: اَرَدْتُ اَنْ اُعْطِيَهُ تَمْرًا، فَقَالَ لَـهَا رَسُوْلُ اللهِ ص اَمَا اِنــَّكِ لَـوْ لَمْ تُعْطِـيْهِ شَيْئًا كُـتِبَتْ عَلَـيْكِ كَـذْبــَةٌ. ابو داود و البيهقى

Dari Abdullah bin ‘Amir ra berkata, “Pada suatu hari ibu saya memanggil saya, pada waktu itu Rasulullah saw sedang duduk di rumah kami.
Ibuku berkata :
“Kesini kamu aku akan beri sesuatu”.
Maka Rasulullah saw bersabda :
“Apakah betul engkau akan memberinya ?”
Ibuku berkata :
“Aku akan memberinya kurma”.
Lalu Rasulullah saw bersabda kepada ibuku :
“Ketahuilah,sungguh jika kamu tidak memberi kurma kepadanya niscaya kamu dicatat pendusta”.
HR. Abu Dawud dan Baihaqi.

Jumat, 20 April 2018

Macam-macam bid'ah, bid'ah hasanah?

Bid'ah ada 2 macam :

1. Dlm muamalah / urusan keduniaan, jika baik dan bisa membantu pada kesempurnaan ibadah, maka itu bid'ah hasanah.

Contoh: mic speaker untuk pengeras suara adzan.

2. Dalam urusan ibadah, itu bid'ah yg sesat. Jd setiap bid'ah dalam urusan ibadah semua nya itu sesat dan pasti menggriring ke neraka.

Jumat, 13 April 2018

Apa yg dimaksud ta'abudi dan ta'aquli

Ta'abbudi artinya ketaatan kepada Allah Swt,terhadap ketentuan hukum yg ditetapkan dalam Alquran dan Sunnah, yang tidak dapat dinalar secara akal dan menerima apa adanya tanpa interpretasi manusia.
Sedangkan ta'aquli adalah ketentuan nash nash Alquran atau sunnah yang masih dapat di interpretasi oleh akal.

Cara ibadah ikhlas?

wa'alaikumussalaam warohmatullooh..

Ibadah ikhlas itu yg niat dan tujuannya hanya karna mengharaf ridha Allah dan menginginkan atau punya harapan agar dosa2 terhapus.

cara menghindari riya atau syirik kecil adalah dengan menyandarkan pada Allah bahwa shalatku, ibadahku dan hidupku dan matiku hanya untuk Allah.

yang jelas, ini pekerjaan hati, dan hanya hati kita sendirilah yang bisa melakukannya

Sikap muslim mendiami rumah baru

Wa'alaikumussalaam warohmatulloh..

Berikut beberapa hal yang dianjurkan untuk dilakukan bagi muslim yang mendiami rumah baru,

*Pertama, bersyukur kepada Allah atas nikmat ini*

Allah berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Ingatlah ketika Tuhanmu mengumumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” 
(QS. Ibrahim: 7)

Imam As-Sa’di menjelaskan, inti syukur ada 3:

1. Mengakui bahwa nikmat itu dari Allah, dan bukan semata hasil karyanya
2. Memuji Allah atas nikmat yang telah Dia anugerahkan
3. Menggunakan nikmat itu untuk kegiatan yang Allah ridhai, dan bukan untuk sesuatu yang terlarang.

Kebalikan dari hal itu adalah kufur nikmat yang hukumnya terlarang. (Tafsir As-Sa’di, 422).

*Kedua, syukuran rumah baru*

Sebagai bentuk menyempurnakan rasa syukur itu, kita dianjurkan untuk mengadakan walimah, mengundang orang lain untuk makan-makan. Walimah ini sering diistilahkan dengan Al-Wakirah. Sebagian ulama sangat menganjurkan hal ini, diantaranya Al-Imam As-Syafii. Beliau mengatakan tentang Al-Wakirah:

ومنها الوكيرة، ولا أرخص في تركها

“Diantara bentuk walimah adalah Al-Wakirah. Saya tidak memberi kelonggoran untuk meninggalkannya.”
(Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 8/207).

*Ketiga, masuklah rumah baru dengan mambaca:*

مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

MASYAA-ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH

Bacaan ini terdapat dalam firman Allah di surat Al-Kahfi,

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِن تُرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالاً وَوَلَداً

“Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi: 39).

Ketika membahas ayat ini, Ibnul Qayim mengatakan,

فينبغي لمن دخل بستانه أو داره أو رأى في ماله وأهله ما يعجبه ، أن يبادر إلى هذه الكلمة، فإنه لا يرى فيه سوءا

“Selayaknya bagi orang yang memasuki kebunnya, atau rumahnya, atau terheran terhadap harta dan keluarganya, hendaknya dia segera membaca kalimat ini. Karena dia tidak akan melihat sesuatu yang buruk terhadap nikmat itu.” (Al-Wabilus Shayyib, hlm. 165).

Kemudian Ibnul Qayim membawakan riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَنعَمَ اللهُ عَلَى عَبدٍ نِعمَةً فِي أَهلٍ وَمَالٍ وَوَلَدٍ فَقَالَ : (مَا شَاءَ اللهُ لَا قُوَّةَ إِلا بِاللهِ)، فَيَرَى فِيهَا آفَةً دُونَ المَوتِ

Jika Allah memberi kepada seorang hamba nikmat kebaikan terhadap keluarga, harta, atau anak, kemudian dia membaca: “masyaa-allah, laa quwwata illaa billaah” maka dia tidak akan melihat adanya cacat dalam nikmat selain kematian. (HR. At-Thabrani dalam Al-Ausath 6/126, dishahihkan Ibnul Qoyim dalam Syifa Al-Alil 1/182, dan didhaifkan Al-Albani dalam Ad-Dhaifah).

*Keempat, kami tidak menjumpai adanya doa khusus atau bacaan khusus ketika memasuki rumah baru. Hanya saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk banyak beramal ketika di rumah, namun sifatnya umum berlaku untuk semua rumah, tidak hanya rumah baru. Berikut diantaranya,*

*1. Rajin baca Alquran dan ibadah apapun di dalam rumah. Terutama membaca surat Al-Baqarah.*

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تجعلوا بيوتكم مقابر، إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة

“Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.” (HR. Muslim 780, At-Turmudzi 2877)

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam men-kontras-kan antara rumah dengan kuburan. Beliau memerintahkan agar rumah kita tidak dijadikan seperti kuburan. Salah satu sifat yang mencolok dari kuburan adalah itu bukan tempat ibadah. Agar rumah kita tidak seperti kuburan yang bisa jadi banyak setan pengganggu, gunakan rumah kita untuk ibadah.

Hadis ini sekaligus menuntut Anda yang belum bisa membaca Alquran agar segera dan serius dalam belajar Alquran. Untuk menjadikan rumah Anda sebagai taman bacaan Alquran, tidak mungkin setiap hari Anda harus mengundang orang lain untuk membaca Alquran di rumah anda.

Dalam hadis yang lain, dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

“Jadikanlah bagian shalat kalian di rumah kalian. Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan.” (HR. Bukhari 432, Muslim 777, dan yang lainnya).

Maksud shalat di sini adalah shalat sunah yang dikerjakan sendiri dan tidak berjamaah. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis:

إِنَّ أَفْضَلَ صَلاَةِ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الصَّلاَةَ المَكْتُوبَةَ

Sesungguhnya shalat seseorang yang paling utama adalah shalat yang dikerjakan di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari 7290 dan yang lainnya).

*2. Baca doa ketika masuk rumah*

Hal kecil yang mungkin perlu dibiasakan adalah memulai segala yang penting dengan doa atau dzikir. Salah satunya, ketika kita masuk rumah. Meskipun kelihatanya remeh, namun hasilnya luar biasa.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ، وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ، وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يُذْكَرِ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ

“Apabila ada orang yang masuk rumah, kemudian dia mengingat Allah ketika masuk, dan ketika makan, maka setan akan mengatakan (kepada temannya): ‘Tidak ada tempat menginap dan tidak ada makan malam.’ Tapi apabila dia tidak mengingat Allah (bismillah dan jangan lupa ucapkan salam) ketika masuk, maka setan mengatakan: ‘Kalian mendapatkan tempat menginap’.” (HR. Muslim 2018, Abu Daud 3765 dan yang lainnya)

*3. Baca basamalah ketika tutup pintu*

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan banyak saran agar kita tidak terganggu setan. Salah satunya:

وَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا

“Tutuplah pintu, dan sebutlah nama Allah. Karena setan tidak akan membuka pintu yang tertutup (yang disebut nama Allah).” (HR. Bukhari 3304, Muslim 2012 dan yang lainnya)

*4. Berdoa ketika keluar rumah*

Satu doa ketika keluar rumah. Ringkas, mudah dihafal, tapi khasiatnya besar:

بسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

BISMILLAHI TAWAKKALTU ‘ALALLAAH, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH
Dengan nama Allah aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Dalam hadis dinyatakan, siapa yang keluar rumah kemudian dia membaca doa di atas, maka disampaikan kepadanya: Kamu diberi petunjuk, dicukupi dan dilindungi. Maka setan kemudian berteriak:

كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ

“Bagaimana kalian bisa mengganggu orang yang sudah diberi hidayah, dicukupi, dan dilindungi.” (HR. Abu Daud 5095, Turmudzi 3426 dan dishahihkan al-Albani)

Kamis, 08 Maret 2018

Apa yg dimaksud dengan barokah?

Wa'alaikumussalaam warohmatullooh...

Yg d maksud berkah itu adalah:
ثبوت الخير
Tetapnya kebaikan.

Artinya, semua apa yg kita miliki bisa menjadikan kebaikan pd kita yg menuntun pd Surga.

Contoh:

1. Harta
Harta berkah berarti harta yg cukup dan bermanfaat hingga harta itu menuntun pd surga

2. Anak
Keberkahan anak itu memiliki anak shaleh krna dgn anak shaleh akan menjadikan washilah ke surga bagi org  tuanya

3. Bertambah ukuran
Bail bertambah anak, harta atau apapun dg  bertambah banyaknya harta mk kita akan semakin gemar untuk berbuat kebaikan.
Itulah berkah

Minggu, 04 Maret 2018

Tanda hitam di dahi?

Berikut teks hadits dan atsarnya:

Abdullah bin Umar bin Khattab RA. salah seorang shahabat terkemuka tidak menyukai adanya bekas hitam di dahi seorang muslim.

عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟

Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut. Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.

Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).

عَنْ أَبِى عَوْنٍ قَالَ : رَأَى أَبُو الدَّرْدَاءِ امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ كَانَ خَيْرًا لَكِ.
Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700).

عَنْ حُمَيْدٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ إِذْ جَاءَهُ الزُّبَيْرُ بْنُ سُهَيْلِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ : قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.
Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701).

عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.
Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari ATSARIS SUJUUD (bekas sujud)’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah? Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapalen’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapalen’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).

Bahkan dalam kitab Hasiyah as-Showi,

وليس المراد به ما بصنعه بعض الجهلة المرائين من العلامة في الجبهة فانه من فعل الخوارج وفي الحديث اني لابغض الرجل واكرهه اذا رايت بين عينيه اثر السجود
“Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan TUKANG RIYA’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij (baca: ahli bid’ah)” dalam sebuah hadits disebutkan sungguh saya benci seseorang yang saya lihat diantara kedua matanya terdapat bekas sujud (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).

*Analisa derajat hadits & Atsar tanda hitam di dahi adalah tanda tidak ikhlas*

HADITS 1⃣
Sanad lengkap dari sunan kubro al-Baihaqi.

السنن الكبرى للبيهقي (2/406)

بَابُ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُود
ِ
3556- أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ جَنَاحُ بْنُ نَذِير بن ْجَنَاحٍ الْمُحَارِبِيِّ، بِالْكُوفَةِ، أنبأ أَبُو جَعْفَرِ بْنُ دُحَيْمٍ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ حَازِمٍ ، أنبأ أَبُو نُعَيْمٍ ، ثنا الْعُمَرِيُّ ، عَنْ سَالِمٍ أَبِي النَّضْرِ ، قَالَ: " جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ ، فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، قَالَ: مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ: أَنَا حَاضِنُكَ فُلانٌ، وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ، فَقَالَ: مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ، فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، فَهَلْ تَرَى هَاهُنَا مِنْ شَيْءٍ؟ "

*Keterangan Sanad*

Sanad hadits ini DHOIF dgn 2 cacat:

1. Abdullah bin Umar al Umariy, beliau disepakati kedloifannya, simak penilaian muhaddits ttng beliau,

⭕ذكره البيهقي في معرفة السنن والآثار ، وقال : لا يحتج به
⭕ذكره ابو حاتم الرازي  في الجرح والتعديل ، وقال : أحب الى من عبد الله بن نافع ، يكتب حديثه ولا يحتج به ، روى عن نافع والمقبرى روى عنه الثوري وأبو نعيم وأبو الوليد والقعنبي
⭕قال ابن حجر في التقريب : ضعيف عابد

2. Janah bin Nadzir majhul hal.

Hadits ini punya jalur lain yg diriwayatkan Ibnu Saad dalam thobaqohnya, serta al Baghindi dalam amalinya sbg berikut,

الطبقات الكبرى لابن سعد  [4 : 400]

4830‏ - قال : أخبرنا خالد بن مخلد قال : حدثنا عبد الله بن عمر ، عن سالم أبي النضر قال : سلم رجل على ابن عمر , فقال : من هذا ؟ قالوا : جليسك ، قال : ما هذا ؟ متى كان بين عينيك ؟ صحبت رسول الله صلى الله عليه وسلم , وأبا بكر من بعده ، وعمر , وعثمان , فهل ترى هاهنا من شيء يعني بين عينيه

أمالي الباغندي حديث : ‏17‏

حدثنا أبو هريرة محمد بن أيوب ، ثنا عبد الرحمن بن قيس ، عن عبد الله بن العمري ، عن وهب بن كيسان ، قال : رأى ابن عمر ، شك أبو معاوية ، في جبهته أثر السجود ، قال : " صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ومع أبي بكر وعمر  وعثمان فلم ير في جبهتي من هذا شيء "

Namun spt yg terlihat kedua jalur ini pun sama melalui Abdullah bin Umar al Adawi/al Umari (dloiful hadits)

*Dengan demikian, Hadits ini Mauquf dari Ibnu Umar ini statusnya *DHOIF*

Hadits No. 2⃣
Terdapat dlm sunan Al-Kubro Al-Baihaqi

السنن الكبري للبيهقي

[2 : 286] وَأَخْبَرَنَا أَبُو سَعِيدِ بْنُ أَبِي عَمْرٍو، أنبأ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الصَّفَّارُ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْبِرْتِيُّ، ثنا أَبُو نُعَيْمٍ، ثنا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَشْعَثَ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا، فَقَالَ: " يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ، فَلا تَشِنْ صُورَتَكَ "

*Susunan Rawi Sanad dan analisa jarh ta'dil*

1- ابْنِ عُمَرَ (73 ه) صحابي
2- أَبِيهِ (سليم بن أسود المحاربي، 84 ه) ثقة
3- أَشْعَثَ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ (125 ه) ثقة
4- إِسْرَائِيلُ (100-160 ه) ثقة
5- أَبُو نُعَيْمٍ (218 ه) ثقة ثبت
6- أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْبِرْتِيُّ (280 ه) ثقة حافظ
7- أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الصَّفَّارُ (339 ه) ثقة
8- أَبُو سَعِيدِ بْنُ أَبِي عَمْرٍو (421 ه) ثقة ،
⭕وثقه ابن العماد والذهبي وحسنه ابن الجوزي
⭕قال القاسم السياري: أنا بريء من عهدته

Seluruh sanad hadits ini Tsiqot, dan hadits ini diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah sbgai berikut:

مصنف ابن أبي شيبة

[3151 ] حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ، عَنْ أَشْعَثَ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: كُنْتُ قَاعِدًا عِنْدَ ابْنِ عُمَرَ فَرَأَى رَجُلًا قَدْ أَثَّرَ السُّجُودُ فِي وَجْهِهِ، فَقَالَ: " إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ فَلَا يَشِينُ أَحَدُكُمْ صُورَتَهُ "

Dengan demikian Hadits Ibnu Umar ini *Shahih*.

*TETAPI Atsar Ibn Umar ini memiliki asbabul wurud*, yg disebutkan dalam mushonnaf Abdul Rozzaq berikut,

مصنف عبد الرزاق

[2941 ] عَنِ الثَّوْرِيِّ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ حَبِيبٍ، عَنْ أَبِي الشَّعْثَاءِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، *أَنَّهُ رَأَى رَجُلا يَتَنَحَّى إِذَا سَجَدَ،* قَالَ: " لا، لا تَقْلِبْ صُورَتَكَ، يَقُولُ: لا تُؤْثِرَهَا "، قُلْتُ: مَا تَقْلِبُ صُورَتَكَ؟، قَالَ: " لا تُغَيِّرْ، لا تُخَنِّسْ "

*_Jadi, perkataan Ibnu Umar ini hanya  ditujukan kepada orang yg ingin punya ciri dikeningnya secara REKAYASA, yg ingin terlihat hitam maka digosok kan agar hitam._*

*Apabila atsar sujud dikening itu terjadi alamiyah dikarenakan banyak sujud dan tidak hendak riya dengannya, MAKA ciri ini dapat menolong seseorang di yaumul hisab berdasarkan ayat al Quran, serta menyelamatkan dari api neraka berdasarkan hadits Imam Bukari, Muslim dll.*

*Ayat dan haditsnya nanti disebutkan diujung penelitian*
Hadits no. 3⃣

السنن الكبري للبيهقي

[2 : 286] وَأَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ حِمْشَاذٍ، ثنا يَزِيدُ بْنُ الْهَيْثَمِ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي اللَّيْثِ الأَشْجَعِيُّ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ، عَنِ أَبِي عَوْنٍ، قَالَ: رَأَى  أَبُو  الدَّرْدَاءِ  امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ، فَقَالَ: " لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ، كَانَ خَيْرًا لَكِ "

Susunan rawi sanad,

1- أَبُو  الدَّرْدَاءِ  (32 ه) صحابي
2- أَبِي عَوْنٍ (؟) صدوق حسن الحديث
3- ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ (88- 153 ه) ثقة ثبت إلا أنه يرى القدر
4- سُفْيَانَ الثوري (161 ه) ثقة حافظ فقيه عابد إمام حجة ، و كان ربما دلس
5- إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي اللَّيْثِ الأَشْجَعِيُّ (234 ه) متروك متهم بالكذب
6- يَزِيدُ بْنُ الْهَيْثَمِ (284 ه) ثقة
7- عَلِيُّ بْنُ حِمْشَاذٍ (258-338 ه) ثقة إمام
8- أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ الحاكم النيسابوري (321-405 ه) ثقة حافظ

Sanad hadits ini *SANGAT DHOIF*,

1. Terdapat Rawi bernama _Ibrohim bin Abi Laits_ statusnya matruk, Imam Abu Dawud, al-Fallas, ad-Dauraqi dll menyebutnya kadzdzab, dan Ibnu Muhammad Jazrah menemukan sekitar 20 hadits palsu yg dibuat oleh Ibrohim bin Abi Laits ini.

Hadits no 4⃣

Terdapat atsar dari kutipan kutab Ibnu Abi Syaibah berikut:

مصنف ابن أبي شيبة   حديث : ‏3103‏

حدثنا وكيع ، عن ثور ، عن أبي عون الأعور ، عن أبي الدرداء ، أنه رأى امرأة بين عينيها مثل ثفنة الشاة ، فقال : " أما أن هذا لو لم يكن بين عينيك كان خيرا لك "
Abi Darda melihat seorg perempuan ada bekas hitam antara kedua matanya, ia berkata: jika tdk ada tanda hitam antara keduamatamu, maka akan terlihat lebih bagus"

Namun ungkapan Abu Darda inipun masih ada masalah bila dihubungkan dengan jalur Imam Ahmad dalam az-Zuhd-nya sbb,

الزهد لأحمد بن حنبل 
حديث : ‏  755

حدثنا عبد الله حدثني أبو حفص ، عمرو بن علي قال : وحدثنا يحيى بن سعيد ، حدثنا ثور ، حدثني أبو عون ، عن أبي إدريس قال : إن أبا الدرداء رأى امرأة بين عينيها مثل نقشة الشاة من السجود فقال : لو لم يكن هذا بين عينيك لكان خيرا لك "

Dalam kedua sanad hadits ini terdapat rawi bernama Abu 'aun, di ragukan mendengar / tidak dari gurunya yg bernama Abi Idris.

Dgb begini, ungkapan Abu Darda dalam hadits ini diragukan kebenarannya, dan jikapun benar maka ungkapan ini tidak berarti adanya larangan / kejelekan bagi orang yang ada tanda hitam dalam dahinya.

Hadits terakhir no 5⃣

السنن ابكبري للبيهقي

[2 : 287] أَخْبَرَنَا أَبُو نَصْرِ بْنُ قَتَادَةَ، أنبأ أَبُو مَنْصُورٍ الْعَبَّاسُ بْنُ فَضْلٍ الضَّبِّيُّ الْهَرَوِيُّ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ نَجْدَةَ، ثنا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، ثنا جَرِيرٌ، عَنْ مَنْصُورٍ، قَالَ: قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ: سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِي وَجْهِ الإِنْسَانِ ؟ فَقَالَ: " لا، إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ، وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ، يَعْنِي مِنَ الشَّرِّ، لَكِنَّهُ الْخُشُوعُ "

------------------
Sanad hadits maqthu’ ini hasan. Dan matannya sebgai tafsir dari QS. Al-Fath:29.

Hadits ini tidak mengandung makna yang menyudutkan/celaan terhadap atsar sujud secara fisik.

Terdapat terjemahan yang salah yang disebutkan sipenulis, beliau menterjemahkan kalimat  “وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ، يَعْنِي من الشر " dengan terjemah _“Namun dia orang jahat”._ Bagaimana kalimat ini diterjemahkan begitu jauh ?? ini termasuk penyimpangan makna hadits…..

Terjemah yang benar adalah : _“Tanda fisik itu sebagaimana mau-Nya Allah, yakni termasuk sesuatu yang jelek (dilihat)”_

Artinya jika Allah berkehendak, maka banyak sujudnya seseorang bisa berbekas secara fisik dan itu jelek dipandang. Sedangkan jika Allah tidak berkehendak maka sebanyak apapun sujud yang dilakukan tidak akan berbekas apa-apa.

*KESIMPULAN*

Bekas sujud secara fisik bukanlah ciri pasti pada kesolehan seseorang, sujud hanya bagian kecil  amaliyah badan. Amaliyah hati, Iman dsb lebih banyak dan lebih besar. Tetapi bekas ketaatan kepada Allah meskipun kecil, ini tidak boleh dianggap sepele, Ingatkah kita pada kaki Rasul yang membengkak karena terlalu banyak shalat malam?? ketika ditanyakan kepadanya, beliau menjawab: Tidak bolehkah Aku menjadi hamba Allah yang bersyukur ??

[4837] حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا حَيْوَةُ، عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ، سَمِعَ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ ص كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ، قَالَ: " أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا "، فَلَمَّا كَثُرَ لَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَقَرَأَ، ثُمَّ رَكَعَ  (رواه البخاري)

dari Abu Al Aswad dia mendengar Urwah dari Aisyah radliallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu dan yang akan datang? Beliau bersabda: "Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur?" Dan tatkala beliau gemuk, beliau shalat sambil duduk, apabila beliau hendak ruku' maka beliau berdiri kemudian membaca beberapa ayat lalu ruku.' (HR. Bukhari Muslim dsb)

demikian pula orang-orang yang mati syahid, mereka dibangkitkan dan darah dan luka mereka menjadi saksi kesyahidan mereka dihadapan Allah swt.

Mudah-mudahan tidak berlebihan hal semacam ini dipahami masuk firman Allah berikut:

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ  [النور: 24]
“pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS. An-Nur : 24)

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ  [يس: 65]

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (QS. Yasin: 65)

Khusus tentang atsar sujud ini, dalam hadits panjang lebar dalam shahih Bukhari dan Muslim dll, dan didalamnya disebutkan:

وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ فَيَخْرُجُونَ مِنَ النَّارِ فَكُلُّ ابْنِ آدَمَ تَأْكُلُهُ النَّارُ إِلَّا أَثَرَ السُّجُودِ فَيَخْرُجُونَ مِنَ النَّارِ قَدِ امْتَحَشُوا فَيُصَبُّ عَلَيْهِمْ مَاءُ الْحَيَاةِ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ

Dan Allah telah mengharamkan kepada neraka untuk memakan (membakar) atsarus sujud, lalu keluarlah mereka dari neraka. Setiap anak keturunan Adam akan dibakar oleh neraka kecuali mereka yang memiliki atsarus sujud. Maka mereka keluar dalam keadaan sudah hangus terbakar (gosong), lalu mereka disiram dengan air kehidupan kemudian jadilah mereka tumbuh seperti tumbuhnya benih di tepian aliran sungai. (HR. Bukhari 806 Muslim 182 dari Abi Hurairah)

Al-Hafidz al-Asqolani menyebutkan pendapat para ulama dari yang dimaksud atsar sujud dalam hadits, ada yang menyatakan:

هِيَ الْأَعْضَاءُ السَّبْعَةُ الْآتِي ذكرهَا فِي حَدِيث بن عَبَّاسٍ قَرِيبًا وَهَذَا هُوَ الظَّاهِرُ
Adalah snggota sujud yang tujuh yang disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas dan ini yang dlohir.

Sedangkan menurut Qodli Iyadh lebih spesipik lagi yaitu:

الْجَبْهَةُ خَاصَّةً وَيُؤَيِّدُهُ مَا فِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ أَنَّ قَوْمًا يُخْرَجُونَ مِنَ النَّارِ يَحْتَرِقُونَ فِيهَا إِلَّا دَارَاتِ وُجُوهِهِمْ فَإِنَّ ظَاهِرَ هَذِهِ الرِّوَايَةِ يَخُصُّ الْعُمُومَ الَّذِي فِي الأولى

Kening secara khusus, dan dikuatkan riwayat Muslim dari jalur lain, bahwasanya mereka keluar dari neraka dan mereka terbakar didalamnya kecuali kisaran wajah. Sebab dlohir riwayat ini mengkhususkan yang umum dalam riwayat pertama.  (Fathul Bari 2/293)

Ana berpendapat, bekas sujud secara fisik termasuk pada makna atsar sujud didalam hadits ini, walaupun bukan maksud satu-satunya.

Maka berbahagialah orang yang banyak sujud dengan bekas dikening, tanpa disertai riya, dan hitam d jidat krna bekas sujud itu insyaa Allah akan menjadi saksi d Akhirat.