Tampilkan postingan dengan label aqiqah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aqiqah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2023

doa bayi yang baru lahir dan hadits tentang aqiqah

Mangga ini haditsnya

وَعَنْ سَمُرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ, تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ, وَيُحْلَقُ, وَيُسَمَّى ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيّ

Dari Samurah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya; ia disembelih hari ketujuh (dari kelahirannya), dicukur, dan diberi nama." Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits shahih menurut Tirmidzi.

Ini do'anya

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَآمَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَآمَّةٍ

 "Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah dari segala setan, kesusahan, dan pandangan yang jahat."

Minggu, 24 Maret 2019

Hukum aqiqah

Bismillah, saya dapat buku kecil dari yg aqiqah berisi :
1. Pelaksanaan aqiqah pada hari ke-7, jika tidak bisa dilaksanakan di hari ke-14, 21 atau kapan saja  ia mampu atau sdh dewasa, *berdasar QS. Al-Baqoroh 185* prinsip ajaran islam memudahkan bukan menyulitkan. Dan perkataan imam al-bashri : "jika belum aqiqah atasmu, maka aqiqahlah atas dirimu meski sudah dewasa", serta imam ahmad ditanya boleh tidak aqiqah sdh dewasa? Imam ibnul qoyyim menyebutkan : "imam ahmad berkata : aku tidak memakruhkan org yg melakukannya".

2. Ada hadits dari aisyah ra : "sunnahnya dua ekor kambing utk laki2, satu ekor utk perempuan, *ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya*, lalu dimakan dan disedekahkan pd hari ketujuh" (HR. al-baihaqi)

Apakah betul pernyataan diatas? Mohon penjelasannya.
Hatur nuhun..

Jawab ;

1. Aqiqah hanya di syari'atkan pada hari ke-7, dengan dalil

كل غلام رهينة بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق ويسمى

”Setiap anak tergadai dengan ’aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya, dicukur (rambutnya), dan diberi nama”.

_Ibadah itu ada yg terikat waktu dan sebab, ada yg tidak, maka tidak bisa d gunakan dalil Qs. Al-Baqarah ayat 185._

Jika mau konsisten, seharusnya ayat ini fahami:
-. Jika tidak bisa aqiqah (menyemblih kambing) di hari ke-7 krna keterbatasan ekonomi, maka boleh tdk menyemblih namun pada hr ke-7 tetapkanlah nama dan potonglah rambutnya (bulu kepala bayi) kemudian bersedekah sekemampunya.

- Jika tidak bisa memotong 2 ekor kambing untuk anak lelaki, maka boleh memotong 1 kambing.

- Jika tidak mampu memotong kambing, maka tidak d syari'atkan aqiqah d hari2 berikutnya krna tidak ada dalil.

- Hukum Aqiqqh adalah sunnah.

Pernyataan boleh aqiqah pada hari ke14, 21 atau kapan saja, hadits-haditenya dhaif. Dan dalam ibadah di tuntut dalil shahih dan bukan pendapat orang lain.

Berikut keterangannya:

العقيقة تذبح لسبع أو أربع عشرة أو أحد وعشرين

”(Hewan) ’aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh atau empatbelas atau duapuluh satu”.

*Penjelasan kedhaifan:*

Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Ash-Shaghiir no. 723 dan Al-Baihaqi 9/303 no. 19293 dari jalan Isma’il bin Muslim (seorang perawi dla’if karena faktor hafalannya), dari Qatadah (mudallis, dimana dalam hadits ini ia meriwayatkan dengan ’an’anah), dari ’Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya secara marfu’.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Hakim dari jalan ’Atha’, dari Ummu Kurz dan Abu Kurz.  Dhahir sanad hadits ini adalah shahih, namun padanya terdapat dua ’illat, yaitu :

a.     Terputusnya sanad antara ’Atha’ dan Ummu Kurz.

Ibnu Hajar berkata : ”Berkata ’Ali bin Al-Madini : Abu ’Abdillah (’Atha’) melihat Ibnu ’Umar namun ia tidak mendengar haditsnya; dan ia melihat Abu Sa’id Al-Khudriy sedang thawaf di Ka’bah namun ia tidak mendengar haditsnya; dan ia tidak dari Zaid bin Khaalid, tidak pula dari Ummu Salamah, Ummu Hani’, dan Ummu Kurz” [Tahdzibut-Tahdzib 7/182].

b.    Syadz

Abu Dawud, An-Nasa’i, dan yang lainnya meriwayatkan hadits yang menyebutkan adanya rawi antara ’Atha’ dan Ummu Kurz, yaitu ’Atha’, dari Habibah binti Maisarah, dari Ummu Kurz.  Riwayat-riwayat ini tidak menyebutkan lafadh : ”(Hewan) ’aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh atau empatbelas atau duapuluh satu”.

2. Redaksi haditsnya bukan begitu, tidak ada kalimat *"ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya*".

Redaksi haditsnya:

عن أم كرز وأبي كرز قالا نذرت امرأة من آل عبد الرحمن بن أبي بكر إن ولدت امرأة عبد الرحمن نحرنا جزورا فقالت عائشة رضى الله تعالى عنها لا بل السنة أفضل عن الغلام شاتان مكافئتان وعن الجارية شاة تقطع جدولا ولا يكسر لها عظم فيأكل ويطعم ويتصدق وليكن ذاك يوم السابع فإن لم يكن ففي أربعة عشر فإن لم يكن ففي إحدى وعشرين

Dari Ummu Kurz dan Abu Kurz, mereka berdua berkata : ”Telah bernadzar seorang wanita dari keluarga ’Abdurrahman bin Abi Bakr jika istrinya melahirkan anak, mereka akan menyembelih seekor onta. Maka ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa berkata : ”Jangan, bahkan yang disunnahkan itu lebih utama. Untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan seekor kambing. Dipotong anggota badannya, dan jangan dipecahkan tulangnya”.

إن تبعثوا الى القابلة منها برجل وكلوا وأطعموا ولا تكسروا منها عظما

“Berikan kaki (hewan ‘aqiqah) kepada bidan. Makanlah dan berilah makan, akan tetapi jangan engkau hancurkan tulangnya”.

Namun sayangnya, riwayat-riwayat tersebut adalah dla’if sehingga tidak bisa dipakai untuk hujjah. Adapun ulama yang lain berpendapat bolehnya menghancurkan tulangnya. Dan inilah yang benar.

*Riwayat yang benar adalah:*

عَنِ الغُلاَمِ شَاتَانِ ، وَعَنِ الأُنْثَى وَاحِدَةٌ ، وَلاَ يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كُنَّ أَمْ إِنَاثًا.

"Dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan. Dan tidak ada masalah bagi kalian apakah kambing tersebut jantan atau betina." Abu Isa berkata, "Hadits ini derajatnya hasan shahih." (H.R. Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, 3/150, Sahih)

Rabu, 10 Oktober 2018

Tahnik

Cara tahnik bs d liat d haditaanya Ummu sulaimin

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ ابْنٌ لأَبِى طَلْحَةَ يَشْتَكِى ، فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ ، فَقُبِضَ الصَّبِىُّ فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ مَا فَعَلَ ابْنِى قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ . فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى ، ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ وَارِ الصَّبِىَّ . فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ « أَعْرَسْتُمُ اللَّيْلَةَ » . قَالَ نَعَمْ . قَالَ « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا » . فَوَلَدَتْ غُلاَمًا قَالَ لِى أَبُو طَلْحَةَ احْفَظْهُ حَتَّى تَأْتِىَ بِهِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَتَى بِهِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَرْسَلَتْ مَعَهُ بِتَمَرَاتٍ ، فَأَخَذَهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « أَمَعَهُ شَىْءٌ » . قَالُوا نَعَمْ تَمَرَاتٌ . فَأَخَذَهَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَضَغَهَا ، ثُمَّ أَخَذَ مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا فِى فِى الصَّبِىِّ ، وَحَنَّكَهُ بِهِ ، وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ .

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa putera Abu Tholhah sakit. Ketika itu Abu Tholhah keluar, lalu puteranya tersebut meninggal dunia. Ketika Abu Tholhah kembali, ia berkata, “Apa yang dilakukan oleh puteraku?” Istrinya (Ummu Sulaim) malah menjawab, “Ia sedang dalam keadaan tenang.” Ketika itu, Ummu Sulaim pun mengeluarkan makan malam untuk suaminya, ia pun menyantapnya. Kemudian setelah itu Abu Tholhah menyetubuhi istrinya. Ketika telah selesai memenuhi hajatnya, istrinya mengatakan kabar meninggalnya puteranya. Tatkala tiba pagi hari, Abu Tholhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan tentang hal itu. Rasulullah pun bertanya, “Apakah malam kalian tersebut seperti berada di malam pertama?” Abu Tholhah menjawab, “Iya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mendo’akan, “Allahumma baarik lahumaa, Ya Allah berkahilah mereka berdua.” Dari hubungan mereka tersebut lahirlah seorang anak laki-laki. Anas berkata bahwa Abu Tholhah berkata padanya, “Jagalah dia sampai engkau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengannya.” Anas pun membawa anak tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Sulaim juga menitipkan membawa beberapa butir kurma bersama bayi tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengambil anak tersebut lantas berkata, “Apakah ada sesuatu yang dibawa dengan bayi ini?” Mereka berkata, “Iya, ada beberapa butir kurma.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan mengunyahnya. Kemudian beliau ambil hasil kunyahan tersebut dari mulutnya, lalu meletakkannya di mulut bayi tersebut. Beliau melakukan tahnik dengan meletakkan kunyahan itu di langit-langit mulut bayi. Beliau pun menamakan anak tersebut dengan ‘Abdullah

Mutafaqun alaihi

Boleh menggunakan pisang dll jika tidak ada kurma

Bacaan menyembelih hewan aqiqah

Membaca basmallah, dan boleh menyebut nama anaknya,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: عق عن الحسن والحسين شاتين يوم السابع وأمر أن يماط عن رأسه الأذى وقال اذبحوا على اسمه وقولوا بسم الله والله أكبر اللهم لك وإليك هذه عقيقة فلان

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain dengan dua ekor kambing pada hari ketujuh, dan diperintahkan agar rambut kepalanya dicukur. Lalu beliau berkata, sembelihlah atas namanya, ucapkanlah, “Bismillah wallahu akbar. Allahumma laka wa ilaik. Hadzihi aqiqah fulan.” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, ini milik-Mu dan untuk-Mu. Ini adalah aqiqah untuk si fulan (nama anak).”

Sabtu, 08 September 2018

Sembelih hewan qurban

Tdk ada ketetapan dlm syari'at menyemblih harus satu kali, dan tidak ada ketetapan dlm syariat jika menyemblihnya d ulang maka tdk sah.

Syariat hanya menetapkan menyemblih harus dgn cara yg baik,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْح وَ ليُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan ihsan, jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan ihsan. Hendaknya kalian mempertajam pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim).

Sekali atau dua kali atau bbrpa kali, jika itu d pandang baik, maka tetap sah.

Rabu, 02 Mei 2018

Kaifiyat aqiqah

wa'aalaikumussalaam warohmatullooh wabarokaatu..

tidak ada doa khusus, pd hari ke-7 cukup niat dalam hati untuk aqiqah dan berdoa bebas menurut keinginan kita..

cara pelaksanaan:
1. pada hari ke-7
2. memberi nama
3. menyemblih 2 kambing jika mampu, untuk lelaki. jika sanggupnya satu, maka tdk mengapa
4. menyemblih 1 kambing untuk bayi perempuan
5. mencukur rambut bayi, dan berat rambut itu di timbang {di gram) kemudian dishadaqohkan seharga perak (emas).

misal:
rambut bayi 2 gram, dan harga emas 1 gram  400rb.
jadi 400 x 2 = 800000

Rabu, 28 Maret 2018

Aqiqah

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Artinya: "Setiap bayi tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan kambing pada hari ke-7, dicukur rambutnya serta diberi nama" (HR.Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’iy, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Abdul Haq, lihat at-Talkhis 4/1498 oleh Ibnu Hajar)

Aqiqah hanya d laksanakan pas pada hari ke-7, dan pd hari ke 7 bayi itu meninggal;

1. Jika bayi sebelum meninggal sempat/aqiqah sedang berlangsung, mk teruskanlah aqiqahnya

2. Jika bayi meninggal dan aqiqah belum bersambung / blm mulai, mk tdk ada aqiqah