Tampilkan postingan dengan label aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aqidah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 April 2018

Hidup jujur dan hindari dusta

HIDUP JUJUR DAN HINDARI DUSTA.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abdullah bin Numair; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki' keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Al A'masy; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah; Telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Syaqiq dari 'Abdullah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan,dan kebaikan itu mengarahkan menuju surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan membiasakan jujur, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah.
Dan hindarilah dusta, karena kedustaan itu akan menggiring kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan membiasakan dusta, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah."
Muslim no. 4721

JUJUR DAN DUSTA.

عَنِ ابـْنِ مَسْعُوْدٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: عَلَـيْكُمْ بِـالصِّدْقِ فَاِنَّ الصِّدْقَ يَـهْدِى اِلىَ اْلبِرِّ وَ اْلبِرُّ يَـهْدِى اِلىَ اْلجَنَّةِ.
وَ مَا يَزَالُ الـرَّجُلُ يَصْدُقُ وَ يَـتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْـتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيـْقًا. وَ اِيـَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ فَاِنَّ اْلكَذِبَ يَـهْدِى اِلىَ اْلفُجُوْرِ
وَ اْلفُجُوْرُ يَـهْدِى اِلىَ النَّارِ. وَ مَا يَزَالُ اْلعَبْدُ يَكْذِبُ وَ يَـتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتَّى يُكْـتَبَ عِنْدَ اللهِ كَـذَّابـًا. البخارى و مسلم و ابو داود و الترمذى و صححه و اللفظ له

Dari Ibnu Mas’ud RA ia berkata : Rasulullah saw
bersabda :
"Hendaklah berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa ke surga.
Dan bila seseorang terus berlaku jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.
Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena sesungguhnya dusta akan membawa pada kedurhakaan, dan durhaka akan membawa ke neraka.
Dan bila seorang terus berlaku dusta,dan memilih menjadi  pendusta,sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”.
HR. Bukhari, Muslim,
Abu Dawud dan Tirmidzi.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بـْنِ عَمْرِو بـْنِ اْلعَاصِ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اَرْبَعٌ مَنْ كُـنَّ فِـيْهِ كَانَ مُنَـافِقًا خَالـِصًا، وَ مَنْ كَانَ فِـيْهِ خَصْلَةٌ مِنْـهُنَّ كَانَتْ فِـيْهِ خَصْلَةُ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا. اِذَا ائْـتُـمِنَ خَانَ، وَ اِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ اِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَ اِذَا خَاصَمَ فَجَرَ. البخارى و مسلم و ابو داود و الترمذى و النسائى

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash ra berkata : Sesungguhnya Nabi saw bersabda :
“Barang siapa yang  padanya terdapat empat perkara,maka dia telah munafiq.
Dan barangsiapa yang padanya tetdapat satu bagian dari yang empat perkara tersebut,berarti padanya satu bagian dari kemunafiqan sehingga sedia meninggalkannya.

1. Apabila diberi amanat ia khianat,
2. Apabila berbicara dusta,
3. Apabila berjanji menginkari.
4. Apabila bertengkar curang”.
HR.Bukhari dan Muslim.

عَنِ اْلحَسَنِ بـْنِ عَلِيٍّ رض قَالَ: حَفِظْـتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ ص: دَعْ مَا يُـرِيـْبُكَ اِلىَ مَا لاَ يُـرِيـْبُكَ. فَاِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنـِيْنَةٌ، وَ اْلكَـذِبَ رَيـْبَةٌ. الترمذى و قال حديث حسن صحيح

Dari Hasan bin Ali ra ia berkata : Saya hafal dari Rasulullah saw bersabda :
“Tinggalkan segala apa yang meragukanmu, karena jujur itu adalah ketenangan dan dusta itu adalah keraguan”.
HR.AtTirmidzi  Hadits Hasan Shahih

عَنْ اَبــِى هُرَيــْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: لاَ يُـؤْمـِنُ اْلعَبْدُ اْلاِيـْمَانَ كُـلَّهُ حَتَّى يـَتْرُكَ اْلكَـذِبَ فِى اْلمَزَاحَةِ وَ اْلمِرَاءَ وَ اِنْ كَانَ صَادِقًا. احمد و الطبرانى

Dari Abu Hurairah ra berkata,bahwa Rasulullah  bersabda :
“Tidaklah beriman seorang hamba dengan iman sepenuhnya sehingga  meninggalkan dusta dalam bergurau dan berbantahan, meskipun dalam kebenaran”.
HR. Ahmad dan Thabrani.

عَنْ اَبــِى اُمَامَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اَنــَا زَعِيْمٌ بِـبَـيْتٍ فِى وَسَطِ اْلجَنَّةِ لِمَنْ تَـرَكَ اْلكَذِبَ وَ اِنْ كَانَ مَازِحًا. البيهقى بـإسناد حسن

Dari Abu Umamah RA sesungguhnya Nabi SAW bersabda :
“Aku menjamin dengan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam bergurau”.
HR. Baihaqi dengan sanad Hasan

عَنْ اَبــِى هُرَيــْرَةَ رض عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص اَنـــَّهُ قَالَ: مَنْ قَالَ لِصَبِيٍّ تَـعَالَ هَاكَ، ثُمَّ لَمْ يُـعْطِهِ، فَهِيَ كَـذْبَةٌ. احمد و ابن ابى الدنيا

Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah saw sesungguhnya beliau bersabda :
“Barangsiapa berkata kepada anaknya : “Kesini,akan aku beri kamu sesuatu,kemudian ternyata tidak memberinya,maka yang demikian itu adalah perbuatan dusta”.
HR. Ahmad dan Ibnu Abid Dunya.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بـْنِ عَامِرٍ رض قَالَ: دَعَتْنِى اُمِّى يَـوْمًا. وَ رَسُوْلُ اللهِ ص قَاعِدٌ فِى بَيْتِنَا. فَقَالَتْ: هَا تَعاَلَ اُعْطِكَ، فَقَالَ لهَاَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا اَرَدْتِ اَنْ تُعْطِيْهِ، قَالَتْ: اَرَدْتُ اَنْ اُعْطِيَهُ تَمْرًا، فَقَالَ لَـهَا رَسُوْلُ اللهِ ص اَمَا اِنــَّكِ لَـوْ لَمْ تُعْطِـيْهِ شَيْئًا كُـتِبَتْ عَلَـيْكِ كَـذْبــَةٌ. ابو داود و البيهقى

Dari Abdullah bin ‘Amir ra berkata, “Pada suatu hari ibu saya memanggil saya, pada waktu itu Rasulullah saw sedang duduk di rumah kami.
Ibuku berkata :
“Kesini kamu aku akan beri sesuatu”.
Maka Rasulullah saw bersabda :
“Apakah betul engkau akan memberinya ?”
Ibuku berkata :
“Aku akan memberinya kurma”.
Lalu Rasulullah saw bersabda kepada ibuku :
“Ketahuilah,sungguh jika kamu tidak memberi kurma kepadanya niscaya kamu dicatat pendusta”.
HR. Abu Dawud dan Baihaqi.

Rabu, 18 April 2018

Tafsir an-nisa 144, orang kafir jadi wali

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS. Al-Nisa’: 144)

Ibnu Katsir menjelaskan tentang ayat ini, “Allah Ta’ala melarang para hamba-Nya yang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai wali, bukannya orang-orang beriman.”

Kemudian beliau jelaskan makna menjadikan wali di sini, “berteman, saling percaya (setia), saling perhatian, menyimpan kecintaan kepada mereka, mengumbar rahasia kaum mukminin kepada mereka dan menjadi pendukung mereka.

Kemudian beliau sitir ayat lain yang memiliki makna serupa,

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكافِرِينَ أَوْلِياءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kalian akan diri-Nya.” (QS. Ali Imran: 28)

Yg menyalahi ayat ini, kalo tidak kafir berarti MUNAFIQ.

Sabtu, 31 Maret 2018

Bagaimana sikap kepada orang yang bisa melihat makhluk halus?

Makhluk halus atau tdk halus (Jin/setan),  itu sifatnya ghaib.

Allah Swt berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

“Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”, dan mereka tidak engetahui bila mereka akan dibangkitkan” [an-Naml/27 : 65]

orang yg "sok" tau terhadap ghaib, itu namanya dukun.

mau ustadz, kiyai atau siapapun dia, jika dia mengaku tau terhadap yg ghaib, maka statusnya dukun. sikap kita Jangan mempercayainya dan hindarilah

Sabtu, 17 Maret 2018

Ciri-ciri orang munafik

*Ciri orang MUNAFIQ*
EDISI MUHASABAH

Yg kita kenal, ciri org munafiq itu ada 3, dlm riwayat lain ada 4:

1. Bohong dlm bicara
2. Khianat dlm amanah
3. Inkar dlm janji
4. Berlebihan dlm bermusuhan (melampou batas dlm rasa benci).

Sebetulnya, ada juga yg PALING BAHAYA selain 4 point tadi, yaitu sifat munafiq yg ke-5, yaitu;

*Selalu membicarakan apa yg ia lihat / apa yg ia alami*

Rasulullaah saw bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim).

Imam Malik –semoga Allah merahmati beliau- mengatakan:

”Ketahuilah, sesungguhnya seseorang tidak akan selamat jika dia menceritakan setiap yang didengarnya, dan dia tidak layak menjadi seorang imam (yang menjadi panutan), sedangkan dia selalu menceritakan setiap yang didengarnya. (Dinukil dari Muntahal Amani bi Fawa’id Mushtholahil Hadits lil Muhaddits Al Albani).

*Sifat Munafiq selanjutnya adalah dikenal dengan sebutan Syamaatah*

yaitu merasa girang dan gembira tatkala mengetahui aib saudara seiman atau karena adanya musibah yang menimpanya, perbuatan uni termasuk dosa besar & ciri orang munafik.

Dosa ini dikenal dengan nama "Syamaatah".

(1585) وَعَنْ وَاثِلَةِ بْنِ اْلأَسْقَعِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَاتُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لِأَخِيْكَ فََيَرْحَمُهُ اللهُ وَيَبْتَلِيْكَ". رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح.

(1585) Dari Wasilah Bin Al-Asqa' RadhiyallahuAnhu ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Janganlah menunjukkan kegembiraan terhadap musibah yang menimpa saudaramu sesama muslim, karena bisa jadi Allah ta'ala merahmatinya sedang engkau ditimpakan bencana". (HR.Tirmidzi. Ia mengatakan, "Hadits ini hasan").

Selalu waspada dan berhati² dengan teman/siapapun yg memiliki sifat seperti ini.

Semoga tulisan ringkas ini bs menjadikan siraman ilmu yg bs membimbing kita kejalan Allah yg lurus.

Ciri-ciri orang munafik

*Ciri orang MUNAFIQ*
EDISI MUHASABAH

Yg kita kenal, ciri org munafiq itu ada 3, dlm riwayat lain ada 4:

1. Bohong dlm bicara
2. Khianat dlm amanah
3. Inkar dlm janji
4. Berlebihan dlm bermusuhan (melampou batas dlm rasa benci).

Sebetulnya, ada juga yg PALING BAHAYA selain 4 point tadi, yaitu sifat munafiq yg ke-5, yaitu;

*Selalu membicarakan apa yg ia lihat / apa yg ia alami*

Rasulullaah saw bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim).

Imam Malik –semoga Allah merahmati beliau- mengatakan:

”Ketahuilah, sesungguhnya seseorang tidak akan selamat jika dia menceritakan setiap yang didengarnya, dan dia tidak layak menjadi seorang imam (yang menjadi panutan), sedangkan dia selalu menceritakan setiap yang didengarnya. (Dinukil dari Muntahal Amani bi Fawa’id Mushtholahil Hadits lil Muhaddits Al Albani).

Selalu waspada dan berhati² dengan teman/siapapun yg memiliki sifat seperti ini.

Semoga tulisan ringkas ini bs menjadikan siraman ilmu yg bs membimbing kita kejalan Allah yg lurus.

Kamis, 08 Maret 2018

Tulisan insyaa alloh

Dalam bahasa Arab ditulis:
إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Yang artinya “jika Allah menghendaki” atau “jika Allah berkehendak”

Dalam bahasa Indonesia, huruf ش biasa ditulis dengan “sya”

Sedangkan dalam bahasa Inggris, huruf ش biasa ditulis dengan “sha”

Inilah yang membuat perbedaan mengapa kadang tertulis “insya Allah” dan kadang tertulis “in sha Allah”. Mana pun dari kedua cara penulisan ini, asalkan maksud dan bunyinya adalah إِنْ شَاءَ اللَّهُ maka dia benar. Hanya saja yang lebih umum dalam bahasa Indonesia adalah “insya Allah” sebagaimana kita bisa menulis “masya Allah” atau “shalat isya’”.

Ejaan indonesia, kata "sha" itu untuk huruf ص.

إن صاءالله
Insha Allah

إن شاء الله
In syaa Allah / Insya Allah

Adapun org yg beranggapan tentang DR. Dzakir naik, itu adalah HOAX.

Rabu, 28 Februari 2018

Mengucapkan Alloh Ta'ala?

Ta'ala itu bentuk kalimat dari Subhaanahu wata'aala (SWT)

السلام عليكم ورحمة الله تعالى وبركاته

الله تعالى
Allah Swt (Subhaanahu wa ta'aala)

Ta'aala artinya maha tinggi, maha luhur, maha gagah, maha perkasa.

boleh memakai pujian kepada Allah الله تعالى tapi tentu yg sama dengan contoh Rasul yang dianjurkan..
Itu lebih selamat dan lebih baik lagi.

Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, ia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: *اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ،* فَرَدَّ عَلَيْهِ ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَشْرٌ، ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: *اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ،* فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ: عِشْرُوْنَ، ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: *اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ،* فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ ( ثَلاَثُوْنَ ).

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan, ‘Assalaamu‘alaikum.’ Maka dijawab oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia duduk, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sepuluh.’ Kemudian datang pula orang lain (yang kedua) memberi salam, ‘Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah.’ Setelah dijawab oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia pun duduk, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Dua puluh.’ Kemudian datang orang yang lain lagi (ketiga) dan mengucapkan salam: ‘Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.’ Maka, dijawab oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia pun duduk dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tiga puluh.’” [HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 986, Abu Dawud no. 5195 dan at-Tirmidzi no. 2689]

Hadits lain diriwayatkan oleh Abu Tamimah al-Hujaimi dari seorang laki-laki yang berasal dari kaumnya. Dalam riwayat yang lain dikatakan laki-laki itu bernama Abu Jura al-Hujaimi, dia berkata:

طَلَبْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أَقْدِرْ عَلَيْهِ فَجَلَسْتُ، فَإِذَا نَفَرٌ هُوَ فِيْهِمْ وَلاَ أَعْرِفُهُ، وَهُوَ يُصْلِحُ بَيْنَهُمْ، فَلَمَّا فَرَغَ قَامَ مَعَهُ بَعْضُهُمْ فَقَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُلْتُ: عَلَيْكَ السَّلاَمُ، يَارَسُوْلَ اللهِ، عَلَيْكَ السَّلاَمُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، عَلَيْكَ السَّلاَمُ، يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: إِنَّ عَلَيْكَ السَّلاَمُ تَحِيَّةُ الْمَوْتَى، إِنَّ عَلَيْكَ السَّلاَمُ تَحِيَّةُ الْمَوْتَى، إِنَّ عَلَيْكَ السَّلاَمُ تَحِيَّةُ الْمَوْتَى، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيَّ فَقَالَ: إِذَا لَقِيَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فَلْيَقُلِ *السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ،* ثُمَّ رَدَّ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَعَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ، وَعَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ، وَعَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ.

“Aku mencari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun aku tidak mendapatinya, kemudian aku duduk, tiba-tiba datang sekelompok orang dan beliau ada di an-ara mereka sedang aku tidak mengenalnya, saat itu beliau sedang mendamaikan beberapa dari mereka (yang berselisih). Kemudian setelah selesai ada sebagian dari mereka yang berdiri bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah,’ tatkala aku melihat hal tersebut, maka aku katakan: ‘‘Alaikas salaam ya Rasulullah, ‘alaikas salaam ya Rasulullah, ‘alaikas salaam ya Rasulullah (semoga keselamatan senantiasa tercurah atasmu, wahai Rasulullah, 3x). Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah engkau berkata seperti itu. Sesungguhnya ‘alaikas salaam itu adalah salam kepada orang mati, sesungguhnya ‘alaikas salaam itu adalah salam kepada orang mati, sesungguhnya ‘alaikas salaam itu adalah salam kepada orang mati.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekatiku seraya berkata: ‘Apabila seseorang bertemu dengan saudaranya sesama muslim, hendaklah ia mengucapkan ‘Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan jawabannya kepadaku, seraya bersabda: ‘Wa ‘alaika warahmatullaahi (dan semoga rahmat Allah juga ter-limpah atasmu, 3x).’” [HR. Abu Dawud no. 4084, at-Tirmidzi no. 2721, Ahmad V/63-64, dan yang lainnya. Lafazh hadits ini berdasarkan riwayat at-Tirmidzi]

Ini d antara 2 hadits tentang salam, dan tdk terdapat kalimat "ta'aala".

Kalo kita scan seluruh hadits, maka tdk ada ada satu haditapun yg menyatakan adanya tambahan ta'aala.

Namun, ada yg berpendapat boleh menambah ta'ala dgn alasan bhwa pernah d amalkan sahabat:

Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf-nya meriwayatkan :

عَنْ مَيْمُونٍ، أَنَّ رَجُلًا سَلَّمَ عَلَى سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ، فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ تَعَالَى وَبَرَكَاتُهُ، فَقَالَ: سَلْمَانُ: «حَسْبُكَ

“Dari Maimun, bahwa seorang lelaki mengucapkan salam pada Salman Al-Farisi dengan mengucapkan Assalamu’alaikum warohmatullohi ta’ala wabarokatuh, lalu Salman berkata: Cukuplah bagi kamu”. (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, No.25683).

Syekh Al-Alusi dalam tafsirnya meriwayatkan:

عَنْ سَالِمٍ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ جَمِيعًا قَال: كَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا سَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ زَادَ، فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ، فَقَال: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ تَعَالَى، ثُمَّ أَتَيْتُهُ مَرَّةً أُخْرَى فَقُلْتُ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ تَعَالَى وَبَرَكَاتُهُ، فَقَال: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ تَعَالَى وَبَرَكَاتُهُ وَطَيِّبُ صَلَوَاتِهِ

“Dari Salim, budak Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhum, ia berkata, ketika ada orang member salam pada Ibnu Umar maka ia akan menambah ketika menjawabnya, saya pernah mendatanginya dan mengucapkan “Assalamu’alaikum”, dia menjawab “Assalamu’alaikum warohmatullohi taala”, lalu dilain waktu aku mendatanginya dengan mengatakan “Assalamu’alaikum warohmatullohi ta’ala wabarokatuh” dia menjawab “Assalamu’alaikum warohmatullohi ta’ala wabarokatuh wa thoyyibu sholawatihi”.

Namun, pada 2 pernyataan ini, buka  d sebut dalil, krna bukan bersumber dsei nabi.

Maka kesimpulannya, tidak memakai ta'ala dalam salam itu lebih baik