Tampilkan postingan dengan label Sholat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2020

Bolehkah membaca mushaf dalam salat ?

Bolehkah  membaca mushaf dalam salat ?

Salat merupakan tiang agama yang kaifiyatnya ditentukan berdasarkan nash yang sahih di mulai dari takbir sampai salam dengan gerakan dan bacaan yang khusus dan ma’tsur. Salah satu kaifiyat salat adalah membaca al-fatihah yang hukumnya wajib karena termasuk rukun rakaat, Adapun membaca ayat atau surat setelah membaca al-fatihah hukumnya sunat. Persoalannya bagaimana hukum membaca mushaf al-Quran ketika salat ? ada beberapa dalil yang perlu difahami

Pertama, al-Quran memberi petunjuk untuk membaca al-Quran yang mudah, tentu makasudnya sesuai dengan hafalan masing-masing, sekiranya termasuk juga membaca mushaf, maka menjadi tidak berfaidah

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ 
karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran (al Muzzamil : 20)

kedua, Rasulullah Saw memerintahkan ketika masuk waktu salat, maka beradzan  dan hendaklah jadi imam yang paling banyak hafalan al-Qurannya kaitan dengan qiroah ketika qiyam atau berdiri. Sekiranya maksud di dalamnya termasuk membaca mushaf tentunya perintah tersebut tidak menjadi tidak berfaidah. Rasulullah Saw bersabda :

 فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا
Apabila masuk waktu salat, maka hendaklah adzan seorang diantara kamu dan hendaklah jadi imam yang paling banyak (hafalan) al-Qurannya (HR Bukhari, Sahih al-Bukhari, 5/150)

Ketiga, ketika salat kita diperintahkan untuk melihat tempat sujud, berikut hadis dari sahabat Anas bin Malik, Nabi Saw bersabda :

 “مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي صَلاَتِهِمْ فَاشْتَدَّ قَوْلُهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى قَالَ لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ

 “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kenapa orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke langit ketika mereka sedang shalat? Suara beliau semakin tinggi hingga beliau bersabda: “Hendaklah mereka menghentikannya atau Allah benar-benar akan menyambar penglihatan mereka.” (Sahih al-Bukhari, 1/150)

Secara manthuq larangan untuk mengarahkan pandangan ke atas ketika salat, secara mafhum muwafaqah tentunya bukan hanya keatas saja, tapi pandangan yang dapat mengganggu kekhusyuan salat, mafhum mukhalafah berarti memerintahkan untuk mengarahkan pandangan ke bawah atau tempat sujud.

Keempat, membaca mushaf al-Quran dan salat merupakan dua ibadah yang berbeda, sehingga membaca al_Quran ketika salat dapat difahami sebagai perbuatan diluar salat

Kelima, membaca mushaf bisa dikategorikan sebagai talaqi mushaf sebagaimana diluar salat misalnya dalam pengajaran, sedangkan perkataan manusia tidak layak dalam salat, berdasarkan hadis dari sahabat Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami

 إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيهَا شَىْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ 
Sesungguhnya salat itu tidak dibenarkan padanya ada perkataan (obrolan) manusia, sungguh didalamnya hanyalah tasbih, takbir dan membaca al-Quran (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 2/70)

Membaca al-Quran dalam hadis tersebut tentunya difahami sebagai bacaan dari hafalan, bukan dari mushaf, dari berbagai qorinah ayat dan hadis sebelumnya.

Keenam, membaca mushaf dengan berbagai caranya misalnya menggunakan hp, mushaf digendong, pakai google glass dan lainnya, berpotensi sangat besar membuat gerakan-gerakan yang banyak dalam salat tanpa kebutuhan.

Ketujuh, gerakan salat sudah ditentukan sehingga kita disibukan dengan gerakan-gerakan tersebut didlamnya, karena itu sebaliknya, kita diperintahkan menjauhi gerakan-gerakan diluar gerakan salat, salah satunya melihat mushaf ketika qiyam qiro’ah.

عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنْتُ أُسَلِّمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَيَرُدُّ عَلَيَّ فَلَمَّا رَجَعْنَا سَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ وَقَالَ إِنَّ فِي الصَّلَاةِ شُغْلًا

dari 'Abdullah radliallahu 'anhu berkata: "Kami pernah memberi salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika Beliau sedang shalat dan Beliau membalas salam kami. Ketika kami kembali dari (negeri) An-Najasyi kami memberi salam kembali kepada Beliau namun Beliau tidak membalas salam kami. Kemudian Beliau berkata: "Sesungguhnya dalam shalat ada kesibukan" (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 2/66)

Adapun gerakan-gerakan yang dibolehkan diantaranya ketika ada al hajah atau kebutuhan, berikut hadis-hadisnya, pertama, memindahkan Ibn Abbas karena salah tempat dalam posisi berjamaah ketika berdua

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَصَلَّى وَرَقَدَ فَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ وَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Dari Ibnu 'Abbas berkata, "Pada suatu malam aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan aku berdiri di samping kirinya. Rasulullah Saw kemudian memegang kepalaku dari arah belakangku, lalu menempatkan aku di sebelah kanannya. Beliau kemudian shalat dan tidur setelahnya. Setelah itu datang mu'adzin kepada beliau, maka beliau pun berangkat shalat dengan tidak berwudlu lagi (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/146)

Kedua, bergerak maju untuk formasi salat berjamaah bertiga, dari Jabir bin Abdillah beliau berkata :

فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ ، فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ ، وَأَتَى آخَرُ فَقَامَ عَنْ يَسَارِهِ ، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي ، وَصَلَّيْنَا مَعَهُ

Kemudian aku berdiri (jadi makmum) di sebelah kiri beliau, kemudian beliau memindahkanku ke sebelah kanannya. Lalu datang orang lain, dan dia berdiri di sebelah kiri beliau, ternyata beliau malah maju dan melanjutkan shalat. Dan kamipun menyelesaikan salat Bersama beliau (HR. Ibnu Khuzaimah, Sahih Ibn Khuzaimah, 3/18)

Ketiga, Rasul Saw pernah salat sambal menggendong cucunya yaitu Umamah putra dari Zainab, tentu diantara tujuannya adalah disamping kasih sayang, Pendidikan dini, juga supaya tidak mengganggu kekhusyuan yang lain. Berdasarkan keterangan dari Abu Qotadah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sambil menggendong Umamah putri Zainab bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila beliau sujud, beliau letakkan Umamah, dan apabila beliau bangkit, beliau menggendongnya. (HR. Bukhari 516, Muslim 543)

Keempat, beliau melepas sandal dan meletakkannya di sebelah kiri, kabutuhannya karena ada najis di sandal beliau, Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu

بَيْنَمَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَتَهُ ، قَالَ : مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَاءِ نِعَالِكُمْ ، قَالُوا : رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ جِبْرِيلَ صلى الله عليه وسلم أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا 

Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat bersama para sahabatnya, tiba tiba beliau melepaskan kedua sandalnya lalu meletakkannya di sebelah kirinya. Sewaktu para sahabat melihat tindakan beliau tersebut, mereka ikut pula melepas sandal mereka. Maka tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selesai shalat, beliau bersabda: "Apa gerangan yang membuat kalian melepas sandal sandal kalian?" Mereka menjawab; Kami melihat engkau melepas sandal, sehingga kami pun melepaskan sandal sandal kami. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Malaikat Jibril 'Alaihis Salam telah datang kepadaku, lalu memberitahukan kepadaku bahwa di sepasang sandal itu ada najisnya." (HR Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, 1/175)

Kelima, hajat untuk membukakan pintu, padahal beliau sedang salat, berdasarkan keterangan Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata :

اسْتَفْتَحْتُ الْبَابَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي تَطَوُّعًا وَالْبَابُ عَلَى الْقِبْلَةِ فَمَشَى عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ يَسَارِهِ فَفَتَحَ الْبَابَ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مُصَلَّاهُ

”Saya minta dibukakan pintu, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat sunah, dan pintu ada di arah kiblat. Kemudian beliau berjalanan ke kanan atau ke kiri, lalu membuka pintu dan kembali ke tempat shalatnya.” (HR. an-Nasa’I, Sunan al-Kubra, 3/15)

Keenam, Rasulullah menyuruh membunuh binatang yang berbahaya ketika salat, kebutuhannya tentu untuk hifz al-nafs atau menjaga jiwa karena dapat membinasakan dengan sebab racun. Berdasarkan keterangan dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda :

اقْتُلُوا الأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلاَةِ : الْحَيَّةَ ، وَالْعَقْرَبَ
Bunuhlah dua binatang yang hitam dalam salat, yaitu ular dan kalajengking (HR Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 1/242)

Ketujuh, menjawab salam dengan isyarat. Menjawab salam hukumnya wajib, namun ketika dalam keadaan salat, maka terlarang membalasnya dengan perkataan, namun diperbolehkan dengan isyarat, berdasarkan keterangan dari Ibn Umar :

فَقُلْتُ لِبِلاَلٍ : كَيْفَ رَأَيْتَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَرُدُّ عَلَيْهِمْ حِينَ كَانُوا يُسَلِّمُونَ عَلَيْهِ وَهُوَ يُصَلِّي ؟ قَالَ : يَقُولُ هَكَذَا ، وَبَسَطَ كَفَّهُ ، وَبَسَطَ جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ كَفَّهُ ، وَجَعَلَ بَطْنَهُ أَسْفَلَ ، وَجَعَلَ ظَهْرَهُ إِلَى فَوْقٍ

"Aku bertanya kepada Bilal; "Bagaimana kamu melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab salam ketika mereka memberi salam kepada beliau yang sedang shalat?" Bilal menjawab; "Seperti ini, sambil membuka telapak tangannya. dan Ja'far bin 'Aun membuka telapak tangannya dengan menjadikan bagian dalamnya di bawah dan bagian luarnya di atas." (HR Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, 1/243)

Ketujuh dalil diatas menunjukan adanya perubahan gerakan salat disebabkan adanya illat atau hajat. Adapun membaca mushaf ketika qiyam dalam salat, disamping tidak ditemukan dalil hadis yang sarih yang dinisbatkan kepada Rasul Saw, juga kami tidak menemukan keperluan untuk melakukan perbuatan tersebut, cukup hafalan al-Quran yang mudah saja. 

Adapun dalil ulama yang membolehkan membaca mushaf ketika salat berdasarkan keterangan dari Aisyah

أَنَّهَا كَانَ يَؤُمُّهَا غُلاَمُهَا ذَكْوَانُ فِى الْمُصْحَفِ فِى رَمَضَانَ

Bahwasanya dia (Aisyah) diimami oleh pemuda (hamba sahayanya) yaitu Dzakwan dengan membaca mushaf pada bulan Ramadlan (HR. al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubro, 2/253, Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, 2/123 dan Kisah ini diriwayatkan pula oleh al-Bukhari secara mu’allaq Sahih al-Bukhari 1/140)

Ada beberapa catatan terkait hadis diatas :

Pertama, perbuatan membaca mushaf merupakan seorang tabiin yang bernama Dzakwan, Aisyah posisinya sebagai makmum, ada keihtimalan (mempunyai berbagai kemungkinan) sikap Aisyah waktu itu, karena tidak ada keterangan Aisyah mendukung atau sebaliknya yaitu menolak.

Kedua, jika seandainya ditafsirkan sebagai taqrir (penetapan) Aisyah, maka hal tersebut semata ijtihad Aisyah, tidak ada keterangan hal tersebut marfu kepada Rasulullah Saw.

Ketiga, tidak ada keterangan hadis yang disandarkan kepada Rasulullah saw baik itu perkataan, perbuatan atau taqrir. Padahal waktu itu sudah ada sahifah atau lembaran yang berisi ayat al-Quran

Keempat, kami belum menemukan sahabat yang lain melakukan hal tersebut, padahal mushaf sudah ada pada zaman mereka, sehingga menjadi dalalah yang kuat bahwa hal tersebut semata ijtihad Aisyah saja.

Kelima, dalil-dalil sebelumnya sudah dibahas, disamping tidak ada dalil hadis, juga tidak ada keperluan untuk membaca mushaf ketika salat, karena cukup dengan hafalan yang mudah saja, jika tidak demikian, maka menjadi tidak berfaidah.

Dengan demikian dengan berbagai pembahasan diatas menurut pendapat kami yang rajih adalah tidak boleh membaca mushaf ketika salat, baik salat wajib maupun salat sunat.

Ginanjar Nugraha,
Bandung, 24/04/2020
Ma’had Imam al-Bukhari

https://tanyajawabfikih.com/bolehkah-membaca-mushaf-dalam-salat/

Minggu, 29 Maret 2020

MERENGGANGKAN SHAF DALAM SHALAT

MERENGGANGKAN SHAF DALAM SHALAT

Berikut ketentuan dalam shaf shlat berjamaah yang Rasulullah Saw tetapkan:

1. Meluruskan Shaf

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَوِّي صُفُوفَنَا حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاحَ حَتَّى رَأَى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا فَقَامَ حَتَّى كَادَ يُكَبِّرُ فَرَأَى رَجُلًا بَادِيًا صَدْرُهُ مِنْ الصَّفِّ فَقَالَ

Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meluruskan shaf kami, seakan-akan sedang meluruskan barisan busur panah, hingga beliau melihat bahwa kami sungguh telah terikat darinya. Kemudian pada suatu hari beliau keluar lalu berdiri hingga hampir bertakbir. Beliau melihat seorang jama’ah sholat yang menonjolkan dadanya dari barisan shaf. Lantas beliau menegur,

عِبَادَ اللَّهِ لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ
“Wahai hamba-hamba Allah, luruskan shaf kalian, jika tidak maka Allah akan membuat hati kalian berselisih.” (HR. Muslim)

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ , فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاةِ
“Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf adalah kesempurnaan shalat” (HR. Bukhari no.690, Muslim no.433).

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ , فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاةِ
“Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf adalah bentuk menegakkan shalat (berjama’ah)” (HR. Bukhari no.723).

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلاةِ وَيَقُولُ : ( اسْتَوُوا , وَلا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ 
“Dahulu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memegang pundak-pundak kami sebelum shalat, dan beliau bersabda: luruskanlah (shaf) dan jangan bengkok, sehingga hati-hati kalian nantinya akan bengkok (berselisih) pula” (HR. Muslim, no. 432).

2. Merapatkan Shaf 

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :  أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا . فَقُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا ؟ قَالَ : يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ ، وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ  

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui kami dan bersabda, ‘Hendaknya kalian berbaris seperti berbarisnya para Malaikat di sisi Rabb mereka! lalu kami bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh! Bagaimana para Malaikat berbaris di sisi Rabb mereka?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Mereka menyempurnakan shaf-shaf (barisan) pertama, rapat serta lurus dalam barisannya. [HR. Muslim, no. 430]

Hadis-hadis ini menyatakan tentang kesempurnaan shalat berjama’ah dalam keadaan normal, yaitu meluruskan shaf dan merapatkan shaf.

Namun jika terjadi doruroh krna harus menghindari kedekatan dengan orang-orang dalam upaya ikhtiyari pencegahan virus yang menular sehingga shaf harus renggang, maka masuk pada qaidah 

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
Tidak boleh membahayakan diri sendiri atau orang lain

Udzur sakit, bukan menghilangkan atau meniadakan pada hokum pokok, melainkan menjalankannya sekemampunya. 

Misal: larangan berkerumun krna bisa membahayakan mudahnya tersebar virus.
Hal ini bukan berarti menutup masjid secara Mutlaq agar tidak ada shalat berjamaah, melainkan fingsi masjid tetap berlaku untuk berjamaah dengan cara bolehnya merenggangkan shaf karena sebab tertentu.

Kemudian penerapan qaidah 

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصَالِحِ
“Menolak mudharat (bahaya) lebih didahulukan dari mengambil manfaat”

Mengandung mafhum bahwa karena bershaf dengan rapat akan mengandung mafsadat, maka dalam kondisi tertentu shaf boleh d renggangkan. Bukan meniadakan shalat di masjid dan menetapkan harus shalat di rumah.

Sabtu, 08 Februari 2020

Shalat Tahiyatul Masjid Saat Khutbah Jum'at

*ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪ ِِﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢِ*
 

☘ *ONE DAY ONE HADITS* 
Jum'at, 13 Jumadil Akhir 1441 H / 07 Februari 2020 M.

*Shalat Tahiyatul Masjid Saat Khutbah Jum'at*

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ « أَصَلَّيْتَ يَا فُلاَنُ » . قَالَ لاَ . قَالَ « قُمْ فَارْكَعْ »

“Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, ada seseorang yang datang dan saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah pada hari Jum’at. Nabi bertanya padanya (di tengah-tengah khutbah), “Apakah engkau sudah shalat wahai fulan?” “Belum”, jawabnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan, “Berdirilah, shalatlah.” (HR. Bukhari no. 930)

*Beberapa Pelajaran yang terdapat dalam Hadits :*

1⃣ Jika ada yang masuk masjid dalam keadaan imam sedang khutbah Jumat, apakah disyariatkan tetap shalat tahiyatul masjid? Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menurut madzhab kami –madzhab Syafi’i- disunnahkan baginya untuk shalat dua raka’at yaitu shalat tahiyyatul masjid. Ia memperingan shalat tersebut dan makruh meninggalkannya. Inilah pendapat dari Al-Hasan Al-Bashri, Makhul, Al-Maqbari, Sufyan bin ‘Uyainah, Abu Tsaur, Al-Humaidi, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir, Daud dan ulama lainnya.” (Al-Majmu’, 4: 299)

2⃣ Dalil dalam masalah ini :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ « أَصَلَّيْتَ يَا فُلاَنُ » . قَالَ لاَ . قَالَ « قُمْ فَارْكَعْ »

“Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, ada seseorang yang datang dan saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah pada hari Jum’at. Nabi bertanya padanya (di tengah-tengah khutbah), “Apakah engkau sudah shalat wahai fulan?” “Belum”, jawabnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan, “Berdirilah, shalatlah.” (HR. Bukhari no. 930)

3⃣ Dalam riwayat lain disebutkan,

فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ

“Lakukanlah shalat dua raka’at.” (HR. Bukhari no. 931)

Imam Bukhari membawakan judul Bab untuk riwayat terakhir,

باب مَنْ جَاءَ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

“Bab: Siapa yang datang dan imam sedang berkhutbah, lakukanlah shalat dua raka’at ringan.”

4⃣ Dalam riwayat Muslim disebutkan riwayat berikut,

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِىُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَخْطُبُ فَجَلَسَ فَقَالَ لَهُ « يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا – ثُمَّ قَالَ – إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا ».

“Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata, Sulaik Al-Ghathafani datang pada hari Jum’at dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah, lantas Sulaik masuk masjid lalu langsung duduk.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah khutbah berkata padanya, “Wahai Sulaik, berdirilah, lakukanlah shalat dua raka’at. Kerjakanlah sekedar yang wajib saja dalam dua raka’at tersebut. Kemudian ia berkata, “Jika salah seorang di antara kalian datang pada hari Jum’at dan imam sedang berkhutbah, maka lakukanlah shalat dua raka’at. Namun cukupkanlah dengan yang wajib saja (ringkaslah, pen.).” (HR. Muslim no. 875)

5⃣ Faedah dari Imam Nawawi rahimahullah yang bisa digali dari hadits di atas, jika seseorang memasuki masjid pada hari Jumat dan imam sedang berkhutbah, disunnahkan untuk melaksanakan shalat dua rakaat tahiyyatul masjid, dan dimakruhkan langsung duduk sebelum shalat. Disunnahkan shalat tersebut dalam keadaan ringkas agar bisa mendengarkan khutbah setelah itu. (Syarh Shahih Muslim, 6: 146)

*Tema Hadits yang Berkaitan dengan Al-Qur'an*

Allah azza wa jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allâh dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. [al-Jumu’ah/62:9].

وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِين

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk” (QS. Al-Baqarah – 43).

Allah juga berfirman,

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُواْ أَسْلِحَتَهُم

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata” (QS. An-Nisa : 102).

*Demikian, Semoga Bermanfaat. Aamiin*

Aqulu qauli hadza, wa astaghfirullaha li wa lakum. 

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ

Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik... 

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu”.

==================================

🍃 Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺑَﻠِّﻐُﻮﺍ ﻋَﻨِّﻰ ﻭَﻟَﻮْ ﺁﻳَﺔً

*“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”*
*(HR.Bukhari)*

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍْﻷَﺟْﺮِ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺟُﻮْﺭِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮْﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻭَﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔٍ ، ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻣِﺜْﻞُ ﺁﺛَﺎﻡِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺁﺛَﺎﻣِﻬِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ

*Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.*
*(HR.Muslim)*

Dakwah di jalan Allâh Azza wa Jalla merupakan amal yang sangat mulia, ketaatan yang besar dan ibadah yang tinggi kedudukannya di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ﻭَﻟْﺘَﻜُﻦْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺃُﻣَّﺔٌ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻳَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِۚ ﻭَﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

*Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang  yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.*
*(QS.Ali-Imran [3] :104)*

Dinukil dari berbagai Sumber Yang In Syaa Allah amanah...

Semoga bermanfaat bagi Ummat...

Selamat beraktifitas...
Baarakallahufiikum...

Rabu, 13 November 2019

sholat isyraq

Bagaimana derajat hadis salat Isyraq ? apakah dapat diamalkan ?
Jawab :
Hadis yang dijadikan dalil salat isyraq setidaknya ada lima jaur riwayat dengan rincian sebagai berikut :
1.  Ibnu Umar
عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ.
Dari Anas bin Malik berkata : Rasulullah Saw bersabda : “ Siapa yang salat subuh berjamaah kemudian duduk berdzikir sampai terbit mataharikemudian salat dua rakaat, maka baginya pahala semisal dengan pahala haji dan umrah, sempuna, sempurna, sempurna (H.R. Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, 1/727)
Namun dalam sanadnya ada rawi bernama Abu Dzilal, berikut adalah penilaian para ulama Jarh Ta’dil terhadap Abu Dzilal, Yahya bin Ma’in “Laisa bi Syaiin” “dhaif al-Hadits” (al-Jarh wa at-Ta’dil, 9/73) Nasa’i “Dhaif” (ad-Dhu’afa wa al-Matrukin, 104) Ibnu ‘Adi “kebanyakan periwayatannya tidak disertai (mutaba’ah) periwayatan orang yang tsiqat” (al-Kamil fi Dhuafa’ ar-Rijal, 7/119) Ibnu Hibban “Seorang Syaikh yang kadang lalai, meriwayatkan dari Anas bi Malik, padahal bukan dari Anas “. Imam Bukhari “Pada riwayat Abu Dzilal dari Anas kebanyakan hadis-hadisnya munkar” (ad-Dhu’afa al-Kabir, 4/345)
Riwayat Abu Dzilal dari Anas bin Malik ada mutaba’ah bagi Abu Dzilal yaitu Yazid al Qaqqasyi, Qatadah dan Tsabit al-Bunani. Namun sayangnya ketiganya tidak menyebutkan adanya salat dua rakaat isyraq tapi hanya sekedar keutamaan salat subuh dan duduk dzikir setelahnya sampai matahari terbit. menyendiri dalam periwayatan hadis ini dari Anas bin Malik tanpa adanya mutabi’ dari yang lain, sehingga hadis tersebut terkategori munkar.
Ada tiga alasan, pertama imam bukhari memang tidak menyebutkan semua riwayatnya munkar, namun khusus jalur dari Anas bin Malik beliau menilainya munkar. Kedua, Anas bin Malik termasuk sahabat yang banyak murid, setidaknya tercatat ada 217 (tahdzib al-kamal) dan mayoritas tsiqat, namun tidak ada satupun yang meriwayatkan matan yang sama dengan Abu Dzilal. Ketiga, Abu Dzilal menyendiri dalam periwayatan, kalau seandainya riwayat tersebut dipastikan dari Anas bin Malik, tentunya para muridnya yang tsiqat, asbath, lebih banyak mulazamah dengan Anas bin Malik meriwayatkann pula hadis tersebut. Dengan demikian jalur Anas bin Malik ini termasuk hadis munkar yang sangat lemah, tidak dapat menguatkan maupun dikuatkan
2.  Abu Umamah
Hadis diatas memang ada syawahid dari riwayat yang lain, diantarannya dari Abu Umamah, Aisyah dan Ibnu Umar. Dari Jalur Abu Umamah ada dua jalur periwayatan. Pertamam dari jalur al- Ahwas. Al-Ahwas sendiri merupakan rowi yang lemah Ibnu Ma’in menilai: “La Syai” (dloif). Juga Imam An-Nasai menilai dloif. Adapun Imam Ahmad mengatakan: “Haditsnya tidak ada satupun yang lurus”. Al-Ahwash bin Hakim tidak kuat, dia rowi Munkarul Hadits. Ibnu ‘Uyainah mendahulukan Al-Ahwash daripada Tsaury dalam Hadits, maka (Nampak) keliru (penilaian) ibnu ‘Uyainah dalam mendahulukan Ahwash daripada Tsaury. Imam Tsaury itu Shoduq sedang Al-Ahwash rowi munkarul hadits”. Salah satu bukti al-Ahwas ini lemah adalah jalurnya idthirab (goncang). Berikut penjelasannya
1.   Ahwash« Abu ‘Amir « Abu Umamah r.a« Nabi saw
2.  Ahwash« Abu ‘Amir « ‘Utbah r.a« Aby Umamah r.a« Nabi saw
3.  Ahwash« Abu ‘Amir« Abu Umamah r.a dan Utbah r.a« Nabi saw
al Ahwas kadang menyebutkan dari Abu Amir dari Abu Umamah, kadang dari Abu Amir dari Utbah dari Abu Umamah, kadang pula dari Abu Amir dari Abu Umamah dan Utbah. Kesimpulanya jalur Abu Umamah yang melewati al-Ahwas ini munkar dan idhtirab sehingga dihukumi dhaif ghair muhtamal yang tidak bisa dijadikan sebagai syahid atau penguat.
Jalur kedua Jalur sanadnya: Husein« Al-Mughiroh« Utsman bin Abdurrohman« Musa bin ‘ulay« Yahya« Al-Qosim« Aby Umamah r.a« Nabi saw. Masalah ada pada rawi Ustman bin Abdurrahman dan Musa bin ‘Ulay. Usman bin Abdurrahman, komentar para ulama
1.  Ibn Hajar dalam taqrib “dia rowi shoduq, tapi kebanyakan riwayatnya dari rowi-rowi dloif dan dari rowi-rowi majhul (tidak dikenal) karena itulah ia didloifkan dengan sebab itu sehingga Ibnu Namir menisbahkannya dengan dusta. (Taqrib at-Tahdzib, 666)
2.  Imam Al-Bukhory mengatakan: “dia meriwayatkan dari orang-orang lemah (dloif). Adapun Abu hatim menilai rowi ini shoduq. Dan Abu ‘Arubah menilai: ”dia tidak apa-apa dan ia meriwayatkan dari kaum yang majhul dengan kemungkaran” (Tahdzib al-Kamal, 19/429).

Dari penelitian terbukti bahwa Musa bin ‘Ulay bukanlah Musa bin ‘Ulay al-Lahmy tapi Musa bin ‘Ulay yang termasuk majhul ‘Ain. Karena Yahya dan Musa bin ‘Ulay tidak mempunyai sanad keguruan. Begitu juga al-Lahmy tidak mempunyai murid yang bernama Usman bin Abdurrahman. 

Dengan demikian jelaslah bahwa jalur Usman bin Abdurrahman dari Musa bin “ulayya hadisnya munkar serta ada rawi yang majhul ‘Ain sehingga masuk dalam kategori sangat lemah tidak dapat menguatkan maupun dikuatkan. Sedangkan sanad yang mahfudz adalah sanad melalui Shadaqah bin Khalid (H.R. al-Baihaqi), Haitsan bin Humaid (H.R. Abu Dawud), Suwaid bin Abdul Aziz (H.R. Thabarani), Ismail bin Iyyas (H.R. Ahmad) dan al-Walid bin Muslim (H.R. Thabarani). Kelimanya merupakan murid dari Yahya bin al-Harits. Kelima rawi tersebut hanya memberitakan pertama, keutamaan seseorang keluar rumah untuk shalat wajib dengan pahala seperti orang beribadah haji. Kedua, keutamaan seseorang keluar rumah untuk salat dluha atau salat sunnah dengan pahala seperti orang beribadah umrah. Tidak menerangkan duduk-duduk kemudian salat dua rakaat isyraq.
3.  Ibnu Umar 
Adapun dari sahabat Ibnu Umar ada tiga jalur riwayat, pertama dari al Ahwas, termasuk jalur mudhtharib dan munkar. Jalur kedua, dari Khalid bin Ma’dan, dalam sanadnya ada Salm bin al-Mughirah, imam Ahmad berkata “jangan catat hadis-hadis gharib sesungguhnya termasuk hadis-hadis munkar” jalur inipun lebih dekat kepada munkar. Disamping ada keterputusan sanad antara Khalid bin Ma’dan dari Ibn Umar, sehingga jalur ini terkategori dhaif ghair muhtamal tidak dapat dijadikan penguat maupun dikuatkan. Ketiga jalur imam Nafi’ namun dalam sanadnya ada Rawi yang bernama al-Fadl bin Muwaffaq dinilai lemah oleh Abu Hatim dan terkadang meriwayatkan hadis-hadis palsu. al-Fadl bin Muwaffaq menyendiri dalam periwayatan dari gurunya Malik bin Mighwal, jika kita lihat dalam kitab-kitab jarh ta’dil tidak ditemukan bahwa murid Malik bin Mighwal adalah al-Fadl bin Muwaffaq dengan demikian lebih dekat kepada munkar dan tidak dapat menguatkan maupun dikuatkan. Dengan demikian keseluruhan jalur Ibnu Umarpun tidak terlepas dari kedhaifan yang sangat, sehingga tidak dapat dijadikan mutabaah maupun syawahid.
4.  Aisyah
Hadisnya ada dalam al-Kamil Ibn ‘Adi, namun dalam sanadnya ada Rawi yang bernama Ishaq bin Bisyri, Imam ad-Daraqutni menilainya pemalsu hadis sedangkan imam al-Azdi menilainya matruk al-hadits (Lisan al-Mizan, 2/44-45)
5.  Muaz bin Anas al-Juhany 
Hadisnya diriwayatkan oleh imam al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra, namun dalam sanadnya ada tiga rawi dhaif dan tafarrud sehingga masuk dalam kategori dhaif ghair muhtamal tidak dapat menguatkan maupun dikuatkan.
Kesimpulannya, pertama, walaupun terdapat lima jalur sahabat, namun semuanya tidak terlepas dari kedhaifan dan munkar, sehingga tidak dapat saling menguatkan maupun dikuatkan. Dengan demikian tidak dapat dijadikan hujah dan tidak dapat diamalkan.

Minggu, 02 Juni 2019

SHALAT KAFARAH HARI JUM’AT AKHIR RAMADHAN

*ANALISIS HADIS*
*SHALAT KAFARAH HARI JUM’AT AKHIR RAMADHAN*

Medsos kembali viral dengana danya beberapa share/broadcast terkait hadis yang menyatakan adanya Shalat Kafarah pada hari jumat akhir dari Bulan Ramadhan.
Hadis yang dimaksud adalah,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من فاتة صلاة فى عمرة ولم يحصها فليقم فى اخر جمعة من رمضان ويصلى اربع ركعات بتشهد واحد يقرا فى كل ركعة فاتحة الكتاب وسورة القدر خمسة عشر مرة وسورة الكوثر خمسة عشر مرة

Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang selama hidupnya pernah meninggalkan shalat tetapi tak dapat menghitung jumlahnya, maka shalatlah di hari Jum’at terakhir bulan Ramadhan sebanyak 4 rakaat dengan 1 kali tasyahud, dan setiap rakaat membaca 1 kali surat al Fatihah kemudian surat al Qadar 15 kali dan surat al Kautsar 15 kali.”

Terdapat pula hadis dengan redaksi

ﻣﻦ ﺻﻠﻰ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺟﻤﻌﺔ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺍﻟﺨﻤﺲ ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﺍﻟﻤﻔﺮﻭﺿﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻭﺍﻟﻠﻴﻠﺔ، ﻗﻀﺖ ﻋﻨﻪ ﻣﺎ ﺃﺧﻞ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺻﻼﺓ ﺳﻨﺘﻪ
Barang siapa pada hari Jumat terakhir bulan ramadlan melakukan sholat lima yang difardhukan selama sehari semalam, maka hal itu bisa menggodhoi shalat yang ia tinggalkan selama setahun.

Selain itu terdapat redaksi lain dari perkataan Khalifah Abu Bakar al-Sidiq yang berbunyi sebagai berikut,

قال ابو بكر سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول هذة الصلاة كفارة اربعمائة سنة حتى قال على كرم الله وجهه هي كفارة الف سنة قالوا يا رسول الله صلى الله عليه وسلم ابن ادم يعيش ستين سنة او مائة سنة فلمن تكون الصلاة الزائدة قال تكون لإبوية و زوجتة و لإولادة فأقاربة و اهل البلد.

Khalifah Abu Bakar as Sidiq berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah SAW, beliau bersabda shalat tersebut sebagai kafarat (pengganti) shalat 400 tahun. Dan menurut Sayidina Ali ibn Abi Thalib shalat tersebut sebagai kafarat 1000 tahun. Maka bertanyalah para sahabat: “Umur manusia itu hanya 60 tahun atau 100 tahun, lalu untuk siapa kelebihannya?”. Rasulullah SAW menjawab, “Untuk kedua orang tuanya, untuk istrinya, untuk anaknya dan untuk sanak familinya serta orang-orang dilingkungannya.”

*ANALISIS HADIS*

Hadis ini merupakan hadis palsu yang dibuat-buat oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak ada dasarnya, tidak ada ashlnya, tidak terdapat jalur periwayatan atau sanad secara utuhnya dan tidak terdapat dalam kitab-kitab mu’tabarah mashadir al-ashliyyah.

Setelah melakukan search dari beberapa kitab, kami menemukan diantara hadis ini dalam al-Fawaid al-Majmu’ah fii al-Ahadits al-Maudhu’ah karya Muhammad bin Ali bin Muhammad al-Syaukani (TW 1250H) yang di tahqiq oleh Abdurrahman bin Yahya al-Ma’mali al-Yamani, cetakan Dar al-Kutub al-‘Alamiyyah, Bairut – Libanon nomor 115, beliau memberikan keterangan sebagai berikut

115 - حديث: "مَنْ صَلَّى فِي آخِرِ جُمُعَةٍ مِنْ رَمَضَانَ الْخَمْسَ الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوضَةَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ قَضَتْ عَنْهُ مَا أَخَلَّ بِهِ مِنْ صَلاةِ سُنَّتِهِ.
هَذَا: مَوْضُوعٌ لا إِشْكَالَ فِيهِ وَلَمْ أَجِدْهُ فِي شَيْءٍ مِنَ الْكُتُبِ الَّتِي جَمَعَ مُصَنِّفُوهَا فِيهَا الأَحَادِيثَ الْمَوْضُوعَةَ وَلَكِنَّهُ اشْتَهَرَ عِنْدَ جَمَاعَةٍ مِنَ الْمُتَفَقِّهَةِ بِمَدِينَةِ صَنْعَاءَ فِي عَصْرِنَا هَذَا وَصَارَ كَثِيرٌ مِنْهُمْ يَفْعَلُونَ ذَلِكَ وَلا أَدْرِي مَنْ وَضَعَهُ لَهُمْ.

Tidak di ragukan lagi, bahwa hadis ini adalah hadis maudhu (palsu). Dan tidak aku temukan sedikitpun dalam kitab yang menghimpun hadis-hadis palsu. Akan tetapi hadis ini masyhur dikalangan orang-orang yang mengaku ahli fikih di kota Sana’a di masa kami ini. Dan pada akhirnya banyak dari mereka yang melakulannya. Aku tidak tahu siapa yang memalsukannya.” (al-Fawaid al-Majmu’ah juz 1 halaman 54)

*AMALAN HADIS*

Shalat merupakan ibadah mahdhah, sedangkan ashl dalam ibadah adalah haram untuk dilakukan atau wajib didiamkan sehingga ada dalil shahih yang memerintahkannya, dan sumber dalil pokok adlah al-Quran dan al-Sunnah.
Dengan demikian, haram melakukan shalat kafarah ini karena tidak ada dalil shahih sharih yang bersumber dari Rasulullah Saw.

*DALIL SHAHIH TERKAIT SHALAT YANG TERTINGGAL*

*1. Apabila lupa*

597 - حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، وَمُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، قَالاَ: حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ {وَأَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِي} [طه: 14] "، قَالَ مُوسَى: قَالَ هَمَّامٌ: سَمِعْتُهُ يَقُولُ: بَعْدُ: «وَأَقِمِ الصَّلاَةَ للذِّكْرَى»، قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: وَقَالَ حَبَّانُ: حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، حَدَّثَنَا أَنَسٌ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ

Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah bersabda: Barangsiapa lupa melakulan salat, maka salatlah saat mengingatnya. Tidak ada kaffarat (tebusan) kecuali (mengqadha) tersebut. (dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku, Qs. Thaha: 14).  (HR al-Bukhari, juz 1 halaman 122 no. 597, cet. Dar Thauq al-Najah)

*2. Apabila tertidur*

Terdapat beberapa hadis, diantaranya terdapat dalam Musnad Abi Ya’la

3086 - حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ نَامَ عَنْ صَلَاةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا»

Dari Anas bin Malik ra ia berkata, Rasulallah Saw bersabda: Barangsiapa yang terlewat shalat karena tidur atau karena lupa, maka ia wajib shalat ketika ingat” (Musnad Abi Ya’la, Juz 5 halaman 349 no. 3.086, tahqiq Husain Salim Asad cet. Dar al-Ma’mun liturats, Damaskus)

*3. Kondisi darurat hingga waktu shalat terlewat beberapa waktu*

a. Kondiri diatas bisa kita lihat bagaimana Praktek Nabi Saw Mengqadha’ Empat Waktu Shalat Dalam Perang Khandaq
Yaitu ketika Rasulullah Saw meninggalkan 4 waktu shalat, yaitu Dzhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya ketika berkecamuk perang Khandaq di tahun kelima hijriyah.

عَنْ نَاِفع عَنْ أَبِي عُبَيْدَة بنِ عَبْدِ الله قَالَ : قاَلَ عَبْدُ الله : إِنَّ الْمُشْرِكِينَ شَغَلُوا رَسُولَ اللَّهِ عَنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ يَوْمَ الْخَنْدَقِ حَتَّى ذَهَبَ مِنَ اللَّيْلِ مَا شَاءَ اللَّهُ فَأَمَرَ بِلاَلاً فَأَذَّنَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعِشَاءَ

Dari Nafi’ dari Abi Ubaidah bin Abdillah, telah berkata Abdullah,”Sesungguhnya orang-orang musyrik telah menyibukkan Rasulullah SAW sehingga tidak bisa mengerjakan empat shalat ketika perang Khandaq hingga malam hari telah sangat gelap. Kemudian beliau SAW memerintahkan Bilal untuk melantunkan adzan diteruskan iqamah. Maka Rasulullah SAW mengerjakan shalat Dzuhur. Kemudian iqamah lagi dan beliau mengerjakan shalat Ashar. Kemudian iqamah lagi dan beliau mengerjakan shalat Maghrib. Dan kemudian iqamah lagi dan beliau mengerjakan shalat Isya.” (HR. At-Tirmizy dan AnNasa’i)

b. Praktek Nabi SAW Mengqadha Shalat Shubuh Sepulang dari Perang Khaibar

Selain itu juga apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika tertidur dan habis waktu Shubuh saat terjaga saat pulang dari perang Khaibar di tahun ketujuh hijriyah.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : سِرْنَا مَعَ النَّبِيِّ لَيْلَةً فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ لَوْ عَرَّسْتَ بِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَخَافُ أَنْ تَنَامُوا عَنْ الصَّلاةِ . قَالَ بِلالٌ أَنَا أُوقِظُكُمْ فَاضْطَجَعُوا وَأَسْنَدَ بِلالٌ ظَهْرَهُ إِلَى رَاحِلَتِهِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ فَنَامَ فَاسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ وَقَدْ طَلَعَ حَاجِبُ الشَّمْسِ فَقَالَ يَا بِلالُ أَيْنَ مَا قُلْتَ قَالَ مَا أُلْقِيَتْ عَلَيَّ نَوْمَةٌ مِثْلُهَا قَطُّ قَالَ إِنَّ اللَّهَ قَبَضَ أَرْوَاحَكُمْ حِينَ شَاءَ وَرَدَّهَا عَلَيْكُمْ حِينَ شَاءَ يَا بِلالُ قُمْ فَأَذِّنْ بِالنَّاسِ بِالصَّلاةِ فَتَوَضَّأَ فَلَمَّا ارْتَفَعَتْ الشَّمْسُ وَابْيَاضَّتْ قَامَ فَصَلَّى

Dari Abdullah bin Abi Qatadah dari ayahnya berkata,”Kami pernah berjalan bersama Nabi SAW pada suatu malam. Sebagian kaum lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sekiranya anda mau istirahat sebentar bersama kami?” Beliau menjawab: “Aku khawatir kalian tertidur sehingga terlewatkan shalat.” Bilal berkata, “Aku akan membangunkan kalian.” Maka mereka pun berbaring, sedangkan Bilal bersandar pada hewan tunggangannya. Namun ternyata rasa kantuk mengalahkannya dan akhirnya Bilal pun tertidur. Ketika Nabi SAW terbangun ternyata matahari sudah terbit, maka beliau pun bersabda: “Wahai Bilal, mana bukti yang kau ucapkan!” Bilal menjawab: “Aku belum pernah sekalipun merasakan kantuk seperti ini sebelumnya.” Beliau lalu bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla memegang ruh-ruh kalian sesuai kehendak-Nya dan mengembalikannya kepada kalian sekehendak-Nya pula. Wahai Bilal, berdiri dan adzanlah (umumkan) kepada orang-orang untuk shalat!” kemudian beliau SAW berwudhu, ketika matahari meninggi dan tampak sinar putihnya, beliau pun berdiri melaksanakan shalat.” (HR. Al-Bukhari)

*4. Ketika seseorang meninggalkan shalat dengan sengaja*

Orang yang meninggalkan shalat karena lalai sehingga waktunya habis, maka ia masuk golongan kafir (secara lughah) dan termasuk pada mukmin yang ma’shiyat dan wajib bertaubat dan tidak ada kafarah.

Orang yang meninggalkan shalat karena berkeyakinan shalat tidak wajib, maka ia telah mencederai rukun Islam, maka ia dinyatakan kafir (murtad aqidah). Ia wajib taubat dan tidak mengulanginya dan tidak ada kafarah.

Selasa, 09 April 2019

Satu rakaat

Bissmillaah, pnten..nerasken ptarosan tipayun
مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

“Siapa yang mendapatkan satu raka’at, maka ia mendapatkan shalat jama’ah.” (HR. Bukhari, no. 580 dan Muslim, no. 607)....
mndak ktrangan "man adroka rukuan, faqod adroka rok'atan"...kmh mksadna srg kmh asbabul wurudna 🙏🏻 Jazaakallahu khoeron

Maksadna "saha wae anu tos sampurna rakaatna, maka tos kengeng sarokaat".

Sarokaat teh terdiri dari:
1. Takbir ihram
2. Baca fatihah
3. Rukuk
4. I'tidal
5. Sujud
6. Duduk antara dua sujud
7. Sujud
8. Bangkit dr sujud

Nah itu rangkaian 1 rakaat

Minggu, 24 Maret 2019

Tahiyat tahrik

2. perhatikan menit ke 01.24
katanya dalam shahih muslim nomor 408 , isinya: Nabi kalau duduk tahiyat

يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ الَّتِى تَلِى الإِبْهَامَ الى القبلة

Nabi kalo duduk tahiyyat jari telunjuk menunjuk ke arah kiblat (sambil mengnagkat jari telunjuk seraya berdoa) Asyhadu an laa ilaa ha illallah..."
dan menyalahkan yang jarinya di gerakgerakkan.

_______________
Bantahan:

ustadz ini justru yang bohong dan mengada-ngada, di riwayat shahih muslim tidak ada hadits yang ustadz sebutkan, berikut haditsnya:

7592 - وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ - وَاللَّفْظُ لَهُ - حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ عَنْ أَبِى حَازِمٍ أَنَّهُ سَمِعَ سَهْلاً يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ الَّتِى تَلِى الإِبْهَامَ وَالْوُسْطَى وَهُوَ يَقُولُ « بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ هَكَذَا ».

hadits yang disebut ada dalam Bab Dekatnya Kiamat, juz ke 8 halaman 208 no. 7592
menerangkan tentang dekatnya kiamat itu bagaikan jari telunjuk dan jari tengah. bukan menerangkan isyarat awal mengangkat telunjuk saat tasyahud.

setelah di takhrij seluruh hadits-hadits dari shahih Muslim, inilah hadits yang benar dalam kitab Shahih Muslim terkait isyarat telunjuk, berada dalam juz ke-2 halaman 90

1335 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْمَرِ بْنِ رِبْعِىٍّ الْقَيْسِىُّ حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ الْمَخْزُومِىُّ عَنْ عَبْدِ الْوَاحِدِ - وَهُوَ ابْنُ زِيَادٍ - حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنِى عَامِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَعَدَ فِى الصَّلاَةِ جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى بَيْنَ فَخِذِهِ وَسَاقِهِ وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ.

1336 - حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ ح قَالَ وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ - وَاللَّفْظُ لَهُ - قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الأَحْمَرُ عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَعَدَ يَدْعُو وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى إِصْبَعِهِ الْوُسْطَى وَيُلْقِمُ كَفَّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَهُ.

1339 - حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ أَبِى مَرْيَمَ عَنْ عَلِىِّ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُعَاوِىِّ أَنَّهُ قَالَ رَآنِى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَأَنَا أَعْبَثُ بِالْحَصَى فِى الصَّلاَةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ نَهَانِى فَقَالَ اصْنَعْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْنَعُ. فَقُلْتُ وَكَيْفَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْنَعُ قَالَ كَانَ إِذَا جَلَسَ فِى الصَّلاَةِ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الَّتِى تَلِى الإِبْهَامَ وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى.

tiga hadits ini berada dalam bab:

22 - باب صِفَةِ الْجُلُوسِ فِى الصَّلاَةِ وَكَيْفِيَّةِ وَضْعِ الْيَدَيْنِ عَلَى الْفَخِذَيْنِ.
Bab sifat duduk dalam shalat dan tatacara menyimpan tangan di atas kedua paha.

tidak ada hadits yang di ucapkan pak usatdz yang di video itu

Sunnah iftitah

1. perhatikan dari menit ke-50
hadits Allahu akbar kabiro sebagai sunnah iftitah.

memang betul, ada di shahih Muslim, juz 2 halaman 99 no. 1386

1386 - حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ أَخْبَرَنِى الْحَجَّاجُ بْنُ أَبِى عُثْمَانَ عَنْ أَبِى الزُّبَيْرِ عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنِ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا ». قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ ». قَالَ ابْنُ عُمَرَ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ ذَلِكَ.

redaksi yang benar itu hanya kalimat:
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

tidak ada tambahan "Inni wajahtu...." pada kenyataannya, orang-orang khusus NU (Maaf) menambahkan kalimat "Inni Wajahtu..." itu dari mana riwayatnya???

kemudian redaksi kalimat ini bukan dari Rasul, hanya ucapan seseorang yang d benarkan oleh Rasul. Hadits taqriri.

Bukan tambahan, tp diantara doa iftitiah itu ada bbrpa jenis, diantaranya:

1. Wajjahtu
2. Allohumma baa'id baini
3. Subhaanakallaahumma
4. Allahu akbar kabiro... Sampai kalimat Bukratawwa ashiilaa

Redaksi yang benar itu hanya kalimat

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

Tidak ada tambahan kalimat
"Inni wajjahtu...."

Sabtu, 23 Maret 2019

Mendahulukan lutut ketika sujud


*Hadits mendahulukan lutut:*

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ

Dari Wail bin Hujr, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah saw. bila hendak sujud beliau menyimpan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan bila bangkit beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya.” H.r. At-Tirmidzi, Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hiban, Al-Baihaqi, Al-Khatib Al-Bagdadi, Ibnu Khuzaimah, Ad-Daraquthni, At-Tabrani, dan Ad-Darimi.

*Hadits mendahulukan tangan*

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ

Dari Abu Huraerah, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang hendak sujud, maka janganlah menderum seperti menderumnya unta, dan hendaklah ia menempatkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya". H.r. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, Al-Baihaqi, Ad-Daraquthni, dan Ad-Darimi.

*Penjelasan*

Hadits yg menerangkan tentang mendahulukan tangan adalah dhaif, yg shahih mendahulukan lutut.

Maka ketika sujud, hendaklah mendahulukan lutut terlebih dahulu kemudian tangan

Sebetulnya tdk ada hadits rasul mendahulukan tangan, hadits ketika rasul sudah tua itu tentang duduk istirahat, yaitu :

_ketika hendak berdiri setelah sujud, rasul tidak berdiri kecuali duduk istirahat dulu_.

Namun jika masalahnya uzur, boleh2 saja mendahulukan tangan ketika hendak sujud, bahkan boleh juga shalatnya sambil duduk.

Hadis-hadis kaifiyat turun untuk sujud dengan mendahulukan tangan baik yang marfu maupun mauquf kedhaifannya karena semua sanadnya melalui rawi yang dhaif, yaitu *Abdul Aziz bin ad-Darawardi yang sayyiul hifzhi* (buruk hapalan).
Demikian pula mutabi'nya melalui rawi Abdullah bin Nafi as-Shaig yang juga sayyiul hifzhi.

Kelemahan ini bertentangan dgn hadits shahih dgn Rawi Syarik. Syarik meriwayatkan dlm keadaan tsiqah.

Ketika terjadi perbedaan riwayat, maka tentunya riwayat yg paling tsiqah yg diambil

Jumat, 01 Maret 2019

Dzikir setelah sholat

Setelah salam sebagai penutup shalat (fardhu), rasul langsung dzikir

كَانَ رَسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاثَاً ، وَقَالَ : (( اللَّهُمَّ أنْتَ السَّلاَمُ ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ ، تَبَارَكْتَ يَاذَا الجَلاَلِ وَالإكْرَامِ )) قِيلَ لِلأوْزَاعِيِّ – وَهُوَ أحَدُ رواة الحديث – : كَيْفَ الاسْتِغْفَارُ ؟ قَالَ : يقول : أسْتَغْفِرُ الله ، أسْتَغْفِرُ الله . رواه مسلم

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam selesai dari shalatnya (shalat fardhu), beliau beristighfar tiga kali dan mengucapkan “ALLAHUMMA ANTAS SALAAM, WA MINKAS SALAAM, TABAAROKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKROOM” (Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan. Mahasuci Engkau, wahai Tuhan Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).

Menguap ketika sholat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

التَّثَاؤُبُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ الشَّيْطَانُ
“Menguap adalah dari setan, jika salah seorang dari kalian menguap, maka hendaknya ditahan semampu dia, sesungguhnya jika salah seorang dari kalian (ketika menguap) mengatakan (keluar bunyi): ‘hah’, maka setan tertawa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan ini lafazh riwayat Al-Bukhari)

Dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan lafazh:

التَّثَاؤُبُ فِي الصَّلاةِ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ مَا اسْتَطَاعَ

“Menguap ketika shalat adalah dari setan, jika salah seorang dari kalian menguap, maka tahanlah semampunya.”

Ketika menguap berhenti dulu bacaannya

Jumat, 02 November 2018

Doa tahajud

Doa setelah Tahajjud

اَللهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ مَالِكُ السَّمَوَاتِ واْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاءُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ. اَللهُمَّ لَكَ اَسْلَمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْكَ اَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَاِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْلِيْ مَاقَدَّمْتُ وَمَا اَخَّرْتُ وَمَا اَسْرَرْتُ وَمَا اَعْلَنْتُ وَمَا اَنْتَ اَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. اَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَاَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَاِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ. وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ


ALLAAHUMMA LAKAL HAMDU ANTA QAYYIMUS SAMAA WAATI WAL ARDHI WA MAN FIIHINNA. WA LAKAL HAMDU ANTA MALIKUS SAMAA WAATI WAL ARDHI WA MAN FIIHINNA. WA LAKAL HAMDU ANTA NUURUS SAMAAWAATI WAL ARDHI WA MAN FIIHINNA. WA LAKAL HAMDU ANTAL HAQQU, WA WA’DUKAL HAQQU, WA LIQAA’UKA HAQQUN, WA QAULUKA HAQQUN, WAL JANNATU HAQQUN, WANNAARU HAQQUN, WANNABIYYUUNA HAQQUN, WA MUHAMMADUN SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAMA HAQQUN WASSAA’ATU HAQQUN. ALLAAHUMMA LAKA ASLAMTU, WA BIKA AAMANTU, WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU, WA ILAIKA ANABTU, WA BIKA KHAASHAMTU, WA ILAIKA HAAKAMTU, FAGHFIRLII MAA QADDAMTU, WA MAA AKH-KHARTU, WA MAA ASRARTU, WA MAA A’LANTU, WA MAA ANTA A’LAMU BIHIMINNII. ANTAL MUQADDIMU, WA ANTAL MU’AKHKHIRU, LAA ILAAHA ILLAA ANTA, WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH
Artinya :
“Wahai Allah! Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah penegak dan pengurus langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah penguasa (raja) langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah cahaya langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah Yang Hak (benar),janji-Mu lah yang benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, perkataan-Mu benar, surga itu benar (ada), neraka itu benar (ada), para nabi itu benar, Nabi Muhammad saw itu benar, dan hari kiamat itu benar(ada). Wahai Allah! Hanya kepada-Mu lah aku berserah diri, hanya kepada-Mu lah aku beriman, hanya kepada-Mu lah aku bertawakkal hanya kepada-Mu lah aku kembali, hanya dehgan-Mu lah kuhadapi musuhku, dan hanya kepada-Mu lah aku berhukum. Oleh karena itu ampunilah segala dosaku, yang telah kulakukan dan yang (mungkin) akan kulakukan, yang kurahasiakan dan yang kulakukan secara terang-terangan, dan dosa-dosa lainnya yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkaulah Yang Maha Terdahulu dan Engkaulah Yang Maha Terakhir. tak ada Tuhan selain Engkau, dan tak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Doa sholat istikharah

berikut teks doa istikharah:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى

“Allahumma inni astakhii-ruka bi ‘ilmika, wa astaq-diruka bi qud-ratika, wa as-aluka min fadh-likal adziim, fa in-naka taq-diru wa laa aq-diru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amro khoiron lii fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii faq-dur-hu lii, wa yas-sirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna hadzal amro syarrun lii fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii, fash-rifhu ‘annii was-rifnii ‘anhu, waqdur lial khoiro haitsu kaana tsumma ardhi-nii bih”

Kedua, sama dengan atas hanya ada beberapa kalimat yang berbeda, yaitu:
Kalimat [دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى] diganti dengan [عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ]. Sehingga, Teks lengkapnya:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى

Allahumma inni astakhii-ruka bi ‘ilmika, wa astaq-diruka bi qud-ratika, wa as-aluka min fadh-likal adziim, fa in-naka taq-diru wa laa aq-diru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amro khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih faq-dur-hu lii, wa yas-sirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna hadzal amro syarrun lii fii ‘aajili amrii wa aajilih, fash-rifhu ‘annii was-rifnii ‘anhu, waqdur lial khoiro haitsu kaana tsumma ardhi-nii bih.