Jumat, 03 Januari 2020
amalan orang beriman ketika kematian
Rabu, 01 Mei 2019
Iman yang lemah
Wa'alaikumussalaam warahmatullaah..
Bisa kita larang dgn menerapkan aturan (jika kita punya kedudukan RT/RW/Lurah dst)
Atau jika kita rakyat biasa, kita bisa larang dgn ucapan kita.
Jika kita tdk berani melarangnya, maka bencilah perbuatan tersebut dgn tdk ikut2an melakukan kemungkaran.
Yg ke-3 tanda iman kita lemah.
عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ [رواه مسلم]
Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. (Riwayat Muslim)
Selasa, 03 Juli 2018
Kesyirikan yang Dianggap Tradisi
Kesyirikan yang Dianggap Tradisi
Ketahuilah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati Anda, di tengah-tengah masyarakat kita masih banyak sekali praktik kesyirikan yang merusak bahkan membatalkan tauhid. Perbuatan-perbuatan tersebut dilakukan oleh sebagian orang dengan dalih bahwa amalan tersebut adalah tradisi dan adat-istiadat peninggalan leluhur. Padahal perbuatan tersebut adalah bentuk kesyirikan yang membahayakan agama mereka. Di antara perbuatan-perbuatan tersebut adalah:
1. Tathayyur
Tathayyur adalah beranggapan sial dengan waktu tertentu, tempat tertentu, atau sesuatu yang dilihat, didengar, atau diketahui. (al-Qaulul Mufid)
Di sebagian daerah, penduduk membangun rumah menghadap arah tertentu. Mereka juga memulai membangun dan menempatinya di hari tertentu, dengan keyakinan akan mendatangkan keberuntungan dan menjauhkan kesialan. Ada pula yang tidak mau berdagang di hari tertentu dan melarang pernikahan di bulan tertentu. Semua ini adalah bentuk tathayyur syirik, harus dijauhi oleh seorang muslim.
Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam berkata:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik.” (HR. Abu Dawud no. 3910, lihat al-Qaulul Mufid)
2. Tamimah
Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan pada seorang anak untuk menolak ‘ain atau musibah.
Sering kita melihat benda-benda yang digantungkan di rumah, mobil, toko, atau dipakaikan pada anak dengan niat menolak bala. Semua ini termasuk jenis tamimah yang syirik. Orang yang melakukannya terjatuh dalam kesyirikan. (Lihat al-Qaulul Mufid)
3. Tiwalah
Ia adalah sesuatu yang dibuat untuk membuat suami/seorang lelaki mencintai istrinya/seorang wanita atau sebaliknya.
Adapun dublah (cincin yang dipakai oleh seseorang setelah menikah) dengan keyakinan bahwa selama cincin emas tersebut dipakai maka pernikahannya akan tetap langgeng, ini adalah keyakinan yang syirik, karena tidak ada yang bisa membolak-balikan hati manusia selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Memakai cincin seperti ini minimal tasyabbuh (menyerupai) orang kafir, haram hukumnya. Bisa juga terjatuh ke dalam kesyirikan, jika dia berkeyakinan bahwa cincin itu bisa menjadi sebab langgengnya pernikahan. (Lihat al-Qaulul Mufid Syarah Kitabut Tauhid)
4. Jampi-jampi/mantra
Yang dimaksud adalah ruqyah (bacaan-bacaan) yang syirik, yang mengandung permintaan bantuan kepada jin.
Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam telah melarang tiga hal di atas dalam hadits beliau:
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguhnya jampi-jampi, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)
Adapun ruqyah yang dibenarkan oleh syariat adalah yang memenuhi tiga syarat berikut.
Bacaan dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan doa-doa yang baik.Menggunakan bahasa Arab dan dimengerti maknanya.Diyakini hanya semata-mata sebagai sebab, tidak bisa berpengaruh selain dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Lihat Fathul Majid)
5. Perdukunan
Ini adalah musibah yang melanda banyak kaum muslimin. Banyak orang menjadi pelanggan dukun dalam keadaan senang ataupun susah, padahal ancaman bagi dukun dan yang mendatanginya sangat besar. Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam berkata:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Barang siapa mendatangi dukun dan bertanya sesuatu, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam.” (HR. Muslim)
Dalam hadits lain, beliau Shallallahu `alaihi wa sallam berkata:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barang siapa mendatangi dukun dan bertanya sesuatu kemudian membenarkannya, dia telah mengkufuri apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah menegaskan bahwa mendatangi dukun ada beberapa rincian hukum.
Datang dan bertanya kepadanya, maka tidak diterima shalatnya empat puluh hari.Datang, bertanya kepadanya, dan membenarkan ucapannya, maka ia telah ingkar kepada apa yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam.Datang untuk membongkar kesesatannya, diperbolehkan. (Lihat al-Qaulul Mufid)
Adapun tentang kafirnya dukun, asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami menyebutkan sembilan alasan kafirnya dukun. Di antara yang beliau sebutkan adalah bahwa seorang dukun telah menjadi wali setan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya….” (al-An’am: 121)
Padahal setan tidak akan menjadikan seorang menjadi wali selain seorang yang kafir. (Lihat Ma’arijul Qabul hlm. 423—424)
6. Sembelihan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala
Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam telah memberitakan bahwa termasuk orang yang dilaknat adalah seorang yang melakukan sembelihan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam berkata:
لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ وَلَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَلَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ الْمَنَارَ
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang melaknat (mencerca) dua orang tuanya. Allah melaknat orang yang melindungi pelaku pelanggaran syar’i. Dan Allah melaknat orang yang mengubah-ubah batas tanah.” (HR. Muslim)
Di antara sembelihan yang dipersembahkan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah berbagai bentuk sembelihan untuk jin.
a. Larung (sedekah laut)
Di antara sembelihan syirik adalah sembelihan tahunan yang dipersembahkan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik untuk laut (sedekah laut), sungai, gunung, maupun yang lainnya.
b. Sembelihan untuk pengantin
Di sebagian tempat ada sebuah tradisi penyembelihan ketika ada pernikahan. Kedua mempelai diperintahkan untuk menginjakkan kedua kaki mereka di darah sembelihan tersebut sebelum memasuki rumahnya.
c. Sembelihan untuk rumah baru
Di sebagian daerah, ketika telah selesai membangun rumah, mereka menyembelih seekor hewan. Sebagian mereka bahkan menanam kepala hewan tersebut di rumah barunya. Ini juga termasuk sembelihan yang syirik.
d. Memenuhi keinginan jin yang masuk pada tubuh seseorang
Ketika ada orang kerasukan jin kemudian diruqyah, jin terkadang minta disembelihkan hewan untuk dirinya. Jika terjadi hal demikian, permintaan jin itu tidak boleh ditunaikan, karena hal tersebut adalah sembelihan untuk jin.
7. Kesyirikan di kuburan
Di antara perbuatan syirik yang dianggap biasa adalah perbuatan-perbuatan di pekuburan sebagai berikut.
a. Berdoa kepada penghuni kubur
b. Nadzar untuk penghuni kubur
c. Isti’anah, meminta tolong kepada penghuni kubur
d. Isti’adzah, meminta perlindungan kepada penghuni kubur
e. Istighatsah, meminta dihilangkan bencana kepada penghuni kubur
Ketahuilah, semua hal di atas adalah kemungkaran yang harus diingkari. Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam berkata:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa melihat kemungkaran hendaknya dia ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu juga maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim) (Lihat Ma’arijul Qabul, Ighatsatul Lahafan, Tahdzirul Muslimin)
8. Mencari berkah dari benda-benda tertentu
Sebagian orang mencari berkah kepada pohon, kuburan, atau benda-benda yang mereka miliki, seperti keris dan cincin.
Faedah
Tidak boleh bertabarruk (mencari berkah) dari diri seseorang, dengan tubuh atau bagian tubuh seseorang tertentu, selain Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam.
Seorang muslim tidak boleh mencari berkah dengan diri seseorang yang dianggap saleh, baik ludah, rambut maupun bagian tubuh lainnya.
Hal ini berdasarkan beberapa alasan.
Hal tersebut kekhususan bagi Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam.Tidak ada seorang pun setelah Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam wafat yang meminta berkah dengan bagian tubuh Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat lainnya. Seandainya hal tersebut dibolehkan, niscaya akan dilakukan oleh orang-orang di zaman mereka.Akan menyebabkan fitnah dan ujub (bangga diri) dari orang yang dimintai berkah. (Lihat Taisir al-‘Azizil Hamid, hlm. 144—145)
9. Sihir
Sihir adalah satu amalan kufur yang harus dijauhi oleh seorang muslim. Seseorang yang belajar dan mengajarkan sihir telah terjatuh dalam kekufuran.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (al-Baqarah: 102) (Lihat Ma’arijul Qabul hlm. 407—411)
10. Sedekah bumi
Sedekah bumi yaitu memberikan sesuguh/sesaji ketika hendak panen padi dan lainnya. Menurut mereka, sesaji itu dipersembahkan untuk Dewi Sri. Ini pun termasuk bentuk kesyirikan.
11. Sesajen
Yakni memberikan sesuguh untuk karuhun ketika hendak melaksanakan acara tertentu.
12. Memberikan penghormatan dengan membungkuk
Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, “Membungkuk ketika memberikan penghormatan adalah perbuatan yang dilarang. Hal ini sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, bahwa mereka bertanya tentang seseorang yang berjumpa dengan temannya lalu membungkuk kepadanya. Beliau nShallallahu `alaihi wa sallam berkata, “Tidak boleh.”
Juga karena ruku dan sujud tidak boleh dilakukan selain untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun hal ini menjadi bentuk penghormatan pada syariat sebelum kita, sebagaimana dalam kisah Yusuf ‘alaihissalam:
Dan ia menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Yusuf pun berkata, “Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu.” (Yusuf: 100)
Adapun dalam syariat kita, bersujud tidak diperbolehkan selain untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 1/259)
Ketahuilah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati Anda, apa yang kami sampaikan hanyalah sebagian amalan syirik yang ada di tengah-tengah masyarakat kita. Semuanya harus kita jauhi. Kita juga harus memperingatkan umat Islam untuk menjauhi amalan-amalan syirik.
Ketahuilah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati Anda, segala adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat harus tunduk kepada syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa: 65)
Janganlah kita seperti orang-orang jahiliah yang tidak mau beriman kepada Rasul Shallallahu `alaihi wa sallam dengan alasan mengikuti amalan nenek moyang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang keadaan kaum musyrikin:
Apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan oleh Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu pun dan tidak mendapat petunjuk?(al-Baqarah: 170)
Seorang muslim harus mendahulukan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas segala hal. Dia harus mengutamakan syariat daripada hawa nafsu, adat-istiadat, dan pendapat akalnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela orang yang lebih mendahulukan hawa nafsunya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutupan atas penglihatannya? Siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (al-Jatsiyah: 23)
Mudah-mudahan tulisan yang ringkas ini bisa menjadi nasihat dan menjadi salah satu sebab musnahnya praktik-praktik kesyirikan yang telah menyebar di negeri kita ini.
Minggu, 03 Juni 2018
Sifat malu
Malu itu ada 2:
1. Sifat kemanusiaan
Erat dgn kejiwaan atau nilai sikologi manusia yang bersifat umum.
Contoh dasar; seseorg malu jika berjoget d depan org lain, namun sbgian org ada yg tdk malu.
Seseorg malu jk berbicara dgn lelaki, namun untuk sbgian wanita tdk malu.
Dari sini bs d ukur akan nilai rasa malu itu yg bersifat relatif.
2. Syari'at
Rasa malu ini bersifat mutlaq. Seperti rasa malu yg timbul karena memang faktor syariat meski secara kemanusiaan pun akan malu.
Contoh dasarnya adalah terlihatnya aurat.
Faktor syariatnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam
إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء
“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain,
الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَر
“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”(HR. Al Hakim dalam Mustadroknya 1/73. Al Hakim mengatakan sesuai syarat Bukhari Muslim, begitu pula Adz Dzahabi)
Begitu jelas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memberikan teladan pada kita, bahwasanya rasa malu adalah identitas akhlaq Islam. Bahkan rasa malu tak terlepas dari iman dan sebaliknya. Terkhusus bagi seorang muslimah, rasa malu adalah mahkota kemuliaan bagi dirinya. Rasa malu yang ada pada dirinya adalah hal yang membuat dirinya terhormat dan dimuliakan.
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128) Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang adalah wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/191)
Kamis, 31 Mei 2018
KEKAYAAN HATI ADALAH KEKAYAAN YANG PALING HAKIKI.
KEKAYAAN HATI ADALAH KEKAYAAN YANG PALING HAKIKI.
عن عبدالله بن عمرو ابن عاس رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
Dari Abdullah bin Amr ibnu 'As Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Alloh menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.”
HR. Muslim.
Seandainya seseorang mengetahui kenikmatan yang seakan mendapatkan dunia seluruhnya, sehingga akan mensyukurinya dan selalu merasa qona’ah berkecukupan.
Kenikmatan tersebut adalah kenikmatan memperoleh makanan untuk hari yang tengah dijalani saat ini, kenikmatan aman ditempat tinggal dan kenikmatan kesehatan badan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من أصبح منكم آمنا في سربه معافى في جسده عنده قوت يومه فكأنما حيزت له الدنيا
“Barangsiapa di antara kalian merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesehatan badan, dan diberi makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dia telah memiliki dunia seluruhnya.”
HR. Tirmidzi.
Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan
Oleh karena itu, banyak berdo’alah pada Allah agar selalu diberi kecukupan.
Do’a yang selalu dipanjatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah do’a:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Ya Alloh, aku meminta padaMu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘iffah dan ghina.
HR. Muslim
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, '
Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.”
HR. Muslim, 17/41.
Ya Alloh, berikanlah pada kami sifat ‘iffah dan ghina.
Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholeh.
Alloh mengingatkan kepada makhlukNya akan semua nikmat yang telah Alloh limpahkan kepada mereka.
Saat kamu terlelap tidur, bisa jadi pintu langit diketuk puluhan do'a yang pernah dimohonkan kebaikan untukmu....
do'a tersebut mustajab datang
dari orang faqir yang pernah kamu tolong,
dari orang lapar yang pernah kamu beri makan,
dari orang sedih yang pernah kamu bahagiakan,
dari orang yang berpapasan yang pernah kamu beri senyuman.
dari orang yang dihimpit kesulitan yang pernah kamu lapangkan.
maka berbagai kebaikan yang dilakukan
jangan pernah diremehkan walau
terlihat kecil....
Ibnu Qayyim AlJauziah.
هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُم
Bahwasanya kalian mendapat pertolongan dan rizki disebabkan
adanya yang lemah di antara kalian......
HR.Bukhari 2896.
dilimpahkan pertolongan dan rizki dari Alloh,akibat ungkapan syukur dari mereka kalangan lemah yang pernah kamu bantu...
Dan barangsiapa yg memudahkan kesulitan seseorang yang dililit hutang, niscaya Alloh akan memudahkan segala sesuatu baginya di dunia dan di akhirat.
HR. Muslim 2699.
Rabu, 30 Mei 2018
Level keimanan
menyimak pernyataan Rasulullah : 👇
من رأى منكم منكرًا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان -
Dari Abu Said Al Khudri radhiyallahu anhu dia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.. (HR. Muslim)
iman level 1 : mengingatkan dan memperbaiki kemunkaran dengan kekuasaan atau keteladanan..
iman level 2 : mengingatkan dan memperbaiki kemungkaran dengan bahasa...
iman level 3 : tidak mengingatkan dan tidak memperbaiki.. hanya mengeluh dan mendoakan...
keimanan kita di level ke satu ke dua atau ketiga ya ?
mudah2an level kita di level ke 1 .. yaitu *menjadi teladan...*
aamiiin..
Kamis, 08 Maret 2018
Apa itu iman, islam dan ihsan
kenapa harus ada rukun iman segala sih? :
قَالَ : فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِيْمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang Iman.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Orang tadi berkata, “Engkau benar.” (HR. Muslim, no. 8)
supaya kta tau.. bahwa Allah ada dan yg nyiptain kita jg ngatur kita itu Allah yang maha sempurna dan maha baik..
supaya kita tau bahwa ada malaikat yang selalu ngikutin kita.. jadi kita ati ati ngelakuin apapun..
supaya kita tau bahwa apa yang Allah mau dan dipantau trs sama malaikat ada semua nya di alquran.
supaya kita ngerti bahwa hanya ke Rasulullah Allah nyampein semua yg ada di quran.. gak ke yang lain...
supaya kita sadar bahwa semua yg kita suka di dunia ini akan hilang hancur.. ada kiamat...
supaya kita tentram.. bahwa kalau kita beriman sama semua yang diatas itu swmua yang baik dan buruk itu dari Allah dan pasti baik biat kita karena Allah maha baik..
kalau rukun islam... ? kan kewajiban itu banyak.. kenape hanya 5 aja yg di kedepanin :
وَقاَلَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَمِ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ ، وَتَحُجَّ البَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً .
ia (jibril) berkata, “Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.”
iya .. ini hal hal prioritas.. yang dituntunkan jibril kepada Rasulallah saw..
syahadat.. ini ikrar hidup bahwa akan hidup dalam ibadah dan akan betul betul hanya akan ibadah sesuai dengan keinginan Allah yang dicontohkan Rasul gak bikin2 sendiri..
sholat ... difahami betul.. sampai semua prilaku kita sesuai dengan makna dari semua bacaan sholat kita... (spt kalau kita takbir.. berarti kita akan merendah tidak sombong)
zakat .. ditunaikan dalam bentuk zakat infaq shodaqoh.. supaya hati tidak tertutup harta dan lensa mata hatinya bisa jelas menatap keagungan Allah .. tidak di gelapkan ditutup harta..
shaum ... supaya kita tidak tamak dan berlebih dalam makan serta bisa merasakan penderitaan mereka yang kerap lapar perutnya dalam menjalani hidup..
hajji ... agar kita selalu berpikir .. betapa bahagianya berjamaah dalam taat bersama mengharap ridlo Allah dan kompak mendapatkan ampunan Allah sampai kita bersama ke surga...
itu hanya pendapat saja, hanya sudut pandang...
Ini jarang dibahas... IHSAN ... padahal kan penting.. justru ini yang nyangkut kehidupan...
kan Rasul menjawab pertanyaan jibril tentang ihsan bro.. :
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ .
“Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
yaa jarang dibahas...
padahal ini landasan akhlaq...
kalau rukun iman nya sudah mewarnai jiwa kita... rukun islam nya sudan menasihati sampai membentuk katakter kita..
maka
insyaallah kita akan merasakan bagaimana Allah selalu menatap kita dan sangat terasa belaian dan sentuhan Allah... sehingga apapun yang dilakukan pasti sangat sungguh sungguh karena pasti ngerasa malu diliat trs sama Allah...
lebih dari itu... setiap mushibah sepahit apapun akan sangat terasa sebagai anugrah kasih ilahi..
ihsan adalah sikap taqwa karena sungguh2 melaksanakan rukun islam dengan rukun iman sebagai motif nya...
menjaga agar ihsan tetap hadir pada jiwa kita :
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ
“Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah pada saat kamu masih sehat disertai pelit (sulit mengeluarkan harta), saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, “Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1032).
harta adalah penutup mata hati kita .. sampai sampai kalau pelit kita sulit menatap keagungan Allah dengan jelas.. artinya sulit bagi kita untuk beramal dalam ihsan kita..