Tampilkan postingan dengan label dzikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dzikir. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Maret 2019

Dzikir setelah sholat

Setelah salam sebagai penutup shalat (fardhu), rasul langsung dzikir

كَانَ رَسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاثَاً ، وَقَالَ : (( اللَّهُمَّ أنْتَ السَّلاَمُ ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ ، تَبَارَكْتَ يَاذَا الجَلاَلِ وَالإكْرَامِ )) قِيلَ لِلأوْزَاعِيِّ – وَهُوَ أحَدُ رواة الحديث – : كَيْفَ الاسْتِغْفَارُ ؟ قَالَ : يقول : أسْتَغْفِرُ الله ، أسْتَغْفِرُ الله . رواه مسلم

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam selesai dari shalatnya (shalat fardhu), beliau beristighfar tiga kali dan mengucapkan “ALLAHUMMA ANTAS SALAAM, WA MINKAS SALAAM, TABAAROKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKROOM” (Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan. Mahasuci Engkau, wahai Tuhan Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).

Selasa, 29 Mei 2018

Cara mengatasi hati tdk tenang dan banyak pikiran

Wa'alaikumussalam warohmatulloh..

Tipikal sprti ini biasanya juga akan bnyk rasa ke khawatiran dan peka terhadap perasaan. Maaf,biasanya jg mudah tersinggung.

Banyak berdzikir, sandarkan semuanya pd Allah.

Allâh Jalla Jalaluhu berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berdzikir (mengingat) Allâh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allâh hati menjadi tenteram [ar-Ra’du/13:28]

Kamis, 26 April 2018

ALLOH AKAN MENGAMPUNI DOSA YANG LUPA DAN TERPAKSA.

ALLOH AKAN MENGAMPUNI DOSA YANG LUPA DAN TERPAKSA.

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لأنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu.
Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya.
Maka mereka itulah orang yang beruntung.
QS.AtTaghobun 16.

عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِيْ عَنْ أُمَّتِي : الْخَطَأُ وَالنِّسْيَانُ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ [حديث حسن رواه ابن ماجة والبيهقي وغيرهما]

Dari Ibnu Abbas radiallahuanhuma : Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda :

"Sesungguhnya Allah ta’ala memafkan umatku,disebabkan beberapa kesalahan, baik lupa atau terpaksa “.
HR.Ibnu Majah dan Baihaqi dan lainnya

Alloh ta’ala mengutamakan umat dan hambanya dengan menghilangkan berbagai kesulitan dan memaafkan dosa dan kesalahan.

Sesungguhnya Alloh ta’ala tidak menghukum seseorang,kecuali jika dengan sengaja berbuat maksiat dan hatinya telah bermaksud untuk melakukan penyimpangan dan meninggalkan kewajiban dengan sukarela .

Manfaat adanya kewajiban, adalah untuk mengetahui siapa yang tha’at dan siapa yang membangkang.

MENGGAPAI HIDUP YANG TENANG DAN SEJAHTERA DUNIA DAN AKHIRAT.

MENGGAPAI HIDUP YANG TENANG DAN SEJAHTERA DUNIA DAN AKHIRAT.

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Mereka yang beriman dengan hati mereka menjadi tentram dan tenang dengan mengingat Allah.
Dan hanya dengan mengingat Alloh hati akan menjadi tenang.”
QS.ArRa’ad 28.

Disamping itu, seandainya kematian akan menjemput dirinya, keimanan kepada Alloh subhaanahu wa ta’ala dengan segala yang dimilikinya,tidak akan membuat seorang muslim takut kepada mati,bahkan  akan menyambut kematian itu dengan jiwa yang tenang.
Allah subhaanahu wa ta’ala akan memanggilnya dengan panggilan yang sangat indah dan menyenangkan.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ، ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً،  فَادْخُلِي فِي عِبَادِي،  وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan keridloan yang Aku diridhai.
Masuklah menjadi hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu.”
QS.AlFajr  27-30.

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ وَمُجَاهِدُ بْنُ مُوسَى قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي شُمَيْلَةَ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مِحْصَنٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ، قال: قال رَسُولُ اللَّهِ  مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Sa’id dan Mujahid bin Musa, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abu Syumailah dari Salamah bin ‘Ubaidillah bin Mihshan al-Anshari dari ayahnya dia berkata:

“Barangsiapa yang di pagi hari sehat badannya, tenang jiwanya, dan dia mempunyai makanan pada hari itu, maka seolah-olah dunia ini dikaruniakan kepadanya.”
HR.Ibnu Majah Az-Zuhd Al-Qana’ah 4141.

Setiap manusia, apalagi sebagai muslim, tentu mendambakan kehidupan yang baik dan menyenangkan di dunia ini.

Untuk bisa merasakan kehikmatan hidup di dunia ini,inilah perkara yang harus dimiliki oleh seorang muslim, sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa yang di pagi hari sehat badannya, tenang jiwanya, dan dia mempunyai makanan di hari itu,maka seakan dunia ini dikaruniakan kepadanya.”

*Badan yang sehat merupakan suatu kenikmatan tersendiri bagi manusia yang tidak ternilai harganya,* rasanya tidak ada artinya segala sesuatu yang kita miliki bila kita tidak memiliki kesehatan jasmani.
Apa artinya harta yang berlimpah dengan kedudukan yang tinggi,bila dalam kehidupan di dunia ini tidak sehat.
Oleh karena kesehatan bukan hanya harus dibanggakan dihadapan orang lain, tetapi yang lebih penting lagi adalah harus disyukuri kepada yang memberi anugerahnya, Alloh subhaanahu wa ta’ala.

Hal yang tidak kalah pentingnya, dari badan yang sehat akan tumbuh jiwa yang tenang, sebab apa artinya manusia memiliki jiwa yang sehat bila jiwanya tidak tenang, bahkan badan kondisi sakitpun  tidak akan terlalu berat  bila dihadapi dengan jiwa yang tenang. Bahkan ketenangan jiwa bila menjadi washilah untuk bisa menyembuhkan dari berbagai penyakit.

Jiwa yang tenang adalah jiwa yang selalu berdzikir kepada Alloh subhaanahu wa ta’ala, karena itu, orang yang ingin meraih ketenangan hidup dijalani kehidupan dengan segala aktivitasnya karena Allah, dengan ketentuan yang telah digariskan Allah subhaanahu wa ta’ala, dan untuk meraih ridha dari Alloh subhaanahu wa ta’ala.

Dengan demikian,sumber ketenangan hidup bagi seorang muslim adalah keimanan kepada Alloh subhaanahu wa ta’ala dan selalu berdzikir kepada Alloh.

Oleh karena itu, memiliki makanan yang cukup atau perekonomian yang memadai merupakan suatu kenikmatan tersendiri dalam hidup ini, sedangkan bila kondisi kehidupan seseorang dalam keadaan lapar, dan ia tidur dalam keadaan yang demikian, maka hal itu merupakan sesuatu yang sangat jelek, karenanya Rasulullah Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- selalu berdo’a sebagaimana terdapat dalam hadits,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُوعِ فَإِنَّهُ بِئْسَ الضَّجِيعُ

“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari lapar, karena ia adalah teman tidur yang paling jelek"
HR.Abu Daud.

Jiwa yang tenang adalah jiwa yang selalu berdzikir kepada Alloh subhaanahu wa ta’ala.
Sebab itu, yang ingin meraih ketenangan hidup,hendaklah dijalani kehidupan dengan penuh dzikir kepada Alllh,ridlo dengan ketentuan yang telah digariskan Alloh subhaanahu wa ta’ala,serta untuk meraih ridha dari Allah subhaanahu wa ta’ala. Dengan demikian, sumber ketenangan hidup bagi seorang muslim adalah dengan banyak berdzikir kepada Alloh subhana wata'ala.

Selasa, 20 Februari 2018

Dzikir berjamah setelah sholat?


Tanya :
Bismillah. Ustd, hw brdsar hadits ibnu Abas, bhw rasullahu brsm2 pr sahabt (stlh brjamaah) snantiasa brzkir brsama2 dn dg di jaharkan..
* shahih kah dalil dr ibnu abas tsb..
* syukron ustd..

Jawab :
Haditsna shahih.

Berikut hadits dr perkataan Ibn Abbas:

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

“Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari no. 805 dan Muslim no. 583)

*PENJELASAN*

Hadits ini bukan syariat untuk zikir dgn d keraskan, tp hadits ini menerangkan ketika Rasulullaah saw mengajarkan para sahabat.

Jadi ketika mendidik, mengajarkan para sahabat, Rasul mengeraskan suara dzikirnya.

Jumhur Ulama berpendapat tdk bolehnya menjaharkan ketika dzikir. Dengan dalil:

Hadits Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ ، تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ »

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika sampai ke suatu lembah, *kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah (pelankanlah) suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghoib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.”* (HR. Bukhari no. 2830 dan Muslim no. 2704).

Hal ini menunjukkan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah suka dengan suara keras saat dzikir dan do’a.

Ath-Thobari rahimahullah berkata,

فِيهِ كَرَاهِيَة رَفْع الصَّوْت بِالدُّعَاءِ وَالذِّكْر ، وَبِهِ قَالَ عَامَّة السَّلَف مِنْ الصَّحَابَة وَالتَّابِعِينَ اِنْتَهَى

“Hadits ini menunjukkan dimakruhkannya mengeraskan suara pada do’a dan dzikir. Demikianlah yang dikatakan para salaf yaitu para sahabat dan tabi’in.” (Fathul Bari, 6: 135)

Adapun anjuran mengeraskan suara pada dzikir sesudah shalat, tidaklah tepat. Karena yang dilakukan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidaklah membiasakan hal itu.  

Sekali lagi, *Beliau pernah melakukannya, itu hanya dalam rangka ta’lim atau pengajaran, bukan kebiasaan yang terus menerus.*
Demikianlah pendapat Imam Syafi’i dan pendapat mayoritas ulama lainnya. Imam Syafi’i dalam Al Umm (1: 151) berkata,

وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلم الناس منه وذلك لأن عامة الروايات التي كتبناها مع هذا وغيرها ليس يذكر فيها بعد التسليم

“Aku menganggap bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaherkan suaranya sedikit untuk mengajari para sahabat. Karena kebanyakan riwayat yang aku tulis dan riwayat lainnya menyebutkan bahwa beliau tidak berdzikir dengan tahlil dan takbir setelah salam. Dan terkadang beliau juga berdzikir dengan tata cara yang pernah disebutkan.”

Imam Syafi’i berpendapat bahwa asal dzikir adalah dengan suara lirih (tidak dengan jahar), berdalil dengan ayat,

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula terlalu merendahkannya” (QS. Al Isro’: 110).

Imam Syafi’i rahimahullah berkata tentang ayat tersebut, “Janganlah menjaherkan, yaitu mengeraskan suara. Jangan pula terlalu merendehkan sehingga engkau tidak bisa mendengarnya sendiri.” (Al Umm, 1: 150)

Adakah dalil dzikir atau doa berjamaah?

Teu aya dalilan.
Dzikirmah nyalira bari merendah.

Dalilna:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ

“Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang.” (QS. Al A’raf: 205).

Jumat, 02 Februari 2018

Adakah dzikir dengan berjamaah di mesjid?

Jawab :
Tidak ada dalil nya
Dzikirlah dengan sendiri dan merendah.

Dalilnya:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ

“Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang.” (QS. Al A’raf: 205).

Dzikir dengan suara keras & berjamaah?

Bismillah. Ustd, barusan di kajian rutin tasawuf di tvri, Beliau menjawab prtanyaan (hal dzikir)...; bhw brdsar hadits ibnu Abas, bhw rasullahu brsm2 pr sahabt (stlh brjamaah) snantiasa brzkir brsama2 dn dg di jaharkan..
* shahih kah dalil dr ibnu abas tsb..
* syukron ustd..

Jawab :
Haditsna shahih.

Berikut hadits dr perkataan Ibn Abbas:

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

“Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari no. 805 dan Muslim no. 583)

*PENJELASAN*

Hadits ini bukan syariat untuk zikir dgn d keraskan, tp hadits ini menerangkan ketika Rasulullaah saw mengajarkan para sahabat.

Jadi ketika mendidik, mengajarkan para sahabat, Rasul mengeraskan suara dzikirnya.

Jumhur Ulama berpendapat tdk bolehnya menjaharkan ketika dzikir. Dengan dalil:

Hadits Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ ، تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ »

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika sampai ke suatu lembah, *kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah (pelankanlah) suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghoib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.”* (HR. Bukhari no. 2830 dan Muslim no. 2704).

Hal ini menunjukkan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah suka dengan suara keras saat dzikir dan do’a.

Ath-Thobari rahimahullah berkata,

فِيهِ كَرَاهِيَة رَفْع الصَّوْت بِالدُّعَاءِ وَالذِّكْر ، وَبِهِ قَالَ عَامَّة السَّلَف مِنْ الصَّحَابَة وَالتَّابِعِينَ اِنْتَهَى

“Hadits ini menunjukkan dimakruhkannya mengeraskan suara pada do’a dan dzikir. Demikianlah yang dikatakan para salaf yaitu para sahabat dan tabi’in.” (Fathul Bari, 6: 135)

Adapun anjuran mengeraskan suara pada dzikir sesudah shalat, tidaklah tepat. Karena yang dilakukan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidaklah membiasakan hal itu.  

Sekali lagi, *Beliau pernah melakukannya, itu hanya dalam rangka ta’lim atau pengajaran, bukan kebiasaan yang terus menerus.*
Demikianlah pendapat Imam Syafi’i dan pendapat mayoritas ulama lainnya. Imam Syafi’i dalam Al Umm (1: 151) berkata,

وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلم الناس منه وذلك لأن عامة الروايات التي كتبناها مع هذا وغيرها ليس يذكر فيها بعد التسليم

“Aku menganggap bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaherkan suaranya sedikit untuk mengajari para sahabat. Karena kebanyakan riwayat yang aku tulis dan riwayat lainnya menyebutkan bahwa beliau tidak berdzikir dengan tahlil dan takbir setelah salam. Dan terkadang beliau juga berdzikir dengan tata cara yang pernah disebutkan.”

Imam Syafi’i berpendapat bahwa asal dzikir adalah dengan suara lirih (tidak dengan jahar), berdalil dengan ayat,

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula terlalu merendahkannya” (QS. Al Isro’: 110).

Imam Syafi’i rahimahullah berkata tentang ayat tersebut, “Janganlah menjaherkan, yaitu mengeraskan suara. Jangan pula terlalu merendehkan sehingga engkau tidak bisa mendengarnya sendiri.” (Al Umm, 1: 150)