Tampilkan postingan dengan label jama qashar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jama qashar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Maret 2019

Tempat kerja dan sekolah adalah muqim

Bismillah .
Pa ustad menyambung pertanyaan tentang sholat yg td bnyk menanyakan d radio .
Tentang sholat qosor .kalau kerja nya d bandung .tp dari rumah jaraknya nyampai 8km ke tempat kerjanya .apa itu harus d qosor juga .
Soalnya waktu ahad kemaren d tempat kajian ada ustad yg menerangkan .jarak 8km itu harus d qosor  walaupund tempat kerja bertahun tahun .
Apakah seperti itu ?
Minta penjelasannya.
Htr nhb

Jawab :
Tempat kerja adalah muqim, bukan sedang safar, maka tidak boleh d qoshor/jama'.

Qosor/jama' boleh d lakukan salah satunya jika dlm keadaan safar.

Kalau sekolah di luar kota/negeri?

Tidak boleh jika niatnya muqim.
Kecuali ia safar : bolak balik indonesia - Mesir (misalnya sekolahnya d mesir).

Namun jika sekolah d luar negeri selama bertahun2, misal 1thn sekali pulang, maka itu sudah muqim.

Betul, tempat belajarnya masuk muqim.

Perjalanan antara rumah - pesantren, boleh di jama/qoshor

Selasa, 23 Oktober 2018

Jama di tempat sendiri

Safar jama qashar? Jama ditempat sendiri?

1. Ketika safar lebih baik d jama qoshor.

2. Di tempat sendiri tdk boleh d jama taqdim, hanya boleh d jama takhir saja, dgn ketentuan:
- kondisi sibuk
- tertidur

Pertanyaan ;
Bolehkah jama takdim atau takhir dilakukan di tempat sendiri? Dalam kondisi apa? Saya sering perjalanan pulang tidak sempat maghrib di jalan, jadi maghrib dan isya di jama dirumah, apakah boleh?
Jawab :
Ini sudah d bahas juga
Boleh juga jama takhir d tempat sendiri kasusnya sprti yg pa haji alami

Hukum jama qashar ketika safar

Itu di buku dalilnya, bhwa rasul selalu menjama qoshor setiap safar.

Dan ini dalil menjama shalat saat safar tanpa ada sebab apapun selain safar:

جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍقِيْلَ لِابْنِ عَبَّاسٍ لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ قَالَ كَيْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ

“Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjama antara Zhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya’ di Madinah tanpa sebab takut dan hujan.” Ketika ditanyakan hal itu kepada Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu , beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Agar tidak memberatkan ummatnya.” (Hr. Muslim)

Rabu, 10 Oktober 2018

Jama qashar

Pertanyaan
Seseorang berjalan jauh tapi tanpa niat safar. Bolehkah menjama’ qasar salat Dzuhur dan Ashar namun salat Maghrib dan Isya secara tam (tidak diqasar).

Jawaban
Safar adalah seseorang pergi meninggalkan tempat tinggalnya  dan orangnya disebut musafir. Adapun jarak safar yang paling dekat untuk dapat jamak dan qashar salat yaitu jarak dari rumah Nabi saw. sampai ke Dzulhulaifah, _+ 6 Km.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: صَلَّيْتُ الظُّهْرَ مَعَ النَّبِيِّ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَبِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ.
Dari Anas, ia berkata , “Saya salat dzuhur empat raka’at bersama Nabi di Madinah dan salat asar di Dzulhulaifah dua raka’at.” H.r. Al-Jama’ah

Dan kami tidak mendapatkan keterangan bahwa niat atau tidak niat safar menjadi sebab melakukan jama dan qashar itu. Di samping itu tidak ditemukan keterangan bahwa Rasul saw. tidak mengqosor dan tidak menjamak pada waktu safar. Karena itu, hendaklah salat maghrib dan isya dilakukan dengan jama’ dan qasar.

Senin, 19 Februari 2018

Apakah dibolehkan jama’ selain dalam safar?

Dibolehkannya jama’ dalam keadaan-keadaan berikut ini :

1. Safar

و حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَعَمْرُو بْنُ سَوَّادٍ قَالَا أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي جَابِرُ بْنُ إِسْمَعِيلَ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَجِلَ عَلَيْهِ السَّفَرُ يُؤَخِّرُ الظُّهْرَ إِلَى أَوَّلِ وَقْتِ الْعَصْرِ فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمَا وَيُؤَخِّرُ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْعِشَاءِ حِينَ يَغِيبُ الشَّفَقُ

Dan telah menceritakan kepadaku Abu Thahir dan 'Amru bin Sawwad keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah menceritakan kepadaku Jabir bin Ismail dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, apabila beliau menyegerakan safarnya, maka beliau mengakhirkan shalat zhuhur hingga awal waktu ashar, lalu beliau menjamak antara keduanya, beliau juga akhirkan Maghrib hingga beliau menjamak dengan isya` sampai mega merah menghilang." (HR. Muslim no.1145 atau 704)

2. Terhalang oleh sakit yang memberatkan, atau hujan yang menyulitkan, atau urusan lain yang terdesak dan tidak bisa ditinggalkan

و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ وَأَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ وَاللَّفْظُ لِأَبِي كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ كِلَاهُمَا عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ فِي حَدِيثِ وَكِيعٍ قَالَ قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ قَالَ كَيْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ وَفِي حَدِيثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ قِيلَ لِابْنِ عَبَّاسٍ مَا أَرَادَ إِلَى ذَلِكَ قَالَ أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah (dan diriwayatkan dari jalur lain) telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib dan Abu Said Al Asyajj sedangkan lafadznya milik Abu Kuraib, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Waki', keduanya dari Al A'masy dari Habib bin Abu Tsabit dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas katanya; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menjamak antara zhuhur dan ashar, maghrib dan isya` di Madinah, bukan karena ketakutan dan bukan pula karena hujan." Dalam hadis Waki', katanya; aku tanyakan kepada Ibnu Abbas; "Mengapa beliau lakukan hal itu?" Dia menjawab; "Beliau ingin supaya tidak memberatkan umatnya." (HR. Muslim no.1151 atau 705)

Dokter dan suster yang sedang menangani pasien dalam kondisi terdesak tidak dapat ditinggalkan, masuk dalam poin nomor 2. Sedangkan yang dalam keadaan macet, jika ia berkendaraannya itu termasuk safar, maka dibolehkan jama dengan sebab safar. Namun jika tidak dianggap safar, tidak mudah dimasukkan dalam poin dua, karena sejauh mana hal itu terdesak, apalagi jika terjadi setiap hari. Maka ia mesti berusaha untuk turun terlebih dahulu melaksanakan shalat, dan jika terpaksa tidak bisa turun, tidak mengapa shalat di atas kendaraan. Wallahu A’lam.

Selasa, 30 Januari 2018

Ukuran jarak safar untuk jama qashar?

Kalau tentang bagaimana jarak ukuran safar dibolehkan jama atau qoshor, sudah pernah dibahas. Karena bisa jadi ragu itu disebabkan belum mengetahui bagaimanakah safar yg dibolehkan jama/qoshor.

*Ukuran Jarak Rukhsoh Safar*

1. 4 Burd/16 Farsakh/48 Mil/72 KM antara Mekkah ke Jeddah/Usfan/Thaif, zaman dulu ditempuh dua hari. Ini pendapat jumhur ulama (Malik, Syafi'i, Ahmad, dll)

Berdasarkan hadits

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهم – يَقْصُرَانِ وَيُفْطِرَانِ فِى أَرْبَعَةِ بُرُدٍ وَهْىَ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا
“Dahulu Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum mengqashar shalat dan tidak berpuasa ketika bersafar menempuh jarak 4 burud (yaitu: 16 farsakh).” (HR. Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad-. Diwasholkan oleh Al Baihaqi 3: 137. Lihat Al Irwa’ 565)

2. Perjalanan yang ditempuh selama tiga hari. Ini pendapat Abu Hanifah beserta para sahabatnya.

Berdasarkan hadits

dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ
“Janganlah seseorang itu bersafar selama tiga hari kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari no. 1086 dan Muslim no. 1338).

3. 1 Farsakh/3 Mil/5 KM. Ini pendapat Ibnu Hajar dan yang lainnya.

Berdasarkan hadits

عَنْ يَحْيَى بْنِ يَزِيدَ الْهُنَائِىِّ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ قَصْرِ الصَّلاَةِ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلاَثَةِ أَمْيَالٍ أَوْ ثَلاَثَةِ فَرَاسِخَ – شُعْبَةُ الشَّاكُّ – صَلَّى رَكْعَتَيْنِ
“Dari Yahya bin Yazid Al Huna-i, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Anas bin Malik mengenai qashar shalat. Anas menyebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh –Syu’bah ragu akan penyebutan hal ini-, lalu beliau melaksanakan shalat dua raka’at (qashar shalat).” (HR. Muslim no. 691).

4. Tidak ada batasan jarak selama itu dinamakan safar. Ini pendapat madzhab Zhahir, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, dll.

Yang paling kuat insya Allah pendapat keempat, karena hadits-hadits yg disebutkan di atas bukanlah pembatasan jarak safar bolehnya jama' atau qoshor, tetapi hanya merupakan penyebutan jarak suatu peristiwa safar yang pernah dilakukan. Apalagi hadits perempuan tidak boleh safar tiga hari tanpa mahram sama sekali tidak menunjukkan batas dibolehkannya qashar. Karena tidak ada dalil khusus pembatasan, maka dikembalikan kepada makna safar itu sendiri, selama suatu perjalanan itu disebut safar menurut 'urf (adat) maka disana dibolehkan menjama' dan mengqashar shalat, buka shaum, dll, safar dalam bentuk apapun. Karena Al-Qur'an dan hadits menyebutkan SAFAR saja secara muthlaq tanpa ada pembatasan jarak.

Wallahu A'lam.