Tampilkan postingan dengan label tahiyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tahiyat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Desember 2019

tahiyat shubuh tawaruk atau iftirasy

🔴 Posisi duduk pada tahiyat subuh apakah tawaruk atau iftirasy ?

berdasarkan hadis
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ أَنَّهُ كَانَ جَالِسًا مَعَ نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْنَا صَلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَبُو حُمَيْدٍ السَّاعِدِيُّ أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلَا قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ
Dari Muhammad bin 'Amru bin 'Atha', bahwasanya dia duduk bersama beberapa orang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, mereka bercerita tentang shalatnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka berkatalah Abu Hamid As Sa'idi, "Aku adalah orang yang paling hafal dengan shalatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, jika shalat aku melihat beliau takbir dengan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan pundaknya, jika rukuk maka beliau menempatkan kedua tangannya pada lutut dan meluruskan punggungnya. Jika mengangkat kepalanya, beliau berdiri lurus hingga seluruh tulung punggungnya kembali pada tempatnya semula. Dan jika sujud maka beliau meletakkan tangannya dengan tidak menempelkan lengannya ke tanah atau badannya, dan dalam posisi sujud itu beliau menghadapkan jari-jari kakinya ke arah kiblat. Apabila duduk pada rakaat kedua, beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan kakinya yang kanan. Dan jika duduk pada rakaat terakhir, maka beliau memasukkan kaki kirinya (di bawah kaki kanannya) dan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk pada tempat duduknya." (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/165)
Wajh al-Istidalnya
فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ
Dan jika duduk pada rakaat terakhir, maka beliau memasukkan kaki kirinya (di bawah kaki kananya) dan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk pada tempat duduknya."
Dari keterangan diatas, maka duduk tawaruk itu disyariatkan pada rakaat terakhir pada setiap salat, baik salat dua rakaat mauapun salat lebih dari dua rakaat. Adapula yang mendalilkan bahwa semua salat yang dua rakaat maka cara duduknya iftirasy dengan dalil umum
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ { الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السَّجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ جَالِسًا وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلَاةَ بِالتَّسْلِيمِ وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ نُمَيْرٍ عَنْ أَبِي خَالِدٍ وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عَقِبِ الشَّيْطَانِ

Dari Aisyah radhiyallahu'anha dia berkata, "Dahulu Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam membuka shalat dengan takbir dan membaca, 'Al-Hamdulillah Rabb al-Alamin'. Dan beliau apabila rukuk niscaya tidak mengangkat kepalanya dan tidak menundukkannya, akan tetapi melakukan antara kedua hal tersebut. Dan beliau apabila mengangkat kepalanya dari rukuk, niscaya tidak bersujud hingga beliau lurus berdiri, dan beliau apabila mengangkat kepalanya dari sujud niscaya tidak akan sujud kembali hingga lurus duduk, dan beliau membaca tahiyyat pada setiap dua raka'at. Beliau menghamparkan kaki kirinya dan memasang tegak lurus kakinya yang kanan. Dan beliau melarang duduknya setan, dan beliau melarang seorang laki-laki menghamparkan kedua siku kakinya sebagaimana binatang buas menghampar. Dan beliau menutup shalat dengan salam." Dan dalam riwayat Ibnu Numair dari Abu Khalid, "Dan beliau melarang duduk seperti duduknya setan."  (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 2/54)
Kalimat yang dijadikan wajh al-istidlalnya
فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى
dan beliau membaca tahiyyat pada setiap dua raka'at. Beliau menghamparkan kaki kirinya dan memasang tegak lurus kakinya yang kanan
Jika kita gabungkan dua hadis tersebut, maka jelaslah bahwa kalimat  pada setiap dua rakaat itu maksudnya adalah pada salat yang ada tahiyat awalnya yang terletak biasanya pada rakaat kedua, dalam rakaat salat yang lebih dari dua rakaat. Bukan pada setiap salat dua rakaat. Adapun pada setiap rakaat terakhir, maka duduknya tawaruk. Karena wajh al-Istidlal hadis sebelumnya sebelumnya menunjukan bahwa Rasulullah Saw pertama, duduk iftirasy pada  tahiyat awal. Kedua, duduk tawaruk pada rakaat terakhir.

Selasa, 22 Oktober 2019

Menggerakan Telunjuk ketika tahiyat

Analisa Matan Sahabat Wail bin Hujr secara tegas memulai riwayatnya dengan kalimat: لَأَنْظُرَنَّ اِلَى الصَّلَاةِ رَسُوْلِ اللهِ ص كَيْفَ يُصَلِّي, فَنَظَرْتُ اِلَيْهِ…ثُمَّ رَفَعَ اِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهُا يَدْعُوْ بِهَا … “Sungguh benar-benar aku ingin melihat bagaimana Rasulullah saw bersembahyang? Lalu aku melihat padanya...kemudian Rasulullah mengangkat telunjuknya dan Aku Melihat beliau menggerak-gerakkan telunjuknya, seraya berdoa bersama telunjuknya.” Demikianlah Wail memulai pembicaraanya. Di dalam perkataannya tampak jelas terlihat keinginannya yang teguh untuk meneliti bagaimana cara Rasulullah melaksanakan salat, dan benar-benar ia telah menyaksikannya. Setelah Wail menerangkan cara Rasulullah salat seperti yang disaksikannya dan akhirnya ia menegaskan cara mengangkat telunjuk, isyarat selama tasyahud dengan menggunakan kalimat yang sharih (jelas) lagi tegas bahwa benar-benar ia melihat dengan mata kepala sendiri. Wail dengan sengaja memperhatikan dan meneliti Rasulullah dalam shalat baik ia nyatakan dengan kata-kata yang meyakinkan, yaitu “aku melihat”. Dijelaskannnya bahwa, selama bacaan tasyahhud yang isinya doa kepada Allah, beliau terus menerus menggerak-gerakkan telunjuknya. Di situ dinyatakan bahwa permulaan isyarat tersebut dari sejak beliau meletakkan tangan di atas pahanya. Jadi jelas bahwa telunjuk itu digerak-gerakkan selama bacaan tasyahud dari awal sampai akhir. Hal ini menunjukkan bahwa Keterangan Wail bersifat muqayyad, yakni ditegaskan sifat isyaratnya. Sedangkan keterangan yang menyatakan Rasulullah saw. berisyarat dengan telunjuknya tanpa keterangan tahrikus sababah (menggerak-gerakkan telunjuk), yaitu keterangan Abdullah bin Zubair dan Ibnu Umar tidak terdapat ketegasan “aku melihat” dan bagaimana bentuk berisyarat itu. Hal ini menunjukkan bahwa Keterangan mereka bersifat mutlaq (tidak ditegaskan sifatnya). Berarti di antara hadis Wail dan Ibnu Zubair-Ibnu Umar tidak bertentangan melainkan hamlul mutlaq ‘alal muqayyad, yaitu hadis Wail jadi penegas dan jadi taqyid (pembatas) keterangan Ibnu Zubair-Ibnu Umar yang mutlaq (umum). Dengan perkataan lain, isyarat yang dimaksud berupa menggerak-gerakkan telunjuk. Berdasarkan analisa di atas, kami berkesimpulan bahwa menggerak-gerakkan telunjuk waktu duduk tasyahhud merupakan sunah Rasul yang layak diamalkan.

Minggu, 24 Maret 2019

Tahiyat tahrik

2. perhatikan menit ke 01.24
katanya dalam shahih muslim nomor 408 , isinya: Nabi kalau duduk tahiyat

يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ الَّتِى تَلِى الإِبْهَامَ الى القبلة

Nabi kalo duduk tahiyyat jari telunjuk menunjuk ke arah kiblat (sambil mengnagkat jari telunjuk seraya berdoa) Asyhadu an laa ilaa ha illallah..."
dan menyalahkan yang jarinya di gerakgerakkan.

_______________
Bantahan:

ustadz ini justru yang bohong dan mengada-ngada, di riwayat shahih muslim tidak ada hadits yang ustadz sebutkan, berikut haditsnya:

7592 - وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ - وَاللَّفْظُ لَهُ - حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ عَنْ أَبِى حَازِمٍ أَنَّهُ سَمِعَ سَهْلاً يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ الَّتِى تَلِى الإِبْهَامَ وَالْوُسْطَى وَهُوَ يَقُولُ « بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ هَكَذَا ».

hadits yang disebut ada dalam Bab Dekatnya Kiamat, juz ke 8 halaman 208 no. 7592
menerangkan tentang dekatnya kiamat itu bagaikan jari telunjuk dan jari tengah. bukan menerangkan isyarat awal mengangkat telunjuk saat tasyahud.

setelah di takhrij seluruh hadits-hadits dari shahih Muslim, inilah hadits yang benar dalam kitab Shahih Muslim terkait isyarat telunjuk, berada dalam juz ke-2 halaman 90

1335 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْمَرِ بْنِ رِبْعِىٍّ الْقَيْسِىُّ حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ الْمَخْزُومِىُّ عَنْ عَبْدِ الْوَاحِدِ - وَهُوَ ابْنُ زِيَادٍ - حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنِى عَامِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَعَدَ فِى الصَّلاَةِ جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى بَيْنَ فَخِذِهِ وَسَاقِهِ وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ.

1336 - حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ ح قَالَ وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ - وَاللَّفْظُ لَهُ - قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الأَحْمَرُ عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَعَدَ يَدْعُو وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى إِصْبَعِهِ الْوُسْطَى وَيُلْقِمُ كَفَّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَهُ.

1339 - حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ أَبِى مَرْيَمَ عَنْ عَلِىِّ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُعَاوِىِّ أَنَّهُ قَالَ رَآنِى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَأَنَا أَعْبَثُ بِالْحَصَى فِى الصَّلاَةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ نَهَانِى فَقَالَ اصْنَعْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْنَعُ. فَقُلْتُ وَكَيْفَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْنَعُ قَالَ كَانَ إِذَا جَلَسَ فِى الصَّلاَةِ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الَّتِى تَلِى الإِبْهَامَ وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى.

tiga hadits ini berada dalam bab:

22 - باب صِفَةِ الْجُلُوسِ فِى الصَّلاَةِ وَكَيْفِيَّةِ وَضْعِ الْيَدَيْنِ عَلَى الْفَخِذَيْنِ.
Bab sifat duduk dalam shalat dan tatacara menyimpan tangan di atas kedua paha.

tidak ada hadits yang di ucapkan pak usatdz yang di video itu