Senin, 25 Maret 2019

Tiap berjiwa akan mati

كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (29 : 57)

kalau kita tau 1 bulan lagi akan meninggal..

tentu tidak ada alasan kita untuk bermalas malasan ibadah...

tidak akan takut rematik saat akan berwudlu tahajud.. tidak akan takut sakit mah saat akan shaum..

tidak akan mengeluh atas taqdir pahit yang Allah anugrahkan

tidak akan takut kehabisan/kekurangan uang  saat akan beshodaqoh..

tidak akan sungkan memaafkan .. sekalipun kepada yang paling menyakitkan...

dan lainnya....

nah..... yakin kah kita akan hidup lebih dari sebulan lagi ?

kita akan mati... PASTI.....
masih boleh kita beralasan untuk menunda kebaikan ?

segera lakukan..sekarang... lakukan keshalihan...

lakukan apapun yang terbaik yang paling berkualitas prima untuk Allah... dari sekarang sampai akhir hayat...

semoga Allah pilihkan husnul khatimah bagi kematian kita...

aamiiiin...

Husnul khotimah

Wa'alaikum salam...

حُسْنُ الخَاتِمَة
(Husnul Khatimah)

Husnul asal katanya adalah "Hasan" yang berarti BAIK,
"Husnul" berarti TERBAIK.

Jadi Makna dari kalimat *"HUSNUL KHOTIMAH"* adalah:
Wafat dalam keadaan YANG TERBAIK".

Lalu bagaimana jika ditulis dan dibaca dengan

خُسْنُ الخَاتِمَة

(Khusnul khatimah)

Khusnul artinya TERHINA/ TERENDAH.

Maka makna kalimat *"KHUSNUL KHATIMAH* adalah dalam keadaan dihinakan direndahkan

Minggu, 24 Maret 2019

Tempat kerja dan sekolah adalah muqim

Bismillah .
Pa ustad menyambung pertanyaan tentang sholat yg td bnyk menanyakan d radio .
Tentang sholat qosor .kalau kerja nya d bandung .tp dari rumah jaraknya nyampai 8km ke tempat kerjanya .apa itu harus d qosor juga .
Soalnya waktu ahad kemaren d tempat kajian ada ustad yg menerangkan .jarak 8km itu harus d qosor  walaupund tempat kerja bertahun tahun .
Apakah seperti itu ?
Minta penjelasannya.
Htr nhb

Jawab :
Tempat kerja adalah muqim, bukan sedang safar, maka tidak boleh d qoshor/jama'.

Qosor/jama' boleh d lakukan salah satunya jika dlm keadaan safar.

Kalau sekolah di luar kota/negeri?

Tidak boleh jika niatnya muqim.
Kecuali ia safar : bolak balik indonesia - Mesir (misalnya sekolahnya d mesir).

Namun jika sekolah d luar negeri selama bertahun2, misal 1thn sekali pulang, maka itu sudah muqim.

Betul, tempat belajarnya masuk muqim.

Perjalanan antara rumah - pesantren, boleh di jama/qoshor

Hukum aqiqah

Bismillah, saya dapat buku kecil dari yg aqiqah berisi :
1. Pelaksanaan aqiqah pada hari ke-7, jika tidak bisa dilaksanakan di hari ke-14, 21 atau kapan saja  ia mampu atau sdh dewasa, *berdasar QS. Al-Baqoroh 185* prinsip ajaran islam memudahkan bukan menyulitkan. Dan perkataan imam al-bashri : "jika belum aqiqah atasmu, maka aqiqahlah atas dirimu meski sudah dewasa", serta imam ahmad ditanya boleh tidak aqiqah sdh dewasa? Imam ibnul qoyyim menyebutkan : "imam ahmad berkata : aku tidak memakruhkan org yg melakukannya".

2. Ada hadits dari aisyah ra : "sunnahnya dua ekor kambing utk laki2, satu ekor utk perempuan, *ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya*, lalu dimakan dan disedekahkan pd hari ketujuh" (HR. al-baihaqi)

Apakah betul pernyataan diatas? Mohon penjelasannya.
Hatur nuhun..

Jawab ;

1. Aqiqah hanya di syari'atkan pada hari ke-7, dengan dalil

كل غلام رهينة بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق ويسمى

”Setiap anak tergadai dengan ’aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya, dicukur (rambutnya), dan diberi nama”.

_Ibadah itu ada yg terikat waktu dan sebab, ada yg tidak, maka tidak bisa d gunakan dalil Qs. Al-Baqarah ayat 185._

Jika mau konsisten, seharusnya ayat ini fahami:
-. Jika tidak bisa aqiqah (menyemblih kambing) di hari ke-7 krna keterbatasan ekonomi, maka boleh tdk menyemblih namun pada hr ke-7 tetapkanlah nama dan potonglah rambutnya (bulu kepala bayi) kemudian bersedekah sekemampunya.

- Jika tidak bisa memotong 2 ekor kambing untuk anak lelaki, maka boleh memotong 1 kambing.

- Jika tidak mampu memotong kambing, maka tidak d syari'atkan aqiqah d hari2 berikutnya krna tidak ada dalil.

- Hukum Aqiqqh adalah sunnah.

Pernyataan boleh aqiqah pada hari ke14, 21 atau kapan saja, hadits-haditenya dhaif. Dan dalam ibadah di tuntut dalil shahih dan bukan pendapat orang lain.

Berikut keterangannya:

العقيقة تذبح لسبع أو أربع عشرة أو أحد وعشرين

”(Hewan) ’aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh atau empatbelas atau duapuluh satu”.

*Penjelasan kedhaifan:*

Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Ash-Shaghiir no. 723 dan Al-Baihaqi 9/303 no. 19293 dari jalan Isma’il bin Muslim (seorang perawi dla’if karena faktor hafalannya), dari Qatadah (mudallis, dimana dalam hadits ini ia meriwayatkan dengan ’an’anah), dari ’Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya secara marfu’.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Hakim dari jalan ’Atha’, dari Ummu Kurz dan Abu Kurz.  Dhahir sanad hadits ini adalah shahih, namun padanya terdapat dua ’illat, yaitu :

a.     Terputusnya sanad antara ’Atha’ dan Ummu Kurz.

Ibnu Hajar berkata : ”Berkata ’Ali bin Al-Madini : Abu ’Abdillah (’Atha’) melihat Ibnu ’Umar namun ia tidak mendengar haditsnya; dan ia melihat Abu Sa’id Al-Khudriy sedang thawaf di Ka’bah namun ia tidak mendengar haditsnya; dan ia tidak dari Zaid bin Khaalid, tidak pula dari Ummu Salamah, Ummu Hani’, dan Ummu Kurz” [Tahdzibut-Tahdzib 7/182].

b.    Syadz

Abu Dawud, An-Nasa’i, dan yang lainnya meriwayatkan hadits yang menyebutkan adanya rawi antara ’Atha’ dan Ummu Kurz, yaitu ’Atha’, dari Habibah binti Maisarah, dari Ummu Kurz.  Riwayat-riwayat ini tidak menyebutkan lafadh : ”(Hewan) ’aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh atau empatbelas atau duapuluh satu”.

2. Redaksi haditsnya bukan begitu, tidak ada kalimat *"ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya*".

Redaksi haditsnya:

عن أم كرز وأبي كرز قالا نذرت امرأة من آل عبد الرحمن بن أبي بكر إن ولدت امرأة عبد الرحمن نحرنا جزورا فقالت عائشة رضى الله تعالى عنها لا بل السنة أفضل عن الغلام شاتان مكافئتان وعن الجارية شاة تقطع جدولا ولا يكسر لها عظم فيأكل ويطعم ويتصدق وليكن ذاك يوم السابع فإن لم يكن ففي أربعة عشر فإن لم يكن ففي إحدى وعشرين

Dari Ummu Kurz dan Abu Kurz, mereka berdua berkata : ”Telah bernadzar seorang wanita dari keluarga ’Abdurrahman bin Abi Bakr jika istrinya melahirkan anak, mereka akan menyembelih seekor onta. Maka ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa berkata : ”Jangan, bahkan yang disunnahkan itu lebih utama. Untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan seekor kambing. Dipotong anggota badannya, dan jangan dipecahkan tulangnya”.

إن تبعثوا الى القابلة منها برجل وكلوا وأطعموا ولا تكسروا منها عظما

“Berikan kaki (hewan ‘aqiqah) kepada bidan. Makanlah dan berilah makan, akan tetapi jangan engkau hancurkan tulangnya”.

Namun sayangnya, riwayat-riwayat tersebut adalah dla’if sehingga tidak bisa dipakai untuk hujjah. Adapun ulama yang lain berpendapat bolehnya menghancurkan tulangnya. Dan inilah yang benar.

*Riwayat yang benar adalah:*

عَنِ الغُلاَمِ شَاتَانِ ، وَعَنِ الأُنْثَى وَاحِدَةٌ ، وَلاَ يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كُنَّ أَمْ إِنَاثًا.

"Dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan. Dan tidak ada masalah bagi kalian apakah kambing tersebut jantan atau betina." Abu Isa berkata, "Hadits ini derajatnya hasan shahih." (H.R. Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, 3/150, Sahih)

Tahiyat tahrik

2. perhatikan menit ke 01.24
katanya dalam shahih muslim nomor 408 , isinya: Nabi kalau duduk tahiyat

يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ الَّتِى تَلِى الإِبْهَامَ الى القبلة

Nabi kalo duduk tahiyyat jari telunjuk menunjuk ke arah kiblat (sambil mengnagkat jari telunjuk seraya berdoa) Asyhadu an laa ilaa ha illallah..."
dan menyalahkan yang jarinya di gerakgerakkan.

_______________
Bantahan:

ustadz ini justru yang bohong dan mengada-ngada, di riwayat shahih muslim tidak ada hadits yang ustadz sebutkan, berikut haditsnya:

7592 - وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ - وَاللَّفْظُ لَهُ - حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ عَنْ أَبِى حَازِمٍ أَنَّهُ سَمِعَ سَهْلاً يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ الَّتِى تَلِى الإِبْهَامَ وَالْوُسْطَى وَهُوَ يَقُولُ « بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ هَكَذَا ».

hadits yang disebut ada dalam Bab Dekatnya Kiamat, juz ke 8 halaman 208 no. 7592
menerangkan tentang dekatnya kiamat itu bagaikan jari telunjuk dan jari tengah. bukan menerangkan isyarat awal mengangkat telunjuk saat tasyahud.

setelah di takhrij seluruh hadits-hadits dari shahih Muslim, inilah hadits yang benar dalam kitab Shahih Muslim terkait isyarat telunjuk, berada dalam juz ke-2 halaman 90

1335 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْمَرِ بْنِ رِبْعِىٍّ الْقَيْسِىُّ حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ الْمَخْزُومِىُّ عَنْ عَبْدِ الْوَاحِدِ - وَهُوَ ابْنُ زِيَادٍ - حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنِى عَامِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَعَدَ فِى الصَّلاَةِ جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى بَيْنَ فَخِذِهِ وَسَاقِهِ وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ.

1336 - حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ ح قَالَ وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ - وَاللَّفْظُ لَهُ - قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الأَحْمَرُ عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَعَدَ يَدْعُو وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى إِصْبَعِهِ الْوُسْطَى وَيُلْقِمُ كَفَّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَهُ.

1339 - حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ أَبِى مَرْيَمَ عَنْ عَلِىِّ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُعَاوِىِّ أَنَّهُ قَالَ رَآنِى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَأَنَا أَعْبَثُ بِالْحَصَى فِى الصَّلاَةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ نَهَانِى فَقَالَ اصْنَعْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْنَعُ. فَقُلْتُ وَكَيْفَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْنَعُ قَالَ كَانَ إِذَا جَلَسَ فِى الصَّلاَةِ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الَّتِى تَلِى الإِبْهَامَ وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى.

tiga hadits ini berada dalam bab:

22 - باب صِفَةِ الْجُلُوسِ فِى الصَّلاَةِ وَكَيْفِيَّةِ وَضْعِ الْيَدَيْنِ عَلَى الْفَخِذَيْنِ.
Bab sifat duduk dalam shalat dan tatacara menyimpan tangan di atas kedua paha.

tidak ada hadits yang di ucapkan pak usatdz yang di video itu

Sunnah iftitah

1. perhatikan dari menit ke-50
hadits Allahu akbar kabiro sebagai sunnah iftitah.

memang betul, ada di shahih Muslim, juz 2 halaman 99 no. 1386

1386 - حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ أَخْبَرَنِى الْحَجَّاجُ بْنُ أَبِى عُثْمَانَ عَنْ أَبِى الزُّبَيْرِ عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنِ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا ». قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ ». قَالَ ابْنُ عُمَرَ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ ذَلِكَ.

redaksi yang benar itu hanya kalimat:
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

tidak ada tambahan "Inni wajahtu...." pada kenyataannya, orang-orang khusus NU (Maaf) menambahkan kalimat "Inni Wajahtu..." itu dari mana riwayatnya???

kemudian redaksi kalimat ini bukan dari Rasul, hanya ucapan seseorang yang d benarkan oleh Rasul. Hadits taqriri.

Bukan tambahan, tp diantara doa iftitiah itu ada bbrpa jenis, diantaranya:

1. Wajjahtu
2. Allohumma baa'id baini
3. Subhaanakallaahumma
4. Allahu akbar kabiro... Sampai kalimat Bukratawwa ashiilaa

Redaksi yang benar itu hanya kalimat

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

Tidak ada tambahan kalimat
"Inni wajjahtu...."

Fiqh Wanita Hamil Keguguran, adakah Nifas

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Fiqh Wanita Hamil Keguguran, adakah Nifas??

*_Catatan Diskusi Terkait batasan awal nifas bagi wanita yang keguguran_*

1. Wajh al istidlal kalimat  أن يضعن حملهن dipastikan dalam keadaan hamil, apapun bentuknya. Sehingga awal bulanpun (1 bln) jika dipastikan hamil dengan indikator medis, maka jika keguguran, berlaku hukum nifas, berapapun usia kandungannya. Keguguran menjadi sebab hukum, bagi adanya nifas.

2. Dalam al Quran dijelaskan tentang proses kehidupan manusia, salah satunya proses segumpal darah. Al-Mu’minun : 14

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”

Ini indikator yang sarih (jelas) bahwa walaupun segumpal darah, tapi merupakan bagian dari kehamilan. Sehingga jika keguguran berapapun usianya dihukumi nifas. Indikator lain secara medis, memastikan seseorang itu hamil diantaranya dengan deteksi terhadap hormon HCG

3. Mengaitkan hukum dengan perasaan, bukanlah dalil dalam beragama. Semata perasaan tidak dapat dijadikan dalil, apalagi hanya kesimpulan yang bentuknya relatif. Secara ushuli sebab hukumnya jelas, yaitu pendarahan karena sebab kelahiran/keguguran tersebut.
Ini ranah ijtihadiyah, namun ada beberapa catatan terhadap lajnah daimah diatas:

1. Secara takhrij al manat ada dua 'illat kemungkinan besar. Pertama kehamilan, berapapun usia janin ketika secara medis dipastikan kehamilan. Dengan wajh al istidlal proses awal kejadian manusia dalam rahim. Kedua, berdasarkan fase terbentuknya organ, yaitu 80 hari (?).

2. Secara tanqih al manat, menurut ana illat hukum yang lebih konsisten adalah dari permulaan dengan alasan sebagai berikut:

a. Dalil ayat al Quran terkait Proses penciptaan manusia diawali dengan alaqoh dan seterusnya. Ayat tersebut menunjukan secara sarih proses kehamilan dalam rahim perempuan.

b. Ayat terkait dengan iddah adalah sampai melahirkan, artinya mafhum muwafaqah, illatnya keluarnya kandungan, termasuk didalamnya keguguran, jika janin gagal dan keluar dari kandungan.

c. Jika seandainya dihitung mulai dari hari ke 80, maka secara konsistensi istidlal. Perempuan di bawah 80 hari tidak disebut hamil. Kedua, masa iddah orang yang hamil dihitung sejak dari hari ke 80. Ketiga, belum ditemukan dilalah secara sarih yang memastikan 80 hari sebagai patokan.

d. Dengan alasan diatas, maka illat yang lebih konsisten adalah keguguran dihitung sejak awal penciptaan manusia didalam rahim yang gagal untuk berkembang, kemudian gugur dan mengakibatkan adanya darah yang keluar. Darah dengan sebab keguguran tersebut dihitung sebagai nifas. Ketika berhenti darahnya, maka nifaspun berakhir.

_Tentunya dengan menghormati pendapat yang lain._