Jumat, 14 Mei 2021

Alquran sebagai syafaat di hari akhirat

 *ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪ ِِﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢِ*

 

📚 *ONE DAY ONE HADITS* 
Senin, 09 Syawal 1441 H / 01 Juni 2020 M.

*Pasca Ramadhan (Bagian 04)*

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اِقْرَءُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلأَصْحَابِهِ.

"Bacalah al-Qur`an, maka sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada ahlinya." (HR. Muslim).

*Beberapa Pelajaran yang Terdapat dalam Hadits :*

1️⃣ Salah satu tarbiyah selama madrasah Ramadhan yang telah kita jalani adalah membaca al-Qur`an. Setelah berlalunya bulan yang mulia ini, muncul satu pertanyaan singkat, bagaimana setelah Ramadhan? Akankah energi membaca al-Qur`an yang sudah kita dapatkan selama bulan Ramadhan akan kita biarkan lepas dari kita setelah berlalunya bulan Ramadhan?

2️⃣ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari).

3️⃣ Dan dalam hadits lain, dari Abu Umamah al-Bahili radhiallahu anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اِقْرَءُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلأَصْحَابِهِ.

"Bacalah al-Qur`an, maka sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada ahlinya." (HR. Muslim)

*Tema Hadits yang Berkaitan dengan Al-Qur'an*

Allah Ta’ala Berfirman :

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (QS. Al-Israa`:9)

*Demikian, Semoga Bermanfaat. Aamiin*

Aqulu qauli hadza, wa astaghfirullaha li wa lakum. 

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ

Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik... 

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu”.

==================================

🍃 Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺑَﻠِّﻐُﻮﺍ ﻋَﻨِّﻰ ﻭَﻟَﻮْ ﺁﻳَﺔً

*“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”*
*(HR.Bukhari)*

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍْﻷَﺟْﺮِ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺟُﻮْﺭِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮْﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻭَﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔٍ ، ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻣِﺜْﻞُ ﺁﺛَﺎﻡِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺁﺛَﺎﻣِﻬِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ

*Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.*
*(HR.Muslim)*

Dakwah di jalan Allâh Azza wa Jalla merupakan amal yang sangat mulia, ketaatan yang besar dan ibadah yang tinggi kedudukannya di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ﻭَﻟْﺘَﻜُﻦْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺃُﻣَّﺔٌ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻳَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِۚ ﻭَﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

*Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang  yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.*
*(QS.Ali-Imran [3] :104)*

Dinukil dari berbagai Sumber..

Semoga bermanfaat bagi Ummat...

Selamat beraktifitas...
Baarakallahufiikum...

Shaum adalah perisai

 *ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪ ِِﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢِ*

 

📚 *ONE DAY ONE HADITS* 
Sabtu, 07 Syawal 1441 H / 30 Mei 2020 M.

*Pasca Ramadhan (Bagian 02)*

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ

“Maukah kutunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan?; Puasa adalah perisai, …”  (HR. Tirmidzi no. 2616. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud bahwa hadits ini shohih)

*Beberapa Pelajaran yang Terdapat dalam Hadits :*

1️⃣ Hendaklah Kita Memperbanyak Puasa Sunnah, Selain kita melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan,  hendaklah kita menyempurnakannya pula dengan melakukan amalan puasa sunnah. Di antara keutamaannya adalah disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ

“Maukah kutunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan?; Puasa adalah perisai, …” (HR. Tirmidzi no. 2616. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud bahwa hadits ini shohih)

2️⃣ Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Keutaman lain dari puasa sunah terdapat dalam hadits Qudsi berikut.

وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506)

3️⃣ Itulah di antara keutamaan seseorang melakukan amalan sunnah. Dia akan mendapatkan kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya do’a. (Faedah dari Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abad)

4️⃣ Banyak puasa sunnah yang dapat dilakukan oleh seorang muslim setelah Ramadhan. Di bulan Syawal, kita dapat menunaikan puasa enam hari Syawal. Juga setiap bulan Hijriyah kita dapat berpuasa tiga hari dan lebih utama jika dilakukan pada ayyamul bid yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15. Kita juga dapat melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Arofah (pada tanggal 9 Dzulhijah), puasa Asyura (pada tanggal 10 Muharram), dan banyak berpuasa di bulan Sya’ban sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan jika ada yang punya kemampuan boleh juga melakukan puasa Daud yaitu sehari berpuasa dan sehari tidak.

5️⃣ Semoga Allah memudahkan kita melakukan amalan puasa sunnah pasca Ramadhan. Aamiin

*Tema Hadits yang Berkaitan dengan Al-Qur'an*

Allah Ta’ala Berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan adalah bulan bulan diturunkannya Al Qur’an. Al Quran adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al Baqarah: 185)

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).

*Demikian, Semoga Bermanfaat. Aamiin*

Aqulu qauli hadza, wa astaghfirullaha li wa lakum. 

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ

Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik... 

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu”.

==================================

🍃 Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺑَﻠِّﻐُﻮﺍ ﻋَﻨِّﻰ ﻭَﻟَﻮْ ﺁﻳَﺔً

*“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”*
*(HR.Bukhari)*

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍْﻷَﺟْﺮِ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺟُﻮْﺭِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮْﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻭَﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔٍ ، ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻣِﺜْﻞُ ﺁﺛَﺎﻡِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺁﺛَﺎﻣِﻬِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ

*Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.*
*(HR.Muslim)*

Dakwah di jalan Allâh Azza wa Jalla merupakan amal yang sangat mulia, ketaatan yang besar dan ibadah yang tinggi kedudukannya di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ﻭَﻟْﺘَﻜُﻦْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺃُﻣَّﺔٌ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻳَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِۚ ﻭَﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

*Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang  yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.*
*(QS.Ali-Imran [3] :104)*

Dinukil dari berbagai Sumber ..

Semoga bermanfaat bagi Ummat...

Baarakallahufiikum...

Sholat Wajib Lima Waktu

 *ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪ ِِﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢِ*

 

📚 *ONE DAY ONE HADITS* 
Sabtu, 07 Syawal 1441 H / 30 Mei 2020 M.

*Pasca Ramadhan (Bagian 01)*

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ افْتَرَضْتُ عَلَى أُمَّتِكَ خَمْسَ صَلَوَاتٍ وَعَهِدْتُ عِنْدِى عَهْدًا أَنَّهُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهِنَّ لِوَقْتِهِنَّ أَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهِنَّ فَلاَ عَهْدَ لَهُ عِنْدِى

“Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Aku wajibkan bagi umatmu shalat lima waktu. Aku berjanji pada diriku bahwa barangsiapa yang menjaganya pada waktunya, Aku akan memasukkannya ke dalam surga. Adapun orang yang tidak menjaganya, maka aku tidak memiliki janji padanya’.” (HR. Sunan Ibnu Majah no. 1403. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Ibnu Majah mengatakan bahwa hadits ini hasan)

*Beberapa Pelajaran yang Terdapat dalam Hadits :*

1️⃣ Bulan Ramadhan sungguh sangat berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Orang yang dulu malas ke masjid atau sering bolong mengerjakan shalat lima waktu, di bulan Ramadhan begitu terlihat bersemangat melaksanakan amalan shalat ini. Itulah di antara tanda dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka ketika itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (HR. Muslim no. 1079)

Namun, amalan shalat ini hendaklah tidak ditinggalkan begitu saja. Kalau memang di bulan Ramadhan, kita rutin menjaga shalat lima waktu maka hendaklah amalan tersebut tetap dijaga di luar Ramadhan, begitu pula dengan shalat jama’ah di masjid khusus untuk kaum pria.

2️⃣ Lihatlah salah satu keutamaan orang yang menjaga shalat lima waktu berikut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ افْتَرَضْتُ عَلَى أُمَّتِكَ خَمْسَ صَلَوَاتٍ وَعَهِدْتُ عِنْدِى عَهْدًا أَنَّهُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهِنَّ لِوَقْتِهِنَّ أَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهِنَّ فَلاَ عَهْدَ لَهُ عِنْدِى

“Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Aku wajibkan bagi umatmu shalat lima waktu. Aku berjanji pada diriku bahwa barangsiapa yang menjaganya pada waktunya, Aku akan memasukkannya ke dalam surga. Adapun orang yang tidak menjaganya, maka aku tidak memiliki janji padanya’.” (HR. Sunan Ibnu Majah no. 1403. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Ibnu Majah mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Shalat jama’ah di masjid juga memiliki keutamaan yang sangat mulia dibanding shalat sendirian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةُ الْجَمَاعَة أفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat jama’ah lebih utama dari shalat sendirian sebanyak 27 derajat.” (HR. Bukhari no. 645 dan Muslim no. 650)

3️⃣ Namun yang sangat kita sayangkan, amalan shalat ini sering dilalaikan oleh sebagian kaum muslimin. Bahkan mulai pada hari raya ‘ied (1 Syawal) saja, sebagian orang sudah mulai meninggalkan shalat karena sibuk silaturahmi atau berekreasi. Begitu juga seringkali kita lihat sebagian saudara kita karena kebiasaan bangun kesiangan, dia meninggalkan shalat shubuh begitu saja. Padahal shalat shubuh inilah yang paling berat dikerjakan oleh orang munafik sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 

لَيْسَ صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ مِنَ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Tidak ada shalat yang paling berat dilakukan oleh orang munafik kecuali shalat Shubuh dan shalat Isya’. Seandainya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)

4️⃣ Ingatlah ada ancaman keras dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang yang meninggalkan shalat. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu -bekas budak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ

“Pemisah antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targib wa At Tarhib no. 566)

Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574)

5️⃣ Begitu pula shalat jama’ah di masjid, seharusnya setiap muslim –khususnya kaum pria- menjaga amalan ini. Shalat jama’ah mungkin kelihatan ramai di bulan Ramadhan saja. Namun, ketika bulan Ramadhan berakhir, masjid sudah kelihatan sepi seperti sedia kala. Memang dalam masalah apakah shalat jama’ah itu wajib atau sunnah mu’akkad terjadi perselisihan di antara para ulama. Namun berdasarkan dalil yang kuat, shalat jama’ah hukumnya adalah wajib (fardhu ‘ain). Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits dari Abu Hurairah di mana beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,

أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِى قَائِدٌ يَقُودُنِى إِلَى الْمَسْجِدِ. فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّىَ فِى بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ « هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ». فَقَالَ نَعَمْ. قَالَ « فَأَجِبْ ».

“Seorang laki-laki buta mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak memiliki orang yang menuntunku ke masjid’. Kemudian pria ini meminta pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberi keringanan untuk shalat di rumah. Pada mulanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi dia keringanan. Namun, tatkala dia mau berpaling, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil pria tersebut dan berkata, ‘Apakah engkau mendengar adzan ketika shalat?’ Pria buta tersebut menjawab, ‘Iya.’ Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Penuhilah panggilan tersebut’.” (HR. Muslim no. 653)

Lihatlah pria buta ini memiliki udzur (alasan) untuk tidak jama’ah di masjid, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikannya keringanan, dia tetap diwajibkan untuk shalat jama’ah di masjid. Padahal dia adalah pria yang buta, tidak ada penuntun yang menemaninya, rumahnya juga jauh. Di Madinah juga banyak hewan buas dan banyak pepohonan yang menghalangi jalan menuju masjid. Namun, lihatlah walaupun dengan berbagai udzur ini karena pria buta ini mendengar adzan, dia tetap wajib jama’ah di masjid.

6️⃣ Bagaimanakah kondisi kita yang lebih sehat dan berkemampuan? Tentu lebih wajib lagi untuk berjama’ah di masjid. Itulah dalil kuat yang menunjukkan wajibnya shalat jama’ah di masjid. Jika seseorang meninggalkan shalat jama’ah dan shalat sendirian, dia berarti telah berdosa karena meninggalkan shalat jama’ah, namun shalat sendirian yang dia lakukan tetap sah. Sedangkan bagi wanita berdasarkan kesepakatan kaum muslimin tidak wajib bagi mereka jama’ah di masjid bahkan lebih utama bagi wanita untuk mengerjakan shalat lima waktu di rumahnya.

*Tema Hadits yang Berkaitan dengan Al-Qur'an*

Allah Ta’ala Berfirman :


وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orangorang yang rukuk.” (al-Baqarah: 43)

firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ

“Dan apabila kamu berada di tengahtengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu.” (an-Nisa: 102)

*Demikian, Semoga Bermanfaat. Aamiin*

Aqulu qauli hadza, wa astaghfirullaha li wa lakum. 

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ

Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik... 

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu”.

==================================

🍃 Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺑَﻠِّﻐُﻮﺍ ﻋَﻨِّﻰ ﻭَﻟَﻮْ ﺁﻳَﺔً

*“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”*
*(HR.Bukhari)*

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍْﻷَﺟْﺮِ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺟُﻮْﺭِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮْﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻭَﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔٍ ، ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻣِﺜْﻞُ ﺁﺛَﺎﻡِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺁﺛَﺎﻣِﻬِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ

*Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.*
*(HR.Muslim)*

Dakwah di jalan Allâh Azza wa Jalla merupakan amal yang sangat mulia, ketaatan yang besar dan ibadah yang tinggi kedudukannya di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ﻭَﻟْﺘَﻜُﻦْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺃُﻣَّﺔٌ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻳَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِۚ ﻭَﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

*Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang  yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.*
*(QS.Ali-Imran [3] :104)*

Dinukil dari berbagai Sumber ...

Semoga bermanfaat bagi Ummat...

Selamat beraktifitas...
Baarakallahufiikum...

MUSIBAH MENGHAPUS DOSA

 📚 *ONE DAY ONE HADITS*📚

11 Syawal 1441 H/3 Juni 2020 M


*"MUSIBAH MENGHAPUS DOSA"*

*ـــ     ﷽     ـــ*
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَلْحَلَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ *النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ*(رواه البخاري) 

"Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin 'Amru telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Muhammad dari Muhammad bin 'Amru bin Halhalah dari 'Atha` bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri dan dari Abu Hurairah dari *Nabi ﷺ beliau bersabda, "Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya."*
 (HR.Bukhari,no.5210,Muslim:2573).
    _Shahih -> Ijma Para Ulama._
    

_*حَيَاتُنَا كُلُّهَا عِبَادَةٌ*✊🏻_


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Instagram : @rgugsmap_94
Facebook : Rg-Ug Smap Pakenjeng
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

🔁 Free Share


*Bidgar Pendidikan&Dakwah SMA Persis 94 Pakenjeng*
*Masa Jihad 2019-2020*

Minggu, 26 April 2020

Bolehkah membaca mushaf dalam salat ?

Bolehkah  membaca mushaf dalam salat ?

Salat merupakan tiang agama yang kaifiyatnya ditentukan berdasarkan nash yang sahih di mulai dari takbir sampai salam dengan gerakan dan bacaan yang khusus dan ma’tsur. Salah satu kaifiyat salat adalah membaca al-fatihah yang hukumnya wajib karena termasuk rukun rakaat, Adapun membaca ayat atau surat setelah membaca al-fatihah hukumnya sunat. Persoalannya bagaimana hukum membaca mushaf al-Quran ketika salat ? ada beberapa dalil yang perlu difahami

Pertama, al-Quran memberi petunjuk untuk membaca al-Quran yang mudah, tentu makasudnya sesuai dengan hafalan masing-masing, sekiranya termasuk juga membaca mushaf, maka menjadi tidak berfaidah

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ 
karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran (al Muzzamil : 20)

kedua, Rasulullah Saw memerintahkan ketika masuk waktu salat, maka beradzan  dan hendaklah jadi imam yang paling banyak hafalan al-Qurannya kaitan dengan qiroah ketika qiyam atau berdiri. Sekiranya maksud di dalamnya termasuk membaca mushaf tentunya perintah tersebut tidak menjadi tidak berfaidah. Rasulullah Saw bersabda :

 فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا
Apabila masuk waktu salat, maka hendaklah adzan seorang diantara kamu dan hendaklah jadi imam yang paling banyak (hafalan) al-Qurannya (HR Bukhari, Sahih al-Bukhari, 5/150)

Ketiga, ketika salat kita diperintahkan untuk melihat tempat sujud, berikut hadis dari sahabat Anas bin Malik, Nabi Saw bersabda :

 “مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي صَلاَتِهِمْ فَاشْتَدَّ قَوْلُهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى قَالَ لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ

 “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kenapa orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke langit ketika mereka sedang shalat? Suara beliau semakin tinggi hingga beliau bersabda: “Hendaklah mereka menghentikannya atau Allah benar-benar akan menyambar penglihatan mereka.” (Sahih al-Bukhari, 1/150)

Secara manthuq larangan untuk mengarahkan pandangan ke atas ketika salat, secara mafhum muwafaqah tentunya bukan hanya keatas saja, tapi pandangan yang dapat mengganggu kekhusyuan salat, mafhum mukhalafah berarti memerintahkan untuk mengarahkan pandangan ke bawah atau tempat sujud.

Keempat, membaca mushaf al-Quran dan salat merupakan dua ibadah yang berbeda, sehingga membaca al_Quran ketika salat dapat difahami sebagai perbuatan diluar salat

Kelima, membaca mushaf bisa dikategorikan sebagai talaqi mushaf sebagaimana diluar salat misalnya dalam pengajaran, sedangkan perkataan manusia tidak layak dalam salat, berdasarkan hadis dari sahabat Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami

 إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيهَا شَىْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ 
Sesungguhnya salat itu tidak dibenarkan padanya ada perkataan (obrolan) manusia, sungguh didalamnya hanyalah tasbih, takbir dan membaca al-Quran (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 2/70)

Membaca al-Quran dalam hadis tersebut tentunya difahami sebagai bacaan dari hafalan, bukan dari mushaf, dari berbagai qorinah ayat dan hadis sebelumnya.

Keenam, membaca mushaf dengan berbagai caranya misalnya menggunakan hp, mushaf digendong, pakai google glass dan lainnya, berpotensi sangat besar membuat gerakan-gerakan yang banyak dalam salat tanpa kebutuhan.

Ketujuh, gerakan salat sudah ditentukan sehingga kita disibukan dengan gerakan-gerakan tersebut didlamnya, karena itu sebaliknya, kita diperintahkan menjauhi gerakan-gerakan diluar gerakan salat, salah satunya melihat mushaf ketika qiyam qiro’ah.

عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنْتُ أُسَلِّمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَيَرُدُّ عَلَيَّ فَلَمَّا رَجَعْنَا سَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ وَقَالَ إِنَّ فِي الصَّلَاةِ شُغْلًا

dari 'Abdullah radliallahu 'anhu berkata: "Kami pernah memberi salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika Beliau sedang shalat dan Beliau membalas salam kami. Ketika kami kembali dari (negeri) An-Najasyi kami memberi salam kembali kepada Beliau namun Beliau tidak membalas salam kami. Kemudian Beliau berkata: "Sesungguhnya dalam shalat ada kesibukan" (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 2/66)

Adapun gerakan-gerakan yang dibolehkan diantaranya ketika ada al hajah atau kebutuhan, berikut hadis-hadisnya, pertama, memindahkan Ibn Abbas karena salah tempat dalam posisi berjamaah ketika berdua

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَصَلَّى وَرَقَدَ فَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ وَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Dari Ibnu 'Abbas berkata, "Pada suatu malam aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan aku berdiri di samping kirinya. Rasulullah Saw kemudian memegang kepalaku dari arah belakangku, lalu menempatkan aku di sebelah kanannya. Beliau kemudian shalat dan tidur setelahnya. Setelah itu datang mu'adzin kepada beliau, maka beliau pun berangkat shalat dengan tidak berwudlu lagi (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/146)

Kedua, bergerak maju untuk formasi salat berjamaah bertiga, dari Jabir bin Abdillah beliau berkata :

فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ ، فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ ، وَأَتَى آخَرُ فَقَامَ عَنْ يَسَارِهِ ، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي ، وَصَلَّيْنَا مَعَهُ

Kemudian aku berdiri (jadi makmum) di sebelah kiri beliau, kemudian beliau memindahkanku ke sebelah kanannya. Lalu datang orang lain, dan dia berdiri di sebelah kiri beliau, ternyata beliau malah maju dan melanjutkan shalat. Dan kamipun menyelesaikan salat Bersama beliau (HR. Ibnu Khuzaimah, Sahih Ibn Khuzaimah, 3/18)

Ketiga, Rasul Saw pernah salat sambal menggendong cucunya yaitu Umamah putra dari Zainab, tentu diantara tujuannya adalah disamping kasih sayang, Pendidikan dini, juga supaya tidak mengganggu kekhusyuan yang lain. Berdasarkan keterangan dari Abu Qotadah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sambil menggendong Umamah putri Zainab bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila beliau sujud, beliau letakkan Umamah, dan apabila beliau bangkit, beliau menggendongnya. (HR. Bukhari 516, Muslim 543)

Keempat, beliau melepas sandal dan meletakkannya di sebelah kiri, kabutuhannya karena ada najis di sandal beliau, Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu

بَيْنَمَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَتَهُ ، قَالَ : مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَاءِ نِعَالِكُمْ ، قَالُوا : رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ جِبْرِيلَ صلى الله عليه وسلم أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا 

Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat bersama para sahabatnya, tiba tiba beliau melepaskan kedua sandalnya lalu meletakkannya di sebelah kirinya. Sewaktu para sahabat melihat tindakan beliau tersebut, mereka ikut pula melepas sandal mereka. Maka tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selesai shalat, beliau bersabda: "Apa gerangan yang membuat kalian melepas sandal sandal kalian?" Mereka menjawab; Kami melihat engkau melepas sandal, sehingga kami pun melepaskan sandal sandal kami. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Malaikat Jibril 'Alaihis Salam telah datang kepadaku, lalu memberitahukan kepadaku bahwa di sepasang sandal itu ada najisnya." (HR Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, 1/175)

Kelima, hajat untuk membukakan pintu, padahal beliau sedang salat, berdasarkan keterangan Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata :

اسْتَفْتَحْتُ الْبَابَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي تَطَوُّعًا وَالْبَابُ عَلَى الْقِبْلَةِ فَمَشَى عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ يَسَارِهِ فَفَتَحَ الْبَابَ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مُصَلَّاهُ

”Saya minta dibukakan pintu, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat sunah, dan pintu ada di arah kiblat. Kemudian beliau berjalanan ke kanan atau ke kiri, lalu membuka pintu dan kembali ke tempat shalatnya.” (HR. an-Nasa’I, Sunan al-Kubra, 3/15)

Keenam, Rasulullah menyuruh membunuh binatang yang berbahaya ketika salat, kebutuhannya tentu untuk hifz al-nafs atau menjaga jiwa karena dapat membinasakan dengan sebab racun. Berdasarkan keterangan dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda :

اقْتُلُوا الأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلاَةِ : الْحَيَّةَ ، وَالْعَقْرَبَ
Bunuhlah dua binatang yang hitam dalam salat, yaitu ular dan kalajengking (HR Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 1/242)

Ketujuh, menjawab salam dengan isyarat. Menjawab salam hukumnya wajib, namun ketika dalam keadaan salat, maka terlarang membalasnya dengan perkataan, namun diperbolehkan dengan isyarat, berdasarkan keterangan dari Ibn Umar :

فَقُلْتُ لِبِلاَلٍ : كَيْفَ رَأَيْتَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَرُدُّ عَلَيْهِمْ حِينَ كَانُوا يُسَلِّمُونَ عَلَيْهِ وَهُوَ يُصَلِّي ؟ قَالَ : يَقُولُ هَكَذَا ، وَبَسَطَ كَفَّهُ ، وَبَسَطَ جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ كَفَّهُ ، وَجَعَلَ بَطْنَهُ أَسْفَلَ ، وَجَعَلَ ظَهْرَهُ إِلَى فَوْقٍ

"Aku bertanya kepada Bilal; "Bagaimana kamu melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab salam ketika mereka memberi salam kepada beliau yang sedang shalat?" Bilal menjawab; "Seperti ini, sambil membuka telapak tangannya. dan Ja'far bin 'Aun membuka telapak tangannya dengan menjadikan bagian dalamnya di bawah dan bagian luarnya di atas." (HR Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, 1/243)

Ketujuh dalil diatas menunjukan adanya perubahan gerakan salat disebabkan adanya illat atau hajat. Adapun membaca mushaf ketika qiyam dalam salat, disamping tidak ditemukan dalil hadis yang sarih yang dinisbatkan kepada Rasul Saw, juga kami tidak menemukan keperluan untuk melakukan perbuatan tersebut, cukup hafalan al-Quran yang mudah saja. 

Adapun dalil ulama yang membolehkan membaca mushaf ketika salat berdasarkan keterangan dari Aisyah

أَنَّهَا كَانَ يَؤُمُّهَا غُلاَمُهَا ذَكْوَانُ فِى الْمُصْحَفِ فِى رَمَضَانَ

Bahwasanya dia (Aisyah) diimami oleh pemuda (hamba sahayanya) yaitu Dzakwan dengan membaca mushaf pada bulan Ramadlan (HR. al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubro, 2/253, Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, 2/123 dan Kisah ini diriwayatkan pula oleh al-Bukhari secara mu’allaq Sahih al-Bukhari 1/140)

Ada beberapa catatan terkait hadis diatas :

Pertama, perbuatan membaca mushaf merupakan seorang tabiin yang bernama Dzakwan, Aisyah posisinya sebagai makmum, ada keihtimalan (mempunyai berbagai kemungkinan) sikap Aisyah waktu itu, karena tidak ada keterangan Aisyah mendukung atau sebaliknya yaitu menolak.

Kedua, jika seandainya ditafsirkan sebagai taqrir (penetapan) Aisyah, maka hal tersebut semata ijtihad Aisyah, tidak ada keterangan hal tersebut marfu kepada Rasulullah Saw.

Ketiga, tidak ada keterangan hadis yang disandarkan kepada Rasulullah saw baik itu perkataan, perbuatan atau taqrir. Padahal waktu itu sudah ada sahifah atau lembaran yang berisi ayat al-Quran

Keempat, kami belum menemukan sahabat yang lain melakukan hal tersebut, padahal mushaf sudah ada pada zaman mereka, sehingga menjadi dalalah yang kuat bahwa hal tersebut semata ijtihad Aisyah saja.

Kelima, dalil-dalil sebelumnya sudah dibahas, disamping tidak ada dalil hadis, juga tidak ada keperluan untuk membaca mushaf ketika salat, karena cukup dengan hafalan yang mudah saja, jika tidak demikian, maka menjadi tidak berfaidah.

Dengan demikian dengan berbagai pembahasan diatas menurut pendapat kami yang rajih adalah tidak boleh membaca mushaf ketika salat, baik salat wajib maupun salat sunat.

Ginanjar Nugraha,
Bandung, 24/04/2020
Ma’had Imam al-Bukhari

https://tanyajawabfikih.com/bolehkah-membaca-mushaf-dalam-salat/

Rabu, 22 April 2020

Rangkuman tanya jawab kajian Dialog Islam subuh bersama Ustadz Anshorudin Ramdhani, Selasa, 21 April 2020





*Tanya*
Aisyah selalu membaca surat  mu'awwidzatain saat Rasulullah sakit menjelang akhir kehidupan Beliau, surat apakah yg termasuk dgn surat mu'awwidzatain?
*Jawab*
Mu'awwidzatain adalah surat yg berisikan permohonanan, perlindungan kpd Allah SWT scr khusus. Krn  surat Mu'awwidzatain  diawali dgn kalimat _Qul_
Surat tsb adalah *Al Falaq* *An Nas* ditambah dgn *Al Ikhlas*

Namun surat Mu'awwidzatain ini bkn hanya dibaca disaat akan mengobati atau mendoakan seseorng dgn cara meruqyah,, tp disunahkan juga kita baca disaat akan tidur.

*Tanya*
Izin bertanya perihal hadis riwayat Imam Muslim No. 4082 yg isinya _Letakanlah  tanganmu di tubuhmu yg terasa sakit, kmdn ucapkan bismillah 3x, kmdn baca A'uudzu bi'izzatillahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhadziru_   apakah ini shahih?
*Jawab*
Shahih dan boleh diamalkan, meski di hadis yg lain disebutkan membaca bismillahnya 7x. 


*Tanya*
Apa artinya _Allohumma antassakam waminka salam tabarakta yadzaljalali wal ikraam_ ?
*Jawab*
Ya Allah Engkaulah yg menyelamatkan dan dari Engkaulah keselamatan itu, Maha Berkah Engkau wahai, Dzat  yg memiliki Kemegahan dan Kemuliaan


*Tanya*
Apakah boleh memberi makanan ke kucing yg mengandung babi, krn bbrp merk makanan kucing tdk ada  label halalnya krn mengandung babi jg. Lalu bgmn hukumnya jika disentuh dan  menyimpan  di kulkas bersama dgn makanan manusia?
*Jawab*
Utk hewan tdk terkena hukum halal dan haram, baik makanannya maupun minumannya. Krn kucing tdk termasuk hewan ternak yg akan diambil daging dan susunya.

Jd, meskipun kita tau bhw makanan kucing yg kita berikan mengandung babi, boleh2 saja. Namun sebaiknya beri makanan kucing yg baik dan layak yg tdk mengandung babi, dan jgn disimpan di kulkas bersama makanan manusia. 


#sekedar info,, katanya merk Royal canin tdk mengandung babi, yg mengandung babi whiskas dan frieskis.


*Tanya*
Perintah Rasul utk menggenapkan lafadz adzan dan mengganjilkan lafadz iqomah, kecuali pd lafadz iqomah _Qodqo matish sholah_ ada pd redaksi hadis yg mana?
*Jawab*
_Bilal diperintah oleh Rasullah SAW utk menggenapkan lafadz adzan dan mengganjilkan lafadz iqomah kecuali lafadz qodqo matish sholat_  HR Bukhari

Namun hadis ini perlu penjelasan dgn hadis2 yg lain, ternyata  di dlm tinjauan ilmu hadis, baik scr sanad dan matan,  dlm prakteknya, lafadz iqomah boleh dilakukan digenapkan dan  boleh diganjilkan.

Scr ilmu periwayatan, hadis ini shohih dan jelas, bhw lafadz iqomah satu kali satu kali, tp dlm prakteknya pengamalan sahabat, ternyata ada sahabat yg mengamalkan iqomah dgn cara menggenapkan, jd dimulai dari lafadz talbir dibaca dua kali dua kali, kecuali Laa ilaha illallahu 1x.

Jd lafadz iqomah boleh ganjil boleh genap.


*Tanya*
Saya suka pake kalung terapi yg ada lafdz Allahnya,, apakah klo ke WC hrs dibuka?
*Jawab*
Tidak usah dibuka, krn Nabi membuka cincinnya yg ada lafadz nya agar saat berwudhu air merata ke sela2 jarinya. Yg tdk boleh adalah sholat dan membaca Al Qu'ran di WC.


*Tanya*
Ustadz minta saran cara menghadapi orangtua (ayah yang selalu temperamental) kalau ada kesalahan atau tidak disiplin, langsung menegur dengan cara yang menyakiti hati, dan hal itu membuat saya dan ibu saya suka sakit hati. Kalau saya memberi tahu kepada ayah saya jangan marah, malah dianggap orang yang tidak punya adab padahal sudah baik baik, jadi intinya egois.
*Jawab*
Ingat2 saja semua jasa ayah yg sdh membesarkan kita,, maklumi dan maafkan semua kekurangannya dan doakan agar ayah tdk temperamental lagi. 


*Tanya*
Mohon dijelaskan hadis berikut ini, Dari sahabat Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, Beliau bersabda, _sesungguhnya Allah akan mengutus bagi umat ini pd setiap awal 100 tahun seorng mujaddid alias pembaharu yg akan memeperbaharui agama ini_ HR Abu Dawud, Imam Bayhaqi 
*Jawab*
Mujaddid itu bkn pembaharu yg akan memperbaharui agama atau membuat agama baru,  namun mengembalikan agama kpd Al Qur'an dan sunnah yg pd saat itu sdh tercampur dgn bid'ah, tahayul, khurofat dan syirik. 
Hal ini sdh pasti setiap 100 tahun sekali. 


*Tanya*
Amalan menjelang nisfu Sya'ban, sholatnya sholat biasa atau ada sholat khusus?
*Jawab*
Hadia yg membahas amalan2 Nisfu Sya'ban semua  dhaif, sehingga tdk bisa diamalkan.


*Tanya*
Apakah benar kalau kita meninggalkan sholat berjamaah di masjid krn wabah, hukumnya sunnah?
*Jawab*
Sholat berjamaah tdk wajib dilaksanakan di masjid,, hanya lbh utama di masjid


*Tanya*
Menikahi anak sepupu boleh atau tdk, sprt dl QS An Nisa ayat 23,.
*Jawab*
Nikah dgn sepupuan boleh. 


*Tanya*
Bgmn hukum makan di restoran  all you can eat dlm hukum Islam
*Jawab*
All you can eat itu termasuk pd muamalah. Dmn sdh diperhitungkan oleh pihak manajemen restoran, sehingga tdk ada pihak yg dirugikan. 


*Tanya*
Apa yg dimaksud dgn _menggangganggu Allah dan Rasulnya_ dlm QS Al Ahzab ayat 57
*Jawab*
Tdk mempelajari Al Qur'an dan Sunnah Nabi dgn baik dan benar dan tdk mengamalkannya. 
Intinya, agama hanya tergantung pd pikiran dan hawa nafsunya saja


*Tanya*
Saya sering komen beda pendapat dgn pucuk pimpinan DKM, sampai sering ketua DKM berbicara kpd saya utk mengundurkan diri jika kptsn yg diambil tdk berkenan bhkn ada rumor seolah2 saya ingin jd Ketua DKM. Pdhl saya selalu manut  kod keputisan terakhir DKM, apalagi ada niat pemakzulan
*Jawab*
Kita berjuang bkn krn manusia tp krn Allah. Jika kita mengharapkan suara yg sama dlm organisasi, adalah suatu hal yg tdk mungkin, krnnya ada musyawarah utk mufakat. 
Apalagi kita sbg bawahan, lbh baik kita tetap mengerjakan semua kewajiban kita dan melaksanakan apa yg sdh dimufakatkan dlm musyawarah meski kita tdk menyetujuinya


*Tanya*
Bolehkah sholat berjamaah menggunakan masker? Krn ada yg bilang tdk sah, krn hidung terhalang.
*Jawab*
Boleh.


*Tanya*
Bolehkan sholat istikharah berkali2 dlm satu hari?
*Jawab*
Jika kita melakukan sholat istikharah berulang2, itu seakan2 kita mendikte pd Allah utk segera dikabulkan atau memberi jalan. 


*Tanya*
Mohon dijelaskan QS Al Baqarah ayat 114
*Jawab*
Ayat ini dicoba dikait2kan dgn penutupan masjid dan  pelarangan sholat berjamaah di masjid. Pdhl sebenarnya bkn dilarang, hanya dibatasi, meski sebenarnya kita patut curiga, ada apa dgn semua ini, hanya jgn berlebihan. 

Krn utk zona yg masih hijau,, sampai sekarang msh banyak masjid yg melaksanakan sholat berjamaah 5 waktu dan jumatan 


*Tanya*
Atasan saya selalu bicara, "kita hrs manut pd aturan pemerintah, kalau tdk, bgmn nanti umat Islam mati semua". Ini berkenaan dgn wabah corona. 
*Jawab*
Benar,, kita hrs taat pd aturan dan himbauan pemerintah. 


*Tanya*
Apa boleh sholat tahajud setelah sholat isya, tnp tidur terlebih dahulu?
*Jawab*
Boleh saja jika blm terbiasa bangun malam, atau utk yg sulit tidur dan tidurnya sangat larut.


*Tanya*
Bolehkah kita tetap melanjutkan sahur kmdn adzan berkumandang?
*Jawab*
Boleh

_Jika salah seorng diantara kalian mendengar adzan, sedangkan sendok masih ada di tangan, jangalah dia letakkan sendok itu hingga selesai makannya_


*Tanya*
Menyikapi kondisi skrng, disarankan utk ibu2 disarankan sholat tarawehnya dilaksanakan di rumah
*Jawab*
Ikuti saja semua anjuran pemerintah


*Tanya*
Kalau membaca doa sesudah BAB, dibacakan di dlm atau diluar kmr mandi?
*Jawab*
Boleh di dlm maupun di luar kamar mandi. 


*Tanya*
Doa Allohumma salimni fii romadhona apakah bisa diamalkal sblm ramadhan?
*Jawab*

Doa menyambut ramadhan 
Sebagaimana telah kita maklumi bahwa kualitas ibadah Ramadhan kita sangat dipengaruhi oleh keilmuan terhadap petunjuk Allah dan Rasulullah saw. yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Tanpa keilmuan, tingkat akurasi pengamalan serta ruh penghayatan kita terhadap syarat dan ketentuan serta nilai ibadah itu terkadang menjadi “liar” dan “kering”. Sehubungan dengan itu, tidak sedikit di antara orang Islam yang menyikapi Ramadhan sebagai “ibadah musiman” atau aktifitas rutin belaka.
Di antara ilmu yang perlu disosialisasikan kepada umat adalah mengenai sumber-sumber hadis sebagai pedoman praktis beribadah di bulan Ramadhan. Sebab, tidak sedikit hadis, yang sering kali disampaikan oleh sebagian khatib dan ustadz, baik dalam acara pengajian, buku, media elektronik maupun internet, ternyata selain tidak dapat dipastikan bersumber dari Nabi saw., juga terkadang redaksi dan maksudnya telah menyimpang dari rujukan yang sebenarnya. Dalam situasi semacam ini, keberadaan seorang ulama, yang istiqamah dalam mengemban amanat ilmiah dan membimbing umat, mutlak diperlukan. Semoga pandangan para ulama yang tersaji dalam tulisan sederhana ini menjadi salah satu di antara sekian banyak rujukan dalam usaha meningkatkan kualitas ibadah Ramadhan kita.
 
Rujukan Hadis Ibadah Ramadhan
Hadis Nabi merupakan sumber ajaran Islam, disamping al-Qur’an. Dilihat dari periwayatannya hadis berbeda dengan al-Qur’an. Untuk al-Qur’an, semua periwayatanya berlangsung secara mutawatir, sedang untuk hadis, sebagian periwatannya berlangsung secara mutawatir dan sebagian lagi berlangsung ahad.
Hadis mengenal istilah shahih, hasan, dhaif bahkan mawdhu’ (palsu) yang menunjukkan derajat statusnya. Hal demikian itu berarti menghendaki kita memperlakukan hadis secara berbeda sesuai dengan statusnya, sehingga dalam kaitan hadis kita harus cermat, siapa yang meriwayatkan, bagaimana isinya dan bagaimana kualitasnya. Kualitas dari hadis ini akan berpengaruh pada pengambilan hadis, baik dalam pijakan hukum Islam maupun bidang lainnya.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an tidak lagi perlu dilakukan penelitian terhadap keasliannya, karena sudah tidak ada keraguan terhadapnya. sedangkan hadis perlu sikap kritis untuk menyikapi kehadirannya dengan diadakan penelitian, dari penelitian ini akan diketahui bahwa hadis ini memang benar dari Nabi Muhammad dan bukan hadis yang palsu. Penelitian ini bukan meragukan keseluruhan hadis Nabi tetapi lebih kepada kehati-hatian kita dalam pengambilan dasan hukum dalam agama. Inilah bukti bahwa kita benar-benar ingin mengikuti Nabi Muhammad dan menjalankan Islam sepenuhnya.
Dari pentingnya permasalahan ini maka muncullah berbagai macam kritik atas hadis dengan hadirnya metodologi kritik hadis atau metodologi penelitian hadis. Dalam ilmu hadis tradisi penelitian ini lebih difokuskan kepada unsur pokok hadis, meliputi sanad (matai rantai riwayat), matan(teks dan kandungan) dan rawi (wartawan hadis).
Berdasarkan metodologi penelitian hadis itu kita akan menganalisa beberapa contoh hadis yang berhubungan dengan bulan Ramadhan dan shaum di bulan itu, sebagai berikut:
 
Hadis Tentang Doa khusus menyambut Ramadhan
Hadis yang berkaitan dengan doa tersebut terbagi menjadi dua macam: Pertama, dirangkaikan dengan bulan Rajab dan Sya’ban. Kedua, Tanpa dirangkaikan dengan bulan Rajab dan Sya’ban.
 
Pertama, dirangkaikan dengan bulan Rajab dan Sya’ban.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ وَكَانَ يَقُولُ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ غَرَّاءُ وَيَوْمُهَا أَزْهَرُ
Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Nabi saw. apabila masuk bulan Rajab, beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahilah kami pada bulan Ramadhan.’ Dan beliau berkata, ‘Malam Jumat itu indah dan siang harinya bercahaya’.” HR. Abdullah bin Ahmad. [1]
Dalam riwayat lain dengan redaksi:
إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Apabila masuk bulan Rajab, beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan’.” [2]
 
Kedudukan Hadis
Meski diriwayatkan oleh banyak mukharrij (pencatat dan periwayat hadis), namun semua jalur periwayatan hadis itu melalui seorang rawi bernama Za’idah bin Abu ar-Ruqad. Ia menerima dari rawi Ziyad bin Abdullah an-Numairi. Dengan demikian, hadis di atas dikategorikan sebagai hadis gharib mutlaq (benar-benar tunggal).
Menurut penelitian para ahli hadis, hadis di atas dhaif karena dua sebab:
 
Pertama, rawi Za’idah bin Abu ar-Ruqad
Rawi tersebut telah di-jarh (dikritik) oleh para ahli hadis, antara lain:
Imam al-Bukhari berkata, “Dia munkar al-Hadits.” [3] Imam al-Bukhari berkata:
كُلُّ مَنْ قُلْتُ فِيْهِ مُنْكَرُ الْحَدِيْثِ لاَ تَحِلُّ الرِّوَايَةُ عَنْهُ
 “Setiap orang yang aku katakan padanya, ‘munkar al-Hadits’ tidak halal meriwayatkan hadis darinya.” [4]
Abu Dawud berkata, “Saya tidak mengenal khabarnya.” [5] An-Nasai berkata, “Saya tidak tahu siapa dia.” [6] Adz-Dzahabi berkata, “Dia dha’if.” [7]
 
Kedua, rawi Ziyad bin Abdullah an-Numairi
Rawi tersebut telah di-jarh (dikritik) oleh para ahli hadis, antara lain: Ibnu Ma’in berkata, “Pada hadisnya terdapat kedhaifan.” [8] Abu Hatim berkata, “Hadisnya dicatat dan tidak dapat digunakan hujjah.” [9]
Abu Ubaid al-Ajiri berkata, “Saya bertanya kepada Abu Dawud tentangnya (Ziyad), maka ia mendhaifkannya.” Ibnu Hiban berkata, “Dia keliru.” [10]
Kata Ibnu Hajar, “Ibnu Hiban menyebutkannya pula dalam kitab ad-Dhu’afa, dan ia berkata, “Dia (Ziyad) munkar al-Hadits, meriwayatkan dari Anas sesuatu yang tidak menyerupai hadis para rawi tsiqat. Dia ditinggalkan oleh Ibnu Ma’in.” [11]
 
Penilaian Para ulama Terhadap Hadis di atas:
Al-Baihaqi berkata:
تفرد به زياد النميري وعنه زائدة بن أبي الرقاد قال البخاري : زائدة بن أبي الرقاد عن زياد النميري منكر الحديث
“Ziyad an-Numairi menyendiri dengan hadis itu, dan darinya diterima oleh Za’idah bin Abu ar-Ruqad. Al-Bukhari berkata, ‘Za’idah bin Abu ar-Ruqad dari Ziyad an-Numairi, munkar al-Hadits’.” [12]
An-Nawawi berkata:
وروينا في حلية الأولياء بإسناد فيه ضعف
“Dan kami meriwayatkan dalam kitab Hilyah al-Awliya dengan sanad yang padanya terdapat kedaifan.” [13]
Al-Haitasmi berkata:
رواه البزار وفيه زائدة بن أبي الرقاد قال البخاري منكر الحديث وجهله جماعة
“Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan padanya terdapat rawi Za’idah bin Abu ar-Ruqad. Al-Bukhari berkata, ‘Dia munkar al-Hadits’ dan dinilai majhul (tidak dikenal) oleh sekelompok ulama.” [14]
Al-Munawi berkata:
وقال البخاري : زائدة عن زياد منكر الحديث وجهله جماعة وجزم الذهبي في الضعفاء بأنه منكر الحديث
“Al-Bukhari berkata, ‘Dia munkar al-Hadits’ dan dinilai majhul (tidak dikenal) oleh sekelompok ulama. Dan Adz-Dzahabi telah menetapkan dalam kitabnya adh-Dhu’afa bahwa dia munkar al-Hadits.” [15]
Ahmad Syakir berkata, “Isnaduhu dha’iefun(sanadnya dhaif).” [16] Syekh Syu’aib al-Arnauth berkata, “Isnaduhu dha’iefun(sanadnya dhaif).” [17]
 
Kesimpulan Hadis Pertama
Hadis yang berkaitan dengan doa menyambut Ramadhan yang dirangkaikan dengan bulan Rajab dan Sya’ban kedudukannya dhaif dan tidak dapat dijadikan hujjah untuk pengamalan.
 
Kedua, Tanpa dirangkaikan dengan bulan Rajab dan Sya’ban
Doa khusus menyambut bulan Ramadhan yang populer di sebagian kaum muslimin dengan redaksi:
اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً
Sejauh penelitian kami, hampir selama 15 tahun, redaksi di atas tidak didapatkan sumber asalnya, sehingga tidak jelas riwayat siapa. Adapun redaksi yang ditemukan sumber dan periwayatnya adalah sebagai berikut:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ : اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَتَسَلَّمْهُ لِي مُقَبَّلاً
Dari Ubadah bin As-shamit: “Ya Allah, selamatkanlah aku untuk Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan untukku dan terimalah ia untukku (sebagai) yang diterima.” HR. Ad-Dailami. [18]
Dalam penelusuran Ibnu Hajar redaksi hadis versi Ad-Dailami itu selengkapnya sebagai berikut:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا هَؤُلاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ يَقُولُ اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلا
Dari Ubadah bin As-shamit, ia berkata, ”Rasulullah saw. mengajarkan kepada kami beberapa kalimat apabila datang bulan Ramadhan, agar salah seorang di antara kami mengucapkan: Ya Allah, selamatkanlah aku untuk Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan untukku dan terimalah ia dariku (sebagai) yang diterima.” [19]
Sementara At-Thabrani meriwayatkan dengan redaksi:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا هَؤُلاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ أَنْ يَقُولَ أَحَدُنَا اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي مِنْ رَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلا
Dari Ubadah bin As-shamit, ia berkata, ”Rasulullah saw. mengajarkan kepada kami beberapa kalimat apabila datang bulan Ramadhan, agar salah seorang di antara kami mengucapkan: Ya Allah, selamatkanlah aku dari Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan untukku dan terimalah ia dariku (sebagai) yang diterima.” HR. At-Thabrani. [20]
Abdul Karim bin Muhammad al-Qazwini meriwayatkan pula dengan redaksi:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ  صلى الله عليه وسلم  إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ يُعَلِّمُنَا أَنْ نَقُوْلَ اللّهُمَّ سَلِّمْنَا لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ مِنَّا وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبَّلاً
Dari Ubadah bin As-shamit, ia berkata, ”Nabi saw. apabila datang bulan Ramadhan mengajarkan kepada kami agar kami mengucapkan: Ya Allah, selamatkanlah kami untuk Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan dari kami dan terimalah ia dari kami (sebagai) yang diterima.” [21]
Ad-Dzahabi, dalam menjelaskan rawi Ibnu Syaghabah Abu al-Qasim Abdul Malik bin Ali bin Khalaf, mencantum hadis tersebut dengan redaksi:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ  صلى الله عليه وسلم  يُعَلِّمُنَا هؤلاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً.
Dari Ubadah bin As-shamit, ia berkata, ”Nabi saw. mengajarkan kepada kami beberapa kalimat apabila datang bulan Ramadhan: Ya Allah, selamatkanlah aku untuk Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan untukku dan terimalah ia dariku (sebagai) yang diterima.” HR. Ibnu Syaghabah Abu al-Qasim. [22]
 
Kedudukan Hadis
Meski diriwayatkan oleh beberapa mukharrij (pencatat dan periwayat hadis) dengan redaksi yang berbeda, namun semua jalur periwayatan hadis itu melalui seorang rawi yang popular disebut Abu Ja’far ar-Razi, dari Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz, dari Shalih bin Kaisan, dari Ubadah bin as-Shamit. Dengan demikian, hadis di atas dikategorikan sebagai hadis gharib mutlaq (benar-benar tunggal).
Hadis di atas dhaif dengan sebab kedaifan Abu Ja’far ar-Razi, namanya Isa bin Abu Isa Mahan. Dia didaifkan oleh para ahli hadis, antara lain: Al-Fallas berkata, “Dia buruk hafalan”. Abu Zur’ah berkata, “Sering ragu-ragu (dalam meriwayatkan).” [23]
 
Penilaian Para ulama Terhadap Hadis di atas
Syekh Syu’aib al-Arnauth berkata:
إسناده ضعيف لضعف أبي جعفر الرازي، واسمه عيسى بن ماهان، قال ابن المديني: كان يخلط، وقال يحيى: كان يخطئ، وقال أحمد: ليس بالقوي في الحديث، وقال أبو زرعة: كان يهم كثيرا، وقال ابن حبان: كان ينفرد بالمناكير عن المشاهير، قلت: وهو راوي حديث أنس: ما زال رسول الله يقنت في صلاة الصبح حتى فارق الدنيا.
”Sanadnya dha’if karena kedhaifan Abu Ja’far ar-Razi, namanya Isa bin Mahan. Ibnu al-Madini berkata, ’Dia rusak (hapalannya).’ Yahya bin Ma’in berkata, ”Dia keliru.’ Ahmad berkata, ’Dia tidak kuat dalam hadis.’ Abu Zur’ah berkata, ’Dia banyak waham.’ Ibnu Hiban berkata, ’Dia menyendiri dengan riwayat-riwayat munkar dari rawi-rawi masyhur.’ Menurut saya, ’Dia rawi hadis Anas, ’Rasulullah saw. tidak henti-hentinya qunut pada salat subuh hingga meninggal dunia’.” [24]
Kesimpulan Hadis Kedua:
Hadis yang berkaitan dengan doa menyambut Ramadhan tanpa dirangkaikan dengan bulan Rajab dan Sya’ban kedudukannya dhaif dan tidak dapat dijadikan hujjah untuk pengamalan.
 
Kesimpulan Umum
Sehubungan dengan kedhaifan hadis yang menjadi rujukan berdoa khusus terkait Ramadhan, baik secara mandiri maupun dirangkai dengan Rajab dan Sya’ban, kami berkesimpulan bahwa tidak ada syariat berdoa secara khusus dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan.
 
By Amin Muchtar, sigabah.com/beta
 
 
[1] Lihat, Musnad Ahmad, IV:180, No. hadis 2346.  .
[2] HR. Al-Bazzar, Musnad Al-Bazzar, II:290, No. 6494, Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Awsath, IV:189, No. 3939, Ad-Du’a:284, No. 911, Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, III:375, No. 3815, Ad-Da’wat al-Kabir, II:142, No. 529, Ibnu Asakir, Mu’jam asy-Syuyukh:161, No. 309, Al-Mundziri, At-Targhib wa at-Tarhib, II:393, No. 1852, Abdul Ghani al-Maqdisi, Akhbar ash-Shalah:69, No. 127, Al-Khalal, Fi Fadha’il Syahr Rajab:45, No. 1, Abu Nu’aim, Hilyah al-Awliya, VI:269
[3] Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:272.
[4] Lihat, Ar-Raf’ wa at-Takmil fi al-Jarh wa at-Ta’dil: 208.
[5] Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:272.
[6] Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:272.
[7] Lihat, Mizan al-I’tidal, II:65.
[8] Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:493.
[9] Ibid.
[10] Ibid.
[11] Lihat, Tahdzib at-Tahdzib, III:378.
[12] Lihat, Syu’ab al-Iman, III:375
[13] Lihat, Al-Adzkar:274
[14] Lihat, Majma’ az-Zawa’id, II:165
[15] Lihat, Faidh al-Qadier, I:325
[16] Lihat, Ta’aliq ‘Ala al-Musnad, IV:100
[17] Lihat, Ta’aliq ‘Ala al-Musnad, IV:180
[18] Lihat, Al-Firdaws bi Ma’tsur al-Khithab, I:471, No. 1919
[19]Lihat, Al-Ghara’ib al-Multaqathah min Musnad al-Firdaws Mimmaa Laisa fii al-Kutub al-masyhurah:589, No. 614.
[20] Lihat, Ad-dhu’a:284, No. 912.
[21] Lihat, At-Tadwin fi Akhbar Qazwin, III:424.
[22] Lihat, Siyar A’lam an-Nubala, XIX:51, No. rawi 31.
[23] Lihat, Al-Mughni fid Dhu’afa, II:500.
[24] Lihat, Tahqiq Siyar A’lam an-Nubala, XIX:51

Selasa, 21 April 2020

Rangkuman tanya jawab kajian Dialog Islam subuh, bersama Ust Anshorudin Ramdhani, Senin,, 20 April 2020

Rangkuman tanya jawab kajian Dialog Islam subuh, bersama Ust Anshorudin Ramdhani, Senin,, 20 April 2020


*Tanya*
Bolehkah pd hari ini (Senin) melaksanakan syaum sunnah sblm dtng Ramadhan?
*Jawab*
Boleh,, jika memang sdh terbiasa mekaksanakan syaum sunnah Senin Kamis atau syaum Daud.  Yg tdk boleh adalah sengaja  dgn cara melaksanakan syaum sehari atau dua hari sebelum syaum Ramadhan.

Hadits Rasulullah,,, _Janganlah sesekali seseorng mendahului bulan Ramadhan dgn melaksanakan syaum sehari dan tdk boleh pula syaum dua hari kecuali seseorng yg sdh biasa syaum (sunnat)  maka bersyaumlah_


*Tanya*
QS As Sajdah ayat 21 apakah kejadian yg sdng melanda semua negara  akibat covid-19  sebagian siksaan kecil?
*Jawab*
Bagi orng kafir akan jd siksaan sdngkan bagi orng mukmin akan jd ujian, tergantung kondisi orng yg sedang menerima. Jika sdng merasa taat mendekat pd Allah, sholat berjamaah, syaum,  zakat,  shodaqoh, berakhlak dan berperilaku baik, namun ketika oleh Allah diberi suatu musibah,, itu akan jd kafaroh dari dosa. 
Sementara orng kafir yg tdk percaya pd Allah, akan menganggapnya sbg siksaan.

*Tanya*
 Mohon di jelaskan apakah shalat duha dan shalat malam itu diperbolehkan berjamaah?
*Jawab*
Boleh dilaksanakan berjamaah, tp sesekali, tdk rutin dan tdk sprt sholat Ied,, gerhana, istisqo yg dianjurkan berjamaah. Sebagaimana hadits dari Ikban bin Malik, _Rasulullah SAW pernah sholat sunnah di rumah Beliau,  lalu mrk berdiri di belakang dan mengikuti Beliau_ HR Ahmad

Sholat tahajud jg diperbolehkan sesekali dilaksanakn berjamaah di rmh,, yg tdk ditemukan dalilnya adalah sholat malam berjamaah di masjid. Sdngkn sholat malam/tahajud di bulan ramadhan yaitu tarawih diutamakan dilaksnakan berjamaah di masjid.

Tetapi krn skrng ada peraturan tdk boleh dilaksanakan sholat tarawih berjamaah di.masjid utk mencegah penyebaram virus, maka pemerintah menyarankan sholat tarawih di rmh, tnp menghilangkan pahal sholat berjamaah di masjid yg sdh biasa dilakukan 


*Tanya*
Apakah ada hadits shahih bhw Nabi Muhammad SAW sebelum bulan Ramadhan saling memafkan atau meminta maaf kod kerabat atau kerabat kerja yg lain.
*Jawab*
Bermaaf-maaf an sebelum ramdhan


Menjelang tibanya bulan Ramadhan, pada sebagian kaum muslimin terdapat keyakinan dan praktik untuk bermaaf-maafan sebelum melaksanakan shaum di bulan itu. Keyakinan dan praktik ini, menurut pengamatan kami, tidak terlepas dari peranan sebuah hadis yang sering kali disampaikan oleh sebagian khatib dan ustadz, baik dalam acara pengajian, buku, media elektronik maupun internet. Setelah kami analisa, ternyata redaksi dan maksudnya telah menyimpang dari maksud dan rujukan aslinya.
 
Berikut redaksi hadis yang keliru dan telah banyak beredar:
“Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada suatu shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Aamiin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Aamiin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Aamiin.
Tetapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Aamiin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jumat, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah aamiin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.
Do’a Malaikat Zibril itu adalah sebagai berikut:
“Ya Allah tolong abaikan shaum umat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
• Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
• Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri;
• Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
• Maka Rasulullah pun mengatakan Aamiin sebanyak 3 kali.”
Sementara jika kita lacak hadis yang berkenaan dengan bulan Ramadhan, kita dapatkan teks asli hadis itu sebagai berikut:
عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ ، قَالَ : صَعِدَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ ، فَقَالَ : آمِينَ آمِينَ آمِينَ ، فَلَمَّا نَزَلَ قِيلَ لَهُ ، فَقَالَ : أَتَانِي جِبْرِيلُ ، فَقَالَ : رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ أَوْ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ : آمِينَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ أَوْ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ : آمِينَ ، قُلْتُ : آمِينَ ، وَرَجُلٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ : آمِينَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ.
Dari ‘Ammar bin Yasir, ia berkata, “Nabi saw. naik ke atas mimbar kemudian berkata, ‘Aamiin, aamiin, amiin.’ Maka ketika beliau turun dari mimbar, ditanya oleh para sahabat (Kenapa engkau berkata, ‘Aamiin, aamiin, amiin?’) Maka Nabi saw. bersabda, ‘Malaikat Jibril telah datang kepadaku, lalu ia berkata, ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah, atau maka Allah menjauhkannya.’ Katakanlah, ‘Aamiin!’ Maka aku berkata, ‘Aamiin.’ Kemudian Jibril berkata lagi, ‘Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga atau maka Allah menjauhkannya.’ Katakanlah, ‘Aamiin!’ Maka kukatakan, ‘Aamiin.’ Kemudian Jibril berkata lagi, ‘Celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu, maka Allah menjauhkannya.’ Katakanlah, ‘Aamiin!’ Maka kukatakan, ‘Aamiin’.” HR. Al-Bazzar. [1]
Hadis di atas diriwayatkan pula dengan redaksi yang berbeda oleh al-Bazzar dari Anas.[2] Ath-Thabrani dari Ibnu Abbas. [3] Al-Baihaqi dari Jabir. [4] Ath-Thabrani[5] dan al-Baihaqi[6] dari Ka’ab bin ‘Ujrah. Ibnu Hibban[7] dan Abu Ya’la[8] dari Abu Huraerah.
 
Kedudukan Hadis
Kata Syekh al-Albani:
ضَعِيْفٌ جِدًّا
“Sangat dhaif”
Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, dari Ishaq bin Abdullah bin Kaisan, dari ayahnya, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas…
Syekh al-Albani berkata pula, “Menurut saya, ‘Dan sanad ini sangat dhaif, padanya terdapat dua sebab kedaifan:
Pertama, rawi Abdullah bin Kaisan. Dia telah dinilai dhaif oleh para ulama dan tidak ada yang menyatakan tsiqah (kredibel) selain Ibnu Hiban. Namun Ibnu Hiban pun menyatakan bahwa ia yukhti’u (keliru). Karena itu Ibnu Hajar berkata dalam kitab Taqrib at-Tahdzib, “Shaduq yukhti’u katsiran (dia jujur namun banyak salah).”
Kedua, rawi Ishaq putra Abdullah bin Kaisan. Dia sangat dha’if, dan tidak ada seorang pun ulama yang menilainya tsiqah, bahkan al-Bukhari mengatakan, “Dia munkar al-Hadits.”
Meski riwayat ath-Thabrani ini dhaif, namun matan hadis itu shahih karena diriwayatkan melalui jalur periwayatan lain versi Ibnu Hiban, al-Hakim, dan lain-lain dari Ka’ab bin ‘Ujrah.”[9]
Setelah memperhatikan teks asli hadis di atas, kita dapat mengetahui bahwa hadis di atas tidak ada hubungan dengan bermaaf-maafan sebelum shaum Ramadhan. Dengan demikian bermaaf-maafan yang dilakukan secara khusus sebelum shaum Ramadhan tidak sesuai dengan ketentuan syariat dan petunjuk agama.
 
By Amin Muchtar, sigabah.com
 
[1] Lihat, Musnad Al-Bazzar, IV:240, No. 1405
[2] Ibid., IV:49, No. 3168
[3] Lihat, Al-Mu’jam al-Kabir, XI:82, No. 11.115
[4] Lihat, Syu’ab al-Iman, III:309, No. 3622
[5] Lihat, Al-Mu’jam al-Kabir, XIX:144, No. 315
[6] Lihat, Syu’ab al-Iman, II:215, No. 1572
[7] Lihat, Shahih Ibnu Hiban, III:188, No. 907
[8] Lihat, Musnad Abu Ya’la, X:328, No. 5922
[9] Lihat, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, Juz 14, hlm. 346-348

*Tanya*
Apakah covid-19 ini awal dari kiamat?
*Jawab*
Belum tentu, bisa saja sebagai kiamat kehidupan atau kiamat kecil,, tp bkn kiamat kubro.


*Tanya*
Adakah qodho sholat, krn saya lihat di tv ada ustadz yg mengatakan kaum perempuan banyak meninggalkan sholat krn haid.
*Jawab*
Dari Mua'dzah, ia berkata; Aku bertanya kpd Aisyah r.a: Apa sebabnya yg haidh itu meng-qadha shaum dan tdk mengqadha sholat? Aisyah menjawab: Kami pernah mengalami hal itu ketika bersama Rasulullah SAW, maka kami diperintah spy mengqadha shaum dan tdk diperintah utk memg-qadha sholat. HR Jama'ah

Tdk ditemukan satupun dalil yg memerintahkan utk memg-qadha sholat


*Tanya*
,Bismilah
Bagaimana klo ada org yg sholat subuh nya dipas jam 5 ( pasang alarm) tanpa udzur apakah org itu dpt keutamaan sholat fajar? 
*Jawab*
Keutamaan sholat fajar dapat, namun terlambat. Mngkn kemampuan orng tsb bisanya jam 5 sholatnya.



*Tanya*
Boleh tidak membanding2kan pahala dgn pahala yg lainnnya contohnya kalau kita memberi sesuatu beberapa kali kepada anak  yatim sama dng umroh begitu kaya para ahli bid'ah di tempat saya 
*Jawab*
Pahala merupakan akibat dari amal yg kiya lakukan yh didasari sgn keimanan, tnp ada sum'ah, ujub, yakabur dan akhlak2 yg buru lainnya.

Biar saja orng berpendpt sprt itu.


*Tanya*
Bgmn tafsir QS Al Ankabut ayat 62, apakah rizki itu sdh ditetapkan mutlak atau sesuai dgn usaha manusia, apakah ada kaitannya jg dgn hadits ditentukannya rezeki ketika berumur 4 bulan dlm kandungan.
*Jawab*
Tugas kita adalah berikhtiar dan menjemput rezeki, biarlah Allah yg menentukan hasil akhirnya. 
Jgn menyalahkan takdir Allah, sehingga kita nanti menjadi orng yg tdk percaya kpd Allah dan dimanfaatkan oleh orng2 komunis.

Jgn kita iri kpd orng kaya, lalu mengutuk pd diri sendiri. Jemput rezeki dgn tenaga, jemput rezeki dgn ilmu, apapun yg bisa dilakukan, kmdn kita bertawakal kpd Allah SWT


*Tanya*
Mohom dijelaskan QS Al Hijr ayat 87-93
*Jawab*
1. Sab'ul.masani, yg dimaksud adalah telah diturunkan QS Al Fatihah yg terdiri dari 7 ayat dan Qur'an scr umum. 
2. Jgnlah sekali2 kedua matamu terpedaya thd kehidupam dunia, oleh keluarga, sehingga gara2 klrg tdk mau mentadaburi Al Qur'an, justru seharusnya stlh berkeluarga hrs lbh dekat lagi dgn Al Qur'an. 
Krn dlm kehidupan kita akan dihadapkan pd kebutuhan pangan, sandang dan papan, tp jgn lupa bhw pangan, sandang dan papan akan kita temukan kalau kita tdk jauj dari tuntunan Al Qur'an.
3. Jika kita telah berusaha, jgn bersedih, bergabunglah dgn orng2 yg beriman. 

Intinya kita semua akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.


*Tanya*
Adakaj doa khusus menjelang bulan ramadhan?
*Jawab*
Tidak ada


*Tanya*
Apakah zaman Rasulullah atau zaman sahabat Rasulullah saat ada wabah melakukan qunut nazilah?
*Jawab*
Tidak ada.
Wabah sdh ada di zaman Nabi dan zaman para sahabat, tp Nabi tdk melakukan qunut


*Tanya*
Bolehkan sholat Oed dilaksanakan di rmh saja bersama keliarga?
*Jawab*
Boleh. 
Karena kondisinya *masyaqqoh* dan darurat.


*Tanya*
Di masjid perum sy ada surat edaran resmi bahwa tetap di buka u tarawih/tadarusan dll dgn ketentuannya sebelum msk masjid, meskipun ditengah musim Wabah. Pertanyaannya boleh kah mengikuti anjuran rt/rw tersebut krn ada surat edaran.
*Jawab*
Boleh.



*Tanya*
Apakah ada doa stlh sholat tarawih?
*Jawab*
Tdk ada doa khusus, silakan saja berdoa sesuai dgn kebutuhan kita


*Tanya*
Mengenai prolog hadist di awal , apakah ada kesempatan utk ortu yg anaknya laki" semua ?
*Jawab*
Ada.
Namun tentu saja ada perbedaan dari segi mendidik anak laki2 dan anak perempuan.
Nabi memprioritaskan anak perempuan, krn anak perempuan memiliki keistimewaan yg tdk dimiliki oleh anak laki2.
Di zaman jahiliyah anak perempuan dianggap lemah, hina, ditelantarkan dan tdk memiliki hak warisan, bahkan ada satu masa, dimana bayi perempuan yg lahir langsung dibunuh. Oleh Islam lah perempuan dimuliakan dan diangkat derajatnya.

*Tanya*
Bgmn hukumnya jika sdng sholat menguap?
*Jawab*
Apabila menguap disaat sholat maka tahan atau tutuplah. Meskipun menguap adalah sunatullah yg tdk bs ditolak

Sebagaimana sabda Rasulullah, _menguap itu bagian dari gangguan syetan, maka apabila seseorng dari kalian menguap, hendaklah sedapat mungkin ditahan, krn  jika kalian menguap dgn mengatakan *hah* maka syetan pun akan tertawa_ HR Bukhari


*Tanya*
Kalau sholat Isyraq sama dgn sholat dhuha?
*Jawab*
Shalat isyraq itu sholat dhuha di awal waktu, tp penyebutan selain sholat dhuha atau penamaan sholat isyraq secara tersendiri, hadits2nya lemah.