Sabtu, 08 September 2018

Menyimpan daging qurban

Boleh di simpan hingga tanpa batas waktu

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الأَضَاحِى فَوْقَ ثَلاَثٍ لِيَتَّسِعَ ذُو الطَّوْلِ عَلَى مَنْ لاَ طَوْلَ لَهُ فَكُلُوا مَا بَدَا لَكُمْ وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا

“Dulu aku melarang kalian dari menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari agar orang yang memiliki kecukupan memberi keluasan kepada orang yang tidak memiliki kecukupan. Namun sekarang, makanlah semau kalian, berilah makan, dan simpanlah.” (HR. Tirmizi)

Dalil Cerai dan rujuk (talak, idah dan ruju)

Fatimah binti Qois, ketika beliau dicerai oleh suaminya Abu Amr bin Hafs. Fatimah menceritakan,

أَنَّ أَبَا عَمْرِو بْنَ حَفْصٍ طَلَّقَهَا الْبَتَّةَ , وَهُوَ غَائِبٌ، فَأَرْسَلَ إلَيْهَا وَكِيلَهُ بِشَعِيرٍ

Bahwa Abu Amr bin Hafs menceraikan Fathimah binti Qois dengan talak 3, ketika Abu Amr tidak ada bersamanya. Kemudian Abu Amr mengutus seseorang untuk memberikan gandum ke Fathimah.. (HR. Muslim 1480).

Berdasarkan riwayat di atas, talak melalui HP atau telepon statusnya sah, meskipun tidak ada wali dan tidak disampaikan langsung di hadapan istri.

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ (masa ‘iddah). Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu (masa ‘iddah), jika mereka (para suami) menghendaki ishlah” (Al Baqarah: 228).

لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ
“Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.” QS. Ath Thalaq: 1.

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan,

وَقَوْلُهُ: {لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلا يَخْرُجْنَ} أَيْ: فِي مُدَّةِ الْعِدَّةِ لَهَا حَقُّ السُّكْنَى عَلَى الزَّوْجِ مَا دَامَتْ مُعْتَدَّةً مِنْهُ، فَلَيْسَ لِلرَّجُلِ أَنْ يُخْرِجَهَا، وَلَا يَجُوزَ لَهَا أَيْضًا الْخُرُوجُ لِأَنَّهَا مُعْتَقَلَةٌ (3) لِحَقِّ الزَّوْجِ أَيْضًا.

“Yaitu: dalam jangka waktu iddah, wanita mempunyai hak tinggal di rumah suaminya selama masih masa iddah dan tidak boleh bagi suaminya mengeluarkannya. Tidak bolehnya keluar dari rumah karena statusnya masih wanita yang ditalak dan masih ada hak suaminya juga (hak untuk merujuk).”

Dalil2 inipun menunjukan suami istri yg menalak dlm masa 'iddah (talak raj'i) bisa rujuk kapanpun tanpa hrs ada saksi.

Shaum tarwiyah dhoif

Shaum tarwiyyah itu shaum pd tgl 8 dzulhijjah.

Shaum tarwiyyah haditsnya maudhu/palsh

Terdapat hadis yang secara khusus menganjurkan puasa di hari tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah). Hadis itu menyatakan,

مَنْ صَامَ الْعَشْرَ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَوْمُ شَهْرٍ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ سَنَةٌ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ سَنَتَانِ

”Siapa yang puasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari arafah, seperti puasa dua tahun.”

Hadis ini berasal dari jalur Ali al-Muhairi dari at-Thibbi, dari Abu Sholeh, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, secara marfu’.

Para ulama menegaskan bahwa hadis ini adalah hadis palsu. Ibnul Jauzi (wafat 597 H) mengatakan,

وهذا حديث لا يصح . قَالَ سُلَيْمَان التَّيْمِيّ : الطبي كذاب . وَقَالَ ابْن حِبَّانَ : وضوح الكذب فِيهِ أظهر من أن يحتاج إِلَى وصفه

Hadis ini tidak shahih. Sulaiman at-Taimi mengatakan, ’at-Thibbi seorang pendusta.’ Ibnu Hibban menilai, ’at-Thibbi jelas-jelas pendusta. Sangat jelas sehingga tidak perlu dijelaskan.’ (al-Maudhu’at, 2/198).

Keterangan serupa juga disampaikan as-Syaukani (wafat 1255 H). Ketika menjelaskan status hadis ini, beliau mengatakan,

رواه ابن عدي عن عائشة مرفوعاً ولا يصح وفي إسناده : الكلبي كذاب

Hadis ini disebutkan oleh Ibn Adi dari A’isyah secara marfu’. Hadis ini tidak shahih, dalam sanadnya terdapat perawi bernama al-Kalbi, seorang pendusta. (al-Fawaid al-Majmu’ah, 1/45).

Keterangan di atas, cukup bagi kita untuk menyimpulkan bahwa hadis di atas adalah hadis yang tidak bisa jadi dalil. Karena itu, tidak ada keutamaan khusus untuk puasa tarwiyah

Yg shahih hanyalah hadits shaum d hari 'arafah

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Istillah hadits mutawatir, marfu,tsiqoh,majhul,hasan,gharib

Panjang penjelasannya.  Singkatnya:
1. Mutawatir = hadits yg d riwayatkan oleh para perawi yg sangat banyak dgn berbagai jalur

2. Marfu= hadits yg sampai pd rasul

3. Tsiqah = rawi yg jujur dlm kepribadiannya

4. Majhul = rawi yg tdk d ketahui identitasnya

5. Hasan = hadits yg berderajat d bawah shahih dan d atas dhaif

6. Gharib = hadits yg asing

Bercerai tidak mengurus anak

Wa'alaikumussalaam warahmatullaah..

Tidak berdosa, krna tdk mengurusnya ada sebab, yaitu adanya sebab percerainan serta sudah hak pilih asuh.

Namun begitu, tdk ada istilah mantan org tua, mk tetap walaupun sdikit, org tua hrs mengurus, memberi nafkah, perhatian dan pendidikan..

Dalam Islam, kepengurusan anak tdk diberikan seutuhnya pd mantan istri atau mantan suami, dgn kata lain, meski adanya perceraian, anak tetap hrs d bina d asuh oleh orng tua aslinya meski mereka bercerai.

Kisah shahih dan kisah dhaif masuk Islamnya Sayyidina Umar r.a

*Kisah shahih dan kisah dhaif masuk Islamnya Sayyidina Umar r.a*

Saidina Umar Al Khattab radhiallahuanhu, suatu nama yang tidak asing bagi kita umat Islam. Beliau memeluk Islam pada tahun ke 7 kenabian. Beliau adalah seorang yang dihormati dalam kalangan bangsa Arab dan merupakan diantara orang yang lantang menentang dakwah Baginda nabi Muhammad S.A.W sebelum Islam.
Pengaruh beliau sangat besar dan mempunyai pengikut dari bani adi’. Sehingga Nabi Muhammad S.A.W pernah berdoa dalam sebuah hadis:

حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ حَدَّثَنَا خَارِجَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَكَانَ أَحَبُّهُمَا إِلَى اللَّهِ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Amir telah menceritakan kepada kami Kharijah bin Abdullah Al-Anshariy dari Nafi’, dari Ibnu Umar, pernah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berdoa: “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu diantara kedua orang yang paling engkau cintai, Abu Jahal atau Umar bin Khattab.” Dan ternyata yang lebih Allah cintai diantara keduanya adalah Umar bin Khattab. (Musnad Ahmad)

Begitulah Umar Al Khattab, yang digelar Al Faruq, pemisah antara hak dan batil. Namun bagaimanakah kisah yang sahih mengenai beliau memeluk Islam??
Beginilah cerita Umar memeluk Islam yang sahih, ia terdapat dalam Musnad Ahmad:

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنَا شُرَيْحُ بْنُ عُبَيْدٍ قَالَ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
خَرَجْتُ أَتَعَرَّضُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ أُسْلِمَ فَوَجَدْتُهُ قَدْ سَبَقَنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَقُمْتُ خَلْفَهُ فَاسْتَفْتَحَ سُورَةَ الْحَاقَّةِ فَجَعَلْتُ أَعْجَبُ مِنْ تَأْلِيفِ الْقُرْآنِ قَالَ فَقُلْتُ هَذَا وَاللَّهِ شَاعِرٌ كَمَا قَالَتْ قُرَيْشٌ قَالَ فَقَرَأَ
{ إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ قَلِيلًا مَا تُؤْمِنُونَ }
قَالَ قُلْتُ كَاهِنٌ قَالَ
{ وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ }
إِلَى آخِرِ السُّورَةِ قَالَ فَوَقَعَ الْإِسْلَامُ فِي قَلْبِي كُلَّ موقع.

Telah menceritakan kepada kami Abul Mughirah Telah menceritakan kepada kami Shafwan Telah menceritakan kepada kami Syuraih Bin ‘Ubaid dia berkata; Umar Bin Al Khattab berkata;

aku keluar menghadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum aku masuk Islam, tapi aku dapati beliau telah mendahuluiku di masjid dan aku berdiri di belakangnya, kemudian beliau membuka shalatnya dengan membaca surat Al Haaqqah sehingga aku terkagum-kagum dengan susunan Al Qur’an,

” Umar melanjutkan; maka aku berkata; “Demi Allah, orang ini adalah seorang penya’ir sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Quraisy, ” Umar melanjutkan; kemudian beliau mambaca ayat: “Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul yang mulia. Dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kamu beriman kepadanya” (QS Al Haaqah ayat 40-41),

Umar berkata; maka aku berkata; “tukang tenung” (ahli sihir) kemudian beliau membaca: “Dan bukan pula perkataan tukang tenung. sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu,” sampai akhir surah, maka Umar berkata; “Maka Islam benar-benar membenam didalam hatiku.”(Musnad Ahmad)

Maka pada akhirnya beliau telah memeluk Islam. Beginilah cerita sahih yang telah ditulis di dalam Musnad Ahmad, juga diriwayatkan oleh Tabrani dalam kitab Aw’sat, juga sanadnya semua perawi adalah thiqah seperti mana yang disebut dalam tahzib tahzib dan taqrib.
Adapun sebuah riwayat yang akan saya sebutkan di bawah ini adalah masyhur akan tetapi terdapat beberapa pandangan dari sebahagian besar ulama hadis mengenai kesahihannya.

Riwayat ini terdapat dalam rahiq maqtum karya mubarakfuri, di dalam Tarikh Dimasyk karya ibnu Asakir.
Pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Rasulullah. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah al ‘Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, “Mau kemana wahai Umar?” Umar bin Khattab menjawab, “Aku ingin membunuh Muhammad.” Lelaki tadi berkata, “Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau kamu membunuh Muhammad?” Maka Umar menjawab, “Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu.” Tetapi lelaki tadi menimpali, “Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar? Sesugguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini.”

Kemudian dia bergegas mendatangi adiknya yang sedang belajar Al Qur’an, surat Thaha kepada Khabab bin al Arat. Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab bersembunyi. Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, “Kami tidak sedang membicarakan apa-apa.” Umar bin Khattab menimpali, “Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian.” Iparnya menjawab, “Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?” Mendengar ungkapan tersebut Umar bin Khattab memukulnya hingga terluka dan berdarah, karena tetap saja saudaranya itu mempertahankan agama Islam yang dianutnya, Umar bin Khattab berputus asa dan menyesal melihat darah mengalir pada iparnya.

Umar bin Khattab berkata, “Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.” Maka adik perempuannya berkata, “Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!” Lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah.

Tatkala Khabab mendengar perkataan Umar bin Khattab, dia muncul dari persembunyiannya dan berkata, “Aku akan beri kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis, ‘Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.’ Waktu itu, Rasulullah berada di sebuah rumah di daerah Shafa.” Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus dari celah pintu rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, “Ada apa kalian?” Mereka menjawab, “Umar datang!” Hamzah bin Abdul Muthalib berkata, “Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya.” Kemudian Rasulullah menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya, “Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab.” Dan dalam riwayat lain, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar.”

Maka kisah di atas ini adalah riwayat adalah mungkar disisi Imam Bukhari di dalam Tarikh Kabir, juga berkata Az Zahbi di dalam kitabnya Mizanul Adil bahawa riwayat tersebut tersangat mungkar.
Terdapat juga riwayat yang lain hanya sedikit berbeda lafadz dari riwayat mungkar yang disebutkan akan tetapi ia juga disebut sebagai matruk (ditinggalkan) oleh Ibnu Hajar dalam Tahrir Taqrib.

Semoga kita diberi hidayah oleh Allah Azawajal dalam membaca dan menceritakan sirah melalui riwayat yang sahih dan bukan riwayat yang daif dan mungkar bahkan bukan yang palsu. Semoga beroleh manfaat buat semua.
Rujukan

– صحيح السيرة النبوية، ابراهيم العلي
– قصص ضعيفة من التاريخ الإسلام، طه بن علي بسريح التونسي
– حقبة من التاريخ، عثمان بن محمد الخميس
– مسند الإمام احمد بن حنبل

Dua niat dalam satu ibadah

Dua niat

Masalah ini di kalangan ulama dikenal dengan malasah tasyrik (menggabungkan dua ibadah dalam satu niat). Hukumnya adalah jika termasuk wasail atau ibadah yang saling berkaitan, maka ibadahnya sah, dan kedua ibadah tersebut terhitung telah tertunaikan. Seperti, jika seseorang mandi junub pada hari jum’at dengan niat mandi jum’at dan mandi junub. Maka ia dianggap telah bersih dari hadast akbar/junub tersebut dan memperoleh pahala mandi jum’at.

Jika salah satu dari dua ibadah tersebut tidak diniatkan (ghairu maqshudah) dan yang lainnya diniatkan secara langsung, maka boleh digabung dan hal itu tidak berpengaruh pada ibadah tersebut. Misalnya shalat tahiyatul masjid dengan shalat fardhu atau shalat sunnah lainnya. Tahiyatul masjid tidak diniatkan secara langsung (ghairu maqshudah bidzatiha), tapi yang dimaksud (diniatkan) adalah memuliakan tempat (masjid) dengan shalat, dan hal itu telah terlaksana. 1

Adapun menggabung niat dua ibadah yang dimaksudkan secara dzatnya; semisal shalat –fardhu-dzuhur- dan rawatib-nya, atau seperti shiyam fardhu baik ada’ maupun qadha, kaffarat ataupun nadzar dengan shiyam sunnah seperti shiyam 6 hari syawal, maka tidak sah. Karena masing-masing ibadah tersebut berdiri sndiri dan terpisah dengan yang lainnya. Masing-masing ibadah tersebut dimaksudkan secara dzatnya dan bukan merupakan bagian dari ibadah yang lainnya *sehingga tidak dapat digabung. Jika digabung; tidak sah.*

Qadha Shiyam Ramadhan dan shaum yang sunah lainnya dimaksudkan secara *dzatnya.*
Demikian pula dengan shiyam enam hari di bulan syawal juga dimaksudkan secara dzatnya. Karena semua shaum tersebut (shaum ramadhan + shaum enam hari syawal+shaum sunah lainnya memiliki dzat dan fadhilah yang berbeda, shaum syawal setara dengan shaum setahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih. Sehingga *tidak sah jika  digabung dengan shaum qadla dan shaum sunah lainnya*yang memiliki fadhilah yang berbeda.
Maka pelaksanaan beberapa shaum dalam satu niat,perkara yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi saw dan para sahabat, hukumnya *bid'ah*.

Silahkan bantu sebarkan, semoga bermanfaat buat Anda dan yg lain. In Syaa Allah berpahala.