Rabu, 13 November 2019

hadits dhoif rosul qunut shubuh sampai meninggal

ahid yaitu dari riwayat Hasan al-Basri dari Anas bin Malik
صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ بَعْدَ الرُّكُوعِ فِي صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقْتُهُ قَالَ وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ بَعْدَ الرُّكُوعِ فِي صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقْتُهُ
Aku salat bersama Rasulullah Saw, beliau tidak meninggalkan berqunut setelah ruku’ dalam salat subuh sehingga beliau meninggal. Akupun salat dibelakang Umar bin Khattab selalu berqunut setelah ruku pada salat subuh sehingga beliau wafat
Namun dalam sanadnya ada rawi yang bernama Amr bin Ubaid yang dinilai oleh imam Ibn Ma’in “la yuktabu haditsuhu”  imam Nasai “matruk al-hadits”, Imam Ayub dan Yunus “yakdzib”. Oleh karena itu hadisnya sangat lemah sehingga tidak dapat menjadi penguat bagi hadis Abu Ja’far ar-Razi. Sehingga konsekuensinya hadis riwayat Abu Ja’far ar-Razi tersebut menyendiri dalam periwayatan, tidak bisa naik menjadi hasan lighairih.
Dengan demikian status hadis mendawamkan qunut subuh selain qunut nazilah berderajat dhoif, sehingga tidak dapat dijadikan hujjah dan diamalkan. pendapat inilah menurut hasil penelitian kami yang paling rojih.

sholat isyraq

Bagaimana derajat hadis salat Isyraq ? apakah dapat diamalkan ?
Jawab :
Hadis yang dijadikan dalil salat isyraq setidaknya ada lima jaur riwayat dengan rincian sebagai berikut :
1.  Ibnu Umar
عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ.
Dari Anas bin Malik berkata : Rasulullah Saw bersabda : “ Siapa yang salat subuh berjamaah kemudian duduk berdzikir sampai terbit mataharikemudian salat dua rakaat, maka baginya pahala semisal dengan pahala haji dan umrah, sempuna, sempurna, sempurna (H.R. Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, 1/727)
Namun dalam sanadnya ada rawi bernama Abu Dzilal, berikut adalah penilaian para ulama Jarh Ta’dil terhadap Abu Dzilal, Yahya bin Ma’in “Laisa bi Syaiin” “dhaif al-Hadits” (al-Jarh wa at-Ta’dil, 9/73) Nasa’i “Dhaif” (ad-Dhu’afa wa al-Matrukin, 104) Ibnu ‘Adi “kebanyakan periwayatannya tidak disertai (mutaba’ah) periwayatan orang yang tsiqat” (al-Kamil fi Dhuafa’ ar-Rijal, 7/119) Ibnu Hibban “Seorang Syaikh yang kadang lalai, meriwayatkan dari Anas bi Malik, padahal bukan dari Anas “. Imam Bukhari “Pada riwayat Abu Dzilal dari Anas kebanyakan hadis-hadisnya munkar” (ad-Dhu’afa al-Kabir, 4/345)
Riwayat Abu Dzilal dari Anas bin Malik ada mutaba’ah bagi Abu Dzilal yaitu Yazid al Qaqqasyi, Qatadah dan Tsabit al-Bunani. Namun sayangnya ketiganya tidak menyebutkan adanya salat dua rakaat isyraq tapi hanya sekedar keutamaan salat subuh dan duduk dzikir setelahnya sampai matahari terbit. menyendiri dalam periwayatan hadis ini dari Anas bin Malik tanpa adanya mutabi’ dari yang lain, sehingga hadis tersebut terkategori munkar.
Ada tiga alasan, pertama imam bukhari memang tidak menyebutkan semua riwayatnya munkar, namun khusus jalur dari Anas bin Malik beliau menilainya munkar. Kedua, Anas bin Malik termasuk sahabat yang banyak murid, setidaknya tercatat ada 217 (tahdzib al-kamal) dan mayoritas tsiqat, namun tidak ada satupun yang meriwayatkan matan yang sama dengan Abu Dzilal. Ketiga, Abu Dzilal menyendiri dalam periwayatan, kalau seandainya riwayat tersebut dipastikan dari Anas bin Malik, tentunya para muridnya yang tsiqat, asbath, lebih banyak mulazamah dengan Anas bin Malik meriwayatkann pula hadis tersebut. Dengan demikian jalur Anas bin Malik ini termasuk hadis munkar yang sangat lemah, tidak dapat menguatkan maupun dikuatkan
2.  Abu Umamah
Hadis diatas memang ada syawahid dari riwayat yang lain, diantarannya dari Abu Umamah, Aisyah dan Ibnu Umar. Dari Jalur Abu Umamah ada dua jalur periwayatan. Pertamam dari jalur al- Ahwas. Al-Ahwas sendiri merupakan rowi yang lemah Ibnu Ma’in menilai: “La Syai” (dloif). Juga Imam An-Nasai menilai dloif. Adapun Imam Ahmad mengatakan: “Haditsnya tidak ada satupun yang lurus”. Al-Ahwash bin Hakim tidak kuat, dia rowi Munkarul Hadits. Ibnu ‘Uyainah mendahulukan Al-Ahwash daripada Tsaury dalam Hadits, maka (Nampak) keliru (penilaian) ibnu ‘Uyainah dalam mendahulukan Ahwash daripada Tsaury. Imam Tsaury itu Shoduq sedang Al-Ahwash rowi munkarul hadits”. Salah satu bukti al-Ahwas ini lemah adalah jalurnya idthirab (goncang). Berikut penjelasannya
1.   Ahwash« Abu ‘Amir « Abu Umamah r.a« Nabi saw
2.  Ahwash« Abu ‘Amir « ‘Utbah r.a« Aby Umamah r.a« Nabi saw
3.  Ahwash« Abu ‘Amir« Abu Umamah r.a dan Utbah r.a« Nabi saw
al Ahwas kadang menyebutkan dari Abu Amir dari Abu Umamah, kadang dari Abu Amir dari Utbah dari Abu Umamah, kadang pula dari Abu Amir dari Abu Umamah dan Utbah. Kesimpulanya jalur Abu Umamah yang melewati al-Ahwas ini munkar dan idhtirab sehingga dihukumi dhaif ghair muhtamal yang tidak bisa dijadikan sebagai syahid atau penguat.
Jalur kedua Jalur sanadnya: Husein« Al-Mughiroh« Utsman bin Abdurrohman« Musa bin ‘ulay« Yahya« Al-Qosim« Aby Umamah r.a« Nabi saw. Masalah ada pada rawi Ustman bin Abdurrahman dan Musa bin ‘Ulay. Usman bin Abdurrahman, komentar para ulama
1.  Ibn Hajar dalam taqrib “dia rowi shoduq, tapi kebanyakan riwayatnya dari rowi-rowi dloif dan dari rowi-rowi majhul (tidak dikenal) karena itulah ia didloifkan dengan sebab itu sehingga Ibnu Namir menisbahkannya dengan dusta. (Taqrib at-Tahdzib, 666)
2.  Imam Al-Bukhory mengatakan: “dia meriwayatkan dari orang-orang lemah (dloif). Adapun Abu hatim menilai rowi ini shoduq. Dan Abu ‘Arubah menilai: ”dia tidak apa-apa dan ia meriwayatkan dari kaum yang majhul dengan kemungkaran” (Tahdzib al-Kamal, 19/429).

Dari penelitian terbukti bahwa Musa bin ‘Ulay bukanlah Musa bin ‘Ulay al-Lahmy tapi Musa bin ‘Ulay yang termasuk majhul ‘Ain. Karena Yahya dan Musa bin ‘Ulay tidak mempunyai sanad keguruan. Begitu juga al-Lahmy tidak mempunyai murid yang bernama Usman bin Abdurrahman. 

Dengan demikian jelaslah bahwa jalur Usman bin Abdurrahman dari Musa bin “ulayya hadisnya munkar serta ada rawi yang majhul ‘Ain sehingga masuk dalam kategori sangat lemah tidak dapat menguatkan maupun dikuatkan. Sedangkan sanad yang mahfudz adalah sanad melalui Shadaqah bin Khalid (H.R. al-Baihaqi), Haitsan bin Humaid (H.R. Abu Dawud), Suwaid bin Abdul Aziz (H.R. Thabarani), Ismail bin Iyyas (H.R. Ahmad) dan al-Walid bin Muslim (H.R. Thabarani). Kelimanya merupakan murid dari Yahya bin al-Harits. Kelima rawi tersebut hanya memberitakan pertama, keutamaan seseorang keluar rumah untuk shalat wajib dengan pahala seperti orang beribadah haji. Kedua, keutamaan seseorang keluar rumah untuk salat dluha atau salat sunnah dengan pahala seperti orang beribadah umrah. Tidak menerangkan duduk-duduk kemudian salat dua rakaat isyraq.
3.  Ibnu Umar 
Adapun dari sahabat Ibnu Umar ada tiga jalur riwayat, pertama dari al Ahwas, termasuk jalur mudhtharib dan munkar. Jalur kedua, dari Khalid bin Ma’dan, dalam sanadnya ada Salm bin al-Mughirah, imam Ahmad berkata “jangan catat hadis-hadis gharib sesungguhnya termasuk hadis-hadis munkar” jalur inipun lebih dekat kepada munkar. Disamping ada keterputusan sanad antara Khalid bin Ma’dan dari Ibn Umar, sehingga jalur ini terkategori dhaif ghair muhtamal tidak dapat dijadikan penguat maupun dikuatkan. Ketiga jalur imam Nafi’ namun dalam sanadnya ada Rawi yang bernama al-Fadl bin Muwaffaq dinilai lemah oleh Abu Hatim dan terkadang meriwayatkan hadis-hadis palsu. al-Fadl bin Muwaffaq menyendiri dalam periwayatan dari gurunya Malik bin Mighwal, jika kita lihat dalam kitab-kitab jarh ta’dil tidak ditemukan bahwa murid Malik bin Mighwal adalah al-Fadl bin Muwaffaq dengan demikian lebih dekat kepada munkar dan tidak dapat menguatkan maupun dikuatkan. Dengan demikian keseluruhan jalur Ibnu Umarpun tidak terlepas dari kedhaifan yang sangat, sehingga tidak dapat dijadikan mutabaah maupun syawahid.
4.  Aisyah
Hadisnya ada dalam al-Kamil Ibn ‘Adi, namun dalam sanadnya ada Rawi yang bernama Ishaq bin Bisyri, Imam ad-Daraqutni menilainya pemalsu hadis sedangkan imam al-Azdi menilainya matruk al-hadits (Lisan al-Mizan, 2/44-45)
5.  Muaz bin Anas al-Juhany 
Hadisnya diriwayatkan oleh imam al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra, namun dalam sanadnya ada tiga rawi dhaif dan tafarrud sehingga masuk dalam kategori dhaif ghair muhtamal tidak dapat menguatkan maupun dikuatkan.
Kesimpulannya, pertama, walaupun terdapat lima jalur sahabat, namun semuanya tidak terlepas dari kedhaifan dan munkar, sehingga tidak dapat saling menguatkan maupun dikuatkan. Dengan demikian tidak dapat dijadikan hujah dan tidak dapat diamalkan.

kerja di non islam

🔴asalamualaikum Pa Ustadz , mohon pencerannya , saya bekerja pada orang  non islam di bidang tekstil , apakah gaji yang saya terima itu halal ataukah haram ... terima kasih ustadz
Jawab :
Pada dasarnya asal dalam muamalah adalah mubah, termasuk dengan orang kafir, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Rasulullahpun bermuamalah dengan orang kafir diantaranya Nabi pernah membeli makanan dari seorang Yahudi secara angsuran, bahkan ketika masih kecil, Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam berprofesi sebagai pengembala bagi orang kafir dan para nabi lainnya berprofesi sebagai pengembala kambing
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ اشْتَرَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا بِنَسِيئَةٍ وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ
dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membeli makanan dari orang Yahudi secara angsuran dan menjaminnya dengan menggadaikan baju besi Beliau". (Hr Bukhari, Sahih al-Bukhari, 3/62)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ
Dari Abu Hurairah RA dari Nabi Saw bersabda : “Allah tidak mengutus nabi kecuali mengembala kambing. Kemudian para sahabat bertanya : “apakah engkau juga ya Rasulullah ? “benar, aku dahulu mengembala kambing milik masyarakat Makah dengan beberapa kerat emas (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 3/88)
Namun ada beberapa batasan penting. Pertama, kafir yang dimaksud hanya kafir 'ahid dan dzimmi saja, tapi tidak dengan kafir harbi. Kedua, pekerjaan maupun komoditas merupakan barang dan cara yang halal, bukan yang haram. Ketiga, memberikan kebebasan dalam beribadah kepada karyawannya. Keempat, tidak dikhawatirkan terjadi fitnah baik kepada pribadi maupun identitas sebagai muslim.

sholat jum'at dan ashar di waktu dzuhur

Abu Khazin:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِرْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ اَلشَّمْسُ أَخَّرَ اَلظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ اَلْعَصْرِ, ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا, فَإِنْ زَاغَتْ اَلشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى اَلظُّهْرَ, ثُمَّ رَكِبَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari Anas, ia berkata, "Rasulullah Saw. apabila berangkat dalam safarnya sebelum tergelincir matahari, beliau akhirkan Zuhur hingga waktu Ashar, kemudian beliau singgah dan menjamak keduanya. Jika mahahari sudah tergelincir sebelum berangkat, beliau salat Zuhur kemudian berangkat." (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari II:47, Muslim, Shahih Muslim I: 489, Ahmad, Musnad Ahmad IV: 632, 676, Abu Daud, Sunan Abi Daud II: 452, An-Nasa’i, Sunan An-Nasai I: 321, 325, As-Sunan Al-Kubra I: 497, 589, At-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Ausath VIII: 80,Ad-Daraquthni, Sunan Ad-Daraquthni I : 376, Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra III: 230, Abu Ya’la Al-Mushili, Musnad Abi Ya’la Al-Mushili III: 276, Ibnu hibban, Shahih Ibnu Hibban IV: 463, Abu ‘Awwanah, Mustakhraj Abi Awwanah II: 80)
عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فِي السَّفَرِ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَدْخُلَ أَوَّلَ وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا. رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Anas, ia berkata, ”Nabi saw. itu apabila hendak menjamak antara dua salat pada waktu safar, maka beliau mengakhirkan Zhuhur hingga masuk awal waktu Ashar kemudian menjamak keduanya.” (HR. Muslim, Shahih Muslim I: 489, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah I: 479, Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban IV: 309, Ad-Daraquthni, Sunan Ad-Daraquthni I: 376, 236, Al-Baihaqi, As-Sunan As-Shaghir I : 227, 228, As-Sunan Al-Kubra III: 230, 231, Abu ‘Awwanah, Mustakhraj Abi Awwanah II: 79)
3.  Kaidah 
اَلأَصْلُ فِي اْلعِبَادَاتِ اَلتَّحْرِيْمُ
Asal dalam ibadah adalah haram
اَلأَصْلُ فِي  اْلعِبَادَاتِ اَلْحَظْرُ اِلاَّ بِنَصٍّ 
Asal dalam ibadah adalah terlarang kecuali ada nash

لاَ قِيَاسَ فِي اْلعِبَادَةِ
Tidak ada qiyas dalam ibadah
MEMPERHATIKAN:
1.  Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP. Persis KH. Aceng Zakaria yang menyarankan segera diputuskan masalah hukum tentang ‘Jama’ Salat Ashar dengan Salat Jumat’, dan untuk segera disosialisasikan.
2.  Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH. Muhammad Romli. 
3.  Pemaparan dan pembahasan makalah tentang ‘Jama’ Salat Ashar dengan Salat Jumat’ yang disampaikan oleh K.H. Dailami.
4.  Pandangan para peserta Sidang Dewan Hisbah terkait dalil, wajh al-dilalah, metode istinbat dan kesimpulan hukum makalah ‘Jama’ Salat Ashar dengan Salat Jumat’.
Atas dasar semua konsideran di atas, maka dengan bertawakkal kepada Allah, Dewan Hisbah Persatuan Islam
MENGISTINBATH:
1.  Menjama’ salat Ashar dan salat Jum’at tidak disyariatkan
2.  Bagi musafir melaksanakan salat Ashar di waktu Zuhur diperbolehkan
Demikian Keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan  makalah terlampir.
الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين
Bandung, 28 Rabi’ul Awwal 1438 H/ 28 Desember 2016 M.
                 DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM
        Ketua,                                   Sekretaris,


   KH. MUHAMMAD ROMLI                                              KH.ZAE NANDANG
   NIAT : 01.02.08301.094                                                              NIAT :01.02.13511.018

Penjelasan 
Maksud jama pada diktum pertama adalah menyatukan dua salat yaitu salat jumat dan salat ashar dalam satu waktu. Cara tersebut tidak ada contohnya dari Rasulullah Saw dan tidak bisa diqiyaskan kepada salat zuhur sehingga tidak di syariatkan. Adapun diktum kedua, maksudnya bukan menyatukan salat jumat dan salat ashar, tapi bagi musafir boleh salat ashar waktu zuhur pada hari jumat, jadi tidak ada kaitan dengan salat jumat. Praktiknya setelah salat jumat ada jeda dengan zikir atau aktivitas lainnya kemudian salat ashar selama masih dalam waktu zuhur dibolehkan.

hukum jual beli saham

🔵 DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM
Pada Sidang Dewan Hisbah
Di Sumedang,  4 J. Tsaniyah     1421 H
                        3   September   2000  M

TENTANG
JUAL BELI SAHAM DALAM RANGKA PROFIT TAKING
بسم الله الرحمن الرحيم
DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM (PERSIS) dalam sidangnya pada hari ahad tanggal 4 Jumadits- Tsaniyah 1421 H/3 September 2000 di Sumedang, Jawa Barat, setelah: 
Memperhatikan
1. Makalah dan uraian dari Dr. H. Adiwarman A. Karim, SE, MBA dan KH. Dr. M. Abdurrahman, MA tentang masalah tersebut; 
2. Pembahasan yang disampaikan oleh seluruh anggota Dewan Hisbah. 

Menimbang
1. Bahwa saham adalah bukti kepemilikan aset atau barang; 
2. Jual beli dinilai sah dengan syarat “An Taradhin”; 
3. Tukar menukar dinar dengan dirham dengan tunai sudah ada di zaman Nabi saw dan Nabi saw tidak melarangnya; dan 
4. Bahwa Islam mengharamkan: riba, gharar, ihtikar dan maisir. 

Dewan Hisbah mengambil istinbath:  
1.  Jual beli saham dari aset atau produk yang tidak diharamkan, dan tidak mengandung unsur riba, gharar, ihtikar, dan maisir hukumnya halal; dan 
2. Jual beli valas dengan cara tunai pada dasarnya boleh. Tapi jual beli valas sebagai komoditas atau dalam rangka profit-taking hukumnya haram. 
Demikian Keputusan Dewan Hisbah tentang masalah tersebut dengan makalah terlampir
Sumedang,  4 J. Tsaniyah     1421 H
 3   September   2000  M  

DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM
         
Ketua                            Sekretaris
        

KH. E. Sar’an                                                                  K.H. Drs. Shiddiq Amien, MBA
NIAT: 03897                            NIAT: 6490

cara tidur rosululloh saw

🔵 cara-cara tidur Rasulullah saw. 

٤٨٨٤ - حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَاللَّفْظُ لِعُثْمَانَ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا و قَالَ عُثْمَانُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ حَدَّثَنِي الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ثُمَّ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ وَاجْعَلْهُنَّ مِنْ آخِرِ كَلَامِكَ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ مُتَّ وَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ قَالَ فَرَدَّدْتُهُنَّ لِأَسْتَذْكِرَهُنَّ فَقُلْتُ آمَنْتُ بِرَسُولِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ 

4884. Telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim -dan lafadh ini milik 'Utsman- Ishaq berkata; telah mengabarkan kepada kami, dan 'Utsman berkata; telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Sa'd bin 'Ubaidah telah menceritakan kepadaku Al Barra' bin 'Azib bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Apabila kamu hendak tidur, maka berwudhulah sebagaimana kamu berwudhu untuk shalat. Setelah itu berbaringlah dengan miring ke kanan, lalu berdoalah: ' ALOOHUMMA INNII ASLAMTU WAJHII ILAIKA, WAFAWWADHTU AMRII ILAIKA, WA-ALJA'TU ZHOHRII ILAIKA ROGHBATAN WAROHBATAN ILAIKA, LAA MALJA'A WALAA MANJAA MINKA ILLAA ILAIKA, AAMANTU BIKITAABIKALLADZII ANZALTA, WABINABIYYIKALLADZII ARSALTA 'Ya AIlah ya Tuhanku, aku Pasrahkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu dan aku serahkan punggungku kepada-Mu dengan berharap-harap cemas, karena tidak ada tempat berlindung dan tempat yang aman dari adzab-Mu kecuali dengan berlindung kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.' Jadikan bacaan tersebut sebagai penutup ucapanmu menjelang tidur. Apabila kamu meninggal dunia pada malam itu, maka kamu meninggal dalam kesucian diri (fitrah)." Al Barra' berkata; 'Saya mengulang-ulang bacaan tersebut agar hafal dan saya ucapkan; 'Saya beriman kepada rasul-Mu yang telah Engkau utus.' Lalu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam berkata: 'Ucapkanlah; 'Saya beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.'" Hr. Muslim.

doa sholat jenazah ganti dhomir

Tidak betul. 
Mau jenazah lelaki atau perempuan, tetap saja _Allahummaghfirla *hu*_

Krna dhomir *HU* disana bukan kembali pada lelaki / perempuan, tp kembali pd mayit.

Mayyit mah mudzakar, masa memakai dhomir "Haa", ah ngaco 😁

اللهم الغفر له 
Ya Allah, mugi anjeun ngahapunten ka ieu jenazah. 

Sanes ka ieu istri / pameget.

Dalilna, Rasul nyolatkeun jenazah istri: 

- وعن سمرة بن جندب قال: صليتُ وراء النبي ﷺ على امرأةٍ ماتت في نفاسها, فقام وسطها. متفقٌ عليه.

Doa jenazahna: 
اللهم اغفر له وارحمه، وعافه ،واعف عنه ،وأكرم نُزُله ، ووسع مُدخلهُ ، واغسله بالماء والثلج والبرد ، ونقه من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس ، وأبدله داراً خيراً من داره...

Coba cari hadis yg dhomirnya Haa, ada tidak?
Doa jenazahna: 
اللهم اغفر له 
Ya Allah mugi anjeun ngahapunten ka ieu jenazah.
وارحمه، 
Sareng masihan rahmat ka ieu jenazah. Dst...

وعافه ،واعف عنه ،وأكرم نُزُله ، ووسع مُدخلهُ ، واغسله بالماء والثلج والبرد ، ونقه من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس ، وأبدله داراً خيراً من داره...

Sadayana ngangge HU. HU dhomir (kata ganti) kembali kepada jenazah, bukan kepada jenis lelaki / perempuan. 

Krna setelah meninggal, manusia yg tdk bernyawa statusnya jadi mayyit / jenazah.

Dalam ibadah, wajib mengikuti bacaan sesuai redaksi yg Rasul Saw ajarkan, tidak boleh d ubah sdikitpun

مسلم 2/663

2- ابن ماجه 1/480 وأحمد 2/368 وانظر صحيح ابن ماجة1/ 251

3- أخرجه ابن ماجه ، وانظر صحيح ابن ماجة1/ 251ورواه أبو داود 3/211

4- أخرجه الحاكم وصححه ووافقه الذهبي 1/359 وانظر أحكام الجنائز للألباني ص125


[12/11 21:51] ust abu qutbie: Pami kitumah tong ngadoa: 

السلام *عليك* ايها النبي.. 
Dina maos shalawat nalika shalat, krna dhomir (kata ganti) KA kdahna d angge ka MUKHOTOB anu masih jumeneng, Rasul tos Wafat, kedahna gentos ku dhomir tunggal ghoib 😁
[12/11 21:52] ust abu qutbie: Janten dina ibadahmah aya namina "TAUQIFI", Sesuatu yg di ikuti sesuai teks aslinya yg tidak bisa d ubah.
[12/11 22:04] ust abu qutbie: perhatikan hadis ini

مصنف ابن أبي شيبة (2/ 487)

11353 - حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ، قَالَ: ثنا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ عُبَيْدٍ الْكَلَاعِيُّ، عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ الْحَضْرَمِيِّ، عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلَى الْمَيِّتِ: " اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَأَوْسِعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ أَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجَتِهِ، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَنَجِّهِ مِنَ النَّارِ، أَوْ قَالَ: وَقِهِ عَذَابَ الْقَبْرِ، " حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنْ أَكُونَ هُوَ

Hadis ini shahih, dalam kitab Mushannaf Abdurrazaq juz 2 halaman 487 no 11353.

disni disebutkan dengan kalimat:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلَى الْمَيِّتِ

Aku mendengar Nabi Saw bedoa pada Mayit:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَأَوْسِعْ مُدْخَلَهُ

klaimat dhomirnya pake HU semua, artinya dhomir HU kembali kepada MAYIT.